FF: Silent Me

Nama                    : AnnKyu

Judul Cerita        : Silent Me

Genre                   : Romance, Angst

Cast                       : Xi Luhan, Park Seung Hee, Jo Jong Won, dan member EXO (cameo)

Rate                       : PG-15

Length                  : Oneshot

Warning               : Member EXO milik Tuhan, agensi dan keluarganya masing-masing. Cerita ini milik author sepenuhnya. Author tidak yakin genrenya kuat di cerita ini.

Bulan telah mengangkasa sepenuhnya. Bertabur butiran berwarna-warni di sekitarnya. Laksana mahkota berlian di kepala pangeran tampan.

Berbicara tentang pangeran tampan.Seorang pria berjalan lurus dengan senyuman memikat hati terpasang diwajahnya. Ia bahkan tak sadar bahwa para pria dari pasangan kencan masing-masing mengirim sumpah serapahnya pada pria manis dan tampan itu.

Ia berjalan lurus tanpa memandang arah depan. Matanya menatap ke arah  seorang gadis yang bermain dengan langkahnya. Ia berjalan menjaga jaraknya sehingga gadis itu tidak menyadari keberadaannya. Keberadaannya yang selalu menemani gadis itu selama 2 tahun. Selama 2 tahun itu pula, pria itu telah menjadi secret admirer gadis itu.

Ia berharap bahwa gadis itu akan berbalik dan melihatnya ditengah perhatian banyak orang yang sekarang ini ia terima. Berharap gadis itu akan menyadari keberadaannya. Berharap bahwa ia punya keberanian untuk menghampirinya dan mengajaknya berkencan. Berharap bahwa gadis itu menyadari seorang bintang tengah melihat dirinya.

Berharap…?

Banyak harapan yang ingin diwujudkannya. Hanya dengan gadis itu.

Ditangannya, tersembunyi dengan baik sebuah kalung bertahtakan Amethys. Berlian berwarna ungu yang sudah lama ia simpan dan ingin diberikannya. Tapi, rasanya ia terlalu pengecut hanya untuk menghampirinya dan memberikannya. Padahal, dia seorang bintang yang terlalu bersinar hingga menyilaukan mata. Tidak hanya di Negara ini. Tapi, juga di seluruh dunia.

Ia hampir saja menabrak sosok di hadapannya, jika saja ia tak bermanuver dan menghentikan tubuhnya. Dengan enggan, ia mengalihkan pandangannya dari gadis yang mengisi relung hatinya kepada sosok dihadapannya. Ia tersenyum setengah hati dan terkesan di paksakan.

“Ada yang bisa saya bantu nona?” tanya lembut, walaupun ia sangat malas untuk melakukan apa yang telah diperkirakannya.

“Maafkan aku. Tapi, apakah kau Xi Luhan?” tanya wanita itu tergagap. “Salah satu member EXO?”

Luhan kembali tersenyum. “Maaf nona. Aku memang sering dibilang mirip Xi Luhan. Tapi aku bukan Xi Luhan?” elaknya manis.

“Tapi kau benar-benar persis dengan Xi Luhan.” Wanita itu bersikeukeuh dengan pendiriannya.

“Tapi kudengar Xi Luhan adalah anggota EXO – M, seharusnya dia berada di China ‘kan?” lagi-lagi dirinya mengelak dengan mulus. Ia mengalihkan pandangannya ke tempat semula. Namun penguntitannya harus terhenti sampai disini.

Luhan melewati wanita itu, dalam hatinya ia memaki dirinya sendiriuntuk memakai penyamaran seperti yang disarankan oleh Kyuhyun. Cukup bodoh untuk dirinya langsung berlari meninggalkan van ketika melihat gadisnya berjalan menuju taman, sendirian.

Luhan segera menyetop taksi dan menuju dormnya. Berharap bahwa besok tidak ada jadwal dan ia bisa melaksanakan rencananya untuk mengatakan yang sejujurnya pada gadisnya.

