FF EXO : AUTUMN Chapter 9

autumn

Author  :  Oh Mi Ja

Cast :  Leeteuk SJ as Park Jungsoo

Luhan EXO as Park Luhan

Kai EXO as Park Jongin

Sehun EXO as Park Sehun

Support Cast      : Kris EXO as jaksa

Suho EXO as Pastor

Taemin Shinee as Lee Taemin

JR JJ Project as Park Jin Young

Jonghyun CN Blue as Lee Jonghyun

Shindong SJ as Shin Donghee

Dongho Ukiss as Shin Dong Ho

Genre                   : Brothership, Family,  Friendship, little sad

Saat bel istirahat berbunyi, Taemin menemani Jongin menghampiri Sehun di dalam kelasnya. Waktunya hanya tersisa sedikit dan Sehun harus segera diberitahu.

“Sehunie, ayo kita makan siang”ajak Jongin menarik lengan Sehun yang masih sibuk memasukkan buku-bukunya ke dalam laci.

“Hyung, kau membuat bukuku berantakan. Tunggu sebentar”

“Sehunie kita harus cepat! Jika tidak, kita tidak akan kebagian tempat duduk. Ayo!”

“Arasseo!”sungut Sehun kesal langsung berdiri dan mengikuti langkah Jongin dan Taemin, tak lupa ia juga menarik lengan teman sebangkunya, Jinyoung.

Sesampainya di kantin, Jongin langsung memesan beberapa mangkuk ramyun dan air mineral. Biar bagaimanapun, dia harus irit mulai dari sekarang.

“Sehunie, makanlah. Setelah itu, hyung ingin berbicara denganmu”

Sehun mengangguk tanpa suara, langsung menarik mangkuk ramyunnya agar lebih dekat lalu menyantapnya. Perutnya sudah sangat melilit kelaparan sehingga ia mengabaikan ucapan Jongin.

***___***

“Luhan!”panggil Donghae menghentikan permainan bola Luhan, ia menoleh. “Darawa, aku ingin bicara padamu”

“Yee sonsengnim”angguk Luhan kemudian menoleh pada seorang temannya, “Baro-yah, gantikan aku dulu”serunya lalu berlari menjauhi lapangan, mengikuti Donghae menuju anak-anak tangga pinggir lapangan sepak bola.

Keduanya duduk disana bersisian, bukan seperti seorang guru dan muridnya tapi seperti dua orang sahabat dekat.

“Bagaimana masalahmu? Bukankah waktunya tersisa 4 hari lagi?”

“Ah, soal itu…” Luhan langsung mengerti. “Sebenarnya aku dan adikku sudah menemukan rumah sewa yang murah. Kami berdua sama-sama setuju tapi aku masih ragu”

“Jadi adikmu sudah mengetahuinya?”tanya Donghae terkejut

“Yaaah, tapi aku lega karena dia mengerti”

“Jadi masalahnya sudah selesai, kan? Tidak ada yang kau khawatirkan lagi”

Luhan terkekeh, “sonsengnim, aku mempunyai dua adik. Bukan hanya satu. Adik bungsuku belum mengetahui tentang ini, karena itu aku bingung bagaimana cara menjelaskan padanya”

“Luhanie, sebenarnya kau bisa tinggal dirumahku jika kau mau. Orang tuaku berada di mokpo dan disini aku hanya tinggal seorang diri. Rumah sewaku pasti cukup untukmu dan adik-adikmu”

“Aniyo” Luhan menggeleng cepat. “Sonsengnim, adik-adikku sangat nakal. Bagaimana jika mereka menghancurkan rumahmu?”

“Mwo? Apa separah itu?”

