FF: A Song To Remember (3/3)

a song to remmember

Tittle    : A Song to Remember

Author      : Ohmija

Main Cast   : Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Support Cast  : Kim Jongin a.ka Kai

Genre    : Friendship, Family, Sad

Summary   : Jika saja ia tau kemana orang-orang yang sudah tidak ada itu pergi, mungkin dia akan kesana, merusak pintunya dan menarik Baekhyun kembali.

 –

Kau tau, Baekhyun?

Aku akan berusaha sebisa mungkin untuk membantumu mencapai impian

Aku akan melakukan apapun untukmu

Bukankah kau selalu mengatakannya padaku? Kau akan menjadi penyanyi hebat, kau akan berdiri diatas panggung dan menerima penghargaan..

Bangunlah..karena aku menunggumu..

Bangunlah..karena aku akan menemanimu menggapai impian itu..

Byun Baekhyun…

 –

Kedua mata itu terbuka perlahan, jari-jarinya bergerak menandakan dia masih bernyawa. Berdiri disampingnya, Chanyeol memandang wajah pucat itu lirih. Memaksakan dirinya untuk tersenyum dan meredam tangisannya.

Tangannya terus menggenggam tangan Baekhyun erat. Enggan membiarkan tangan itu dingin.

“Hai…”

Seulah senyum juga terlihat diwajah lemah Baekhyun, “Hai… kau sudah makan? Kau pasti belum tidur karena menjagaku”

Chanyeol menggeleng, “tidak. Aku sudah makan dan aku sudah tidur”

“Aku tau kau berbohong”seru Baekhyun tertawa kecil. “tidurlah. Bukankah aku sudah bangun sekarang?”

“Aku tidak mengantuk. Aku ma—“

“Kau masih bisa melihatku saat kau bangun nanti”potong Baekhyun meyakinkan Chanyeol.

“Aku ingin menjagamu”balas Chanyeol menatap mata Baekhyun serius

Baekhyun tersenyum tulus, “Selama ini kau selalu menjagaku. Sekarang, biarkan  aku yang menjagamu”

“Tapi—“

“Aku mohon” Baekhyun melepaskan tangannya yang digenggam oleh Chanyeol, berganti dengan tangannya yang menggenggam tangan besar itu. “Aku mohon, Park Chanyeol”

Dan seperti biasanya. Chanyeol tidak akan bisa menolak. Tubuhnya memang lelah karena semalaman harus begadang menjaga Baekhyun sementara ibunya harus bekerja. Semalaman menggenggam tangan Baekhyun agar tangan itu tidak dingin. Tapi, selelah apapun dia saat ini, rasa kantuk itu tetap tidak dirasakannya. Ketakutannya semakin menjadi-jadi. Bagaimana jika saat dia bangun mata itu sudah tertutup? Bagaimana jika saat dia bangun, orang itu sudah tidak ada? Dan masih banyak lagi kekhawatiran Chanyeol terhadap Baekhyun.

•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••

 –

“Chanyeol..psstt…Chanyeol…ayo bangun”

Chanyeol mendengar suara samar di dalam mimpinya. Ia mengerang pelan lalu berbalik.

“Chanyeol…psst…”

Chanyeol membuka matanya perlahan saat disadarinya suara itu bukan hanya sekedar mimpi. Ternyata ibunya.

“Ibu?”seru Chanyepl beranjak duduk dengan suaranya yang masih serak

“Ibu ingin bicara denganmu. Ayo kita keluar”

Chanyeol menghusap-husap matanya sambil menguap lebar. Duduk sejenak untuk mengumpulkan kesadarnnya lalu mengikuti langkah ibunya. Sesaat sebelum ia keluar, ia sempat menoleh kearah Baekhyun dan mendapatinya tenagh tertidur pulas di ranjang pasiennya.

“Ada apa bu?” Chanyeol menutup pintu yang ada dibelakangnya lalu duduk disalah satu kursi, disamping ibunya.

Nyonya Byun terdiam untuk beberapa saat, membuat Chanyeol mengerutkan keningnya rapat-rapat menatap nyonya Byun.

“Bu, ada apa?”ulang Chanyeol lagi

“Kau tau, Yeol? Ibu sudah tidak memiliki apapun lagi. Ibu sudah menjual semua perhiasan peninggalan ayah untuk biaya rumah sakit dan terapi Baekhyun. Tadi, ibu sudah berbicara dengan bagian administrasi. Jika kita tidak bisa membayar biaya rawat inap Baekhyun minggu depan, Baekhyun harus dipulangkan ke rumah”

“Ibu sudah mencoba menjelaskan jika Baekhyun memiliki penyakit parah? Mereka tidak bisa menyuruh Baekhyun pulang seenaknya. Baekhyun harus diobati, bu”

Nyonya Byun menghela napas panjang, “ibu sudah mencobanya. Tapi, itu sudah prosedur rumah sakit. Mungkin gaji ibu akan cukup membayar biaya rawat inap, tapi bagaimana dengan semua terapi yang akan dijalani Baekhyun? Semua itu sangat mahal”

Rahang Chanyeol mengatup rapat, emosinya memuncak. “Baekhyun harus diobati bagaimanapun caranya!”