Baru saja ia meletakkan sepatunya. Seseorang telah menunggunya dengan bersedekap dada. “Where have you been?” tanya Kris ketus. Mungkin baginya, ini pertama kalinya melihat Luhan melarikan diri dari van dan hilang di kegelapan. “Are you really a werewolf?”

“Maaf, aku tak sadar ketika melihat sesuatu.” Ujarnya setengah berdusta dan langsung memasuki kamarnya. Sementara Kris menghela napas kesal.

*_*

“Kau mau cupcake?” tawar Xiumin ditengah jeda latihan mereka. Luhan hanya menggeleng pelan, ia terlalu lelah hanya ingin menjawab.

Tiba-tiba manager datang dengan membawa banyak barang yang diduga hadiah dari para fans. Mereka bersorak gembira seperti bocah TK yang mendapat balon plus permen. Luhan bangkit dan menerima bagiannya setengah hati.

Pikirannya melalang buana. Apakah gadisnya akan sebahagia mereka menerima hadiah dari fans-nya? Apakah gadisnya pernah bertanya-tanya siapa yang memberikan seluruh barang-barang itu?

“Luhan hyung, apa kau tak menyukai hadiahmu?” tanya Kai ketika melihat pria itu terdiam dengan menatap sendu hadiahnya. Luhan lagi-lagi menggeleng sebagai jawaban. Tangan kanannya yang tersembunyi menggenggam erat liontin kalung itu.

“Manager, apakah aku punya waktu istirahat?” tanyanya ragu-ragu.

*_*

Luhan berjalan di sekitar kompleks perumahannya yang cukup familier baginya. Hanya berbekal kacamata, ia berharap tak ada satupun fans yang lewat atau mengenalinya. Ia berjalan lambat-lambat menuju gerbang rumah dengan sekotak kecil beludru berwarna biru ditangannya.

Ia meletakkannya di kotak surat sebuah rumah dan tersenyum manis sebelum pergi. Namun, ketika ia berbalik seorang gadis sudah menatapnya curiga.

“Kau siapa? Kenapa kau berdiri di depan rumahku?” cecar gadis itu waspada.

“Eum.. eum… aku… aku…” Luhan terlihat bingung untuk menjawab. Berhadapan langsung dengan gadis ini membuat pikirannya menjadi kosong.

“Siapa kau?” teriaknya sembari mengacungkan sebuah payung, bersiap memukulinya. Segera saja, tanpa memberikan kesempatan untuk Luhan menjawab. Gadis itu segera memukulinya.

Sontak saja, Luhan berjingkat-jingkat dan berusaha menghindar sembari sesekali mengaduh. Hingga kacamata  yang dikenakannya jatuh dan terinjak.

Gadis itu terkesiap dan menjatuhkan payungnya. Tangannya menutupi mulutnya yang ternganga terbuka. “Xi…Xi…Xi Luhan.”

“Ah…” rintih Luhan yang masih bisa mencoba tersenyum. “Anyeonghaseo yo! Aku tersesat di sekitar sini.”

“XI LUHAN!” teriaknya. Dengan cepat, Luhan membekap mulutnya dan menoleh kanan kiri melihat keadaan.

“Jangan berteriak arraseo?” pintanya dan melepaskan bekapannya.

“KYAA, AKU FANSMU!” gadis itu langsung membekap mulutnya dan tersenyum menyesal. “Maaf.”

“Lebih baik kau bantu aku mengobati memar yang kau timbulkan.” rintihnya, pura-pura.

“Maaf” ujar gadis itu lirih. Luhan tersenyum dan mengedip nakal padanya.

“Siapa namamu?” tanyanya walaupun ia telah mengetahui gadis sejak lama.

“Park Seung Hee imnida.”

*_*

Sudah sebulan dari pertemuan yang tidak direncanakan oleh Luhan berjalan dengan mulus hingga sekarang. Sering kali, Luhan menelponnya hanya untuk mendengar suara gadis itu atau sesekali mengajaknya jalan-jalan. Walaupun ia ingin sekali mengatakan untuk berkencan.

