FF: Mournful

mournful-onfallcouple-storyline

Judul Cerita  : Mournful

Author  : Onfanllcouple

Main Cast : Kim Junmyeon

  Kim Jongin

Support cast : Do Kyungsoo

  Park Chanyeol

  Xi Luhan

Genre  : Fantasy,Psychology, Brotership, Little of Sci-Fi.

Rating  : PG-15

Length  : one-shot

Credit poster : cafeposterart.wordpress.com 

bARTender  : Lee Youngmi

 

Happy nice reading ^^

Lelaki itu kini tengah memejamkan matanya. Berada dalam sebuah dunia fantasi yang sedang mengikatnya untuk beberapa waktu. Tidak semua atau tidak juga setiap saat dunia yang tercipta dari hasil alam bawah sadar itu menyenangkan. Meskipun tidak bisa masuk kedalamnya, tapi bisa kita lihat mimpinya itu indah saat ini. Dari wajahnya yang terlihat begitu damai saat ini. Wajah yang tampan , pipinya yang terlihat begitu empuk dan menggemaskan. Satu lagi, senyumnya bak seorang malaikat. Itu semua adalah dirinya yang sesungguhnya.

Sebenarnya masih ada satu lagi, mata itu, matanya yang sebelah kanan. Saat matanya tertutup semua terlihat lebih jelas. Ia memiliki sebuah luka bakar dimata kanannya, yang ia putuskan untuk tidak pernah mengoperasinya. Ia lebih suka matanya itu kehilangan hampir seluruh fokusnya juga mendapat tatapan ngeri dari setiap orang yang melihatnya. Menurutnya semuanya itu adalah sebuah kebanggaan yang tak pernah bisa dilupakannya. Tepat pada malam saat ia memergoki appanya yang sedang berselingkuh di ruang kerja. Ia mendapatkan luka itu. Appanya dengan tega menyiram mata anak kecil polos tak berdosa dengan sebotol whiski yang dipegang tangan kokoh itu.

Suho itulah namanya yang sebenarnya, artinya seorang guardian angel. Tapi sudah ia putuskan untuk mengubah nama menjadi Kim Junmyeon, menurutnya itu lebih pantas untuknya. Lebih tepatnya lagi untuk seorang penjahat kelas kakap seperti dirinya. Otak dengan IQ diatas rata-rata ditambah nilai akademiknya yang menunjang. Harta berlimpah yang ditinggalkan orangtuanya. Semuanya sukses merubahnya menjadi otak terbesar dari salah satu organisasi kriminal terbesar dunia. Sebuah kerajaan bisnis kotor yang kini jatuh kebawah tangannya yang tidak pernah bisa disentuh sedikitpun bahkan oleh ujung kelingking pemerintah.

Ttok. . .  ttok. . .

Suara ketukan itu membuat Junmyeon mengerutkan dahinya. Masih dengan mata terpejam ia berusaha mengatur nafasnya yang mulai tak beraturan. Detak jantungnya bertambah cepat setiap detiknya. Wajahnya terlihat begitu pucat, ia terlihat begitu gelisah. Belum lagi tubuhnya yang tiba-tiba berkeringat.

“hyung. . . bangun.” Suara yang berasal dari balik pintu itu terdengar begitu lembut 

Seketika itu juga Junmyeon membuka matanya lebar. Ia menatap lurus kearah pintu kamarnya. Junmyeon terlihat begitu ketakutan, ia terus meringkuk seperti orang kedinginan.

“TIDAK!!! Tidak kau bukan dongsaeng ku!! Pergi kau!! Pergi jangan pernah dekati aku lagi! Pergi!!” teriak Junmyeon

“tapi hyung, aku ini benar-benar dongsaeng mu. Aku Kim Jongin. Satu-satunya keluarga yang kau miliki didunia ini. Dongsaeng yang sangat kau sayangi.”

“TIDAK!! Aku tau betul siapa dongsaeng ku! Kau bukan Jongin!! Pergi tinggalkan rumah ini!” teriak Junmyeon lagi. “Aku menyesal. . . semuanya salah!!” Junmyeon mencambak rambutnya sendiri. Ia memeluk kakinya, menggoyangkan badannya sesuai irama, giginya saling bertumbukan satu sama lain.

“Apa itu dapat menebus semua kesalahan ku pada hyung?”

“PERGI!! Aku tidak mau mendengar apapun dari makhluk seperti mu!” dengan kedua tangannya Junmyeon menutup telinganya rapat-rapat.

