FF: A Song To Remember (2/3)

a song to remmember

Tittle    : A Song to Remember

Author        : Ohmija

Main Cast   : Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Support Cast  : Kim Jongin a.ka Kai

Genre    : Friendship, Family, Sad

Summary   : “Ada hal yang tidak bisa kita selesaikan bersama, Chanyeol. Kali ini kau tidak bisa membantuku”

 –

Baekhyun hanya bisa terdiam mendengar penjelasan dokter tentang dirinya. Ia membeku. Tidak bisa berkata apapun karena ini terlalu mengejutkan baginya. Hatinya terasa sangat sakit. Sangat sesak. Bahkan sangat sulit baginya untuk bernapas.

Disampingnya, Kai terus-menerus menghusap punggungnya. Air matanya tak kunjung berhenti. Juga merasa sedih dengan kenyataan pahit yang menimpa diri teman sekelasnya itu.

“Baekhyun, aku mohon bicaralah. Jangan mendiamkanku. Kau tidak apa-apa? Tolong bilang iya”tangis Kai disamping Baekhyun.

Bus yang mereka tumpangi hanya menyisahkan mereka berdua di kursi paling belakang. Di hari yang mulai beranjak larut, kebanyakan orang lebih memilih untuk menggunakan taksi sebagai alat transportasi yang aman.

Hingga tak lama, Kai sampai di sepan pintu pagar rumah Baekhyun. Baekhyun hanya memandang Kai sekilas lalu tersenyum tipis.

“Terima kasih karna kau sudah menagntarku”serunya pelan lalu meninggalkan Kai. Tanpa memberikannya kesempatan untuk membalas ucapannya. Kai hanya bisa pasrah. Hanya bisa berdiri diam sambil memandang punggung Baekhyun yang menghilang di balik pintu.

Baekhyun mendapati Chanyeol sedang duduk di samping rak-rak sepatu sambil bertopang dagu. Saat mendengar bunyi pintu, barulah ia mendongak dan langsung berdiri saat melihat Baekhyun muncul.

“Baekhyun, kau kemana saja? Aku mencarimu di sekolah”

Baekhyun tidak menjawab.

“Aah..jangan-jangan…” Chanyeol memajukan tubuhnya kearah Baekhyun dan berbisik pelan. “Kau membolos?”tanyanya sepelan mungkin agar tidak didengar oleh nyonya Byun. “Tenang saja. Aku mengatakan pada ibu jika kau mampir ke rumah Kai untuk mengerjakan tugas bersama. Tidak perlu berterima kasih. Kau hanya perlu mentraktirku semangkuk ramen ukuran jumbo disekolah besok” Chanyeol masih saja melanjutkan ucapannya. Mencecarnya dengan berbagai candaan tanpa mengetahui bagaimana perasaan lawan bicaranya.

Baekhyun tersenyum tipis, “terima kasih, Chanyeol”  kemudian meninggalkan Chanyeol begitu saja menuju ruang tamu. Di belakangnya, Chanyeol membuntutinya dengan kening berkerut. Tidak biasanya Baekhyun mengabaikannya seperti ini. Jika dia sedang marah, biasanya dia akan mengatakannya langsung bukan bersikap dingin.

Baekhyun menghampiri nyonya Byun yang sedang asik menonton televisi di ruang tamu. Banyak tanda tanya di kepalanya dan dia harus menemukan jawabannya saat itu juga.

“Ibu”panggil Baekhyun membuat nyonya Byun mengalihkan pandangannya. “Bisakah kita bicara?”tanyanya serius, kemudian buru-buru melanjutkan perkataannya. “…berdua”

Walaupun dengan kening yang berkerut rapat, nyonya Byun langsung mengangguk dan berdiri karena melihat ekspresi Baekhyun yang terlihat berbeda, bahkan tidak pernah dilihat sebelumnya. “Baiklah. Kita bicara di kamar ibu”

Mereka berdua berjalan memasuki sebuah ruangan yang berada di sebelah ruang tamu, ruangan yang menjadi kamar nyonya Byun. Di tempatnya, lagi-lagi Chanyeol larut dalam kebingungannya. Baekhyun terlihat aneh hari ini. Tidak biasanya, saudaranya itu tidak melibatkannya dalam masalah. Biasanya dia adalah orang pertama yang akan diberitahunya jika dia sedang sedih.

•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••

 –

“Ada apa adeul?”tanya nyonya Byun bingung

Baekhyun terdiam sejenak. Berjalan mendekati sebuah meja kecil dan mengambil foto ayahnya disana. Kemudian, ia menjatuhkan diri disamping nyonya Byun.

“Bu…kenapa ayah bisa meninggal?”

Dan bersamaan dengan pertanyaan itu, mata nyonya Byun seketika terbelalak lebar. Ia tersentak karena Baekhyun tiba-tiba saja menanyakan hal yang sudah lama sekali tidak pernah ditanyakannya.

“Apa ayah sakit?”lanjut Baekhyun lagi

“Adeul, kenapa kau menanyakan hal ini?”

“Bu, ayah meninggal karena memiliki penyakit, kan? Ayah bukan meninggal karena kecelakaan seperti yang ibu bilang. Tapi, karena sakit” Baekhyun mulai memburu nyonya Byun dengan berbagai pemikirannya. “Bu, aku sudah dewasa. Tolong beritahu aku kejadian yang sebenarnya. Apa yang terjadi pada ayah?”