Hari ini Luhan bangun sangat pagi untuk menyiapkan apa yang dibutuhkannya selama kencan ‘tersembunyi’ mereka. Ia menyiapkan seluruhnya, karena Luhan sangat membenci gadis yang kebingungan ketika berjalan-jalan dengan seorang pria. Untuk hari ini juga, jauh hari, pria itu sudah meminta pada manager mereka untuk mengosongkan jadwalnya. Ia ingin hari ini berjalan sesuai rencana.

“Aku pergi dulu!” serunya, sembari memakai sepatunya dan menggamit kunci mobil.

“Semoga  sukses!” balas kesebelas pria lainnya, memberi semangat tanpa tahu seperti apa gadis yang telah merebut Luhan mereka.

Luhan mengemudikan mobilnya dengan santai menuju taman di pinggir danau, dimana gadis itu telah menunggunya. Ia memarkirkan mobilnya tidak jauh dari tempat itu dan tidak lupa memakai penyamarannya.

Luhan tersenyum hangat dengan buket bunga ditangannya serta sebuah cincin di tangannya yang lain. Hari ini ia memutuskan untuk mengatakan sejujurnya siapa secret admirer gadis itu. Pria itu berjalan dan sesekali melompat ceria sesuai dengan keadaan hatinya.

Ia melihat gadisnya menunggu di bangku taman, sendirian. Perlahan ia berjalan mendekati gadis itu, mengendap-endap untuk mengagetkannya. Namun, seorang pria datang dan duduk di samping gadis itu lalu merangkulnya. Seung Hee sendiri terlihat bahagia dan membalas pelukannya. Sesekali tertawa bersama pria itu tanpa menyadari keberadaan Luhan.

Sedangkan dirinya mematung memandang punggung kedua orang tersebut, seperti sepasang kekasih.Dengan hatinya yang perih,ia berjalan mundur dengan menggenggam buket bunga serta cincinnya erat dan berlari ketika tak merasa sanggup lagi berada di tempat yang sama dengan gadis yang mengoyak hatinya.

Ia melempar bunga dan cincinnya ke jok belakang mobil. Tangannya yang bergetar  melepas kaca matanya dan menghapus bulir-bulir bening yang mengalir secara lepas. Ia tak mampu menahan isak tangisnya lagi dan sesak yang menghampiri dadanya. Alhasil, ia terus memukuli dadanya.

Di tengah isak tangisnya yang entah sudah berapa lama. Luhan menyadari Park Seung Hee dan  pria yang bersamanya berjalan menuju parkiran. Ia segera menyalakan mobil dan buru-buru pergi dari tempat itu. Namun Seung Hee mengenali mobilnya dan menghadang.

Gadis itu mengetuk pelan kaca mobil. Untung saja, kaca film mobil itu cukup gelap hingga Seung Hee tak menyadari bahwa Luhan menghapus jejak air matanya serabutan dan membuka kaca dengan senyum merekah.

“Oppa, kau lama sekali? Aku sudah lumutan menunggu, aku hampir saja pulang.” Keluhnya, memberengut.

“Maaf, tadi di dorm ada keributan. Aku baru saja lolos dari amukan Kris.” Dusta Luhan tanpa menimbulkan kecurigaan berarti.

Dengan berat hati, Luhan keluar dengan membawa keranjang pikniknya menghampiri Seung Heed an pria itu. Ia mencoba tersenyum dan berhasil menampilkan senyuman tertulus yang ia mampu. “Anyeong. Xi Luhan imnida.”

“Anyeong, Jo Jong Woon imnida.” Balas pria itu singkat beserta senyuman yang tak kalah hangat dan tulus.

“Oppa, cepat kita mulai barbeque party-nya.” Ajak Seung Hee ceria.

