FF: Except Your Love

-Except your Love4

Author: Chanminmaa

Title: Except Your Love

Main Cast: 

EXO-K Chanyeol, Song Raeun

Genre: Romance, Drama, Divergence

Length:  Oneshot

_________

Kenapa?

Ada begitu banyak kata ‘kenapa’ yang selalu ku lontarkan, tak luput untuk terucap bahkan ketika memikirkannya atau saat sekedar melihat gambarnya sepanjang hari, dimanapun aku berada.

Kenapa harus seperti ini? Kenapa harus dia? Kenapa harus aku yang mengalami ini? Kenapa, kenapa, dan kenapa?!

Aku mendesah pelan, lagi dan entah untuk yang keberapa kalinya terus seperti ini, selama berjam-jam saat aku memutuskan untuk duduk dan menghadap komputerku, seperti sekarang.

Tak ada hal yang paling menyebalkan daripada ini, saat tanpa sebab yang jelas aku bahkan enggan beranjak untuk sekedar makan dan mengganjal perutku yang sudah kusadari sepenuhnya bahwa aku memang sangat lapar sejak tadi. Tapi aku justru lebih memilih bergelung dengan komputer, membaca deretan kalimat yang selalu sukses membuat moodku berubah drastis dalam sekejap. Pujian, gossip, artikel konyol lainnya yang terlu dibuat-buat, menurutku.

Aku… Sakit.

Kenapa harus seperti ini? Aku benci saat semua orang di dunia ini memujanya, terlebih saat jutaan gadis itu dengan bebas dapat menyentuhnya, memanggilnya, dan mengikutinya kemanapun. Sedangkan aku?

Kenapa harus dia? Aku tahu sejak awal mengenai kemungkinan terburuk ini, tapi aku tidak pernah membayangkan bahwa rasanya akan seperti ini. Aku cemburu, dengan siapapun dia membagi perhatiannya. Aku tidak  suka, saat dia selalu tersenyum untuk orang lain yang bahkan tak pernah ia kenal sebelumnya. Aku egois?

Kenapa harus aku yang mengalami ini? Aku merindukannya, aku sangat-sangat merindukannya dan tak ada yang bisa kulakukan selain berdiam diri seperti orang bodoh dan menunggunya menghubungiku. Sebenarnya, siapa aku baginya?

Sejenak aku meraih ponsel yang tergeletak tepat di sampingku, seingatku, beberapa detik yang lalu aku baru saja melemparkannya asal, merasa kesal saat tak ada panggilan atau pesan yang ku harapkan masuk.

Ini sudah pukul 24.25 am dan namja itu belum juga menghubungiku, setidaknya dia harus menanyakan bagaimana kabarku seharian ini, bukan?

“Kenapa?”  Aku bergumam lirih, melihat wallpaper foto kami di ponselku seakan hanya menambah kerinduanku pada sosoknya.

Sejujurnya aku ingin sekali menanyakannya, ribuan pertanyaan yang memenuhi otakku, mengusikku dengan berbagai kemungkinan  buruk yang menyesakkan. Jika saja aku bisa melakukannya. Tapi aku sudah tahu jawabannya, jauh sebelum aku berfikir untuk melakukannya. Ini hanya akan sia-sia.

…..

Terkadang, aku selalu berpikir untuk mengakhiri semua ini. Toh, keadaanku sekarang tak jauh berbeda saat dia ada atau tidak ada di sisiku.

“Seandainya..” 

Dalam hidupku, ‘seandainya’ adalah kata kedua setelah ‘kenapa’ yang nyaris setiap saat menghiasi hari-hariku.

Seandainya saat itu aku tidak perlu mengenal Park Chanyeol, dan berakhir dengan ia yang masuk dalam kehidupanku. Mungkin, semua akan berjalan normal-normal saja, dan mengabdikan diriku dengan sebutan fans rasanya jauh lebih menarik ketimbang menghabiskan sisa hidupku untuk  bersembungi dan melihatnya dari kejauhan, seperti saat ini.