Badai besar itu terjadi disana, disepasang mata indah milik wanita tua yang sedang menatap anaknya lirih. Ia menunduk. Tidak berani sama sekali membalas tatapan Baekhyun.

“Ayahmu…dia…dia meninggal karena tersedak saat makan”

Rahang Baekhyun mengatup rapat, “kenapa ayah bisa tersedak?”tanyanya mulai bergetar

Nyonya Byun memejamkan matanya rapat-rapat, menguatkan dirinya sendiri untuk mengatakan tentang hal yang paling menyakitkan yang pernah ia alami.

“Karena..ayahmu menderita Ataxia”

Pukulan itu dirasakan Baekhyun untuk yang kedua kalinya. Dugaannya benar. Seratus persen benar. Ayahnya tidak meninggal dalam kecelakaan melainkan karena suatu penyakit. Dan semua yang pernah dikatakan oleh ibunya adalah sebuah kebohongan untuk menghibur dirinya sendiri. Untuk melupakan kesedihan mendalam itu.

•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••

 –

Chanyeol duduk diteras belakang rumah seorang diri. Terdiam dengan pikiran yang kosong. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain menunggu Baekhyun keluar dan meminta penjelasan padanya.

Ia tersentak saat tiba-tiba hujan mengguyur tubuhnya. Langsung menaikkan hoodie-nya, ia berlari masuk ke dalam rumah sebelum tubuhnya basah kuyup.

“Kenapa hujan turun tiba-tiba?” Ia bertanya pada dirinya sendiri. Sedetik kemudian matanya terbelalak lebar.

 –

‘Jika di langit cerah tiba-tiba turun hujan, artinya aku sedang menangis’

 –

“Baekhyun!” Chanyeol melesat menuju kamar nyonya Byun. Memutar kenop namun ternyata pintu itu terkunci dari dalam. Chanyeol mengetuk pintu kamar nyonya Byun sambil memanggil nama Baekhyun.

“Baekhyun..kau tidak apa-apa? Baekhyun!”

Tidak ada jawaban apapun. Chanyeol mengetuknya kembali.

“Baekhyun!”

“Aku tidak apa-apa, Chanyeol. Jangan ganggu aku dulu. Aku sedang bicara dengan ibu”teriak Baekhyun dari dalam kamar

“Ehh? Benarkah? Baiklah aku akan menunggu di luar”

•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••

 –

‘Jadi oema sudah tau jika aku mengidap penyakit ini sejak kecil?’

‘Kau mewarisi gen dari ayahmu yang juga mengidap penyakit itu. Saat kau masih bayi, kau memang sulit berjalan dan bergerak. Hingga akhirnya ibu harus membawamu berobat ke semua dokter. Hingga saat kau berumur 8 tahun, dokter menyatakan bahwa kau tidak mengidap penyakit itu lagi. Ibu sangat senang dan menganggap penyakit itu benar-benar hilang karena selama 9 tahun ini, kau selalu sehat’

Baekhyun menelan ludah pahit bersamaan air matanya yang jatuh saat ia megerjap.

‘Penyakit itu kembali, bu.. Waktuku tidak akan lama lagi’

 –

Chanyeol memutar kenop pintu kamar Baekhyun pelan. Menjulurkan kepalanya di celah pintu yang terbuka untuk mengintip apa yang sedang dilakukan oleh saudaranya.  Terlihat, Baekhyun sedang duduk dikursi belajarnya sambil mencatat sesuatu.

“Baekhyun, kau sedang apa?”tanya Chanyeol pelan membuat Baekhyun langsung menoleh dan menutup bukunya.

Baekhyun tersenyum, “tidak ada. Latihan soal untuk besok”

Salah satu alis Chanyeol terangkat tinggi, “Benarkah? Tidak biasanya”

“Kenapa kau mencariku?” Baekhyun balas bertanya

“Kau menangis?”

“aku?” Baekhyun menunjuk dirinya sendiri

“Iya. Kau”

“Tidak”

“Lalu kenapa hujan turun tiba-tiba? Bukankah saat hujan turun di langit yang cerah, artinya kau sedang menangis?”

Baekhyun menggelengkan kepalanya, “aku tidak tau. Mungkin karena Tuhan ingin menurunkan hujan. Aku tidak menangis”

“Tapi, biasanya Tuhan selalu memberikan tanda yang tepat. Kenapa kali ini meleset?”tanya Chanyeol bingung sambil menggaruk kepalanya.

Baekhyun tertawa geli, “bodoh. Kau masih mempercayainya? Itu hanyalah lelucon masa kecil kita. Kenapa kau pikir aku benar-benar seekor gumiho?”

“Tapi biasanya—“

“Sudahlah, Park Chanyeol. Lupakan saja. Bagiamana hasil tes tadi siang? Kau berhasil?”

Ekspresi wajah Chanyeol berubah jadi berseri-seri. Ia melompat duduk keatas ranjang tidur Baekhyun. Mengangguk-anggukan kepalanya membuat kaca mata yang dipakainya juga naik-turun.