“Tapi Yeol, kita—“

“Bu, tunggulah disini. Aku akan membantu ibu mencari uang untuk Baekhyun”

 –

Chanyeol terus berlari dari tempat pemberhentian bus menuju rumah Tao. Bahkan angin kencang yang berhembus seperti tidak bisa menembus pori-pori kulitnya. Ia sudah memucat tapi tubuhnya sedang mati rasa.

Chanyeol menekan bel rumah Tao dua kali dengan pencetan cepat, tidak sabar agar Tao cepat keluar dan menemuinya. Tak lama, sosok namja bertubuh tinggi itu membukakan pintu untuk Chanyeol. Ia terkejut. Bukan karena mendapati teman sekelasnya sudah berdiri di balik pintunya tapi karena penampilan Chanyeol yang terlihat acak, juga wajahnya yang pucat.

“Chanyeol, kau kenapa?”tanya Tao khawatir

“Tao, bukankah ayahmu mempunyai kelas kungfu?”

“Benar…lalu?”

“Apakah mereka masih membutuhkan pekerja? Aku memang tidak bisa bela diri tapi aku bisa bersih-bersih. Bisakah kau bilang pada ayahmu untuk mempekerjakanku?”

Mata Tao melebar, “kau mau bekerja? Untuk apa?”

“Aku mohon, Tao. Keadaan Baekhyun sudah sangat parah. Aku harus mencari uang untuk membayar biaya terapinya. Aku mohon” Chanyeol memohon pada Tao dengan nada mendesak. Ia bahkan sampai mengatupkan kedua telapak tangannya di depan Tao.

“Baiklah. Aku akan bertanya pada ayahku dulu”

•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••

 –

Ayah Tao bersedia membantu Chanyeol. Beruntung sekali, Tao berasal dari keluarga yang sangat kaya. Ayahnya memiliki beberapa perusahaan juga sekolah kungfu karena ia berasal dari China. Mereka mau membantu biaya pengobatan Baekhyun bahkan dengan imbalan apapun.

Tao dan Chanyeol sudah bersahabat sejak mereka kelas 1. Mereka juga sama-sama berada dalam klub basket. Chanyeol lumayan mengenal keluarga Tao begitu juga sebaliknya, walaupun ia tidak terlalu dekat dengan Baekhyun. Tapi, Baekhyun adalah saudara Chanyeol dan Chanyeol adalah sahabatnya.

Chanyeol menghusap keringatnya dengan lengan baju. Tersenyum lebar sambil memandang ke sekeliling ruangan besar yang sudah bersih itu.

“Sudah ku bilang, kau tidak perlu bekerja disini”

Chanyeol menoleh begitu mendengar sebuah suara. Ternyata Tao.

“Aku tidak mungkin menerima uangmu tanpa bekerja. Bahkan jumlahnya tidak akan setara dengan aku bekerja disini selama 10 tahun. Terima kasih”

“Hey, kau adalah sahabatku. Lagipula, uang itu adalah uang ayahku”

“Aku tetap berhutang padamu, Tao. Terima kasih”

Tao tersenyum tulus, menepuk sebelah pundak Chanyeol lalu duduk disampingnya.

“bagaimana keadaan Baekhyun?”

Chanyeol menggeleng lalu tersenyum kecut, “tidak ada perubahan. Bahkan semakin parah. Ia sudah tidak bisa berjalan dan kemarin ia tersedak saat sedang makan”

“Tapi, tidak ada yang terjadi, kan?”

“Untungnya tidak. Dokter berhasil mengeluarkan makanan yang tersangkut di saluran pernapasannya”

“Hhhh…syukurlah”

“Terima kasih karena kau sudah mengkhawatirkan saudaraku, Tao”

“Bukan dia tapi kau”balas Tao cepat membuat kening Chanyeol berkerut. “Baekhyun pasti sangat penting untukmu sampai bisa membuatmu menomorduakan basket. Kau lupa? Kau pernah mengatakan padaku bahwa basket adalah impianmu. Tapi, sudah dua minggu ini kau tidak pernah lagi mengikuti latihan”

Chanyeol merasa tidak enak. Memang benar ia tidak lagi pernah mengikuti latihan karena harus bekerja dan menjaga Baekhyun di rumah sakit.

“Aku mengerti. Baekhyun adalah saudaramu. Tapi, aku pikir kau juga harus memperhatikan dirimu sendiri. Tubuhmu juga mempunyai titik lelah dimana dia tidak bisa lagi menahan semuanya. Kau harus ingat itu”

•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••

 –

Chanyeol baru sampai di rumah sakit saat jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Begitu memasuki ruangan Baekhyun, matanya langsung melebar karena mendapati Baekhyun yang masih terjaga.

Mendengar bunyi pintu yang di tutup, Baekhyun mengalihkan pandangan dari televisinya.

“Kenapa kau belum tidur?”tanya Chanyeol meletakkan tas ranselnya lalu membuka blazer sekolah yang masih melekat ditubuhnya. “Ini sudah malam. Kau harus tidur”

“Chanyeol”panggil Baekhyun tidak memperdulikan perkataan Chanyeol. Chanyeol menoleh. “Kenapa akhir-akhir ini kau selalu pulang malam? Apa yang kau kerjakan?”

“Latihan basket”jawab Chanyeol sambil menuang air mineral ke dalam gelas.

“benarkah?”

