FF EXO : AUTUMN Chapter 8

autumn

Author  :  Oh Mi Ja

Cast :  Leeteuk SJ as Park Jungsoo

Luhan EXO as Park Luhan

Kai EXO as Park Jongin

Sehun EXO as Park Sehun

Support Cast      : Kris EXO as jaksa

Suho EXO as Pastor

Taemin Shinee as Lee Taemin

JR JJ Project as Park Jin Young

Jonghyun CN Blue as Lee Jonghyun

Shindong SJ as Shin Donghee

Dongho Ukiss as Shin Dong Ho

Genre                   : Brothership, Family,  Friendship, little sad

Sehun tidak beranjak dari tempatnya sejak tiga jam yang lalu. Hari sudah mulai gelap namun Jongin belum juga memperlihatkan dirinya. Sejak tiga jam yang lalu, Sehun terus duduk di anak tangga yang ada di teras rumahnya. Bahkan ia meninggalkan makan siang yang sudah disiapkan oleh bibi Kwon.

“Sehunie, sebentar lagi akan hujan. Sebaiknya kau masuk ke dalam”seru Luhan untuk yang kesekian kalinya menyuruh adik bungsunya.

Sehun menggeleng, “aku mau menunggu Jongin hyung”

“Sehunie, kau bisa sakit jika terus duduk disini”

“Shireoyo, hyung. Aku mau menunggu Jongin hyung” Sehun tetap bersikeras

“Kalau begitu, aku akan mengambilkan makanan untukmu. Bukankah kau balum makan?”

Sehun menggeleng lagi, “Jongin hyung bilang aku tidak boleh makan tanpanya. Aku hanya ingin makan jika Jongin hyung sudah datang”

Luhan benar-benar frustasi. Ia menarik napas panjang dan menghembuskan panjang-panjang juga. Merasa sangat tidak berguna karena tidak bisa melakukan apapun untuk kedua adiknya.

Sejak mendengar penjelasannya tadi siang, Jongin memilih pergi dari rumah untuk menenangkan pikirannya. Luhan mengerti jika dia butuh waktu untuk menerima kenyataan ini jadi dia mengijinkannya Tapi, Luhan tidak menyangka jika Jongin akan pergi selama ini, bahkan ponselnya tidak bisa dihubungi. Usahanya mencari Jongin melewati Taemin juga tidak membuahkan hasil, Jongin tidak bersamanya. Mencari di tempat-tempat yang biasa dikunjungi oleh Jongin, juga tidak bisa menemukannya.

“Hyung, Jongin hyung pergi kemana?”suara kecil Sehun membuat Luhan menoleh kearahnya

Luhan menggeleng, “molla”

“Tadi siang dia bilang dia ingin pergi ke toko alat tulis tapi sampai sekarang dia belum juga pulang. Apa Jongin hyung sedang jalan-jalan bersama Taemin hyung? Kenapa dia tidak mengajakku?”

“Jongin tidak sedang jalan-jalan, Sehunie”kilah Luhan mengacak rambut adiknya

“Lalu?”

“Aku tidak tau…”

“Hyung, apa sebaiknya kita mencarinya? Sebentar lagi hujan dan Jongin hyung tidak membawa jaket. Aku takut dia akan kedinginan”

“Sehunie, kau alergi dingin. Sebaiknya kau tetap di rumah”

“Kau juga alergi dingin, hyung”balas Sehun cepat. “Jebaal..ajak aku mencari Jongin hyung. Aku ingin ikut mencarinya. Jebaaal…”

Luhan menarik napas panjang, “baiklah. Pakai jaketmu. Kita akan mencari Jongin”

Sehun mengangguk lalu tersenyum lebar, “aku juga akan memberitahu Kwon ahjumma untuk menyiapkan air hangat untuk Jongin hyung”

***___***

 –

Hujan mulai mengguyur permukaan kota Seoul di malam hari. Bersamaan bunyi tetesan yang menabrak pelindung tempat duduk halte, seorang namja terduduk seorang diri dalam diam. Menatap ke bawah dengan punggung membungkuk tanpa memperdulikan udara dingin yang terus menyapu permukaan kulit gelapnya.