Antara merutuk marah sekaligus bersyukur karena Seung Hee tak menyadari moodnya, Luhan berjalan berdampingan dengan Jong Woon.

“Sudah berapa lama kau mengenal Seung Hee?” tanya Jong Won penasaran.

“Sudah sekitar sebulan,” ujarnya, mencoba mati-matian terlihat biasa. “Sebuah pertemuan menyakitkan karena dia langsung memukuliku dengan payung.”

Jong Won terkikik. Ia, Luhan dan Seung Hee sudah berada di tempat yang di pilih oleh Seung Hee untuk mengadakan Barbeque Party. Jong Won dan Luhan saling membantu menyalakan tungku api sementara Seung Hee menyiapkan makanannya.

“Pasti kau kaget karena tiba-tiba aku berada disini?” ujarnya tapi tidak ditanggapi oleh Luhan yang pura-pura sibuk dengan bara apinya. “Awalnya aku tak mau mengganggu acaranya bersama teman-teman. Tapi, gadis itu memaksaku untuk ikut karena ingin mempertemukanku denganmu.”

Luhan lagi lagi harus mencoba tersenyum menanggapinya, moodnya benar-benar hancur karena pria ini. Tanpa perlu diberitahu lagi, semua orang juga tahu bahwa pria ini punya ikatan khusus dengan gadisnya. Tapi, masihkan bisa ia menyebut Seung Hee dengan gadisnya?

“Aku cukup iri karena setiap bertemu denganku, ia selalu membicarakanmu. Bahkan sebelum insiden kalian bertemu, gadis itu terus bicara tentangmu. Tapi, aku tahu sekarang bahwa kau memang seperti yang dibicarakannya. Aku tidak menyesal ia bertemu denganmu, terimakasih karena telah mengabul hal terbesar yang diinginkannya. Bahkan aku tak mampu mewujudkannya.”

Luhan menghentikan memberi tungku batu bara lagi dan menoleh ke arah pria yang dibencinya. “Apa?”

“Bertemu dan berteman denganmu adalah impian terbesarnya!”

Luhan tersenyum miris. Baru saja ia membenci pria dihadapannya dan bersumpah untuk merebut Seung Hee darinya. Tapi karena satu kalimat itu, niatnya langsung luntur. Ia tidak akan mampu untuk memisahkan mereka berdua karena keegoisannya. Selama ini Seung Hee hanya berperan sebagai fansnya. Ia yang terlalu berharap besar dan salah mengartikannya sikap Seung Hee.

Seung Hee datang dengan membawa banyak irisan daging ke tengah para pria. Luhan kembali tersenyum, walaupun tak terlalu lebar. Namun, senyuman ini adalah kadar paling tulus untuk bisa diberikan.

“Pasti kalian membicarakanku.” Sahut Seung Hee terlalu percaya diri. Jong Won segera mencubit dan mengacak-acak rambutnya sehingga gadis itu mendesis sebal.

Disisi lain, Luhan mengutuk seberapa kejamnya gadis ini yang membawanya sendirian ditengah kencan tak kasat mata mereka. Tapi tidak bisa terlalu membencinya, karena Seung Hee hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat.

“Oppa” panggil Seung Hee, menghancurkan lamunannya. “Aku ingin memberitahumu sejak lama tapi kau terlampau sibuk dan saat kau menelpon aku terlalu bahagia hingga melupakannya.”

“Tentang apa?” tanya Luhan was-was. Perasaannya mengatakan hal buruk akan terjadi padanya.

Seung Hee buru-buru berbalik dan mengambil sesuatu dari tasnya lalu menyodorkan sesuatu padanya. Seketika itu juga lututnya terasa lemas dan oksigen menjadi padat hingga tak bisa ia hirup.

“Minggu depan, aku dan Jong Won oppa akan menikah!” seru Seung Hee ceriadan memeluk Jong Won erat. Tidak menyadari sama sekali bahwa pria dihadapannya bahkan berjuang sekuat tenaga untuk berdiri dengan tegap.”Oppa, kau akan datangkan?”