Sebenarnya apa yang ditakuti Junmyeon dari Jongin dongsaeng kandungnya sendiri ? Junmyeon yang selalu memasang wajah dinginnya pada siapapun itu. Tapi tak pernah sekalipun ia tunjukkan wajah menyeramkan itu pada Jongin. Junmyeon yang bahkan tak pernah tersenyum. Bahkan sekalinya tersenyum ia hanya akan tersenyum kecut sebelum mengeksekusi seseorang dengan pistolnya. Padahal senyumnya yang bak malaikat selalu ia tunjukkan setiap saat melihat Jongin.

Satu-satunya orang yang Junmyeon sayangi didunia ini hanyalah Jongin seorang. Jongin yang lahir kedunia tanpa pernah melihat siapa omma yang melahirkannya. Karena itu Junmyeon begitu menyayangi Jongin. Junmyeon ingin Jongin bisa merasakan kasih sayang yang pernah ia dapat dari ommanya. Mulai dari Jongin bayi sampai akhirnya ia menjadi anak laki-laki yang sama tampan dengannya. Jongin selalu memberikan senyum terbaik yang ia miliki untuk hyungnya itu. Sampai suatu hari Jongin mengetahui segala pekerjaan Junmyeon.

Semenjak itulah Jongin tak pernah lagi tersenyum atau sekedar menyapa hyungnya. Sekeras apapun Junmyeon mencoba mendekati Jongin. Dongsaengnya itu malah kabur dan berubah menjadi orang yang brutal. Jongin bukanlah Jongin yang dulu. Anak lelaki yang baik dan manis tapi ia tak ada bedanya lagi dengan Junmyeon. Anak yang suka membully anak lainnya, ikut tawuran, balapan illegal. Akhirnya Jongin berhenti dengan sendirinya ketika ia mengetahui keadaan fisiknya yang lemah. Kanker yang diderita omma mereka turun pada Jongin.

Kenyataan itulah yang membuat Junmyeon sangat down. Ia tidak bisa menepati janjinya pada Jongin disaat-saat akhirnya. Terakhir yang Junmyeon ingat Jongin mengeluh ‘rasanya sakit hyung, sakit…’ kalimat itulah yang selalu terngiang-ngiang di telinganya. Tapi Junmyeon tak bisa berbuat apapun untuk dongsaeng kecilnya itu sampai akhirnya Jongin menutup matanya dalam tidur abadi.

 

Flash back : on

Namja itu yang berkulit gelap dan mempunyai tubuh yang cukup tinggi. Kini ia tengah berdiri ditepi jalan besar yang berada didepan sebuah rumah megah nan mewah. Namja itu hanya berdiri disitu, diam sepertinya sedang menunggu seseorang. Beberapa waktu berlalu akhirnya pagar kokoh yang terbuat dari baja itu terbuka lebar. Sebuah mobil jaguar berwarna hitam mengkilap pun keluar. Sebuah senyuman terukir dibibir namja berkulit gelap tadi begitu melihat namja yang sedang menyetir itu. Rasanya melihat keadaan orang itu saja sudah membuat hatinya tenang.

Dalam sekejap mata tiba-tiba sudah berdiri seorang namja yang lebih tinggi disebelah namja berkulit gelap itu. Namja yang lebih tinggi itu memperlihatkan deretan giginya yang begitu rapih. Ia tersenyum sumringah.

“hei, Kkam!!” sapa namja yang lebih tinggi

“Chanyeol-sshi kau selalu mengagetkan ku!” namja yang berkulit gelap itu mengelus-elus dadanya

“kau ini! Kau sudah menjadi arwah selama 2 hari tapi belum terbiasa juga.”

“bagaimana bisa kau menemukan ku?”

“itu mudah saja. Pertama kali aku bertemu dengan mu disini, lalu sampai kemarin malam juga kau disini. Sebenarnya apa yang menarik dari namja yang mata kanannya mengerikan itu?”

“entahlah. Aku mana tau. Kau sendiri yang bilang ketika kita menjadi arwah kita akan melupakan semua memori kita selama hidup. Aku bahkan tidak tau siapa nama ku. Itukan kau saja yang memberikan nama seenaknya pada ku. Hanya karena kulit ku hitam, kau namai aku kkam(hitam). Tapi aku bingung dari mana kau tau nama mu?”

“karena semakin lama menjadi arwah maka ingatan ku perlahan akan kembali. Oh, iya aku hampir lupa tujuan ku sebelumnya. Ayo kita berpesta, tinggal 2 hari lagi aku akan diadili. Semoga aku bisa masuk ke yang namanya surga itu. hehe…”

“kau tidak menemui keluarga mu?”