“Ini gila!” Aku berdecak kesal. Bodoh. Setelah pemikiran singkat dan memilih datang ke acara fansign memangnya apalagi jika tidak disebut, bodoh?

Song Raeun kau memang bodoh! Lihat, aku bahkan mencoba menutupi wajahku dengan hand bag dan sukses membuat seluruh gadis ini menertawaiku. Mengenaskan.

Jika Chanyeol tahu, dia pasti akan benar-benar marah padaku. dia melarangku untuk datang dalam jenis acara apapun yang menyangkut ini, sebuah boy grup terpopuler dengan salah satu member beratas namakan Park Chanyeol!

Dan jika saja aku bisa merubah niatku, sayangnya aku sudah terlambat, teramat sangat terlambat karna satu langkah lagi, aku akan mati di hadapan namja itu. Sekarang juga!

Setelah antrian panjang yang melelahkan, untuk pertama kalinya aku berdoa agar tuhan segera melenyapkanku dari muka bumi ini, saat sorot mata itu menghujamku dengan tatapan tajamnya. Aku pasti akan mati sekarang!

“Apa ada yang ingin kau katakan?” Dia bertanya, dengan nada bicaranya yang dingin dan masih terfokus untuk menandatangani halaman photobook yang kuberikan. Jelas itu hanya kamuflase yang kugunakan agar bisa datang kemari. Berpura-pura menjadi fans?

Dia pasti sangat marah..

Sejenak terdiam, aku merogoh kotak bekal makan siang yang sudah kusiapkan untuknya di dalam tas. Tanpa berbicara apapun, meletakkannya di meja dan beranjak pergi. Bahkan aku tidak tahu apa yang ingin kubicarakan padanya, lalu untuk apa datang kemari?! Tsk, bodoh.

“Ah, Raeun-ssi?” 

Aku mengulas senyum simpul saat namja berpawakan mungil di hadapanku tersenyum ramah, meski tak dapat di pungkiri bahwa wajah imutnya itu tak kalah terkejutnya dengan ekspresi milik Chanyeol barusan.

“Apa yang bisa kulakukan untukmu?”

“Di sini, tanda tangani ini dan ini.” Dia mengangguk semangat saat aku menunjukkan halaman dengan foto miliknya, aku tahu ini bukanlah saat yang tepat untuk dia bertanya apa yang sedang kulakukan disini. Dan alasan kenapa Chanyeol terlihat begitu mengerikan saat sesekali melirikku yang berada tepat di sampingnya dan di hadapan Baekhyun.

Aku melangkahkan kakiku gontai, merasa lemas menyadari kenyataan konyol atas kebodohan yang baru saja kuperbuat. Aku nyaris saja akan melemparkan ponsel tak berdosa di tanganku saat tiba-tiba saja benda itu bergetar, menandakan bahwa ada pesan yang baru saja masuk.

From : 박찬열♥

Kita perlu bicara. Setelah ini, kita bertemu di tempat biasa.

Haruskah aku senang karna akhirnya dia mengirimiku pesan? Tapi ini bukanlah hal yang membuatku senang sama sekali, ini buruk, benar-benar buruk. Siapa yang tahu apa yang akan Chanyeol lakukan nanti? Oh, aku hampir saja gila~

…..

Hening. Tak ada satupun dari kami yang berniat untuk memulai pembicaraan. Berdiri berhadapan dengannya seperti ini, di sudut jalan kecil yang tak jauh dari apartemenku adalah tempat kami biasa bertemu. Disini sepi, sedikit gelap karna hanya ada lampu redup yang menerangi. Dan yang paling penting, cukup aman untuknya karna jarang ada orang yang berlalu lalang selarut ini.

“Kenapa kau kesana? Bukankah sudah ku katakan untuk tidak pernah pergi, apapun yang terjadi.”

Tertunduk, mati-matian aku menahan diri untuk tidak menangis. Bukan karna perkataan Chanyeol, tapi karna kesan yang terlalu jauh dari namja itu saat aku melihatnya di televisi satu jam yang lalu. Park Chanyeol, si happy virus yang lucu dan selalu tersenyum. Tapi, sekarang?