“Aku terpilih menjadi kapten basket! Pertandingan nanti, aku akan memimpin tim-ku”

“Benarkah? Whooaa..aku tau kau jenius, Park Chanyeol”

“Tentu saja. Aku sudah menepati janjiku sekarang kau yang harus menepati janjimu”

“Ehh? Janji? Janji apa?”

“Bukankah kau berjanji akan menonton pertandinganku? Kau lupa? Kau harus menepatinya!”seru Chanyeol setengah kesal karena Baekhyun melupakan janjinya sendiri

“Kapan pertandingannya dilaksanakan?”

“Enam bulan lagi. Kau harus datang, Byun Baekhyun. Jika tidak, aku tidak mau meliahtmu lagi”

Baekhyun tertawa kecil dibalik tangisannya, “aku tau. Aku pasti akan datang”

•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••

Sejak terpilihnya Chanyeol sebagai kapten klub basket, ia terus saja meminta pada Baekhyun untuk menemaninya berlatih sepulang sekolah. Hanya ingin meminta pendapat Baekhyun tentang apa yang seharusnya ia perbaiki.

Baekhyun selalu menuruti permintaan Chanyeol. Tanpa mengeluarkan protes seperti sifatnya dulu, ia selalu menonton Chanyeol berlatih. Seperti siang itu, di pinggir lapangan, Baekhyun duduk dengan buku tulis diatas pangkuannya. Juga sebuah pensil yang diapit oleh jarinya. Entah apa yang dikerjakannya sampai begitu asik hingga ia terkejut saat seseorang menepuk pundaknya.

Baekhyun menoleh, “Kai..”

“Bagiamana keadaanmu? Baik?”tanya Kai duduk disebelah Baekhyun

“Kau lihat saja sendiri. Bukankah seminggu ini aku baik-baik saja? Aku rasa dokter salah memvonisku. Aku tidak apa-apa”balas Baekhyun memamerkan senyuman meyakinkannya. Kemudian kembali menatap buku tulis.

“Chanyeol sudah mengetahuinya?” Kai terus saja bertanya walaupun Baekhyun sudah mencoba meyakinkannya.

“Sudah ku bilang aku—“

“Aku tidak sepolos itu, Byun Baekhyun”potong Kai menatap mata Baekhyun lekat-lekat. “Aku masih bisa membedakan mana kebohongan dan kejujuran. Dan saat ini kau sedang berbohong padaku”

Baekhyun tidak menjawab apapun. Ia menelan ludah pahit. Memaksakan dirinya untuk tersenyum lalu mengalihkan pandangannya dari tatapan tajam Kai. Ia menatap ke arah lapangan, kearah Chanyeol yang sangat bersemangat memantukan bola.

“Aku berjanji padanya untuk menonton pertandingannya enam bulan lagi”desah Baekhyun pelan. Ia menunduk setelah menyelesaikan ucapannya. Lagi-lagi tersenyum kecut, dengan kenyataan yang sedang dialaminya. “Dia bilang dia tidak akan mau melihatku lagi jika aku tidak menepati janjiku. Bagaimana jika aku benar-benar tidak bisa menepatinya? Apa dia akan membenciku?”

“Baekhyun tapi—“

“Kau dengar sendiri apa yang dikatakan oleh dokter, Kai. Hidupku tidak akan lama lagi. Bagaimana jika aku mati besok? Atau lusa? Bahkan sebelum aku sempat menonton pertandingan Chanyeol? Apa aku akan mati dengan kebencian Chanyeol terhadapku? Apa dia tidak akan mengenangku?”

Kai mencekal pundak Baekhyun keras, memaksanya untuk menghadap padanya. “Apa yang kau katakan? Kau sedang mabuk, huh? Kenapa bicaramu sangat asal?”

“Apa kau sedang menghiburku?” Baekhyun tersenyum. “Jika iya, terima kasih”

“Baekhyun, kau bisa sembuh. Kau bisa menjalani terapi atau apapun yang akan membuatmu sembuh!”

“Kau lupa? Tidak hanya Ataxia, aku juga mengidap kanker”balas Baekhyun berusaha agar tetap tenang. “Belum ada obat yang bisa menyembuhkan dua penyakit itu, Kai. Belum ada”

“KAU BISA!!”balas Kai berteriak dengan air matanya yang mulai merembes. “Kau pasti bisa sembuh. Aku mohon katakan padaku kau akan sembuh..”

“Kai, aku—“

“Kau adalah salah satu sahabat terbaikku, Baekhyun” Kai menunduk dalam-dalam bersama tangisnya yang mulai pecah ke permukaan. “Aku tidak mau kehilanganmu”

Mungkin Tuhan memiliki sebuah tujuan dibalik semua ini. Tapi, kenapa harus dia? Kenapa sangat tidak adil? Diantara 100.000 orang normal, kenapa dia menjadi satu-satunya yang berbeda?

Berteriak sekeras apapun juga tidak berguna, menolak kenyataanpun, dia tidak bisa. Ini takdirnya dan Tuhan memaksanya untuk tegar karena hanya itu jalan satu-satunya. Tegar dan tegar.

Baekhyun menyentuh area hidungnya saat sebuah cairan mulai dirasakannya keluar dari sana. Tidak ingin siapapun melihatnya, Baekhyun buru-buru mencari sesuatu yang dapat menutupi hidungnya yang sudah berdarah.