‘Appa dituduh menggelapkan uang perusahaan. Sehari sebelum persidangan appa digelar, appa melarikan diri dari penjara untuk mengambil sebuah bukti yang disimpannya di brangkas kantor. Tapi, ternyata seseorang berusaha menghentikannya. Appa berhasil kabur dan bermaksud menemuiku untuk memberikan bukti itu. Tapi, dia justru ditabrak dan bukti itu hilang. Aku sudah bisa menduga jika yang menabrak adalah musuh appa di perusahaan. Dan sekarang, appa sedang dirawat di rumah sakit karena koma’

‘Mianhae, aku sengaja tidak memberitahumu karena aku tidak siap jika melihatmu menangis. Aku sangat takut jika kau terpukul. Aku pikir, aku bisa menanggungnya sendiri tanpa melibatkan kedua adikku’

‘Seluruh harta appa akan disita termasuk mobil dan rumah kita. Donghyun ahjussi juga sudah tidak menjadi pengacara appa lagi karena aku sudah tidak mempunyai uang untuk membayarnya. Waktunya tersisa satu minggu dan setelah itu kita harus meninggalkan rumah. Mianhae Jongin-ah, aku tau kau pasti membenciku karena aku tidak bisa menjadi hyung yang baik untukmu. Tapi, aku mohon. Jangan beritahu Sehun karena melihatnya menangis adalah sesuatu yang paling menyakitkan untukku. Aku mohon’

 –

Tubuh menjulang itu diguyur hujan deras namun seperti mati rasa. Dia seperti tidak berjiwa. Hanya langkah-langkahnya yang menuntun dalam diam. Bersamaan dengan ribuan tetes air hujan, sebuah air mata juga mengalir disana. Disepasang mata yang kini teduh.

Dalam keheningannya, ia terus melangkah. Dalam kesedihannya, ia terus merasakan kesakitan itu. Dadanya sangat sesak. Dia sangat membenci sosok kakaknya yang sudah menyembunyikan hal ini darinya, bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi. Tapi, hati kecilnya justru berkata lain. Ia mengerti alasan Luhan adalah karena terlalu menyayangi. Dia bukanlah kakak yang buruk seperti katanya, dia justru yang terbaik.

“Jonginie!”

Bibi Kwon menjerit kaget saat mendapati Jongin sudah berdiri dibalik pintu rumahnya. Ia menarik kedua lengannya ke dalam dekapan lalu memeluknya erat-erat.

“Kau kemana saja, huh? Sehunie dan Luhanie sangat mengkhawatirkanmu”

Dan tangisan dalam diam itu akhirnya pecah ke permukaan. Jongin tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi. Pertahanannya hancur bersamaan suara isakannya yang mulai terdengar menyakitkan.

“Ahjumma..eottokhe? eottokhe?”

Kesedihan itu dirasakan semuanya. Bahkan bagi wanita tua yang sudah mengabdi bertahun-tahun di keluarga kecil itu. Tidak bisa berkata apapun, dia hanya bisa menekan mulutnya kuat-kuat. Menahan tangisannya yang juga ingin keluar.

“Aku…aku benar-benar tidak tau harus bagaimana. Apa Tuhan membenciku? Apa Dia sangat membenciku? Aku hanya mempunyai keluarga kecil. Kenapa Dia juga menghancurkannya? Kenapa harus keluargaku?”

***___***

 –

Setelah membersihkan diri dengan air hangat, Jongin turun ke lantai satu. Ia duduk dalam diam di ruang tamu tanpa menyalakan televisi seperti biasanya. Dalam keheningan itu, langkah-langkah bibi Kwon menyeruak pelan mendekati Jongin, menjatuhkan diri disamping namja berkulit gelap itu.

“Kau tau? Selain mengingatkan ahjumma untuk menyiapkan air hangat untukmu, Sehunie juga membuatkan ini”

Jongin menoleh pelan, menatap kearah gelas susu yang ada ditangan bibi Kwon.

“Sehun membuatkannya untukku?”

Bibi Kwon mengangguk, “sebelum pergi, dia memaksa ahjumma untuk mengajarinya cara membuat susu. Mungkin rasanya akan sedikit lebih manis karena dia menumpahkan banyak susu bubuk, tapi dia membuatkan ini dengan tulus” Bibi Kwon menyerahkan gelas susu yang sudah dingin itu pada Jongin.