Chanyeol hanya mengangguk, karena mulutnya masih sibuk menelan air yang diminumnya. Setelah selesai, ia meletakkan gelas diatas meja lalu menjawab pertanyaan Baekhyun.

“Tentu saja. Pertandingan akan dilaksanakan sebentar lagi”

Baekhyun mengangguk, mempercayai ucapan Chanyeol dengan mudah. Ia menoleh ke kiri, mengulurkan tangan dan mengambil sesuatu dari dalam laci meja kecilnya. Ia memberikan sebuah kertas untuk Chanyeol.

“Bisakah kau memainkan gitar untukku? Aku ingin bernyanyi”

“Di tengah malam seperti ini?”tanya Chanyeol ragu

Baekhyun mengangguk, “kau mau?”

“Baiklah” 

Chanyeol mengambil sebuah gitar coklatnya yang sengaja ia letakkan di belakang pintu. Terlintas sebuah ide di otaknya. Ia mengeluarkan ponsel, sambil berjalan kembali kea rah Baekhyun, diam-diam ia mengaktifkan aplikasi perekam suara dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.

Suara merdunya tidak pernah berubah. Tetap terdengar menenangkan bagi setiap orang yang mendengar. Dia memang terlahir untuk musik.

Tak henti-hentinya, Chanyeol selalu tersenyum menatap wajah Baekhyun yang mengeluarkan mimic ketika bernyanyi. Andai saja bisa, walaupun hanya sebentar, dia ingin melihat sahabatnya berdiri diatas panggung besar. Memberitahu semua orang bagaimana hebatnya suaranya. Hanya satu kali dan dia tidak akan pernah menyesal seumur hidupnya.

•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••

 –

Chanyeol keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan diri dan memakai seragamnya. Duduk dikursi yang ada disamping ranjang Baekhyun dan menerima roti sebagai sarapan paginya dari nyonya Byun.

Ia sudah terbiasa untuk ini. Tidur, mandi, makan dan melakukan semuanya di rumah sakit. Jika dihitung-hitung, rasanya sudah lama sekali ia tidak kembali ke rumah, ke kamarnya sendiri.

“Bu, bolehkah aku ikut Chanyeol ke sekolah?”tanya Baekhyun tiba-tiba membuat Chanyeol dan nyonya Byun tersentak. “Sudah lama sekali aku tidak bersekolah. Sonsengnim pasti memarahiku”

Keadaan menjadi sedikit canggung karena pertanyaan Baekhyun. Mengatasi itu, Chanyeol buru-buru berdiri lalu menepuk pundak Baekhyun.

“Jangan khawatir, Baek. Aku sudah meminta ijin pada sonsengnim”

“Tapi, aku ingin ke sekolah sepertimu. Aku mohon”

“Aku berjanji akan mengajakmu ke sekolah setelah kau sembuh. Kita akan balapan sepeda lagi nanti. Oke?”

Tidak!” Baekhyun menggeleng tandas. “Aku ingin ikut denganmu hari ini”seru Baekhyun kemudian menatap ibunya dengan tatapan memohon. “Bu, ijinkan aku ke sekolah hari ini. Aku sangat bosan berada di tempat ini terus-menerus. Aku mohon”

•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••

 –

Chanyeol terpaksa mengajak Baekhyun ke sekolah karena dia terus saja memaksa untuk ikut. Tidak mempunyai persiapan apapun, Chanyeol memberikan blazer sekolahnya pada Baekhyun untuk menutupi piyama rumah sakit yang masih dikenakannya.

Mereka memasuki halaman sekolah bersama. Diiringi tatapan aneh dari murid-murid lain, Chanyeol berusaha bersikap tenang walaupun dalam hati sangat ingin menghajar semua orang yang sedang memandang mereka.

Penyakit Baekhyun memang sudah diketahui oleh seluruh isi sekolah. Dia memang berbeda tapi dia tetaplah Byun Baekhyun. Dia tidak berubah. Tetap Baekhyun yang selalu mengomel dan ceria.

“Byun Baeeeeeek!!!”

Baekhyun sudah bisa menebak siapa yang berseru heboh dibelakangnya. Ia menoleh dengan senyuman lebar, menatap namja tinggi yang juga selalu rajin mengunjunginya saat ia berada di rumah sakit. 

  “Akhirnya kau ke sekolah! Ewh…tapi…seragam yang kau pakai sedikit berbeda”seru Kai menatap Baekhyun dari ujung kaki hingga rambut. Ia bergeser ke sebelah Chanyeol, membantunya mendorong kursi roda.

“Aku tidak sempat pulang jadi aku meminjam blazer Chanyeol”

“Tidak apa-apa. Jika kau mau, kau bisa memakai kemeja dan celanaku. Aku akan memakai seragam kesebelasanku saja”tawar Kai membuat Baekhyun seketika tertawa

“Jangan berlebihan, Kai. Bisa ke sekolah saja, aku sudah sangat senang”

“Hey, kau bisa ke sekolah kapan saja yang kau mau”hibur Kai menepuk pundak Baekhyun. “Ayo! Kita ke kelas bersama”

•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••

 –

Chanyeol berusaha bersikap tuli terhadap gosipan teman-teman sekelasnya tentang Baekhyun. Telinganya memang terasa panas tapi dia tidak mau membuat keributan demi menjaga perasaan Baekhyun. Toh, dibelakangnya, Baekhyun juga tidak memperdulikannya. Tetap asik bercanda dengan Kai yang diamini Chanyeol dapat membuat Baekhyun selalu tertawa.