Luhan tertawa geli, “sonsengnim, terima kasih karena kau selalu mendukungku. Bahkan menawarkan tempat tinggal tapi aku sudah cukup dewasa untuk menghadapi masalah ini dan juga mengurus adik-adikku, aku bisa menyelesaikannya sendiri”

“Kau yakin?” Donghae terlihat ragu

“Tentu saja”

“Tapi, jika kau membutuhkan bantuan, kau bisa mencariku. Aracchi?”

Luhan tersenyum lebar, “arasseo sonsengnim”

***___***

“Sehunie!”

Sehun termundur satu langkah saat tiba-tiba Jongin muncul dihadapannya, “omo! Hyung kau mengagetkanku!”

“Bukankah sudah ku bilang aku ingin bicara denganmu?”

“Arasseo. Tapi, aku baru keluar kelas dank au mengagetkanku”

Jongin mengabaikan protesan itu. Ia langsung menyambar lengan Sehun dan menyeretnya pergi dari sana, bahkan sebelum Sehun sempat berpamitan pada Jinyoung.

“hyung, appo…appo…hyuung…”

Jongin tetap menyeret Sehun pergi dari sana, membawa adik bungsunya menuju sebuah taman yang berada tak jauh dari sekolah mereka.

“Hyung, wae geurrae? Kau menyakitiku!”rutuk Sehun kesal sambil mendorong tubuh Jongin, memaksa agar kakaknya itu melepaskan cekalannya.

“Sehunie, ada yang ingin ku katakan”

“Sejak makan siang kau hanya mengatakannya tapi tidak memberitahuku apapun. Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?”gerutu Sehun masih kesal

“Sehunie…emmm…”

‘ayo Jongin…katakan…katakan…’

“Cepat hyung. Paman Cho akan menjemput kita sebentar lagi”

“Sehunie, paman Cho tidak akan menjemput kita lagi”seru Jongin bersamaan jantungnya yang mulai berdebar-debar.

Kening Sehun berkerut, “kenapa? Apa dia pulang kampung?”

“Tidak”geleng Jongin. Ia menatap sepasang mata lembut itu lekat-lekat. Mencoba mengumpulkan keberaniaan untuk memberitahu kejadian yang sebenarnya. Biar bagaimanapun Sehun harus mengetahuinya. Bisa menerima atau tidak. Siap atau tidak siap.

Jongin menarik napas panjang, “Sehunie, sebenarnya…”

“Ya?”

“Sebenarnya kita sedang melakukan permainan” dan akhirnya justru kalimat itulah yang meluncur dari bibir namja berkulit gelap itu. Membuatnya terus merutuk dalam hati karena mulut dan otaknya sangat amat berlawanan dengan yang ia inginkan.

“Permainan?”tanya Sehun bingung

Jongin mengangguk kikuk, kemudian menggaruk tengkuk belakangnya. “Yah, permainan”

“Permainan apa?”

“Kau tau acara televisi dimana orang kaya akan bertukar tempat dengan orang miskin?”

Sehun memutar bola matanya, mencoba mengingat-ingat acara yang dimaksud Jongin.

Akhirnya ia menggeleng, “nan molla..”

“Begini..jadi acara itu mengharuskan orang kaya dan orang miskin bertukar tempat. Dimana orang kaya akan berpura-pura menjadi orang miskin dan sebaliknya”

Kening Sehun semakin berkerut rapat, “kenapa kita harus bermain permainan itu? Apa kita masuk televisi?”

“Tidak Sehunie. Appa yang menyuruh kita”

Mata Sehun seketika membulat, “appa?!”

“Emp, appa kemarin menelpon Luhan hyung dan meminta kita agar memainkan permainan itu. Siapa yang bertahan, dia akan menjadi pemenang dan mendapat hadiah”

“Hyung, kenapa kau tidak memberitahuku jika appa menelpon? Aku juga ingin bicara dengannya!”

“Appa menelpon saat kita tertidur. Jadi Luhan hyung tidak tega memberitahu kita”

“Lalu kapan appa pulang?!”