Tanpa kesadaran yang penuh, ia merobek sebuah kertas dari buku tulisnya, menggumpal kertas itu lalu menyumbat hidungnya.

“Kai, aku mohon. Bantu aku…kakiku tidak bisa digerakkan. Aku mohon bawa aku pergi sebelum seseorang melihatnya. Aku mohon”seru Baekhyun bertubi-tubi.

Melihat kepanikannya, Kai mengangguk dan membalik tubuhnya. Kedua tangannya terjulur ke belakang, membantu tubuh Baekhyun agar naik keatas tubuhnya. Lalu, meninggalkan tempat itu.

 –

“KITAAA MENAAAAANG!!” Chanyeol berteriak senang karena timnya berhasil mengalahkan tim dari kelas lain.

“Kau jenius, Chanyeol” “tentu saja. Aku memang jenius”balas Chanyeol percaya diri, menunjukkan deretan gigi putihnya pada Tao. “Oe?!” Tiba-tiba ia tersentak. Tidak hanya dia, semua murid yang ada di lapangan seketika berhambur mencari tempat untuk berteduh karena hujan deras tengah mengguyur di sore hari yang sebenarnya masih disinari oleh teriknya sinar matahari.

Seraya merasakan hujan yang mulai membasahi baju latihannya, Chanyeol menoleh ke pinggir lapangan. Kearah jejeran kursi kosong yang sengaja disediakan untuk beristirahat setelah melakukan aktivitas di lapangan.

Chanyeol tidak mendapati siapapun disana. Tempat itu kosong, ditinggalkan oleh seseorang yang seharunya duduk disana. Menembus hujan yang terlalu deras itu, Chanyeol berlari ke pinggir lapangan. Matanya berkeliling, mencari sosok Baekhyun yang tiba-tiba tidak ditemukan.

“Chanyeol, ayo pulang. Hujannya sangat deras” Tao menghampiri Chanyeol dengan kepala yang tertutupi hoodie dan tas ransel yang tersampir disebelah punggungnya.

“Aku mencari Baekhyun”seru Chanyeol masih memandang berkeliling. “Dia tidak ada”

“Ehh? Benar juga. Bukankah tadi dia duduk disini?”

Chanyeol masih saja menelusuri setiap sudut sekolah yang bisa ditangkap oleh kedua matanya. Hingga akhirnya pandangannya jatuh pada sebuah gumpalan kertas yang tergeletak di samping kaki kursi.

Chanyeol membungkuk, mengambil kertas itu. Dan detik itu juga, ia terperangah begitu kertas itu dilebarkan. Bercak-bercak merah ada disana, menutupi sebagian tulisan yang sudah ditulis rapi di kertas itu.

“Bukankah ini lagu yang diciptakan Baekhyun?”gumamnya, membaca deretan kata-kata yang sangat dikenalnya. Perasaan Chanyeol mulai tidak enak. Baru menyadari, lagi-lagi hujan turun disaat matahari sedang bersinar terik. Ia berbalik menatap Tao, “kau pulang duluan. Aku ada urusan penting”

•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••

 –

“Baekhyun, aku akan mengantarmu pulang. Ayo” Kai menarik lengan Baekhyun pelan agar ia meninggalkan pianonya. Sudah berkali-kali, ia mencoba membujuk sahabatnya itu namun Baekhyun selalu saja menolak.

“Pulanglah duluan, Kai. Aku akan tetap disini” Dan jawaban itu juga sudah dikatakan Baekhyun berkali-kali.

“Baekhyun, aku mohon. Ini sudah malam”

“Akh, bodoh!”jerit Baekhyun menepuk dahinya, mengabaikan bujukan Kai. “Lanjutan lirik lagu yang ku tulis menghilang. Bodoh..bodoh..”

“Mungkin kau lupa meletakkannya”

Baekhyun menggeleng, “aku pasti merobeknya tadi”tunjuknya pada bekas robekan diantara buku tulis. Baekhyun mendesah panjang, “Padahal waktunya semakin sempit”

“Kau membuat lagu? Untuk apa?”

“Bukan apa-apa. Hanya iseng”

“Kau mencari ini?”

Baekhyun dan Kai sama-sama menoleh begitu pintu ruang musik terbuka, memperlihatkan visual seseorang dengan penampilannya yang basah kuyup. Tetes-tetes air keluar dari ujung bajunya. Kaca mata yang biasanya selalu dipakainya juga tidak terlihat bertengger di hidungnya.

Dia benar-benar berantakan. Rambut pendeknya yang selalu disisir rapi kini berantakan kesana-kemari.

Chanyeol mendekati Baekhyun dan Kai yang langsung berdiri dari duduk mereka. Memberikan sesuatu yang ada di dalam genggamannya pada Baekhyun.

“Apa yang terjadi denganmu?”tanya Chanyeol menatap Baekhyun lurus

Baekhyun tidak menjawab. Ia melebarkan gumpalan kertas yang diberikan Chanyeol lalu menghembuskan napas panjang. Akhirnya saatnya tiba. Ini adalah waktu dimana Chanyeol harus mengetahui semuanya.