“Chanyeol” Tiba-tiba Kris menagmbil alih bangku yang masih kosong disebelah Chanyeol. Chanyeol mengerutkan keningnya. Tidak biasanya. Kris adalah murid paling popular di sekolah. Wajahnya tampan, tubuhnya tinggi, dan dia juga sangat kaya. Dia diberi kesempurnaan tapi tidak diberi hati. Dia dikenal sebagai sosok yang hanya mau berteman dengan orang-orang yang sejajar dengannya – popular dan kaya –

Chanyeol tidak termasuk dalam kedua jenis itu jadi dia bingung saat Kris tiba-tiba menyapanya. Walaupun berada di kelas yang sama, tapi ini adalah pertama kalinya Kris menegur dirinya.

“Byun Baekhyun. Dia saudaramu?”

“kenapa?”balas Chanyeol singkat. Bukan karena dia kesal denagn pribadi Kris, tapi karena mereka tidak saling kenal dan dia bukan tipe orang yang akan bersikap ramah didepan orang asing.

Kris memajukan wajahnya lalu berbisik, “sebaiknya kau bawa dia pulang. Bagaimana jika penyakitnya kambuh lagi?”

“Maksudmu?”tanya Chanyeol semakin tidak mengerti

“Begini..” Kris menarik kursinya semakin mendekati Chanyeol. “Sepertinya kau sangat kerepotan membawanya kesana-kemari dengan kursi roda. Bahkan sepertinya pergerakan tangannya sedikit lambat. Hal ini bisa menganggu teman-teman yang lain”

Rahang Chanyeol mulai mengatup keras, gigi-giginya menggertak, tangannya mengepal, mencoba menahan seluruh luapan emosinya.

“Dan…bagaimana jika penyakitnya menular?”

 –

BUGG

 –

“Chanyeol!” Baekhyun menjerit kaget saat melihat Chanyeol tiba-tiba memukul Kris. Seperti belum merasa puas, Chanyeol menarik kerah baju Kris, memaksanya bangun dan memberikan pukulan lagi.

“Jaga mulutmu, brengsek!”

“Chanyeol! Hentikan!” Kai menghambur panik, menangkap tubuh Chanyeol dengan kedua tangannya dan sebisa mungkin menahan segala pemberontakannya. “Orang tuanya adalah pemegang saham sekolah ini, Chanyeol. Kau lupa?!”desis Kai tepat ditelinga Chanyeol

“Aku tidak perduli! Lepaskan aku!”

“Hey, ada apa?” Tao yang baru saja tiba dikelasnya, ikut menghampiri Chanyeol dan Kai, juga membantu Kai yang terlihat kewalahan menahan tubuh Chanyeol. “Chanyeol, hentikan!”

“Aku tidak akan membiarkan siapapun menjelekkan saudaraku! Dia memang sakit tapi penyakitnya tidak menular! Apa kalian pikir dia menginginkannya?! Tidak ada seseorang yang menginginkan dirinya sakit!! Mengerti?!”bentak Chanyeol membuat seluruh penghuni kelas terdiam. “Jika aku mendengar kalian berbicara seenaknya lagi, kalian pasti akan berurusan denganku!”

•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••

 –

Perkelahian yang terjadi antara Chanyeol dan Kris itu membuat Chanyeol mendapat peringatan keras dari kepala sekolah. Ia terancam tidak bisa mengikuti olimpiade basket jika dia mengulang perbuatannya lagi.

Membela diripun percuma, karena disekolah dia tidak mempunyai kedudukan apapun. Yang bisa ia lakukan hanya diam, menahan emosinya dalam hati agar tidak mengacaukan segalanya lagi. Biar bagaimanapun, basket adalah mimpinya.

Chanyeol memaksa dirinya tersenyum saat ia berjalan menghampiri Baekhyun, Kai dan Tao yang sedang duduk di tepi lapangan. Di tangannya terdapat sebuah palstik yang mengangkut empat kaleng minuman dingin.

“Kalian haus?”seru Chanyeol bersikap seperti tidak ada yang terjadi. Ia mengambil satu kaleng minuman dingin lalu memberikan plastik yang dibawanya pada Kai yang berada paling dekat dengannya.

“Kau dimarahi?”tanya Baekhyun khawatir

“Tidak”balas Chanyeol tersenyum lebar. “Kepala sekolah justru membelaku. Murid sombong seperti Kris memang harus diberi pelajaran”

“Sampai kapan kau mau membohongiku, Yeol?”tanya Baekhyun sedih. Ia menatap Chanyeol lekat-lekat membuat Cahnyeol harus mengalihkan pandangannya. “Berapa banyak lagi kebohongan yang akan kau ciptakan?”

“Baekhyun, aku tidak berbohong”elak Chanyeol

“Aku tau..kau selalu pulang larut malam karena bekerja. Untuk mencari uang agar bisa membayar biaya rumah sakit dan terapi penyakitku. Kau bahkan tidak mengikuti latihan basket lagi”

Mata Cahnyeol melebar seketika, ia terkejut bukan main. “Darimana kau mengetahuinya?”

