FF: Heart Ache

Heart Ache

Heart Ache; by katyakim

Pairing: Baekhyun/OC // Genre: Romance, Angst // Rating: G // Length: Ficlet, 1257w

a/n: think as if ‘dia’ is refers to you.listen to bruno mars’ when i was your man while reading this.

“Nomor delapan, silakan maju.”

 

Seorang gadis yang duduk di pojok belakang kelas mendongakkan kepala. “Nomor delapan? Aku?” Ah, sial, batinnya.

 

“Ya.” Guru melukis di depan kelas itu memberi isyarat padanya untuk maju. Gadis itu menghela nafas. Dia tidak siap untuk mempresentasikan lukisan abstraknya di depan kelas, tetapi di kelas ini guru yang berkuasa. Maka dia menyeret langkah ke depan kelas.

 

“Lukisan saya berjudul… Heart Ache.”

 

Dia memejamkan mata, pikirannya berkelana ke masa lalu; dimana dia pernah berpacaran dengan teman sekelasnya. Byun Baekhyun.

 

 

It hurts me to know I hurt you, but you wilted the flowers inside of me.

 

Dia tidak pernah membalas semua perhatian dari Baekhyun. Dia selalu menolak ajakan kencan, pergi ke swalayan bersama, mengerjakan PR, ataupun sekedar pergi ke Lotte World berdua. Dia tidak mau dipanggil darling—padahal dia tahu bahwa dirinya adalah kekasih dari Byun Baekhyun. Dia tidak tahu kenapa, dan alasan yang dia berikan pada Baekhyun adalah: ‘karena namaku bukan Darling.

 

Seakan-akan hukum ketiga Newton tidak berlaku baginya: ‘Untuk setiap aksi selalu ada sebuah reaksi yang sama dan berlawanan arah’. Reaksi yang dia berikan pada Baekhyun selalu berbeda dengan apa yang diberikan oleh pemuda itu.

 

Itulah kenapa sebabnya Baekhyun memutuskannya. Dia sudah terlalu sering membujuk sang gadis, tetapi gadis itu tetap teguh pendirian dan akhirnya Baekhyun menyerah.

 

Dan hal itu membuat sang gadis merasa egois dan jahat.

 

And we used to fight for reach other,but you left me and now it is not the same anymore.

 

Sebenarnya dia tidak pernah benar-benar peduli dengan Baekhyun, lebih seperti dia malu untuk menunjukkan kasih sayangnya di depan orang lain. Atau mungkin dia memang tidak terlalu mencintai Baekhyun.

 

Sementara Baekhyun terus-terusan menempel di sampingnya, memainkan rambut panjangnya, atau dengan jahil meniup telinganya. Terkadang pemuda itu akan menyandarkan kepalanya di bahu sang gadis, membuat gadis itu kaget dan mukanya memerah, sementara teman-teman sekelasnya terkikik dan meyerukan “so sweet…” dengan keras.

 

Tetapi setelah Baekhyun pergi, semuanya menjadi berbeda. Tidak ada lagi orang yang menggenggam tangannya ketika dia sedang membaca novel. Tidak ada lagi yang memberinya perhatian berlebihan. Tidak ada lagi yang menarik lengannya hingga jarak antara hidung mereka sangat dekat. Tidak lagi. Semuanya telah berbeda—terasa kosong. Tidak ada Baekhyun di hidupnya.

 

I wish you would notice me, notice how I cared but every day you just walk by.

 

Reaksinya mungkin terlambat. Dia justru memperhatikan semua gerak-gerik Baekhyun setelah tidak ada lagi hubungan di antara mereka. Dia selalu melirik kelas Baekhyun begitu keluar, berharap bisa melihatnya. Dia selalu berlama-lama di depan sekolah hanya untuk melihat Baekhyun keluar dan menjinjing tas hitamnya, meskipun hanya untuk mendapati bahwa pemuda itu membuang muka saat melintasinya.

 

I want you to remember me. Will you remember that I existed?And I stood next to you like this?

 

“Hei, ayo pulang,” Amber menarik-narik lengannya, tetapi dia tetap membeku di tempat.

 

“Nanti dulu.”

 

“Kau menunggu siapa sih?”