“Saat hujan turun di langit yang cerah, itu artinya kau sedang menangis”seru Chanyeol memandang Baekhyun. Ia menggeleng. “Itu bukan hanya sekedar lelucon, Baekhyun”

Baekhyun buru-buru menghusap air matanya sebelum ia kembali menangis. Ia meremas gumpalan kertas lirik yang dibuatnya dalam genggaman. Sekuat tenaga berusaha untuk menahan semua emosinya yang ingin meluap keluar namun selalu saja gagal. Baekhyun menunduk, mencoba menyembunyikan air mata yang mulai merebak.

“Aku pikir kita adalah sahabat yang akan berbagi semuanya. Aku selalu mengatakan semua masalahku padamu, Byun Baekhyun. Aku juga berharap kau begitu”

“Chanyeol..kau tidak akan mengerti..ini sangat berat untukku”tangis Baekhyun

“Aku tidak akan mengerti jika kau tidak pernah mengatakannya. Beritahu aku apa yang sedang terjadi dan kita akan menyelesaikannya bersama-sama”

Baekhyun menggeleng, “Ada hal yang tidak bisa kita selesaikan bersama, Chanyeol. Kali ini kau tidak bisa membantuku”

“Kenapa?! Kenapa aku tidak bisa membantumu? Aku akan membantumu kare—“

“AKU MENGIDAP ATAXIA!!”teriak Baekhyun tak lagi mampu menahan dirinya sendiri. Ia mengangkat wajahnya, membalas tatapan Chanyeol dengan wajah yang sudah basah. “…juga kanker”

“Apa?”

“Aku mengidap dua peyakit mematikan, Chanyeol. Di tubuhku ada dua penyakit mematikan”

•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••

 –

Hari-hari berlalu dengan kecanggungan antara Baekhyun dan Chanyeol. Mereka seperti tidak saling mengenal satu sama lain, seperti tidak tinggal diatap yang sama. Setiap kali bertemu, mereka hanya saling melirik sekilas lalu saling melewati satu sama lain.

Kebiasaan-kebiasaan mereka yang selalu dikerjakan bersamapun, tidak pernah lagi mereka lakukan. Tiga hari berlalu dan tiga hari juga mereka melakukan semua hal dengan  mengandalkan diri invidu.

Di kamarnya, Chanyeol terduduk di depan komputer. Mencari sesuatu di google yang sejak tiga hari lalu belum ia temukan. Bahkan setiap pulang sekolah, ia tidak lagi mengikuti pertandingan. Lebih memilih pulang ke rumah dan kembali berkutat di dalam kamarnya dengan pintu yang terkunci.

Baekhyun sudah menceritakan kejadian yang terjadi antara dirinya dan Chanyeol, membuat nyonya Byun hanya bisa pasrah dan tidak melakukan apapun saat keadaan ruang makan tak lagi ramai seperti biasanya. Saat setiap pagi, tidak ada lagi teriakan keduanya untuk balapan sepeda. Keduanya hening. Tidak bicara satu sama lain membuat Baekhyun merasa sedih dengan sikap Chanyeol yang langsung menjauhinya begitu tau bahwa dia mengidap penaykit yang berbahaya.

Dia hanya salah paham. Sebenarnya bukan karena hal itu Chanyeol jadi berhenti berbicara padanya. Justru karena dia merasa dirinya tidak berguna sama sekali sehingga malu bertemu dengan Baekhyun. Tiga hari ini, dia terus berkutat dengan komputernya untuk mencari pengobatan alternatif ataupun herbal yang dapat menyembuhkan penyakit Baekhyun.

Ataxia bukanlah penyakit yang remeh. Penyakit itu menyerang otak kecil dan tulang belakang. Juga menyebabkan gangguan pada syaraf motorik. Itulah sebabnya mengapa akhir-akhir ini Baekhyun sering terjatuh dengan sendirinya. Selalu merasakan lemas dibagian kakinya.

Penyakit ini juga menyebabkan kanker yang menandakan bahwa tingkatannya bukan lagi remeh. Melainkan itu sudah sangat serius.

Chanyeol membanting keyboardnya kesal dan hampir saja menepis layar komputernya ke lantai jika dia tidak bisa menguasai dirinya sendiri. Dia tidak menemukan apapun. Ia tau semua yang dilakukannya hanya sia-sia karena Kai memberitahunya bahwa Ataxia dan Kanker adalah penyakit yang belum ditemukan obatnya, tapi walaupun sudah tau bagaimana hasilnya, hatinya terus saja berharap. Terus saja ingin ada sebuah keajaiban yang akan membuat Baekhyun sembuh.

•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••

 –

Tersisa 20 menit menjelang bel berbunyi tapi Chanyeol belum juga keluar dari kamarnya. Sudah siap dengan seragamnya, nyonya Byun menyuruh Baekhyun untuk mengetuk kamar Chanyeol. Memastikannya sudah bangun atau belum sementara ia menyiapkan sarapan pagi.

Baekhyun sudah berdiri didepan pintu yang tertutup itu. Sedikit ragu untuk mengulurkan tangan dan mengetuknya. Ia menarik napas panhang terlebih dulu baru mengetuk pintu kamar Chanyeol dua kali.

“Chanyeol, kau sudah bangun? Kita bisa terlambat”

Tidak ada sahutan dari dalam kamar Chanyeol. Baekhyun tidak mengetuk pintunya lagi, melainkan langsung memutar kenop pintu dan membukanya. Baekhyun terkejut begitu melihat Chanyeol sedang tertidur pulas di meja belajarnya dengan kepala yang tenggelam di dalam lipatan tangannya.