“sudah. Tapi itu terlalu menyedihkan. Melihat mereka hanya membuat ku ingin kembali menjadi manusia. Dan itu adalah hal yang mustahil kan.”

“benar juga.”

“sudahlah ayo kita berpesta saja!” Chanyeol memetikkan jarinya dan dalam sekejap mereka berdua sudah berada didalam sebuah gedung yang gelap dan jelek. Tapi disitulah tempat para arwah berkumpul dan tentu saja berpesta. Sebenarnya tidak seperti yang dibayangkan manusia. Tidak ada yang namanya minum darah. Mereka hanya bisa berdansa dan berbicara satu sama lain. Mereka juga tak pernah merasakan yang namanya haus atau lapar. Itulah yang terkadang membuat para arwah bosan sembari menunggu 40 harinya sebelum diadili.

Termasuk Kkam dia merasa sangat bosan apa lagi dengan yang Chanyeol sebut pesta itu. Menurutnya berkeliling lebih menyenangkan. Baru 2 hari saja ia sudah tidak sabar untuk kembali ingat siapa dirinya dan bagaimana ia dulu. Padahal kebanyakan arwah tidak memperdulikannya karena hal itu hanya akan menyakitkan pada akhirnya.

Begitu ia memetikkan jarinya, Kkam sudah berada disebuah taman. Ia lebih suka memandangi anak-anak yang sedang bermain dengan anjing. Terkadang reflek Kkam ikut menangkap anak anjing itu. Tapi begitu anjing itu menembus badannya begitu saja. Ia ingat kembali bahwa ia hanyalah sebuah arwah. Akhirnya ia hanya duduk diatas rerumputan sambil menonton saja.

“hei Kkam!” tiba-tiba sebuah arwah sudah duduk lagi disampingnya

“oh, Luhan-sshi. Ada apa kau kemari?”

“aku hanya ingin memandang-mandang. Kebetulan bertemu dengan mu disini.”

Mereka berdua menikmati pemandangan taman dengan damainya. Sampai seorang anak lelaki terjatuh didepan mereka.

“hei! Siapa yang menemani mu ke taman nak?” tanya Kkam yang reflek mendekati anak kecil yang terjatuh tadi. Tapi anak itu hanya menangis, bahkan menangisnya lebih keras. Sampai akhirnya Luhan menarik Kkam.

“hei, asal kau tau anak kecil itu dapat merasakan kehadiran kita. Kau membuatnya takut tau.”

“maafkan aku. Aku hanya ingin membantunya saja.”

“kau ini terlalu baik Kkam. Mungkin dulunya semasa kau hidup kau orang yang sangat jahat.”

“kenapa kau bilang seperi itu?”

“biasanya orang yang baik saat ia menjadi arwah. Orang itu berarti sangat jahat ketika ia hidup makanya dia ingin menebus semua kesalahannya saat menjadi arwah.”

“mungkin saja itu benar. Aku sepertinya sangat jahat dulu.”

“kalau kau sangat ingin tau kehidupan mu. Kita bisa mencari taunya lewat identitas mu?”

“bagaimana caranya?”