Jongin tersenyum lembut dibalik air matanya, “Jika kita sudah berhasil menyelesaikan permainan itu”

***___***

Sehun terus-menerus menggerutu kesal dan menyeka keringatnya yang sudah membasahi hampir sebagian baju seragamnya. Musim gugur akan segera datang tapi matahari masih saja terasa sangat menyengat. Apalagi, ini adalah kali pertama ia menggunakan transportasi umum.

“Aku tidak mau naik bus lagi! Aku tidak mau!”rutuknya meletakkan tas ranselnya ke lantai dan membuka blazer sekolahnya. Kemudian menjatuhkan diri ke sofa dengan wajah cemberut.

“Aigooo, tuan muda ada apa?”tanya bibi Kwon sambil memungut tas dan blazer Sehun.

“Aku membenci Jongin hyung. Dia mengajakku naik bus”

“Sehunie, bukankah sudah ku bilang kita sedang memainkan permainan?”

“Tapi, lihat lututku. Ini tergores besi kursi. Aku juga berkeringat karena didalam bus AC-nya sangat minim. Aku tidak mau naik bus lagi!”

“Omo! Tuan muda terluka? Ahjumma akan mengambilkan palster dan obat merah. Tunggu disini”

Jongin menghela napas panjang, duduk disamping Sehun dan memandang wajah cemberutnya dengan senyuman geli.

“Jika kau kalah kau tidak akan mendapat hadiah”

Sehun menoleh dan menyipitkan matanya menatap Jongin, “appa tidak akan sejahat itu padaku”

“Appa bilang kita harus sportif. Siapapun yang kalah tidak akan mendapat hadiah”

“Kalian sudah pulang?” Tiba-tiba suara Luhan terdengar. Ia menghampiri dua adiknya itu sambil meletakkan bungkusan plastik yang seketika bisa merubah ekspresi wajah Sehun menjadi ceria diatas meja.

“Bubble tea!”soraknya senang, membuka bungkusan itu dan meraih satu gelas bubble tea dari sana. “Hyung, Jongin hyung mengajakku naik bus tadi. Lihat, lututku terluka” Sehun mulai mengadu pada Luhan

Luhan menatap Jongin bingung, “naik bus?”

Sehun mengangguk-angguk, “bisakah kau bilang pada appa jika aku tidak mau memainakn permainan ini lagi? Aku tidak mau bermain!”

“Permainan?”

“Ahjumma mau mengobati luka Sehunie?”seru Jongin mengabaikan tatapan bingung Luhan padanya.

“Yee, tuan muda. Wae?”

“Aniyo”gelengnya. “Hyung, ada satu soal matematika yang tidak ku mengerti. Bisakah kau mengajariku?”

Luhan menatap Jongin sesaat. Sangat mengerti bahwa wajah itu sedang mengajaknya untuk berbohong dan bersikap biasa didepan Sehun.

Ia mengangguk, “baiklah”

***___***

Luhan terduduk seorang diri di ruang tamu dengan lampu meja yang menjadi satu-satunya penerangan. Jongin tidak sepenuhnya salah. Bahkan dia sudah melakukan hal yang benar. Ia sangat mengerti bahwa adiknya itu tidak akan tega menceritakan hal yang sebenarnya pada Sehun.

Tapi, kebohongan yang perlahan-lahan tercipta begitu banyak juga membuat hatinya merasa terbebani. Suatu saat kebohongan ini pasti terungkap dan Sehun akan mengetahui semuanya. Yang ia takutkan, bagaimana jika saat semuanya terungkap, Sehun akan menjadi membencinya? Bagaimana jika Sehun menangis? Dan masih banyak kemungkinan-kemungkinan buruk yang sangat ditakutinya.

“Luhanie…” Luhan menoleh dan mendapati bibi Kwon sedang berjalan kearahnya. “kenapa kau duduk disini sendirian?”