Ia menghampiri meja belajar Chanyeol sepelan mungkin, meraih salah satu kertas yang berserakan di depan printer. Dan apa yang dilihatnya saat itu, tulisan-tulisan itu, membuat Baekhyun langsung meraih kertas-kertas yang lain. Membaca semuanya dengan air mata yang langsung terjatuh di pipinya.

Baekhyun menutup mulutnya. Mencoba menekan tangisnya yang terasa sangat sesak. Semua kertas mempunyai isi yang sama, penjelasan tentang penyakit Ataxia dan kanker serta cara penyembuhannya.

Ribuan kali, Baekhyun terus saja merutuki dirinya sendiri. Ia menyesal. Sangat menyesal. Menganggap Chanyeol tidak memperdulikannya lagi, namun sebenarnya sangat memperdulikannya dalam diam. Jadi ini alasannya membolos latihan dan terus mengunci diri di kamar? Untuk mencari tahu tentang ini? Tentang penyakitnya.

“Baekhyun…” Chanyeol terbangun, langsung menyambar kacamatanya dan berdiri. Ekspresinya terlihat bingung, seperti seorang maling yang sedang tertangkap basah saat melihat lembaran kertas ditangan Baekhyun.

“Kertas –kertas ini untuk apa?”tangis Baekhyun

Chanyeol menunduk, memutar bola matanya kesegala arah, mencari kata-kata yang tepat untuknya.

“Aku…”seru Chanyeol menggantung. “Aku…ingin membuktikan padamu bahwa vonis dokter itu salah”

“kenapa?”

Chanyeol mengangkat wajahnya, “Aku punya banyak alasan untuk menjawabnya”

“Sebutkan..”

“Karena…aku mau kau sembuh. Aku mau kau terus ada disisiku. Kau adalah semangatku. Dan kau adalah alasan kenapa aku menjadi seperti ini sekarang. Apa kau butuh alasan lain? Aku bisa menyebutkannya hingga satu minggu ke depan”

“Chanyeol…aku tidak tau..terima kasih. Tapi..aku…”

“Kau akan menjadi penyanyi terkenal, kan? Kau selalu menagtakannya padaku”

“Tapi, aku tidak mempunyai kesempatan itu. Hidupku hanya tersisa sebentar lagi dan aku—“

“Kau bisa!”balas Chanyeol cepat. “Aku akan membantumu meraih kesempatan itu. Aku berjanji”

•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••

 –

Baekhyun menjalani kemoterapi untuk kanker yang di deritanya, juga terapi-terapi lain untuk Ataxia. Ia tidak lagi patah semangat. Terus berusaha atas dorongan yang terus diberikan oleh Chanyeol, sahabat yang tidak pernah meninggalkannya sedikitpun.

Chanyeol selalu ada disana, setiap kali Baekhyun menjalani terapinya. Walaupun, terkadang ia sedikit kewalahan dengan jadwal latihan dan menemani Baekhyun. Tapi, ia berusaha mengaturnya serapi mungkin.

Beberapa hari itu, hujan tidak lagi pernah turun di langit yang cerah. Sesuai ketentuan yang seharunya, disiang yang cerah akan ada langit biru dan sinar matahari, sedangkan di malam yang cerah akan ada bintang dan bulan. Semuanya berjalan dengan baik.

Di teras belakang rumah, Chanyeol sudah bersiap dengan gitarnya, menunggu Baekhyun yang sedang mengambil catatan lirik lagu yang sudah dibuatnya.

“Lihatlah. Ini lirik yang sudah ku selesaikan” Baekhyun menyodorkan kertas catatan pada Chanyeol. Namun, Chanyeol justru mendorong tangan Baekhyun kembali lalu menggeleng.

“Berikan catatan nadanya padaku”

“Ini”

Chanyeol meletakkan selembar kertas yang diberikan Baekhyun disisinya, sesekali menoleh kesana sambil memetik gitarnya untuk mencari kunci yang pas dalam lagu itu.

“Baiklah. Ayo nyanyikan”seru Chanyeol setelah menemukannya

“Satu..dua..tiga…”

 –

I do believe all the love you give

All of the things you do

Love you.. Love you..

I’ll keep you safe don’t you worry

I wouldn’t leave wanna keep you near

Cause I feel the same way too

Love you… Love you..

Want you to know that i’m with you

 –

I will love you and love you and love you

Gonna hold you and hold you and squeeze you

I will please you for all times

I dont wanna lose you and lose you and lose you

Cause i need you i need you I need you

So I want you to be my lady

You’ve got to understand my love….

You are beautiful beautiful beautiful

beautiful beautiful beautiful Girl…

You are beautiful beautiful beautiful

beautiful beautiful beautiful Girl…

– 

Lagu itu sempurna. Musik dan juga liriknya. Menyelesaikan kolaborasi mereka, Chanyeol memberikan tepukan tangan untuk Baekhyun. Sangat bangga dengan hasil karya sahabatnya yang benar-benar sangat bagus.

“Kau hebat”puji Chanyeol menepuk sebelah pundak Baekhyun

“Benarkah? Apa lagunya bagus?”