“mencari kuburan mu.”

~~~~~===_===~~~~~

 

Di sebuah kamar yang besar dengan ranjang yang empuk. Didalamnya ada sebuah lemari berisi koleksi bola. Mulai dari ukuran yang paling besar basket sampai yang paling kecil pingpong. Di ding-ding sebelah kiri dari arah pintu ditempel sebuah kaca super besar. Sepertinya si pemilik kamar sangat suka menari. Tapi kamar itu sedikit berbeda sekarang karena ada sebuah meja yang diatasnya berjejer ramuan-ramuan kimia. Tepat didepan meja itu ada sebuah ranjang kecil yang panjang berhawa hangat. Terbaring seseorang yang tubuhnya terlihat sedikit putih pucat.

Begitu masuk dari pintu kita bisa mengetahui siapa pemilik kamar tersebut. Dari foto-fotonya yang menghiasi dingding depan pintu. Bingkai-bingkai itu sebagian berisi foto namja yang terbaring pucat tadi dan sisanya, fotonya bersama namja berkulit putih bersih dengan mata kanannya yang mengerikan. Tepat sekali inilah kamar Kim Jongin.

Sudah 2 hari ini Junmyeon menghabiskan waktunya didalam kamar itu. Sesekali ia keluar untuk pergi membeli suatu ramuan kimia terlarang. Karena hanya dia yang memiliki akses untuk mendapatkannya. Menjelang malam ia akan tidur diranjang Jongin. Merasakan aroma dongsaengnya yang masih tersisa sedikit disitu. Ia merasa hidupnya hancur dan tak berarti tanpa Jongin. Tidak ada lagi alasannya untuk hidup.

Sepulang Junmyeon dari suatu tempat dengan membawa sebuah ramuan. Ia langsung berlari masuk kedalam kamar itu lalu meletakkan ramuannya diatas meja. Ia berjalan menuju ranjang kecil yang panjang. Dimana raga Jongin tengah terbaring disana.

“annyeong Jonginnie^^” sapa Junmyeon pada raga yang kaku itu dengan senyumannya. Kemudian Junmyeon menyentuh dada Jongin.

“aku tau jantung mu masih berdetak. Walau lemah aku bisa merasakannya. Dasar dokter itu saja yang bodoh! Dia hanya tidak mau mengakui kalau ia tidak bisa menolong mu. Dia bahkan terlalu bodoh untuk menjadi dokter. Tapi tenang saja Jongin. Hyung akan mengembalikan mu seperti semula. Aku tau kau masih hidup.”

Junmyeon memakai jubah putihnya dan mencampur beberapa senyawa yang baru dibelinya. Ia merumuskan sesuatu diatas kertas untuk mendapat sebuah perbandingan. Senyawa-senyawa itu bereaksi menimbulkan sebuah asap putih kecil sebelum membentuk suatu senyawa baru. Lalu ia menempelkan tabung reaksi itu pada sikunya untuk merasakan suhu ramuannya. Setelah itu diletakkan nya tabung reaksi pada rak tabung reaksi.

Junmyeon berjongkok untuk mengambil labu erlenmeyer yang ia taruh dibawah meja. Labu Erlenmeyer itu berisi sebuah ramuan herbal yang sudah ia racik kemarin. Junmyeon menggoyang-goyangkan labu itu perlahan hingga berubah warna dari hijau menjadi sedikit kuning. Lalu ia mengangkat kepala Jongin dan meminumkan ramuan itu pada Jongin. Cukup sulit sebenarnya memberi minum orang yang bisa dibilang setengah mati.

Namja yang mata kanan mengerikan itu menontonni dongsaengnya. Perlahan kulit gelap Jongin kembali terlihat. Cukup lama memang prosesnya sampai akhirnya tubuh pucat itu kembali terlihat segar. Kemudian Junmyeon mengambil tabung reaksinya tadi dan meminumkannya pada Jongin. Sekarang lebih mudah. Begitu selesai memberikan minum. Junmyeon langsung menggoyangkan dada Jongin agar udara dapat bebas masuk kedalam paru-paru dongsaengnya itu.

~~~~~===_===~~~~~

 

Jongin dan Luhan sedang berkeliling disebuah kompleks pemakaman. Bertemu banyak arwah dan banyak juga manusia yang menangis didepan beberapa nisan.

“jadi bagaimana, kau tidak merasakan sesuatu?” tanya Luhan

“merasakan apa?” tanya Jongin balik

“sebuah tolakan dari dalam hati mu. Seperti ketika dua kutub magnet yang sama disatukan, maka mereka akan saling tolak menolak. Sama juga seperti raga mu yang akan menolak nyawa mu untuk kembali.”

“iya, sepertinya tidak ada Luhan-ssi.” Tiba-tiba Jongin teringat suatu tempat yang selalu ingin ia masuki tapi dia tidak pernah berani untuk masuk. Itulah sebabnya ia hanya menunggu diluar. Hanya dijalan depan rumah mewah itu.

“mungkin dipemakaman lain.” Luhan menepuk bahu Jongin lembut. Berusaha menghibur sobatnya itu.