“Kenapa.. Benar, aku juga ingin sekali bertanya banyak hal tentang, kenapa kita memiliki batasan?”

Kedua alis namja itu bertaut, tampak tak mengerti dengan apa yang baru saja kuucapkan. “Apa?”

 “Aku lelah, aku sangat lelah untuk mengatasi ini semua. Aku merindukanmu, dan kau bahkan tak pernah ada disisiku. Melihatmu di televisi, mendengar suaramu di siaran radio, dan bertemu gambarmu di manapun aku berada.. Chanyeol-ah, rasanya aku hampir saja gila karna ini.”

“Raeun-ah..”

“Kenapa harus Park Chanyeol? Kenapa harus dia yang terpilih di antara begitu banyak namja di dunia ini? Kenapa aku harus mencintainya dan kenapa aku harus sesakit ini saat melihatnya dengan wanita lain? Kenapa…”

Terisak, lidahku terlalu kelu untuk melanjutkan kata-kata itu, sederet kalimat yang tak lagi bisa kutahan bersama amarah yang meluap seiring aliran bening ini meluncur dengan mudahnya dari sudut mataku.

Aku menampik kasar tangannya yang hendak merengkuhku, mengabaikan tatapan khawatirnya saat melihat tangisku yang semakin menjadi.

“Kau tidak mengerti. Bagaimana tersiksanya aku melewati semua ini, ketakutan yang selalu mengusik dan membuatku berpikir, bahwa kau terlalu jauh untuk bisa kuraih.”

Aku baru saja akan beranjak pergi saat satu tangan namja itu menarik pergelangan tanganku, menahanku yang berniat untuk meninggalkannya.

“Maaf.”

Sejenak berbalik, perlahan aku melepaskan tangan Chanyeol yang berada di tanganku. Aku mungkin akan menyesali ini di kemudian hari, aku mencintainya melebihi apapun yang kumiliki di dunia ini, tapi bertahan dengan rasa sakit ini bukanlah hal yang bisa kulalui lebih lama lagi.

“Aku lelah, dan aku sudah tidak sanggup lagi. Ayo, kita akhiri saja semua ini.”

…..

Tak banyak kenangan indah yang pernah kami lalui. Tapi kesan abadi yang tak akan pernah terlupakan adalah, seorang namja bernama Park Chanyeol yang pernah mengisi dan mewarnai kehidupanku tepat beberapa hari yang lalu saat aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami.

Kini semuanya terasa berbeda, berubah, termasuk sosoknya yang tak lagi bersamaku. Aku, menyesal…

Pergi meninggalkannya setelah mengucapkan kata-kata bodoh itu adalah sebuah kesalahan besar. Setidaknya aku harus meminta penjelasannya, kan?

“Sial!” Aku mendesah frustasi, melempar kesal remote televisi di tanganku. Ini menyebalkan, sangat menyebalkan karna seluruh tayangan ini sama sekali tidak menghibur. Aku bahkan tidak bisa melupakannya sedetikpun. Oh, tuhan aku bisa gila karnanya!

“… Aku tidak benar-benar tahu. Aku hanya selalu berpikir bahwa dia pasti memahami ini, karna sejak awal dia sudah mengerti bagaimana pekerjaanku. Aku tidak menyangka ini akan menyakitinya.”

Aku menoleh, terkejut saat tiba-tiba mendengar suaranya, sebuah suara yang terasa sangat familiar di telingaku. Dan benar saja, tanpa sengaja aku sudah mengganti channel saat melempar remote tadi. Sosok di televisi itu, tengah berada di sebuah interview bersama member EXO lainnya.

“Chanyeol..”

Jadi kau memiliki pacar, sebelumnya?

Aku terdiam, menyadari kemana arah pembicaraan ini. Terlihat jelas bahwa namja itu benar-benar canggung, dan enggan membicarakannya. Tapi, apa yang sebenarnya terjadi? Hingga dia membocorkan sesuatu yang selalu kami jaga selama ini.

Hei, dia bahkan marah saat aku, untuk pertama kalinya pergi ke fansign!