 

Dia menoleh kepada temannya untuk sesaat, kemudian menghadap ke halaman sekolah lagi. Aku menunggu Baekhyun.

 

“Bukan apa-apa.”

 

Tepat ketika ia mengatakannya, Byun Baekhyun muncul dan berjalan menyusuri halaman sekolah, dan gadis itu segera menoleh ke arah lain. Amber memberinya tatapan heran.

 

Baekhyun melintas, lagi, melewatinya, tanpa melemparkan satu senyum pun pada mantan kekasihnya. Bersikap seakan dia tidak ada di sana. Seakan dia hanyalah benda kasat mata. Meskipun hatinya tergores sekali lagi, dia merasa lega karena telah melihat wajah Baekhyun.

 

Seulas senyum perih dia lemparkan pada Amber. “Ayo pulang.”

 

“Kau baik-baik saja?” tanya Amber, dan dia menggeleng.

 

“Yeah.”

 

Been wondering if your heart’s still open.

 

Di setiap malam, sebelum tidur, dia memikirkan Baekhyun, dan bertanya-tanya apa yang dia lakukan saat ini seandainya Baekhyun tidak memutuskannya.

 

Baekhyun, aku tadi menonton film The Conjuring dan aku takut. Baekhyun, aku tadi mendapat nilai ulangan Fisika tertinggi di kelas. Baekhyun, tadi aku kena razia handphone. Baekhyun, aku tadi malam memimpikanmu.

 

Dengan semua itu, dia tidak bisa menyangkal bahwa dia masih mengharapkan Baekhyun—dan dia menyesal kenapa dia pernah menerima Baekhyun ke dalam hidupnya.

 

Karena dia pasti akan sulit untuk meninggalkan.

 

If only I could get the nerve to talk to you just once.

 

Akhirnya, setelah setahun berlalu dan dia terombang-ambing dalam perasaan bimbang, bersembunyi di balik semak-semak hanya untuk mengintipnya, maka dia memutuskan untuk menghadapi Baekhyun—tidak peduli konsekuensinya. Dia tidak bisa seperti ini terus.

 

It’s hard falling in love, when the one you love never wants to say I love you, right?

 

Siang itu, dia menunggu Baekhyun di tengah halaman, di bawah matahari yang bersinar terlalu terik. Seluruh tubuhnya berkeringat dan pegal-pegal (terimakasih untuk Mr Wu yang sudah membuatnya melompat-lompat di bawah ring basket yang teramat tinggi).

 

Satu jam berlalu, dan Baekhyun belum muncul. Tidak apa-apa. Dia masih punya waktu untuk menyusun apa yang akan dia katakan pada mantan kekasihnya itu.

 

Dua jam. Matahari sudah mulai bergeser ke barat, tetapi dia berusaha menyabarkan dirinya.

 

Dua setengah jam. Baiklah, dia menghela nafas, menyeka keringat dari dahinya, kalau setengah jam lagi dia tidak muncul, aku akan pulang.

 

Tetapi tidak perlu menunggu hingga tiga puluh menit untuk membuatnya segera angkat kaki dari halaman sekolah.

 

Baekhyun akhirnya keluar—hanya saja tidak sendirian. Dia menggandeng gadis lain, dan hal itu membuatnya patah hati. Bukan pada kenyataan bahwa ternyata Baekhyun telah mencintai gadis lain, hanya saja ekspresi senang yang terpancar dari mereka berdua benar-benar menyindirnya bahwa dia tidak pernah tersenyum tulus saat bersama dengan Baekhyun.

 

I’m falling so hard for you, but why you are not falling with me?

 

“Hai!” gadis yang digandeng Baekhyun itu melambaikan tangan padanya. Sial, umpatnya dalam hati. Kenapa dia harus menyapanya sih?

 

Dia hanya bisa tersenyum dengan kikuk, tetapi ekor matanya melirik Baekhyun yang menunduk, wajahnya tampak berseri-seri. Dia makin patah hati.

 

“Tebak! Hari ini aku jadian dengan Baekhyun!” kata gadis itu riang, seakan lupa bahwa orang di depannya pernah menjalin hubungan dengan kekasihnya.