Luhan tersenyum tipis lalu menggeleng, “aniyo ahjumma”jawabnya. “Apa paman Cho sudah sampai di rumah? Maaf aku tidak bisa mengantarnya ke stasiun dan juga….tidak bisa memberikan apapun untuknya”jelas Luhan melirih diakhir kalimatnya.

Bibi Kwon menghusap rambut Luhan lembut, “kami mengerti. Justru kami merasa sangat bersalah karena tidak bisa membantu apapun saat kalian sedang berada di saat-saat sulit seperti ini”

“Aniyo…”seru Luhan. “Besok adalah hari terakhir. Aku dan Jongin sudah memutuskan akan pindah setelah kami pulang sekolah sebelumpolisi kemari dan memberikan garis pembatas. Kami berdua tidak mau Sehun mengetahuinya. Dan…aku rasa ahjumma tidak perlu bekerja lagi”

“Wae? Apa aku tidak boleh mengurus kalian lagi?”tanya bibi Kwon mulai serak

“Bukan seperti itu. Mungkin kehidupan kami akan menajdi lebih sulit setelah ini. Aku tidak mau merepotkan ahjumma dan aku juga sudah tidak bisa membayar gaji ahjumma lagi”

“Yak! Apa kau pikir ahjumma meminta bayaran? Aku adalah orang yang mengurus kalian dari kecil. Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan kalian, hm?”

“Ahjumma tapi—“

“Tuan Park memang majikanku tapi kalian sudah ku anggap seperti anakku sendiri”

Luhan menghusap air matanya sebelum merembes keluar. Memeluk bibi Kwon erat-erat karena merasa terharu dengan perkataannya. Selama ini, dia adalah pengganti ibu mereka. Dia adalah orang yang akan menggantikan tugas seorang ibu dan mengurus mereka.

“Ahjumma, gomawo..jinjja..jinjja gomawo. Bahkan sampai saat seperti inipun, ahjumma masih berada disini untuk menemani kami. Gomawo…”

***___***

Luhan berdiri lirih didepan tubuh yang terbaring lemas dan dipenuhi dengan alat-alat kedokteran itu. Jantungnya masih berdetak normal, walaupun wajahnya kini memucat dan tubuhnya yang terlihat semakin kurus.

Menjatuhkan diri disebuah kursi dan menariknya agar lebih dekat, Luhan meraih telapak tangannya dan menggenggamnya erat-erat. Kehangatan sentuhannya tidak terasa lagi, kini tangan itu terasa sangat dingin.

“Appa, apa appa bisa mendengarku?”seru Luhan serak. “Appa, aku menjaga Jongin dan Sehun dengan sangat baik seperti perintah appa. Sebentar lagi, kami juga akan pindah rumah. Berita baiknya Jongin sudah bisa menerima kenyataan jika rumah itu sudah bukan milik kita lagi. Dan berita buruknya….” Luhan menarik napas sesaat. “…Kami membohongi Sehun lagi…”

“Appa, kapan appa akan bangun? Kami sangat menantikanmu bisa kembali bersama lagi seperti dulu. Sungguh, aku rela jika kita memang harus tinggal di rumah yang sangat kecil asalalkan aku bersama appa. Aku merindukan saat-saat kita bermain bola, mengobrol dan minum kopi di teras belakang rumah..”

***___***

“Hyung, Jongin hyung bilang kita akan pindah hari ini. Benarkah?”tanya Sehun yang sedang duduk ditepi ranjang sambil memperhatikan Luhan yang sibuk memlipat baju-baju Sehun dan memasukkannya ke dalam koper

Luhan mengangguk, “Ya Sehunie. Permainannya akan dimulai hari ini”

“Tsk, kenapa appa menyuruh kita bermain permainan seperti itu? Menyebalkan sekali”

“Aniyo. Semuanya akan jadi menyenangkan. Kita akan pindah di rumah yang berdekatan dengan rumah Jinyoung”seru Luhan berusaha menghibur Sehun

Mata Sehun seketika berbinar, “benarkah? Jadi aku bisa bermain dengan Jinyoung setiap hari. Yeaaaay!”