“goma-” tiba-tiba saja Jongin menghilang sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya. Membuat bulu kuduk Luhan merinding seketika. Tidak pernah ia rasakan yang seperti ini sebelumnya. Dapat Luhan rasakan kalau itu bukanlah kehendak Jongin.

~~~~~===_===~~~~~

 

Mata itu, setelah terpejam cukup lama akhirnya mulai bergerak pelan. Junmyeon dapat melihat semua itu, sebentar lagi dongsaengnya akan kembali ke dunia nyata. Akhirnya mata itu terbuka juga.

“Hyung. . .”

Junmyeon tersenyum dan langsung memeluk dongsaengnya yang begitu ia rindukan.

Flash back : Off

 

2 hal yang paling menyakitkan didunia ini bagi Junmyeon. Pertama ketika satu-satunya orang yang menyayanginya didunia meninggal dan yang ke-2 ketika orang yang satu2nya yang ia sayangi didunia meninggal. Ommanya meninggal beberapa jam setelah melahirkan dongsaengnya ke dunia. Disaat yang menyedihkan itu, teriakan Jongin dongsaeng kecil yang umurnya beda 10 tahun darinya menyadarkannya sesuatu. Bahwa masih ada alasannya bertahan untuk hidup didunia ini. Karena ia harus memenuhi janjinya pada ommanya.

Malam itu hp Junmyeon berbunyi, seseorang yang tak pernah ia sangka menelponnya. Senyuman itu mengembang dengan sendirinya dipipi Junmyeon ketika ia mengangkat telpon. Jongin memintanya untuk menemaninya jalan-jalan ditaman sambil membawa anjing mereka akhir pekan ini. Detik itu juga tanpa pikir panjang Junmyeon mengiyakan keinginan dongsaengnya itu. Setelah ia menutup telponnya baru ia sadari kalau ia berada dalam sebuah bisnis penting di Macau pada akhir pekan. Bahkan saat ini ia sendiri sedang berada di Paris.

Dengan berat hati Junmyeon harus melanggar janjinya. Karena ia sedang mengumban misi rahasia negara. Namja itu harus mengeksekusi para koruptor yang kabur ke Macau secara diam-diam tanpa diketahui dunia. Inilah yang membuat organisasinya tidak pernah, bahkan selalu bersih dari tangan pemerintah. Tanpa pemerintah ketahui sebenarnya para koruptor itu adalah agen-agennya yang telah berkhianat. Ini sama saja seperti ia menjual barang busuk kepada orang buta dan merampas uangnya dengan mudah.

Setelah menyelesaikan misi penting itu ia segera kembali ke Seoul. Begitu sampai dirumahnya ia langsung mencari Jongin dan kepala pelayan Lee hanya bisa menunduk lesu dihadapan tuannya itu. Junmyeon tidak pernah tau kalau Jongin selama ini sakit. Ia merasa sangat bersalah karena tidak bisa mewujudkan keinginan terakhir dongsaengnya itu. Selama beberapa hari Junmyeon hanya bisa melihat Jongin terbaring lemah tak berdaya dengan alat-alat medis yang menempel ditubuhnya.

Junmyeon merasa hidupnya telah gagal. Janji pada ommanya tidak bisa ia tepati dan janjinya kepada Jongin yang juga tidak bisa ia tepati. Junmyeon merasa frustasi akan dirinya sendiri dan membawa raga Jongin pulang ke rumah mereka. Ia sendirilah yang berusaha keras mengembalikan Jongin ke dunia. Tapi kenapa ia harus menyesalinya?

Jujur Junmyeon sebenarnya ingin sekali memeluk Jongin. Mengajaknya jalan bersama seperti apa yang diinginkan Jongin waktu itu. Tapi begitu ia melihat senyum Jongin, cara Jongin menyapanya berbeda, perilaku Jongin yang lebih lembut padanya. Melihat Jongin yang sekarang. Itu malah membuat Jumyeon semakin frustasi dan takut menghadapi Jongin. Itu semua karena kebanyakan momen penting dalam hidupnya sudah terkubur terlalu dalam di hatinya. Tanpa ia sadari, ia sudah melupakan nya.

Dalam ingatannya hanyalah sebuah senyuman kecut yang muncul. Mata itu yang selalu menatapnya sinis. Tangan yang suka mendorongnya kasar. Mulut yang tak pernah sekalipun digunakan bahkan hanya untuk mengatakan satu kata manis pun. Kaki yang selalu dipakai berlari menghindarinya. Anehnya, itu semua yang justru diharapkan Junmyeon saat ini. Sungguh sesuatu yang tidak logis!

~~~~~===_===~~~~~

 

Malam dimana Jongin tengah tidur diranjangnya yang empuk dan nyaman. Namja itu terbangun karena tenggorokannya tiba-tiba terasa begitu kering. Dengan malas Jongin melangkahkan kakinya menuju dapur untuk meneguk segelas air. Saat ia hendak kembali menuju kamarnya yang kebetulan melewati kamar hyungnya. Ia dapat melihat orang itu dengan jelas berada didepan pintu kamar Junmyeon. Orang itu terlihat mirip manusia tapi buat apa ia memakai yang serba putih mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut? Jongin segera menghampiri orang itu sebelum ia masuk kedalam kamar hyungnya.