“Aku benar, kan?”tanya Baekhyun mulai menangis. “Chanyeol, basket adalah mimpimu. Kenapa kau justru menomorduakannya? Kau harus meraih mimpimu karena kau mempunyai kesempatan. Kau harus bekerja keras”

“Kau lebih penting daripada basket”balas Chanyeol tegas.

“Tapi basket adalah—“

“Aku tidak perduli!!”seru Chanyeol setenagh membentak. “Bahkan jika harus kehilanagn posisiku. Aku tidak akan menyesal. Karena saat ini yang ku inginkan hanyalah kesembuhanmu. Aku ingin kau sembuh, Byun Baekhyun!”

“Kau tau? Aku sangat iri padamu. Jika saja aku mempunyai kesempatan. Jika saja aku tidak berbeda. Aku ingi….” Dan suara serak itu menghilang lagi. Tidak terdengar ditelinga Chanyeol. Chanyeol sudah tau hal ini akan terjadi, tapi dia tidak menyangka jika secepat ini.

Chanyeol berlutut di depan Baekhyun. Wajahnya memerah, menahan tangisannya yang ingin merebak keluar. Menggenggam tangan Baekhyun kuat-kuat.

Baekhyun tersenyum, satu tangannya yang bebas merogoh saku celana rumah sakitnya lalu memberikan sebuah kertas warna untuk Chanyeol.

Chanyeol membuka kertas merah muda yang terlipat itu. Membaut tangisnya tidak lagi tertahan. Ia menangis sejadi-jadinya dipangkuan Baekhyun. Menggenggam erat kertas dan tanagn itu. Semakin takut kehilangannya, semakin takut ditinggalkan, dan semakin takut menjadi kesepian.

‘aku menyayangimu, Chanyeol’

•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••

 –

Dua bulan kemudian….

 –

“Kau tidak bisa menonton pertandinganku?”tanya Chanyeol duduk disisi ranjang Baekhyun. Baekhyun menggeleng. “Baiklah. Tidak apa-apa. Aku akan cepat pulang dan membawa piala kemenanganku padamu”

Baekhyun tersenyum dan mengangguk. Kemudian mengulurkan tangannya yang mulai bergerak lambat pada Chanyeol, ia berniat untuk melipat keempat tangannya dan menyisahkan jari kelingkingnya namun tidak bisa. Jari-jarinya mulai kaku seperti pita suaranya yang sudah tidak berfungsi lagi.

Chanyeol mengerti. Ia meraih tangan Baekhyun lalu mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Baekhyun.

“Aku berjanji”

•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••

 –

Pertandingan itu dimulai sebentar lagi. Sedikit kecewa memang karena ibu dan Baekhyun tidak bisa menontonnya. Tapi, ia mengerti dengan keadaan Baekhyun. Dua bulan lalu, ia memaksa untuk pulang ke rumah dan hanya dirawat disana. Awalnya Chanyeol dan nyonya Byun tidak menyetujuinya tapi Baekhyun tetap bersikeras.

Semuanya masih berjalan normal hingga suatu hari Baekhyun mulai kehilangan suaranya. Suaranya yang tidak akan pernah kembali lagi. Waktu itu, Baekhyun seperti orang gila yang tidak bisa menerima kenyataan. Suara adalah hartanya yang paling berharga. Dan bersamaan dengan itu, seluruh tubuhnya juga tidak bisa digerakkan lagi. Sejak saat itu, Baekhyun hanya terbaring lemah diatas tempat tidur. Bahkan pergerakkan tangannya mulai melambat sekarang.

Melihat sahabatnya yang hanya duduk diam di ruang ganti, Tao menghampirinya.

“Kau sudah siap?”tanyanya pelan

Chanyeol menoleh, “tentu”

“Keliahatannya tidak begitu”

“Benarkah?”

“Yah, kau terlihat lesu”

Chanyeol menegakkan punggungnya lalu tersenyum paksa, “aku akan berusaha”

Suara seorang pria yang mengisyaratkan agar para pemain berkumpul di pinggir lapangan memaksa Chanyeol untuk menyeret langkah-angkah malas kakinya. Dengan niat yang sebenarnya tidak terkumpul penuh, juga fokusnya yang berkurang menjadi 10%, Chanyeol bergabung bersama rekan se-timnya di pinggir lapangan.

Entah. Tapi, perasaannya tidak bisa tenang saat itu. Hatinya terus gelisah, otaknya terus saja memutar wajah Baekhyun yang tersenyum. Tersisa 5 menit dan pertandingan akan dimulai. Mereka hanya perlu mendengarkan instruksi-instruksi dari pelatih.

“Chanyeol!! Chanyeol!!”

Tiba-tiba Kai menerobos pintu gedung olahraga. Ia berlari menghampiri Chanyeol dengan raut wajah panik. Tidak memperdulikan pihak keamanan yang berusaha menahannya, juga pandangan orang-orang padanya, Kai terus berlari menghampiri Chanyeol.

“Kenapa aku menangis?”tanya Chanyeol panik

“Baekhyun…dia…dia tidak bernapas. Baekhyun tidak bernapas! Chanyeol…Baekhyun tidak bernapas!”