Jongin terdiam. Memandang gelas itu untuk beberapa saat karena hatinya terus saja bergejolak hebat. Rasa sakit itu dirasakannya. Melekat dan tidak bisa hilang. Sangat ingin menumpahkan amarahnya pada semua orang, tapi ingatannya tentang wajah adiknya berhasil memudarkan semua itu.

Dia memang masih terlalu kecil untuk mengetahui masalah ini. Dan satu-satunya orang yang paling merasa tersakiti jika semuanya terungkap adalah dia. Sejak kecil, terkadang Jongin memang memiliki rasa cemburu yang besar terhadap kasih sayang semua orang terhadap Sehun. Appa, bibi Kwon, Luhan, Jonghyun, dan Taemin, semua akan membelanya jika mereka sedang bertengkar walaupun semua itu adalah kesalahan Sehun. Tapi perlahan, dia mulai mengerti. Sejak kecil, Sehun tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu sehingga Appa dan kakaknya sengaja memberikan kasih sayang yang berlebihan padanya.

“JONGIIIIN HYUUNG!!!”

Lamunan Jongin buyar saat tiba-tiba suara Sehun terdengar. Sehun berlari menghampiri Jongin dengan wajahnya yang sudah basah, menghambur kearah kakaknya dengan ekspresi kepanikan.

“Hyung, kau kemana saja? Kami mencarimu. Apa kau kehabisan ongkos sehingga tidak bisa pulang? Kau kehujanan? Apa kau sakit? Hyuung, aku dan Luhan hyung sangat mengkhawatirkanmu”cecarnya bertubi-tubi dan langsung menangis dipelukan Jongin. “Hyung, lain kali aku tidak akan meninggalkanmu sendirian. Aku akan selalu menemanimu”

Dan luapan emosi itu tidak bisa ditahan lagi saat ia merasakan dekapan adiknya semakin erat. Jongin membalas dekapan itu tak kalah erat. Mencurahkan semua bentuk rasa sayangnya pada adiknya.

“Mianhae Sehunie”isak Jongin di pundak Sehun. “Mianhae karena aku sudah membuatmu khawatir”

***___***

 

“Bukankah sudah ku peringatkan agar tidak ikut, huh? Sekarang kau menjadi flu seperti ini”seru Luhan memberikan kotak tisu pada Sehun lalu beranjak ke dapur unyuk mengambil kotak obat.

“Hyung, kau tidak meminum susumu? Aku yang membuatnya”tanya Sehun melihat Jongin hanya duduk disampingnya sambil menatap kearahnya tanpa menyentuh gelas susu yang daritadi diletakkan bibi Kwon diatas meja ruang tamu.

“Aku akan meminumnya nanti”

“Apa rasanya tidak enak?”balas Sehun cepat

“Rasanya sangat enak. Aku pasti akan menghabiskannya. Sekarang yang terpenting adalah kau. Kau mau minum susu? Aku akan membuatkannya untukmu”

“Yaaah, aku sedikit kedinginan”

Jongin tersenyum lalu mengacak rambut jamur Sehun, “Chamkanmanyo”serunya beranjak menuju dapur dan meninggalkan Sehun yang tengah asik menonton kartun kesukaannya.

Dua pasang mata itu bertemu saat mereka hampir saja bertabrakan di pintu dapur. Menatap Luhan sejenak, Jongin menghela napas panjang lalu berseru pelan, “hyung, bisakah kita bicara?”

Luhan sudah sangat mengetahui dengan apa yang akan ditanyakan oleh Jongin. Ia mengangguk pelan, “tentu saja”balasnya lalu kembali memasuki dapur dan menarik salah satu kursi makan. Jongin menempati kursi yang ada dihadapannya.

Tidak ada yang mengeluarkan suara hingga helaan napas Jongin terdengar berat. Seperti terdapat sebuah beban dibaliknya. Yah, bagi namja yang masih menempati bangku kelas 3 SMP, semua ini pasti terasa sangat berat.