“hei, siapa kau? Bagaimana bisa kau menembus keamanan rumah kami?” tanya Jongin sambil menarik pundak orang yang lebih pendek darinya. Akhirnya orang itu berbalik menghadap Jongin.

“Kyungsoo?”

“bagaimana bisa kau menyentuh ku? Dan,, kau mengenal ku?”

“ehm, aku Jongin yang suka membully mu di smp dulu. Tapi aku tidak tau lagi kabar mu setelah pindah sekolah.”

“oh, kau masih mengingat ku rupanya. Aku bingung kenapa bisa kau menyentuh malaikat seperti ku? Tapi aku tau Tuhan pasti punya maksud lain.”

“apa aku penyebab kematian mu?”

“bukan. Aku korban tabrak lari kok.”

“apa yang kau lakukan didepan kamar hyung ku?”

“aku baru mau menjemputnya. Besok pagi kau akan mendapatkan hyung mu mati karena serangan jantung dadakan.”

“tapi hyung ku tidak punya penyakit jantung.”

“itu adalah alasan paling mudah menjadi penyebab kematian manusia saat ini. Sudahlah anggap saja ini bonus kau mengetahui kematian hyung mu lebih awal. Atau kembali saja tidur!”

“tidak! Jangan ambil hyung ku sekarang. Aku bahkan belum berbaikan dengannya. Tuhan jahat! Ia sudah mengambil ku dan sekarang mengembalikan ku. Lalu mau mengambil hyung ku. Hyung ku belum bertobat, ia pasti mau memasukkan hyung ku ke neraka.”

“justru itu, Tuhan itu jauh lebih baik dari yang kau kira Jongin. Yang Maha Kuasa itu tau betul bagaimana hati hyung mu yang sebenarnya. Coba kau pikirkan kenapa harus aku seorang malaikat yang menjemputnya? Karena dia adalah orang yang spesial. Walau sebenarnya setiap orang spesial dimata Tuhan. Mulai dari kecil ia tidak pernah mendapat kehidupan yang layak. Meskipun harta melimpah tapi appa kalian selalu memperlakukannya dengan buruk. Karena kepintarannya ia dipaksa akselerasi. Tidak seperti anak sebayanya yang bisa bermain sana sini. Diumur yang masih sangat muda ia harus merawat mu dengan sangat baik. Meskipun pada akhirnya kau memperlakukannya dengan buruk. Dia tetap menyayangi mu. Selama ini dia terlalu banyak menderita. Jadi sudah waktunya untuk menjemput dia sekarang.”

“karena itu jangan jemput hyung ku. Ijinkan ia merasakan kebahagian yang seharusnya ia dapatkan. Lebih baik kau bawa aku saja.”

“baiklah. Tuhan menyetujuinya.”

“dari mana kau tau Tuhan menyetujuinya?”

“aku mendengar suara Tuhan.”

“tapi aku tidak mendengar apa-apa.”

“hanya aku yang bisa mendengarnya. Kau bukan malaikat.”

“ah.. kapan kau akan membawa ku? Sekarang?”

“itu rahasia. Tidak ada seorang pun yang boleh tau kapan tepatnya ia mati. Manusia hanya bisa merasakan kedekatan waktunya tapi waktu tepatnya tetap tidak ada yang tau! Kau tau aku ini pandai sekali bersembunyi, seperti main petak umpet. Lalu tiba-tiba kau akan ikut melayang bersama ku.”

Cling…

Kyungsoo menghilang begitu saja setelah menyelesaikan perkataannya. Jongin yang sudah mulai terbiasa dengan makluk-makhluk yang suka pergi seenaknya. Kini ia hanya mendengus kesal. Matanya sekarang tertuju pada pintu yang ada didepannya saat ini. Didorongnya pintu itu perlahan, ternyata tidak dikunci. Pelan-pelan Jongin masuk ke dalam kamar itu. Kamar yang sudah lama tidak ia masuki. Ternyata kamar itu masih sama, sipemilik kamar masih menyukai warna hitam, seisi kamar berwarna hitam. Didalam kamar itu banyak sekali foto Jongin dan omma mereka.