“Sangaaaaaat bagus. Aku yakin Taeyeon noona akan menerimamu”

Raut wajah Baekhyun berubah seketika, ia cemberut. “Tapi, aku bahkan belum mengajaknya berkenalan. Jika aku langsung menyatakan perasaanku, dia pasti akan menganggapku orang aneh”

“Tidak akan”yakin Chaneyol. “Kau harus optimis. Setelah menyanyikan lagu ini, kau bilang saja jika lagu ini kau buat untuknya. Dia pasti akan merasa tersentuh”

“Benarkah begitu?”tanya Baekhyun ragu

“Hey, kau tidak pernah merasa ragu sebelumnya. Ayolaah..kau pasti bisa. Lagu ini adalah rasa cintamu selama dua tahun. Ini kesempatanmu satu-satunya”

“Tapi..aku punya satu permintaan padamu”

“apa?”seru Chanyeol dengan kening berkerut

“Maukah aku mengiringiku dengan gitar diatas panggung nanti?”

“Bukankah kau akan bermain piano?”

Baekhyun menggeleng cepat, “aku berubah pikiran. Aku ingin kau yang menemaniku diatas panggung..dengan gitar”

“Baekhyun..tapi…”

“Aku mohon” Baekhyun memasang wajah selemah mungkin. Salah satu senjatanya untuk membuat Chanyeol luluh dan menurutinya.

“Hhhh…baiklah”

•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••

 –

Tersisa dua hari lagi sebelum acara perpisahan itu berlangsung. Disisa-sisa waktu itu juga, Baekhyun dan Chanyeol sangat sering menghabiskan waktu di dalam ruang musik untuk berlatih. Untuk sementara, Chanyeol terpaksa menomorduakan klub basketnya untuk hal ini. Lagipula, masih ada tiga bulan sebelum pertandingan itu berlangsung. Masih banyak waktu.

Musik hanya sekedar hobby namun Baekhyun adalah segalanya. Jika bukan karena Baekhyun, mungkin Chanyeol tidak akan mengenal musik. Hanya akan menjadi seseorang yang terus menggeluti basket sebagai mimpinya.

Tapi, Baekhyun mengajarkan padanya bahwa jika kau tidak bisa menyampaikan perasaanmu, kau bisa menyampaikannya dengan musik. Di dunia ini, ada begitu banyak perbedaan-perbedaan suku, bahasa dan masih banyak lagi. Tapi, musik bisa menyatukan semua hal itu.

•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••_______•••••••••••••••••••••••

“Kau gugup?” Chanyeol menepuk sebelah pundak Baekhyun membuat namja bermata kecil itu menoleh padanya kemudian mengangguk. Chanyeol tersenyum. “Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja”

“Baekhyun! Baekhyun!” Kai berlari-lari kecil menuju bagian belakang panggung, menghampiri Baekhyun dan Chanyeol yang sebentar lagi akan mendapat giliran untuk mengisi acara. “Pakai ini” Kai melepas gelang yang dipakainya lalu memberikannya pada Baekhyun.

Kening Baekhyun berkerut, “untuk apa?”

“Ini adalah gelang keberuntunganku. Setiap kali aku gugup, aku akan menyentuhnya. Aku akan meminjamkannya padamu”

“Benarkah?”tanya Baekhyun tersenyum lebar

Kai mengangguk, “tapi, setelah pertunjukkan. Kau harus mengembalikannya padaku”

“Aku akan mengembalikannya” angguk Baekhyun setuju. “Terima kasih, Kai”

Chanyeol dan Baekhyun naik keatas panggung bersamaan, beriringan dengan pandangan mata Kai yang memilih berdiri disamping panggung untuk melihat dua sahabatnya. Kai seperti bisa merasakan kegugupan yang dirasakan Baekhyun, tangannya terasa dingin dan jantungnya terus saja berdebar-debar.

Baekhyun dan Chanyeol membungkuk sopan didepan banyak murid kelas 3. Keduanya terlihat tampan dengan jins hitam, kemeja putih dan jas hitam yang mereka kenakan. Formal namun santai.

“Selamat kepada semua senior yang berhasil lulus dengan nilai yang baik. Aku harap, kalian akan sukses di masa depan dan kita bisa bertemu lagi. Aku dan sahabatku akan membawakan sebuah lagu. Lagu ini adalah hasil ciptaanku sendiri. Selamat mendengarkan”

Tepukan tangan dari segala penjuru terdengar riuh. Sudah menjadi rahasia umum jika suara Baekhyun sangatlah merdu. Dia seperti terlahir untuk musik karena begitu jenius dalam semua lagu. Termasuk Kai, yang bertepuk tangan dengan heboh menyemangati Baekhyun disisi panggung.

Baekhyun menoleh kearah Chanyeol yang sudah siap dengan gitarnya lalu tersenyum, Chanyeol membalasnya dengan anggukan mantap.

Suara petikan gitar itu mulai terdengar. Menghitung aba-aba dalam hati, Baekhyun menarik napas panjang dan mulai bersenandung merdu.

“I do believe all the….”

Sesuatu itu kembali. Di saat-saat paling penting di dalam hidupnya. Berusaha sekuat apapun tetap sia-sia, suara Baekhyun menghilang bahkan sebelum dia menyelesaikan lagunya hingga akhir.