“Kapan kita harus pindah, hyung?”tanya Jongin dengan nada yang sudah lebih tenang

“Seminggu lagi”jawab Luhan pendek

“Sudah menemukan rumah yang murah?”

Luhan menggeleng lemas, “seperti yang kau dengar, aku akan mencari rumah yang tidak terlalu kecil agar Sehun bisa beradaptasi terlebih dahulu”

“Tapi, bukankah uang yang kita punya tidak banyak? Aku rasa Jonghyun hyung benar. Sebaiknya kita mencari rumah yang sederhana dan murah”

“Lalu bagaimana dengan Sehunie? Apa yang harus kita jelaskan padanya tentang kepindahan ini?”

Jongin menggigit bibirnya kelu, menarik napas panjang untuk sekedar menguatkan dirinya sendiri. “kita bisa berbohong sedikit padanya”

***___***

 –

Taemin hanya bisa terus-menerus menghusap punggung Jongin begitu mendengar musibah yang sedang menimpa keluarganya. Hanya bisa terus berada didekatnya dan menjadi orang yang selalu ada jika ia membutuhkan pendengar.

Sengaja tidak menjemput Sehun di kelasnya seperti biasa, Jongin dan Taemin duduk berdua disalah satu bangku kantin dalam diam. Hanya ada dua buah gelas minuman di meja mereka. Setidaknya, ini adalah waktu dimana ia bisa meninggalkan rasa bersalahnya terhadap Sehun.

“Aku akan membantumu mencari rumah sewa yang murah”seru Taemin merangkul pundak Jongin

Jongin menoleh, kemudian tersenyum lembut. “Gomawo, Taemin-ah”

“Sudahlah. Aku tau kau sangat sedih, tapi jangan lupa jika masih ada aku. Aku pasti akan menemanimu”

***___***

Luhan dan Jonghyun berdiri disebuah rumah kecil yang letaknya tak jauh dari rumah Taemin dan Jinyoung. Keduanya saling pandang.

“Apa kau yakin rumah ini disewakan?”tanya Luhan

Jonghyun mengangguk, “jika alamatnya benar, berarti rumah ini memang disewakan. Sebaiknya kita tanya dulu pada pemiliknya”

Luhan dan Jonghyun mengetuk rumah yang ada disebelahnya tiga kali. Tak lama seorang wanita tua keluar dengan menggendong seekor anjing dipelukannya.

Luhan dan Jonghyun membungkuk sopan, “annyeonghasimika omoni…”

“ada apa?”balas wanita itu lembut

“Apa benar omoni menyewakan rumah seharga 20.000won per bulan?”

“Aaah…kalian datang untuk menyewa rumah?”

“Yee…”

“Aku memang menyewakan rumah. Kalian mau melihat rumahnya?”

“Boleh”

Wanita tua itu menutup pintu rumahnya kemudian berjalan keluar, dibelakangnya Luhan dan Jonghyun mengikuti. Kening keduanya seketika berkerut saat wanita tua itu melewati rumah yang pertama kali dilihat Luhan dan Jonghyun tadi.

“Aku pikir rumah yang itu”bisik Luhan dibalas dengan anggukan Jonghyun

“Aku juga berpikir seperti itu”

Mereka menuju sebuah rumah yang berjarak tiga rumah dari rumah wanita itu. Wanita tua itu kemudian membuka pagar rumah dan menaiki anak-anak tangga. Hingga saat mereka sampai diatas, Luhan dan Jonghyun tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka.

Terdapat sebuah teras luas yang berfungsi untuk menjemur pakaian ataupun sekedar duduk santai didepan sebuah rumah yang sangat-sangat kecil.

“Ini rumahnya”

“I-ini?”tunjuk Luhan masih tidak percaya

“Yaah. Ini rumahnya. Kalian berminat?”