 

Dia hanya bisa tersenyum pahit, sementara tenggorokannya kesulitan untuk menelan kenyataan itu. Hatinya sudah mati rasa, dan yang dia inginkan hanyalah pergi sejauh-jauhnya sebelum dorongan untuk memukul pasangan di depannya itu muncul.

 

“Oh, selamat,” katanya, berusaha tersenyum—tetapi yang ada dia justru tampak sangat menyedihkan. “Aku harus pergi dulu. Bye.”

 

Dia pulang sembari menangisi nasibnya yang mengenaskan. Dia yang telah menunggu dan berharap agar bisa kembali pada Baekhyun. Seharusnya aku yang ada di sampingnya, bukan dia…

 

Has it ever crossed in your mind?

When the sun shines brightly on your side.

Then, whose side is going to rain? Cause the pain is me, Byun Baekhyun. Pain is me.

 

Mendadak dia menubruk seseorang, dan ia mendongak. Seorang pemuda jangkung balas menatapnya heran. “P-Park Chanyeol…?”

 

“Dunia saya berubah kelam setelahnya, maka saya menggunakan warna hitam sebagai latar belakangnya. Kemudian warna biru merepresentasikan perasaan bahwa saya sangat sedih… warna merah ini menggambarkan hati saya yang seakan berdarah-darah.”

 

Seseorang mengacungkan tangannya. Dia duduk di tengah-tengah kelas.

 

“Ya?” dia mempersilakan orang itu untuk bertanya.

 

“Apakah itu berarti kau sebenarnya masih mencintai Baekhyun?”

 

Gadis itu mengangguk. “Yap.”

 

Seseorang di barisan paling kiri mengacungkan tangan.

 

“Ya?”

 

“Tapi bukankah kau sudah memiliki Chanyeol?”

 

Gadis itu mengangguk lagi. “Ya. Saya memang sudah memiliki Chanyeol, dan dia benar-benar berarti dalam hidup saya. Tapi pada akhirnya saya tidak bisa melupakan Baekhyun.” Dia menghela nafas. “Ingatan itu terlalu pahit untuk disingkirkan dari hidup.”

 

Kemudian ekor matanya melirik ke pintu kelas yang sedikit terbuka, dan mendapati bahwa Baekhyun sedang menontonnya, matanya membelalak dalam keterkejutan. Dia tersenyum tipis. Biarkan ia mendengar apa yang dia terangkan tadi.

 

Seluruh kelas bertepuk tangan.

 

“Ya, terimakasih. Silakan duduk kembali.”

 

Dia mengangguk pada sang guru lukis, dan melangkah menuju tempat duduknya. Park Chanyeol yang duduk di belakang kursinya hanya tersenyum lembut penuh pengertian, dan dia akhirnya balas tersenyum.

 

Karena Park Chanyeol mengerti bahwa mungkin ia menggandeng tangan orang lain, namun hatinya tetap terpaut pada satu orang.

 

Byun Baekhyun.

 

Curse me for letting go

My collapsed heart is screaming

Don’t throw me away

Don’t leave me alone

Don’t let go of my hand.

end –

a/n: i’m broken when i wrote this. semua quote itu aku ambil dari tumblr. fic ini aku dedikasikan buat temenku yang juga patah hati. thank you so much for reading this ‘broken’ fic, see you later.

4 thoughts on “FF: Heart Ache

  1. keyunge berkata:

    Auw sedih beneran! Gak perlu panjang-panjang kan mengekspresikan apa yang kita rasakan saat baca karya ini😉

    Huaah andaikan aku nyetel ‘when I was your man’ dan sedang sendirian dirumah.. Alhasil tisu dimana-mana x_x

  2. bumbblebee berkata:

    Maaf karena aku terlambat banget bacanya😥 Tapi, astaga! Seberapa patah hati kau sampai bisa membuat rasa patah hatimu menular kepadaku dengan membaca ini? Astaga😥 aku broken heart banget waktu baca ini >< smencoba merasakan seberapa sakit hatinya menjadi si 'gadis'😥 FF ini jjang banget! Bahasanya tuh enak banget, soft. Keep writing, ya~

  3. Aprilkyu_ berkata:

    Kerennn aku ngebayangin si perempuannya, sakit. Ingin sequelnyaa:)) keren lagi bahasa penulisannya. Semangat bikin ff yg lainn:))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s