Iya, kami bahkan sudah menjalin hubungan sebelum aku debut.”

Apa dia sudah gila?! Aku terbelalak kaget, tak percaya dengan sederet kalimat yang terlontar begitu saja dari namja itu.

Wah, benarkah? Itu sangat menarik, tapi tidakkah kau merasa ini sebuah pengakuan yang sia-sia karna hubungan kalian yang sudah berakhir? Kau tidak takut bagaimana karirmu nantinya?” MC itu semakin mempersulitnya, kau memang bodoh Park Chanyeol! Harusnya kau tidak sebodoh ini untuk mengatakannya!

Aku memang merahasiakan ini dari publik, melarangnya untuk pergi menemuiku dan menghubungiku duluan. Semua itu kulakukan untuk melindunginya, aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya jika orang lain mengetahui ini. Sungguh, aku tidak pernah sekalipun berpikiran bahwa kehadirannya hanya akan merusak karirku.”

Chanyeol menghela nafas, semua orang terdiam, tampak menunggu namja itu untuk melanjutkan perkataannya. Apa selain bodoh, dia juga ingin mati? Mengatakan semua ini sama halnya dengan bunuh diri, bukan?

Melihatnya meneteskan air mata dan berkata betapa tersiksanya dia selama ini, membuat hatiku hancur. Mengingat saat dia datang ke fansign hanya untuk memberiku sekotak bekal makan siang, sebenarnya aku ingin sekali memeluknya saat itu juga. Kupikir aku harus menahan semua keinginanku, agar tetap bisa melindunginya.. dan membiarkannya pergi tanpa menjelaskan apapun, mungkin adalah satu-satunya cara agar dia tak lagi terluka karna aku.

Apa sekarang aku sudah menangis, lagi? Dasar Park Chanyeol bodoh! Bisa-bisanya dia tersenyum di saat seperti ini. Orang-orang itu mungkin memang bertepuk tangan atas keberaniannya dalam mengatakan hal sebodoh itu, tapi masalah yang timbul setelah ini, apa dia tidak memikirkan itu?!

“Jika semua ini menjadi akhir dari impiannya, maka aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri.”

Aku beranjak, tergesa meraih mantel di sofa dan berlari pergi, entah kemana langkah kaki ini akan membawaku. Aku hanya, ingin sekali bertemu dengan Chanyeol saat ini. Namja bodoh itu, aku benar-benar ingin memeluknya, mengatakan betapa aku mencintainya dalam segala hal yang ada dalam dirinya tanpa terkecuali, dan menjitak kepalanya atas hal konyol yang ia lakukan tadi, tentunya.

Sejenak berpikir, aku berhenti berlari saat baru saja melewati jalanan kecil dekat apartement. Sedikit tersengal saat merogoh ponsel dan mengetik sebuah pesan singkat untuknya. Sebuah pemikiran yang seharusnya ku lakukan sejak awal sebelum berlari keluar seperti orang kesetanan padahal ini sudah larut malam.

To : 박찬열♥

Ya! Apa kau mau mati? Cepat datang kemari, atau aku akan membunuhmu!

Sebenarnya kata-kata ini sedikit kasar, tapi siapa yang peduli karna jika aku tidak segera melihatnya aku pasti akan menjadi gila!

“Aigoo, ternyata responnya begitu cepat. Ini bahkan tidak sampai satu detik aku sampai, orang ini tidak sabaran sekali.”

Suara itu..

Aku menoleh, dan mendapati sosoknya yang entah sejak kapan sudah berada tepat di belakangku, dengan deerpy smile yang menyebalkan serta ponsel di tangannya. Tapi, bukankah aku baru mengirim pesan itu, dan acara itu? Kenapa dia bisa secepat ini?

“Ta-tapi, bagaimana kau–”

“Jangan bilang kau lupa jika itu bukan acara live.” Namja itu berujar, seakan bisa membaca apa yang sedang kupikirkan. Dan seringaian itu.. Sekarang pastilah aku yang terlihat bodoh disini. Menyebalkan.