Memaksa dan memaksa. Mendorong suaranya agar keluar namun tetap tidak bisa. Dari dua arah yang berlawanan, Chanyeol dan Kai memandang Baekhyun dengan tatapan khawatir. Berusaha setenang mungkin dengan terus memetik gitarnya sambil menunggu suara Baekhyun.

Hingga sepasang mata Chanyeol menangkap sebuah air mata yang meluncur mulus di pipinya. Detik itu juga, Chanyeol membanting gitarnya ke kiri dan menghampiri Baekhyun. Di saat yang tepat, sebelum tangan Baekhyun yang memegang mic melunglai kebawah, Chanyeol menangkap tangan itu dan menariknya ke atas. Tetap mempertahankan posisinya seperti semula di dekat mulut Baekhyun.

Baekhyun menoleh dengan kedua matanya yang dipenuhi genangan air mata. Ia menggeleng, mengisyaratkan pada Chanyeol jika dia sudah kehilangan kesempatan itu lagi.

“Tidak. Kau bisa. Ayo bernyanyilah. Kau bisa” Chanyeol masih memegangi tangan Baekhyun yang memegang mic. Menyemangatinya sekuat yang ia bisa, juga dengan air matanya yang mulai mengalir. “Kau harus bernyanyi, Byun Baekhyun. Aku mohon…ini kesempatanmu”

Tuhan telah menentukan semuanya. Bagi diri Baekhyun juga hidupnya. Mata Chanyeol terbelalak lebar, mulutnya ternganga, tubuhnya menegang saat melihat cairan merah mulai merembes keluar diarea hidung Baekhyun.

Bersamaan rasa kepanikan hebat yang mengepung hatinya, bersamaan dengan suara bantingan microphone yang membentur lantai. Chanyeol menangkap tubuh Baekhyun yang mulai rebah dengan kedua tangannya. Menjadikan dekapannya sebagai sandaran bagi sahabatnya.

Suara teriakan-teriakan dari segala penjuru arah seperti tidak bisa menembus gendang telinga Chanyeol. Ia tuli. Kesadarannya seperti menghilang entah kemana begitu melihat kedua mata Baekhyun yang mulai tertutup.

Seperti kesetanan, Chanyeol mengguncang tubuh Baekhyun hebat. Berteriak sekencang mungkin memanggil namanya Melarangnya untuk terlelap. Dia harus bernyanyi. Dia harus menyatakan perasaannya.

“Baekhyun bangun! Ayo bangun! Kau sudah bekerja keras untuk lagu ini. Ayo bangun!! BAEKHYUN!!”teriak Chanyeol sembari memberikan air matanya pada wajah Baekhyun. “Baekhyun!!”

“Chanyeol, kita harus membawanya ke rumah sakit!” Kai mengguncang bahu Chanyeol, mencoba menyadarkan namja yang terus saja mencoba membangunkan Baekhyun sekuat tenaganya.

“Tidak! Dia harus bernyanyi! Dia harus bernyanyi sekarang! BAEKHYUN!!!”

Baekhyun tau…sekarang, dia sudah kehilangan mimpinya. Juga…cintanya yang bahkan belum tersampaikan…

 –

TBC

18 thoughts on “FF: A Song To Remember (2/3)

  1. Ping-Chan berkata:

    Baekhyun oppa jangan meninggaaaaal, jebal TT
    Author,kenapa FFnya sedih banget YY
    salut banget sama Chanyeol +Kai, mereka bener2 sahabat yang keren #akuiri
    Next partnya jangan lama2 ne😥

  2. 'Oh Mi Ja' fans berkata:

    Mungkin Tuhan memiliki
    sebuah tujuan dibalik semua ini.
    Tapi, kenapa harus dia? Kenapa
    sangat tidak adil? Diantara
    100.000 orang normal, kenapa dia
    menjadi satu-satunya yang
    berbeda? « DUHHHH … NANGISS .. KEJEERRRRR …. MI JAAA .. T______T !!? ini bacanya sambil ngulang” suara baekhyun nyanyi lagu itu .. sumfeeehhh …nangis makin banjiiirrr ;;___;; !!!!
    Baekhyun-aaahhh … irreonaaabaa …😥 !!!
    aahh .. BAEKYEOL T_____T </////3

  3. rani berkata:

    berhasil sekali kau oh mi ja
    dugaanku benar pasti bakal nangis lagi
    dan kenapa harus penyakit itu????
    menyesakan

    keren tapi hehehehe

  4. nina berkata:

    bener kan bener kan
    iia kan, eonnie kan
    ini pasti cerita na sad😥
    aaahhhh eonnie T.T
    dari awal chap ini mpe akhir ttep aja bikin nangis
    aaaaa baekkie
    aaaa yeollie
    T^T

  5. chatty berkata:

    tuh kan bener baek mengidap kanker😦
    aduh aku merinding thor bacanya, teriak teriak AGIO AIGO AIGO sendiri…
    paling suka sama

    “Karena…aku mau kau sembuh. Aku mau
    kau terus ada disisiku. Kau adalah semangatku.
    Dan kau adalah alasan kenapa aku menjadi seperti
    ini sekarang. Apa kau butuh alasan lain? Aku bisa
    menyebutkannya hingga satu minggu ke depan”

    semoga baek bisa sembuh, langsung ke chap 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s