Dan argumenatsi menaykitkan itu berhasil membekukan tubuh Cahnyeol, mematikan cara kerja jantungnya juga menghentikan aliran darahnya. Ia menegang bersamaan dnegan kabut yang mulai terjadi disepasang matanya.

Dia berlari bahkan saat kesadarnnya belum terkumpul sepenuhnya. Terus berlari meninggalkan semua orang juga mimpinya. Ia tuli. Ia buta. Percuma meneriakinya untuk kembali karena dia tidak akan berhenti. Kakinya akan terus berlari. Dalam hati, berkali-kali ia berteriak pada Tuhan. Meminta agar ucapan Kai itu tidak benar. Baekhyun masih ada. Dia masih ada.

Hingga tiba di rumah yang seketika dipenuhi isakan tangsi ibunya, Chanyeol menerobos masuk ke kamar Baekhyun yang sebelumnya menabrak seorang dokter yang kelaur dari kamar itu.

“Bu…”panggil Cahnyeol berjalan tertatih mendekati ranjang Baekhyun. Ia duduk ditepi ranjang Baekhyun, disamping ibunya. Menatap kedua mata Baekhyun yang sudah tertutup rapat lalu memandang ibunya lagi. “Bu, Baekhyun….”

“Baekhyun sudah tidak ada, Chanyeol. Dia sudah pergi…”tangis nyonya Byun memegang tangan Chanyeol erat. “Dia sudah pergi…”

Chanyeol terpaku sesaat. Belum menyadari secara jelas yang dikatakan oleh ibunya. Ia kehilangan jiwa dan kesadarnnya. Menoleh memandang Baekhyun yang tertidur dalam senyuman, Chanyeol mengulurkan tangannya, menyentuh wajah dingin Baekhyun yang dulunya selalu ceria diingatannya.

“Baekhyun…kau…” Dan setelah bisa menyadari yang telah terjadi, Chanyeol menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menolak kenyataan bahwa Baekhyun telah tiada. “Tidak mungkin…..TIDAK MUNGKIN!!!”

Tangis itu akhirnya pecah. Pertahananya terhadap seluruh emosinya selama ini akhirnya tidak bisa terbendung lagi. Chanyeol berteriak seperti kesetanan. Meneriaki nama Baekhyun sambil mengguncang tubuhnya, serta melakukan segala upaya agar ia bisa bangun.

“BAEKHYUN!!! KAU TIDAK MATI!! KAU TIDAK MATI!! BAEKHYUN!! AYO BANGUN!!”

Takdir tidak akan dapat diubah walaupun berteriak sekencang mungkin, menolak sekeras mungkin, dan menahan sekuat mungkin. Takdir akan tetap berjalan sesuai alurnya. Membuat seseorang yang kesepian itu kehilangan satu-satunya semangat hidupnya.

Mereka…seperti sebuah drama dengan peran masing-masing. Dimana Chanyeol akan selalu menjadi seorang penjaga dan Baekhyun yang akan menajdi seseorang yang selalu mengkahwatirkan.

Dulu, Chanyeol selalu mengeluh dengan semua omelan Baekhyun yang akan menaykitkan telinganya. Ocehannya yang tidak juga berhenti dan itu-itu saja.

Tapi, dimana tempat dia berada sekarang ini, dia sangat ingin mendengar semua omelan itu lagi. Dia tidak akan mengeluh. Dia tidak akan menutup telinganya. Karena satu-satunya yang diinginkan hanyalah menggenggam tangan itu lagi, tertawa bersama lagi, dan saling menyemangati lagi.

•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••

 –

Chanyeol terus memandang kearah pintu ruang kelasnya dengan harapan melihat sosok Baekhyun muncul dari sana. Terus berharap agar ada seseorang yang menarik paksa dirinya pergi keruang musik untuk menemaninya.

Tapi,semuanya hanya sia-sia. Sia-sia ia menunggu karena Baekhyun tidak akan pernah datang, sia-sia ia menipu dirinya bahwa kenyataan ini adalah sebuah mimpi buruk yang akan berakhir saat ia terjaga.

Di tempat duduk Baekhyun, Chanyeol seperti mayat hidup yang tidak bergerak namun memiliki napas. Pandangannya kosong. Membuat semua teman-temannya merasa khawatir dengan keadaannya. Fisik juga mental.

Melihat kesedihan yang tercetak jelas diwajah Chaneyol, Kai membiarkan namja tinggi itu menempati kursi Baekhyun. Ia juga merasakan hal yang sama, tapi ia tau jika Chanyeol merasakan kesedihan itu lebih pekat dan dalam.

“Chanyeol…”panggil Kai hati-hati sambil memberikan sebuah buku pada Chanyeol. “Baekhyun menyuruhku untuk memberikan buku ini padamu”

Chanyeol menoleh, menerima buku itu tanpa kesadaran.

“Sebelum dia meninggal, dia sempat bisa berbicara. Dia menyuruhku untuk menyampaikan hal yang dia katakan padamu”

“Apa yang dia katakan?”tanya Cahnyeol lagi-lagi dengan rahang mengatup keras.

“Jangan lupa makan dan istirahat yang cukup” Kai mengulang ucapan Baekhyun disaat-saat terakhirnya tanpa mengetahui bahwa Chanyeol sedang bertarung melawan kesedihannya yang mulai memberontak lagi.