Aku berdecak kesal, bersidekap enggan dan menatapnya tajam. Seolah-olah terlihat bahwa aku akan benar-benar menghabisi namja itu sekarang.

“Apa?”

“Tidak. Hanya saja aku tidak akan mengatakan ‘terimakasih’ atas aksi konyol itu, dan jangan berharap bahwa aku mau bertanggung jawab untuk apa yang terjadi nantinya.”  Chanyeol tampak tersenyum, dan berjalan semakin mendekat kearahku.

“Tidak akan.” Satu tarikan kuat dari namja itu hingga akhirnya aku berhasil jatuh kedalam pelukannya. Bolehkah aku berdoa pada tuhan, agar waktu berhenti berputar saat ini juga?

Perlahan, kedua tangan ini tanpa sadar mulai beringsut, membalas dekapan namja itu jauh lebih erat. “Kau bodoh.”

“Aku tahu.”

“Kau ini kenapa? Bagaimana jika kau mendapatkan masalah besar karena ini?” Chanyeol melepaskan pelukannya saat lagi-lagi aku mulai terisak. Menatapku lembut, sebelum jemarinya yang sigap mulai mengusap aliran air mata ini dari kedua sisi wajahku.

“Tidak ada yang lebih menakutkan daripada memikirkan bahwa aku akan kehilangan gadis yang paling kucintai di dunia ini.”

“Kau memang bodoh.”

“Aku tahu.” Dan lagi, namja itu kembali merengkuhku ke dalam pelukannya. Membawaku larut bersama hangat tubuhnya, serta satu fakta lain bahwa sampai kapanpun aku berjanji tidak akan ada lagi kebodohan untuk melepaskan namja ini dari hidupku. Apapun yang terjadi.

…..

Jadi, apa yang salah dengan seorang bintang? Tidak peduli pada siapapun kau jatuh cinta, jangan pernah melepasnya hanya karna rasa takut, jika tidak kau akan menyesalinya seumur hidupmu.

“Aku ingin bertanya!”

“Silahkan Raeun-ssi, waktumu hanya 3 menit, dari sekarang.” Apa ini bagian dari akting? Tsk, orang ini benar-benar mau mati.

“Emm.. Apa nama pasta gigi yang di gunakan Park Chanyeol hingga membuat giginya terlihat begitu berkilau?”

Dia mendengus geli, menghentikan kegiatannya untuk menandatangani banner yang sebelumnya kuberikan, dan beralih menatapku tak percaya.

“Pertanyaan macam apa itu? Dan, apa-apaan ini, Saranghaeyo BaekYeol couple? Aku tidak percaya kau bisa melakukan ini padaku!”

Aku tertawa, puas melihat reaksinya yang terlalu berlebihan saat menunjuk banner buatanku di meja nya. Fotonya bersama Baekhyun, yang sengaja ku edit layaknya sepasang kekasih yang sedang berpelukan mesra. Ini adalah ide gila selain memutuskan untuk benar-benar menjadi fans nya dan datang di setiap acara yang bersangkutan dengan EXO, termasuk datang ke fansign hari ini.

“Kita harus bicara setelah ini.” Bisiknya tepat di telingaku saat akan menyerahkan benda itu. Aku menatapnya acuh, menarik banner yang tergulung rapi di tangannya kemudian melangkah maju, bersiap untuk barisan member selanjutnya.

Setelah menjatuhkan pilihanmu, apapun itu. Maka bersiaplah untuk menutup mata, tak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya. Tetap berbahagia dan melewati semuanya bersama-sama, meski itu adalah hal tersulit yang bisa kau lakukan.

Karna aku tidak akan merasa iri lagi. Pada jutaan gadis yang menyebut diri mereka Exotic, atau sikapnya sebagai seorang idola yang seringkali membagi perhatiannya untuk orang lain. Tersenyum, melambai, dan bahkan memeluk. Segalanya, kecuali cintanya yang hanya milikku. Tak ada yang perlu di takutkan, karna kami saling mempercayai satu sama lain.

**FIN**

2 thoughts on “FF: Except Your Love

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s