Luhan dan Jonghyun saling pandang kemudian tertawa kecil, “aah..kami akan mempertimbangkannya. Gomapseumnida omoni”

***___***

 –

“Bagaimana?”tanya Jonghyun sambil memberikan minuman dingin pada Luhan

Luhan menarik napas panjang, “nan molla”

“Aku rasa rumah itu tidak buruk. Lagipula harga sewanya sangat murah. Dan yang lebih menguntungkan lagi, rumah itu berada dekat dnegan rumah Jinyoung dan Taemin. Sehuni dan Jonginie pasti sangat senang”hibur Jonghyun

“Tapi, rumahnya sangat kecil. Hanya terdapat satu kamar tidur dan satu kamar mandi. Ruang tamunya juga bergabung dengan dapur. Aku tidak yakin Sehunie akan betah tinggal ditempat itu”

“Luhan hyung….” Jongin tiba-tiba menghampiri Luhan dan Jonghyun yang sedang asyik mengobrol di teras belakang rumah mereka. “Tadi, aku dan Taemin menyempatkan diri mencari rumah sewa dan akmi mendapatkan rumah yang murah”

Mata Luhan seketika membulat, “jinjjayo? Oedi?”

“Didekat rumah Taemin dan Jinyoung. Hanya saja rumahnya sangat kecil”

“Mwo?! Kau ke rumah itu juga?!!”seru Luhan terkejut

“Ehh?”

“Rumah seharga 20.000won perbulan itu kan?”

“Bagaimana kau bisa tau hyung?” kali ini Jongin yang tekejut

“Aku dan Jonghyun juga dari sana tadi”balas Luhan sembari menghembuskan napas panjang. “Bagaimana? Apa kita menyewa rumah itu?”

“Aku rasa rumahnya tidak buruk. Lagipula, terasnya sangat luas”balas Jongin tersenyum yakin

“Kau yakin? Gwenchana?”

“Tentu saja. Lagipula rumah itu sangat dekat dengan rumah Taemin. Pasti akan menyenangkan”

“Tapi Sehunie?”

Jongin mengikuti arah pandangan Luhan yang sedang menatap ke dalam, kearah Sehun yang tengah tertawa terbahak-bahak karena kartun yang ditontonnya.

“Kita beri pengertian padanya pelan-pelan hyung. Mungkin sedikit sulit, tapi aku yakin Sehun mau mengerti”

Jonghyun menyetujui ucapan Jongin, “Jongin benar. Semua hanya perlu waktu”

TBC

 

25 thoughts on “FF EXO : AUTUMN Chapter 8

  1. Tiikaa berkata:

    Huaaaaaaa….
    Jongin bersikap dewasa bnget dngan gk membenci luhan krna luhan bohong sma dia…

    Eonie,, gmna ntar reaksinya sehun klau dia tau msalah ini.. Dia pasti gk mngkin lngsung bersikap kyak jongin,, dia psti bkal terpukul dan kecewa bnget sma kedua hyungnya….

    Eonie,, kpan kbenaran akan terungkap..
    Gk tega sma kluarga luhan,, yg hrus menanggung akibat dri perbuatan orng jahat yg udh fitnah ayahnya sehun itu….

    Oke deh eon aku pnsaran sma kelanjutannyaaa….

    Next chapter aku tunggu ya eon🙂

  2. Nabila berkata:

    hunnie harus bisa beradaptasi. fufufu~
    ditunggu kelanjutannya kak… penasaran siapa yg tega menuduh dan menyelakai teukie ahjussi…. dan apa motifnya :3

  3. nina berkata:

    aahhh web na baru iah eon
    kasihan mereka😦
    semoga sehunnie betah sm rumah baru na
    biar luhan sm kai kaga susah2 lagi
    semoga kebenaran juga cepet teruangkap😦

  4. soorin 2312 berkata:

    aaaaaaaaaa….makin nyesek bacany unn…
    jongin akhirny bisa nerima jg…
    ga bsa bayangin sehun nanti bakalan kyak gmna nerima kenyataan kluargany…
    huweeeee😥

  5. klymgirl berkata:

    Aaaa jongin nya ga marah ternyata dia belajar jadi dewasa dengan nerima semua nyaa :))
    Tapi gimana sama sehun nanti nya pas mereka harus pindah ke rumah yang kecill ??
    Kapan kebenaran nya terungkap thor kasian mereka nyaa😦

  6. Dini berkata:

    Gak tega liat luhan ge😦 jadi tulang punggung keluarga yah😦 plis thor bias aku jangan terlalu di siksa yah😦
    fighting Lugan ge t_t/
    Next nya semoga ga lama fighting juga buat authornya ^^/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s