Luhan tidak menjawab dan masih menatap undangan ditangannya dengan kalut hingga dering telpon menyelamatkannya. Ia terburu-buru berbalik menjauh dari pasangan itu dan menjawabnya dengan napas memburu.

“Ne, ada apa?” tanyanya berusaha terdengar senormal mungkin.

“Kita akan Barbeque Party nanti malam karena besok manager mengosongkan jadwal kita. Jadi sebaiknya kau pulang arraseo?” tegas Suho.

“Ya, aku akan pulang secepatnya.” Balas Luhan lirih. Mulai sekarang, mungkin ia akan membenci Barbeque Party. Ia kembali menghampiri pasangan tersebut yang sedang membalik daging-dagingnya. “Maafkan aku, aku harus segera pulang karena para member yang lain sudah mencariku.”

“Oppa” keluh Seung Hee sebal, terdengar jelas dari suaranya. Ia cemberut tapi kemudian mengangguk. “Ara! Tapi kau harus datang ke pernikahanku?” titahnya.

Luhan mengangguk sekenanya dan berjalan cepat meninggalkan pasangan tersebut. Ia tak mampu membendung air matanya dan isak tangis hingga ia memilih untuk menggigit pergelangan tangan. Ia tak peduli jika banyak orang yang mengenalinya, atau mengasihaninya selama orang tersebut bukan gadis itu.

Luhan segera masuk ke mobilnya dan menguncinya. Segera saja isak tangisnya memenuhi mobil dan langsung menjalankannya. Ia tak peduli bahwa ia menangis seperti anak perempuan. Ia tak peduli bahwa caranya berkendara sangatlah buruk. Ia tidak peduli berapa kotor kata makian yang keluar dari pengemudi lainnya. Ia hanya peduli betapa sakitnya relung hatinya.

Luhan mengendarai mobilnya tanpa mengetahui bahwa ia berada di ambang kecepatan maksimun hingga sebuah mobil melintas dihadapan. Dengan cepat, Luhan membanting stirnya lalu mengurangi kecepatannya dan berhenti di sisi jalan.

Tangisnya berhenti untuk sementara untuk memandang kedua tangannya. Tidak cukup lama hingga ia menyadari bahwa nyawanya hampir melayang. Ia memukuli kepalanya ke stir, menjambak rambutnya atau memukuli dadanya hanya untuk mengurangi rasa sakit di dadanya. Hingga pandangannya jatuh kepada buket bunga yang tergeletak di jok belakang.

Malamnya, Luhan kembali ke dorm yang sepi ditinggal member yang lain untuk berpesta. Ia tidak menghiraukan ponselnya yang terus berdering, member yang lain silih berganti menelponnya. Ia memutuskan untuk meminum obat penenang dan tidur untuk malam ini.

*_*

“Kau kemana saja semalam eoh?” cerca Kyungsoo sembari memberi sebutir aspirin dan segelas air. Setelah Luhan merengek sakit kepala.

“Maaf, aku lupa. Aku hanya terlalu asik hingga lupa dengan janji kita.” Kilah Luhan yang langsung menenggak habis air itu.

“Ya sudahlah karena hari ini kita kosong, istirahat yang cukup. Aku harus ke dapur sebelum Chen dan Xiumin meluluh lantahkan dapurku.” Seru Kyungsoo cukup keras yang memang di sengaja untuk menghentikan Chen dan Xiumin yang berebut kompor, entah untuk apa.

Luhan hanya terkikik geli. Namun ketika ia melihat undangan itu tergeletak tak jauh darinya, hatinya kembali sakit.

Beberapa hari berlalu, Luhan bersikap seperti biasanya. Tapi, seluruh member mengetahui sesuatu yang tidak beres terjadi pada Luhan mereka. Ia terlihat normal, tapi tidak dengan perasaannya. Namun tak seorang pun berani mengutarakan pikiran mereka langsung pada yang bersangkutan.