Luhan tersenyum geli, “dan ingat, kau tidak boleh kalah dari Jongin. Jika tidak, kau tidak akan dapat hadiah”

“Kalian sedang membicarakanku?”seru Jongin yang sudah selesai membersihkan dirinya dan bergabung bersama Luhan dan Sehun. “Kau sudah membereskan barang-barangmu, huh?”

Sehun mengangguk, “Luhan hyung yang sedang membereskannya”

“Eiiiy, kau harus membereskannya sendiri”

“Aku tidak bisa”

“Muali sekarang kau harus belajar, oke?”

“Apa cara itu bisa membuatku memenangkan permainan ini?”tanya Sehun polos

“Tentu saja. Jika appa pulang, dia akan menilai siapa yang paling mandiri”

“Aku akan memenangkan permainan ini!”jerit Sehun langsung melompat ke samping Luhan dan merampas baju yang akan dilipatnya. “Hyung, biar aku yang melipatnya”

Luhan terkekeh, “kau bisa?”

“Eungg…tidak”

“Pwahaha..sudahlah. Biar aku yang akan melipatnya untukmu”

“Tapi nanti appa—“

“Tenang saja. Aku tidak akan memberitahu appa tentang hal ini”

Sehun tersenyum lebar, “jinjja? Gomawo hyung”

Jongin hanya bisa menatap keduanya dengan senyuman palsu. Mengemasi barang-barangnya sendiri dengan air mata yang hampir saja merembes keluar. Andai saja ini memang sebuah permaiann. Andai saja semua ini tidak nyata.

“Sepertinya kalian sibuk sekali”

Mereka bertiga sontak menoleh kearah pintu saat sebuah suara terdengar.

“Jonghyun?”

“Taemin?”

Jonghyun tersenyum lebar, berjalan menghampiri Sehun dan memberikan segelas bubble tea yang dibelinya tadi.

“Bubble tea? Jonghyun hyung gomawo”

“Jonghyun-ah, kau tidak pergi sekolah?”

“Kau pikir aku tega membiarkanmu mengerjakannya seorang diri?”

Sama seperti Luhan, Jongin juga terperangah begitu melihat visual sahabatnya itu muncul di ambang pintu kamarnya.

“Kau membolos?”bisiknya

“Aku harus membantumu, oke?”serunya sambil menepuk-nepuk punggung Jongin. Kemudian, berpaling pada Sehun yang sedang asyik menyeruput bubble teanya. “Bagaimana permaiannnya? Menyenangkan?”

“Sedikit..”

“Mau naik bus lagi?”

“Tidak!” Sehun menggeleng cepat. “Hyung, bisakah kita naik taksi saja? Aku tidak mau naik bus!”

Luhan menggigit bibirnya kelu. Dia harus irit.

“Kau mau naik taksi?”tanya Jonghyun menghusap rambut Sehun lembut

Sehun mengangguk, “karena kata appa, kita tidak boleh menggunakan mobil”

“Baiklah. Nanti kita akan naik taksi”

Mata Sehun seketika berbinar, “Benarkah hyung?”

“Tentu saja. Jika kau mau naik taksi, kita akan naik taksi”

***___***

Perpisahan itu tiba. Siap atau tidak siap. Rela atau tidak rela. Meninggalkan rumah penuh kenangan itu menjadi sebuah keharusan. Mereka masih bisa melihat bagaimana semua kenangan itu memutar seperti sebuah film yang ditampilkan dihadapan mereka. Saat mereka tertawa dan bermain. Saat bertengkar dan akan diakhiri dengan tangisan Sehun.

Semuanya, menghabiskan segala sesuatunya ditempat ini. Tempat yang selamanya akan tetap menjadi sejarah bagi mereka.