Chanyeol berdiri sebelum Kai melihat air matanya. Membuat Kai tersentak namun tidak berniat menahannya. Ia meninggalkan kelas, menuju ruang musik, tempat yang paling sering dikunjungi oleh Baekhyun.

Diruangan yang sunyi itu, dalam kesendiriannya, Chanyeol mulai membuka buku yang diberikan oleh Kai. Di halaman pertamanya terdapat sebuah lirik lagu yang ditulisnya dulu. Chanyeol baru mengetahui jika judul lagu itu adalah ‘Love Song’

Dihalaman kedua, barulah ia membaca tulisan Baekhyun yang sepertinya merupakan pesan untuknya.

 –

Aku seperti bulan yang membutuhkan sinar matahari agar bercahaya. Selalu membutuhkan bantuan matahari Chanyeol disegala aktivitasku…

Aku seperti hujan yang selalu turun dengan deras, dan Chanyeol seperti bumi yang dengan rela akan menampung segala tetesan airku..

Aku memiliki sifat yang mudah hilang, sedangkan Chanyeol akan selalu menemukanku..

Park Chanyeol…terima kasih karena kau selalu ada disebagian besar aku menghabiskan hidupku. Aku tau kau selalu kesal dengan omelanku dan rengekanku tapi kau tidak pernah mengeluh..

Hiduplah dengan baik dan aku harap, kau akan terus mengenangku.

Park Cahnyeol dan Byun Baekhyun adalah sahabat sejati!

 –

Ada sebentuk senyum muncul di mata sedih Chaneyol yang menerawang. Namun, kenangan-kenangan itu membuatnya tak lagi sanggup menahan kepedihannya. Ia mendominasi hatinya. Dan ini kedua kalinya, ia menangis sejadi-jadinya.

Lelah berteriak, akhirnya Chanyeol hanya mengeluarkan semua kesedihannya dalam bentuk tangisan. Menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil menikmati semua kenangan yang terus memutar diotaknya. Kenangan yang tidak dapat hilang dan melekat kuat disana.

Byun Baekhyun…nama itu akan selalu dikenangnya. Akan selalu menjadi sahabat pertama yang tidak akan pernah ia lupakan. Jika saja ia tau kemana orang-orang yang sudah tidak ada itu pergi, mungkin dia akan kesana, merusak pintunya dan menarik Baekhyun kembali.

Jika saja dia tau, ada sebuah jalan yang akan menuntunnya ke tempat Baekhyun sekarang berada, dia akan menetap disana untuk menemaninya agar dia tidak kesepian.

Jika saja….dia sekuat itu…

•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••

 –

 Kai dan Tao tidak bisa berbuat apapun dengan keadaan Chanyeol yang terus-terusan berada dalam kesedihannya. Hanya bisa memandang dalam kekhawatiran karena selain dikeluarkan dari klub basket, ia juga dikeluarkan dari kelas karena tidak menyimak pelajaran dengan baik.

Di hari-hari yang seharusnya dimana keadaannya menjadi lebih baik, hal yang terjadi justru bertolak belakang dengan harapan. Chanyeol semakin parah. Seperti mati rasa terhadap sekitarnya.

Tidak bisa menahannya lagi, akhirnya Kai dan Tao menghampiri Chanyeol yang sedang duduk didalam ruang musik seperti kebiasaannya akhir-akhir ini.

“Chanyeol, waktumu bersedih sudah habis”seru Tao menepuk pundak Chanyeol. Chanyeol tidak bergeming. “Aku tau kau sangat sedih karena kehilanagn Baekhyun. Tapi, kau tidak bisa menyiksa dirimu terus-menerus. Ayolah..kau harus bersikap dewasa. Baekhyun akan sedih melihatmu seperti ini”lanjutnya lagi

“Chanyeol, aku tau kau menyayanginya tapi—“

“Aku membencinya”potong Chanyeol. Ia menoleh kearah Kai dan menatapnya tajam. “Aku membenci Baekhyun”desisnya

“Chanyeol, apa yang kau katakan? Baekhyun ti—“

“AKU MEMBENCINYA!!!”teriak Cahnyeol. “Aku membencinya, Kai”

Ketika dirinya sudah berada di titik paling bawah atas kelelahannya, Chanyeol hanya bisa tertunduk dalam ditengah-tengah Tao dan Kai. Ketika semua histeria dan reaksi gilanya menghilang, Chanyeol hanya bisa mengenang Baekhyun dalam tangisannya.

“Kenapa disaat-saat terakhir, dia masih memperhatikanku?”tangis Chanyeol “Perbuatannya itu justru membuatku tidak bisa melepaskannya, tidak bisa membiarkannya pergi. Sekarang, aku tidak bisa melihatnya. Aku tidak tau dimana keberadaannya membuat hatiku terus mencari. Aku sudah mencoba tenang tapi jawaban yang tidak ku temukan membuat amarahku semakin meluap hebat. Aku ingin melihatnya lagi. Aku ingin dia mengomeliku. Aku ingin dia ada……”

•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••

 –

Tepukan riuh dan suara histeris dari orang-orang yang sebagian adalah perempuan itu membahana diseluruh ruangan. Seorang namja tinggi tersenyum lebar kemudian meletakkan gitarnya di sisi kiri.