“Luhan hyung mau kemana?” tanya Sehun ketika melihatnya lengkap dengan tuxedo putih.

“Oh, Sehunnie. Hyung pergi sebentar, hanya 2 jam. Lagipula jadwal kita sekitar 3 jam lagi kan.” Jawab Luhan sekenanya dan pergi meninggalkan dorm itu. Sehun hanya mampu termangu menatap punggung itu menghilang dibalik pintu.

*_*

Luhan menggenggam erat buket bunganya dan menunjukkan kartu undangannya lalu diantar hingga aula dimana pernikahan Seung Hee akan berlangsung. Ia menyalami dan mengucapkan selamat pada Jong Won walaupun hatinya berkata lain.

“Apa aku bisa menemui Seung Hee?” tanya Luhan pada Jong Won yang langsung meminta seseorang mengantarkannya ke ruangan pengantin wanita.

Pengantar tersebut langsung meninggalkan Luhan setelah membukakan pintu untuknya. Didalam, Seung Hee duduk anggun dengan balutan gaun pengantin putih dan langsung disambut hangat olehnya.

“Oh oppa, wasseo. Kupikir oppa tidak akan datang, bagaimana penampilanku?” tanya Seung Hee penuh harap.

“Tentu saja pengantin akan cantik di hari pernikahannya.” Jawab Luhan sekenanya, ia sedang mencoba menjaga hatinya agar tidak menculik pengantin wanita di hari pernikahannya.

“Aku ingin sekali Jong Won oppa memakai jas putih, tapi sayangnya ia lebih memilih jas hitam.” Racau Seung Hee sebal.

“Kita pasti akan terlihat serasi saat aku menunggu di altar Seung Hee~ya. Aku akan memakai apapun yang kau inginkan dihari bersejarah kita. Aku ingin saat aku membuka mataku, kau menjadi orang pertama yang kutemui dan tersenyum padaku. Aku akan memberikan apapun yang kau inginkan. Saat kau terluka, aku ingin menjadi orang pertama yang menolongmu. Disaat kau sedih, aku ingin menjadi orang pertama yang menawarkan dadaku untuk menjadi sandaranmu. Disaat kau takut, aku ingin menjadi orang pertama yang melindungi.” Ungkap Luhan lirih, setetes air mata menuruni pipi pucatnya.

“Oppa…” ucap Seung Hee tak kalah lirih. “Apa maksudnya semua ini?”

“Kau ingat saat pertama kali kita bertemu. Aku berdiri di depan rumahmu dan kau memukuliku dengan payung dan disaat itu pula kau mendapatkan kalung berlian Amethys di kotak suratmu.” Timpalnya dengan suara bergetar. “

“Oppa…”

“Aku yang memberikan seluruh hadiah itu, Seung Hee~ya. Akulah secret admirer-mu.” Tandasnya, sedih.

Seung Hee hanya bisa bungkam setelah mendengar seluruh pernyataan mengejutkan yang terlontar dari mulut Luhan sendiri. Seung Hee hanya bisa menatap wajah pria dihadapannya yang telah basah oleh air matanya.

Luhan maju selangkah dan memeluk gadis itu erat. Seung Hee ingin meronta. Namun Luhan semakin mengeratkan pelukannya. “Hanya sebentar Seung Hee~ya, sebelum kau menjadi milik seseorang.” Pintanya lemas.

Setelah cukup lama, Luhan melepaskannya dan menghapus jejak di wajahnya. ia menyodorkan buket bunga yang dipegangnya selama ini. “Ini permintaan dan pemberian terakhirku. Kumohon, gunakan buket bunga ini di pernikahanmu.” Seung Hee meletakan mawar merah yang ditangannya dan mengambil tulip putih dari tangan Luhan sembari mengangguk kaku.

Luhan berbalik dan berjalan menuju pintu, sebelum pintu itu menutup sempurna. Ia kembali menoleh. “Kau fans-ku satu-satunya yang berarti.”