“Luhan hyung, Jongin hyung..kenapa kalian menangis?”Sehun mendongak, menatap kedua hyungnya bergantian.

Luhan dan Jongin buru-buru menyeka air mata mereka kemudian tersenyum pada Sehun.

“Aniyo. Kami kelilipan”kilah Luhan

“Benarkah?”

“Tentu saja. Apa kau pikir kami anak kecil sepertimu?”ejek Jongin tersenyum geli

Sehun seketika cemberut, “aku bukan anak kecil”

“Ahjumma, kami pergi. Terima—“

“Luhanie!” Tiba-tiba bibi Kwon memeluk Luhan dan menangis di pundaknya. Membuat Luhan juga ingin ikut menangis namun ia tahan sekuat tenaga.

“Ahjumma, aku mohon jangan perlihatkan ini pada Sehun. Aku mohon”

“Jika kau merasa susah. Berjanjilah kau akan menemui ahjumma. Ahjumma pasti akan membantu kalian”

Luhan mengangguk, “aku akan mengunjungi ahjumma lain waktu. Hiduplah dengan senang”

“Ahjumma, kenapa ahjumma juga menangis?”tanya Sehun masih merasa bingung karena semua orang menangis hari ini.

Bibi Kwon melonggarkan pelukannya, kemudian berjongkok didepan Sehun dan menghusap rambutnya kembut.

“Tuan muda, jika kau memenangkan permainan ini. Ahjumma juga akan memberikanmu hadiah”

Sehun tersenyum lebar, “benarkah? Berikan aku robot bumblebee saat aku memenangkannya”

“Emp. Pasti”

“Janji?”

“Ahjumma berjanji”

Sehun melingkarkan tangannya ke leher bibi Kwon, memeluknya sesaat lalu menghusap air mata bibi Kwon dengan tangannya.

“Kalau begitu jangan menangis. Dan berjanjilah padaku, ahjumma akan menjaga rumah ini dengan baik”

“Ahjumma berjanji”isak bibi Kwon

“Jangan khawatir. Sehunie akan kembali kesini dan kita bisa makan bersama lagi. Ahjumma janagn sedih”

“Kajja. Taksinya sudah datang”seru Jonghyun

“Ahjumma annyeong…”

Dan pelukan terakhir pada Jongin itu, mengakhiri semuanya. Semua kesedihan yang terus menyesakkan dada. Mereka dipaksa berpisah. Mereka dipaksa untuk berbohong. Dan semuanya sudah menghilang…..

TBC

30 thoughts on “FF EXO : AUTUMN Chapter 9

  1. Tiikaa berkata:

    Huaaaaaaa….
    Eonieee….
    Mirisss bnget ngelihat luhan sma jongin yg hrus bohong sma sehun…
    Knapa mrka gak jujur aja…
    Dripda mrka menciptakan bnyak kbhongan lgi,, ntar mlah mkin sulit sehun maafin mrka…
    Huhuhuhu

    Kpan kbenaran akan terungkap eon.??
    Appanya sehun kpan sadarnya??

    Oke deh eon next aku tunggu ya🙂

  2. YooXi berkata:

    Luhan, Kai, Sehun kalian tinggal dirumahku saja Gratististis unt kalian😀
    yaelah, JongIn terinspirasi dari “Tukar Nasib” ye, psti sering nonton, jd’y begono lah😀 .-.
    KaiHunHan Jia Yo! Fighting!😀
    next Chap~🙂

  3. roropoo berkata:

    kakak….
    nggak tega lihat sehun disini😦
    kasihan jongin sama luhan yang harus bohong sama sehun,,,
    menguras air mata beneran mah ini ff T^T

  4. @baltacheakiriwe berkata:

    Huweee… Jahat ih, Nungguin lama-lama dapetnya nyesek begini, Kamija Jahat ih T^T #terusmauluapaan -_-