Jongin melangkah kaki nya lagi menuju lemari kecil disamping ranjang Junmyeon. Ia begitu tertarik pada sebuah foto lama yang ditaruh paling ujung dekat tembok. Foto itu fotonya bersama Junmyeon 10 tahun yang lalu. Dia dan Junmyeon tersenyum satu sama lain dalam bingkai itu. Jongin menaruh bingkai itu kedalam pelukan Junmyeon ia berbisik pelan “hyung,,, Aku ini tetaplah Jongin kecil yang selalu kau sayangi. Jangan pernah lupakan itu. sebelum kau menyesalinya setelah kehilangan ku untuk kedua kalinya.”

Setelah Jongin berbisik, Junmyeon tersenyum dalam tidurnya. Membuat Jongin geli melihatnya. Perlahan ia langkahkan kakinya keluar diam-diam dari kamar itu.

~~~~~===_===~~~~~

Junmyeon berjongkok sambil membuka tangannya lebar-lebar. Anak kecil itu tersenyum berjalan pelan-pelan kearahnya. Matanya terus fokus memandangi permen yang ada ditangan kanan Junmyeon.

Happ…

Nyatanya Junmyeon hanya memeluk anak kecil itu tanpa memberikannya permen. Lalu ia tertawa melihat ekspersi dongsaengnya itu. Jongin terlihat begitu lucu saat ia kesal.

. . .

Junmyeon sudah bersiap dengan tangan kanannya. Jongin yang baru pulang dari sekolah masih mengenakan seragam. Ia langsung berlari menghampirinya hyungnya. Jongin ingin menepukkan tangannya dengan tangan hyungnya. Tapi nyatanya Junmyeon malah menaikkan tangannya tinggi-tinggi. Jongin harus melompat untuk meraihnya sedangkan Junmyeon hanya tertawa melihat tingkah dongsaengnya itu. Akhirnya Jongin berhasil dan ia tersenyum puas pada Junmyeon. Lalu mereka tertawa bersama.

. . .

Junmyeon duduk disofanya, menunggu dengan cemas. Sudah tengah malam tapi dongsaengnya itu belum juga pulang. Akhirnya terdengar suara deruan mobil dari luar. Junmyeon langsung berlari menuju pintu senang ‘pasti Jongin’ batinnya. Tapi Jongin malah mendorong kasar hyungnya. “buat apa kau pedulikan aku! Aku tidak sudi dipedulikan oleh orang jahat seperti mu! Pergi kau!!”

Begitu Junmyeon mengejar Jongin dan menarik bahunya. Dalam sekejap mata dongsaengnya itu berubah. Bahkan bajunya juga tiba-tiba bukan lagi seragam yang tadi ia kenakan melainkan sebuah pakaian sehari-hari. Jongin tersenyum menghadap Junmyeon. Tanpa Junmyeon sadari ia juga ikut tersenyum bersama Jongin.

. . .

Junmyeon terbangun dari tidurnya. Setaunya ia tidak memegang apapun sebelum tidur. Tapi foto itu, ‘bagaimana bisa?’ pikirnya. Begitu dilihatnya gambar dalam bingkai itu. Ia ingat semuanya sekarang. Bagaimana pun juga itu hanyalah sebuah senyuman yang hilang sementara dan kini telah kembali.

~~~~~===_===~~~~~

 

Jongin yang masih rada mengantuk sedang sibuk mengucek matanya sambil berdiri didepan cermin kamar mandinya. Jongin bersiap dengan sikat giginya. Saat hendak menyikat gigi, Jongin malah mual dan langsung muntah. Lalu wastafel itu berlumuran darah kotor tepat dilubang pembuangan. Jongin memandangi dirinya dikaca, masih terlihat sisa darah dibibirnya.

“Jongin kau didalam?”

Jongin melirik ke kiri. Apa yang ia tak salah dengar? Suara nya, itu suara hyungnya. Jongin cepat-cepat menyalakan keran dan membersihkan bibirnya. Ia segera berlari menuju pintu kamarnya. Tapi ia putuskan untuk tidak membuka pintunya.

“ne, hyung. Aku disini, ada apa?”

“mau jalan-jalan bersama monggu sore ini?”

“ne.” dengan cepat Jongin mengiyakan sebelum hyungnya itu berubah pikiran.