*_*

Luhan memandang dengan sedih Seung Hee yang berjalan menuju Jong Won di depan altar. Gadis itu menepati janjinya dan menggunakan bunganya. Mereka saling melempar senyum sedih ketika mata mereka bertemu.

Luhan mengikuti seluruh rangkaian acara pernikahan yang menyedihkan untuknya. Dari awal hingga akhir, salah satu acara yang menurutnya aneh tapi tetapi tetap dilakukannya, pelemparan bunga. Pria dan wanita bersiap di belakang pengantin wanita yang mulai berancang-ancang melempar bunganya.

Luhan yang tidak peduli tentang acara terakhir itu, hanya memutar kepala sebal dan berjalan pergi. Namun panggilan atas namanya, membuatnya mau tidak mau berbalik hingga secara refleks menerima apa yang menerjang ke arahnya.

Ia menatap sedih apa yang berada di genggamannya dan beralih menatap pada sang pelempar. Seung Hee terlihat tersenyum sedih dan menyesal sementara para undangan bersorak histeris ketika mengenali penangkap bunga tersebut.

Tanpa acuh, Luhan keluar dari aula tersebut menuju sungai Han yang cukup sepi ditengah siang. Ia duduk termenung sembari menatap kosong sungai di depannya hingga sebuah sosok menutupi pandangannya. Luhan tersenyum manis dan membuka jasnya lalu mempersilahkan sosok itu duduk diatas jasnya.

“Kau seperti mempelai pria yang ditinggal kabur mempelai wanita hyung.” Ejeknya, sembari menutup payung dan menurunkan syalnya.

“Kau seperti pengindap albino Sehunie. Kenapa kau disini? Bagaimana kau bisa menemukanku?”

“Hyung selalu kesini kalau sedang bersedih bukan?” jawab Sehun dengan muka polos. “Apa hyung baru putus?”

“Aku memang ditinggal kabur mempelai wanita, Sehunnie. Apa yang harus kulakukan?” ucapnya lirih.

“Carilah wanita lain yang mau menerima hyung apa adanya, mencintaimu sepenuh hati serta menyayangi melebih hyungdeul?” ujar Sehun panjang lebar menasihati.

“Apa kau menyayangiku Sehunnie?”

“Geurom! Aku sangat menyayangimu!” seru Sehun dengan membuat symbol hati dengan kedua tangannya.

Luhan berlutut dihadapan Sehun sembari menyodorkan buket tulip putihnya yang kembali. “Kalau begitu, maukah kau menikahiku?” lamarnya.

Sehun mengambil buket bunga dan langsung menampar Luhan keras dengan itu. “Maaf hyung, aku masih normal!” semburnya dan berlalu meninggalkan Luhan. Ia kembali membuka payungnya dan menaikan syal untuk menutupi wajahnya.

Sedangkan Luhan masih terpaku karena shock, adik kesayangannya baru saja menamparnya dengan buket bersejarahnya. Ia menggeram kesal lalu mengambil jas putih serta buket bunganya dan mengejar Sehun.

“KEMBALI KAU MAGNAE KURANG AJAR! SUDAH KUBILANG, JANGAN DEKAT-DEKAT KYUHYUN HYUNG!”

Walaupun aku tidak memilikimu, asal kau bahagia. Itu sudah lebih dari cukup untukku, Park Seung Hee. Terimakasih karena sudah membiarkanku mencintaimu dalam diam untuk dua tahun. Saranghae Park Seung Hee.

End

6 thoughts on “FF: Silent Me

  1. rani berkata:

    Kasian bgt sih si luhan ditolak seung hee sama sehun diwaktu yang sama
    hehehehe manis ceritanya dan agak nyesek hehehe
    tp aku suka yg adegan akhir lucunya hahahaha

    bayangin jadi seung hee yg punya stalker kaya luhan aku juga mau hahahaha #ngarep

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s