    Itu Bibi Kwonnya tetep jagain rumah atau pulang ke kampungnya atau gimana? Aku bingung (˙▿˙?) Terus itu sehunnya ngeselin ih, minta dibacok manjanya kebangetan -_-

    Next chap ditunggu! ‘O’)/
    Jangan lama-lama oke ka, aku lelah curhat juga ngerusuh di Twitter… Sayang pulsa ._. #apaan #ditendangkearab

  5. amel berkata:

    aaaaaahhhhh miris banget nasib mereka :”(
    kasian sehun yang dibohongi tapi lebih kasian luhan sama jongin yang ngebohongin sehun huaaaaa :”(
    jongin kamu hebat banget cari alasan T^T
    sehun polos banget dah :”)

    bener2 gak kebayang gimana nyeseknya kalo sehun tau semua kebohongan hyungnya X”( DUHHH
    lanjut next chapt. thor :”) ditunggu semuaaaaa FF nya😀

  6. UriMaknae berkata:

    ngakkkk -_- ~!! nunggunya bertaun==taun *apaiya?* ampe lumutan hasilnya kerennn ,, jjang thor !! lanjut yaa cepet jan lama2 si sehun kalo diliat2 emang gemesin bingitsssssss -_-

  7. Dini berkata:

    aaaaaaaa
    bener-bener nyeseeeeeek thor😦 hiks hiks
    sukses buat mata aku panas😥
    sini deh mendingan pindah ke rumah ku aja *tarik LuhanJonginSehun*
    gak kebayang marahnya Sehun ketika tau yg sebenernya nanti >< pliiiiis thor safe Luhanku yah😦
    Next chap ……………………………………

    nb : 12 force nya segera publish ne hehe🙂
    Hwaiting thor =)

  8. Nabila berkata:

    kak aku ga tau harus komentar pake kata kata apalagi😦
    nyesek. pake. banget.
    kalo aku jadi sehun pasti kecewa banget luhan sama jongin berbohong😦
    tapi aku juga mengerti alasan luhan sama jongin berbohong. semua jadi serba salah😦
    secara ga langsung disini sehun juga tersakiti, cuma dia belum mengetahuinya.

    huuweeee hunnieee.. hanniieee.. jonginiieeee😦

  9. KimChy berkata:

    Hikz . . .😥
    author sukses bikin aku nangis..
    Kekeluargaan n’ persahabatan ny terasa bnget dr klmat2 yg d buat.
    Ak tnggu part2 slnjutny thor..
    Moga happy ending😀

  10. Byul berkata:

    Bisakah aku meminta pada Tuhan untuk menurunkan kakak seperti mereka??

    Haaaahh~Luhanie gege sabarlah😥 Huaaaaaa😥😥

    Next chapnya jangan lama2 ya thor🙂

  11. jp berkata:

    yeah… akhirnya keluar juga^^ aku suka kekeluargaan gini:) saking sayangnya sama adeknya, mereka harus ngebohongin sehun. paling miris nasib luhan. dia anak sulung, jadi harus nanggung beban paling berat sendirian~ suka pas sehun ngelompat mau beresin pakaiannya, tapi dia gak bisa. itu lucu, tapi miris:’)

    okeh, ditunggu lanjutannya thor^^

  12. KaniaFidelia98 berkata:

    nae nungguin ini akhirnya keluar jugaaaaaa \(^^)/

    aduhhh bingung nih mau pasang ekspresi apa pas baca ff ini😦
    kadang” sedih, eh tapi ad yg bikin ketawa , eh atonya ada yg bikin nangis lg -.-

    sehunnie sayangggg😦

    jangan lama” ya thor lanjutannya XP
    hehe

  13. Puji KKF berkata:

    Hiks hiks kasian banget luhan n jongin harus bohong gitu sama sehunie,semoga kl sehun tau sehun ga marah ya thoorr T_T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s