Ia mengambil microphone lalu berjalan ke depan. Menatap lautan manusia yang selalu menyemangatinya.

“Sudah 4 tahun semenjak aku debut dan kalian selalu ada menyemangatiku”serunya disusul dengan sorakan yang lebih membahana. “Terima kasih. Aku tidak tau bagaimana caranya membalas kalian semua. Tapi, sekarang aku ingin mengatakan satu kebenaran….”

Ia menghentikan  ucapannya sejenak. Menormalkan kerja jantungnya yang bekerja lebih cepat lagi. Kemudian, ia menoleh kebelakang, memberikan isyarat pada salah satu staff dengan menganggukkan kepalanya.

Detik berikutnya, sebuah lagu yang sudah sangat dikenal itu menggema. Membuat semua orang yang ada disana mengerutkan kening mereka rapat-rapat. Lagu yang sama dengan suara yang berbeda.

Setelah lagu itu berakhir. Namja tinggi itu mengangkat kepalanya setelah sempat tenggelam dalam kenangan.

“Dia…adalah Byun Baekhyun”serunya parau. “Lagu itu sebenarnya bukanlah lagu ciptaanku. Melainkan lagu Baekhyun. Dia adalah sahabat sejatiku yang tidak bisa mewujudkan mimpinya dan memberitahu dunia bagaimana luar biasanya suaranya”lanjutnya lagi

“Aku…Park Chanyeol. Ingin memberitahu jika mimpiku bukanlah menjadi penyanyi. Aku adalah seseorang yang sangat menggilai bola basket dan ingin menjadi pemain basket dunia. Tapi, karena Byun Baekhyun. Aku melepaskan mimpiku. Memaksa diriku menjadi penyanyi untuk mewujudkan impiannya. Bisakah kalian juga mengenal Byun Baekhyun? Bisakah kalian merasakan keberadaannya? Aku ingin kalian juga mengenalnya seperti kalian mengenalku”

•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••

 –

Nyonya Byun tersenyum bangga saat Chanyeol berhasil menyelesaikan konsernya. Menunggu di backstage dengan jejak-jejak air mata yang tertinggal di wajahnya, ia memeluk Chanyeol erat-erat. Menciumi anak kesayangannya dengan kasih sayang berlimpah.

“Terima kasih, Chanyeol. Terima kasih karena kau tidak pernah melupakan Baekhyun”

“Hey, kuping besar”

Chanyeol melonggarkan pelukannya lalu menoleh kebelakang. Senyumnya mengembang lebar saat melihat Kai sudah ada disana. Ia terlihat gagah dengan kemeja putihnya. Sangat berbeda ketika dia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas dulu.

“Selamat. Sekarang kau sudah menjadi penyanyi terkenal”

Chanyeol mengangguk, “kau juga. Selamat karena kau sudah berhasil menjadi seorang professor diusia muda”

Kai tersenyum tipis, menoleh ke kiri, menatap sebuah foto yang selalu dibawa Chanyeol kemanapun dia pergi. Kai memandang foto itu dengan tatapan menerawang. Kembali tenggelam dalam kenangan bertahun-tahun lalu yang masih pekat diingatan.

“Aku melepaskan impianku demi dia… Sepertimu…”seru Kai dengan fokus yang terus tertancap pada foto itu. “Aku sudah kehilangan satu sahabat tanpa bisa berbuat apapun untuk menolongnya. Aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Aku berjanji aku akan berusaha keras mencari solusi untuk menyembuhkan Ataxia dan kanker. Aku sangat membenci dua penyakit itu”

Chanyeol menepuk pundak Kai, ikut memandang foto itu bersama-sama. “Dia pasti bahagia. Dia memiliki sahabat sepertimu juga impiannya yang sudah terwujud. Aku melakukan ini untuk Baekhyun. Tidak perduli bagaimana sukanya aku terhadap basket, tapi pada kenyataannya aku sadar bahwa basket hanya sekedar hobby dan musik adalah mimpiku, mimpi Baekhyun. Jika dia tidak mempunyai kesempatan dalam hidupnya, aku akan menciptakan banyak kesempatan untuknya. Walaupun semuanya lewat usahaku…”

 –

Aku seperti bulan yang membutuhkan sinar matahari agar bercahaya. Selalu membutuhkan bantuan matahari Chanyeol disegala aktivitasku…

Aku seperti hujan yang selalu turun dengan deras, dan Cahnyeol seperti bumi yang dengan rela akan menampung segala tetesan airku..

Aku memiliki sifat yang mudah hilang, sedangkan Cahnyeol akan selalu menemukanku..

Park Chanyeol…terima kasih karena kau selalu ada disebagian besar aku menghabiskan hidupku. Aku tau kau selalu kesal dengan omelanku dan rengekanku tapi kau tidak pernah mengeluh..

Hiduplah dengan baik dan aku harap, kau akan terus mengenangku.

Park Chanyeol dan Byun Baekhyun adalah sahabat sejati!

 –

Byun Baekhyun,

Tidak perduli dimana kau berada sekarang..

Tidak perduli seberapa jauh jarak yang tercipta diantara kita..

Dalam hatiku, kau selalu menjadi Byun Baekhyun..

Sahabat sejati, Park Chanyeol…

 –

END

51 thoughts on “FF: A Song To Remember (3/3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s