“baiklah. Nanti tunggu aku ya!”

~~~~~===_===~~~~~

 

Kali ini Junmyeon benar-benar menepati janjinya. Ia pulang cepat sore ini dan mereka bertiga pergi jalan-jalan bersama. Meskipun Jongin sendiri sebenarnya merasa kurang enak badan, wajahnya juga terlihat sangat pucat. Tapi demi jalan-jalan bersama hyungnya ia berusaha untuk mengesampingkan kesehatannya. Setelah cukup puas, mereka kembali pulang ke rumah. Bukannya masuk, mereka berdua malah duduk-duduk ditaman rumah mereka.

“apa kau senang hari ini?”

“tentu saja, hyung. Kenapa hyung tiba-tiba mau jalan-jalan bersama ku? Kemarin hyung takut melihat ku.”

“hmm,, itu karena,, aku hanya merasa tidak pantas mendapat seorang dongsaeng yang baik seperti mu. Padahal aku begitu jahat, kau pantas marah pada ku seperti yang sebelum-sebelumnya.”

“tidak hyung. Akulah yang salah, seharusnya aku bisa lebih mengerti hyung dan mendengarkan alasan hyung melakukan semua itu. Maafkan aku hyung..”

“gwenchana. Tidak ada yang salah diantara kita.” Junmyeon mengelus rambut Jongin lembut. Tanpa sengaja setiap kali Junmyeon mengelus rambut Jongin. Beberapa helai rambut dongsaengnya itu ikut terbawa tangan Junmyeon. Membuat Junmyeon takut.

“hyung kau itu sangat tampan. Kau berhak mendapat sebuah kehidupan yang layak. Tinggalkan saja pekerjaan kotor itu. Hyung, kau sangat pintar jadi pasti banyak hal lain yang bisa kau kerjakan. Operasi luka mu bahkan ambil mata ku jika itu dibutuhkan. Lalu temui seorang gadis yang baik tidak perlu cantik. Maka hidup mu akan terasa lebih lengkap dan bahagia.”

“apa maksud mu?” Junmyeon melirik dongsaengnya.

Bbukk…

Jongin jatuh tepat diatas paha Junmyeon. Matanya sudah tertutup rapat sekarang. Tapi ia coba untuk membukanya lagi.

“Jangan pernah lagi menyesal untuk ku. Aku sangat menyayangi mu hyung^^. Kau tau aku begitu beruntung bisa mempunyai hyung seperti mu hyung. Gomaweo untuk semuanya hyung. Aku yang lahir kedunia tanpa merasa kasih sayang orang tua. Tapi hyung selalu ada untuk ku, menyayangi ku lebih dari apapun didunia ini. Itulah mengapa hyung adalah orang yang paling berharga bagi ku.”

“jangan buat aku takut Jonginnie!”

“tidak. Aku tidak suka membuat mu takut hyung. Tapi aku dapat merasakan kalau Kyungsoo berada disekitar sini.”

“siapa Kyungsoo?”

“teman smp yang dulu sering ku bully. Hehe^^… hoam…” Jongin menguap lebar

“tidurlah. Nanti aku gendong ke kamar mu.”

“gomaweo hyung^^” Jongin kali ini benar-benar menutup matanya rapat-rapat, tertidur dalam tidur abadinya. Tidur yang sangat panjang. Tapi Junmyeon bersikap seolah-olah tak ada yang terjadi. Ia hanya memandangi matahari sembari menahan tangisnya. Meskipun sulit, tapi kali ini ia benar-benar harus merelakan Jongin untuk pergi dengan tenang. Setidaknya ia sudah menepati janji, bukan.

 

End…

 

Suka atau tidak?? Hehe sorry kalau sangat jelek. Ini pertama kalinya author nulis genre beginian.. hehe^^ sorry for typho anywhere J please comment… hehe…

11 thoughts on “FF: Mournful

  1. Eyeliner bling bling^^ berkata:

    Terhura banget thor.. Jonginiieeee~ T.T Tapi gak kebayang kalo Bang Junmyun matanya luka bakar .-. Keep writing ya thor!! ^^

  2. De Sweeta berkata:

    ngk kebayang wajah mulus suho ada bekas luka di matanya smpe dibilang ‘mengerikan’ gtu :3
    Mau liatt Kyungsoo jd Malaikat ><
    Kai.. kai.. KAI Huaaaaaaa knpa harus mati 😦
    tapi suho keren jg bs ngehidupin lagi orang mati 😀
    Bagus ini Keep writing ya (y)

  3. [thehunlulu] berkata:

    Nangis bacanya, thor 😦
    Keren banget kok !! Kapan2 bikin FF yg genrenya gini aja, brothership sad gitu, hehehe 😀

  4. EXO with ShauntheSheep berkata:

    daebaaakk….kim jongin ” Habis mati hidup lagi,habis mati hidup lagi,matiii..hidup lagi. “#nadalagu(alm)mbahsurip. keep writing! Hwaiting! Hidup domba labil,eh EXO…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s