FF : The Lords of Legend (Chapter 6)

The Lords of Legend

Tittle : The Lords of Legend

Author : Oh Mi Ja

Genre : Fantasy, Action, Friendship, Comedy

Cast : All member EXO

Desclimer : Cerita ini mengandung istilah dari beberapa mitologi kuno. Cerita ini murni fiksi dan tidak pernah terjadi sebelumnya. Jika masih bingung dengan istilahnya, silakan liat teaser ^^

Annyeonghaseo, sebelumnya author mau ngucapin minal aidzin buat para readers yang menjalankan. Juga mau  minta maaf karena lama banget baru post FFnya. Buat author lain, maaf FFnya lama baru bisa di post.

Happy reading ^^

SEHUN POV

Yonsei High School, Jongno-gu, Seoul, South Korea

Aku lupa dengan mimpiku semalam. Tapi, pagi harinya aku menemukan mimpi buruk di sekolah. Sekolahku bukanlah sekolah yang masuk dalam kategori sekolah orang-orang kaya dengan fasilitas unggulan. Hanya sebuah sekolah sederhana yang terletak didaerah pinggiran distrik Jongno, juga bukan termasuk sekolah yang bertaraf Internasional. Murid-muridnya juga hanya murid-murid sederhana yang sesekali berjiwa preman saat menghadapi murid dari sekolah lain yang mencari ulah. Hanya itu.

Tapi, pagi ini…sekolahku gempar dengan kedatangan murid-murid baru yang berpenampilan layaknya seorang idol. Aah, atau mungkin flower boys yang kerjanya hanya menari dan bernyanyi di depan kamera. Mereka tidak berbeda sama sekali dengan member-member boyband yang digilai perempuan. Bodoh.

Saat baru memasuki satu langkah di dalam gerbang sekolah, aku harus menepi saat beberapa mobil sport mewah memasuki kawasan sempit sekolahku yang tempat parkirnya hanya ditempati oleh sepeda-sepeda tua – ada beberapa yang baru – . Pagi itu, enam buah mobil sport dengan warna yang berbeda-beda menghiasi tempat parkir sekolahku.

Dan berlanjut dengan decak kekaguman murid-murid yang sebelumnya hanya pernah melihat mobil-mobil itu di televisi – aku tidak termasuk karena Ilhoon punya satu mobil sport dan aku pernah menaikinya – . Sebelas orang murid laki-laki keluar seperti sinar matahari yang seketika menyilaukan mata murid-murid perempuan. Mereka sangat keren. Bisa ku tebak bahwa mereka adalah orang-orang kaya hanya dari penampilan mereka. Belum lagi warna rambut warna-warni yang menghiasi kepala mereka. Seperti warna buah-buahan di kebun nenek.

Aku mencoba tidak memperdulikan kehebohan itu dan melanjutkan langkahku menuju kelas. Hey, aku adalah seorang namja yang sama sekali tidak tertarik dengan namja-namja bodoh itu.

“Sehun!” Seperti biasa, Ilhoon memanggilku saat aku muncul di pintu kelas. “Kau sudah dengar…”

“Iya aku tau”potongku malas lalu melempar tas ranselku ke atas meja dan membuang tubuhku ke kursi disamping Ilhoon. Aku sudah bisa menebak dengan apa yang akan dikatakan olehnya.

“Apa yang kau tau?” Ilhoon balas bertanya. Kaca mata besarnya naik turun di hidungnya.

“Tidak tau”

“Ehh? Apa maksudmu?”tanyanya lagi dengan kening berkerut tapi aku tidak menjawab apapun. Hanya diam hingga bel berbunyi dan tak lama Leeteuk sonsengnim memasuki kelas.

“Anak-anak ada kabar gembira untuk kalian. Kita kedatangan sebelas murid baru dan empat diantaranya akan menempati kelas ini”

Aku berani sumpah. Aku menyesal karena berada di kelas yang memiliki banyak bangku kosong. Bahkan tidak ada murid perempuan di kelasku.

“Silahkan masuk”

Aku merasakan hawa buruk menyapu permukaan tengkuk leherku. Bisa ku rasakan ada getaran aneh dibawah pergelangan tanganku. Kedua mataku melebar, dengan gerakan pelan menarik lengan blazerku dan detik itu juga aku langsung terperangah hebat begitu melihat tanda lahir yang ada dipergelangan tanganku mengeluarkan cahaya hitam.

Sejak kecil, ibuku selalu memberitahuku untuk menyembunyikan tanda lahir ini apapun yang terjadi. Aku tidak tau apa alasannya tapi ibu bilang, saat aku lahir ia bertemu dengan seorang nenek yang mengatakan bahwa aku harus menyembunyikan tanda lahir ini agar hidupku aman. Bodoh memang. Tapi, bagi seseorang yang sedikit paranoid dan kolot seperti ibuku, tentunya dia masih mempercayai hal-hal seperti itu. Hal-hal yang ku anggap tidak beralasan sama sekali.

Walaupun begitu, aku selalu menurutinya. Saat mengenakan kaus berlengan pendek atau seragam keseblasan, aku tidak pernah lupa untuk memakai handband. Bahkan Ilhoon sekalipun tidak mengetahui tentang tanda yang ada dibalik pergelangan tanganku ini.

Cahaya itu meredup bersamaan dengan tanda tanya besar yang ada dikepalaku. Ini pertama kalinya aku melihat kejanggalan dari tanda lahir itu. Bagaimana bisa ada cahaya hitam yang keluar dari sana? Apa nenek itu mempunyai alasan yang tidak aku ketahui? Kenapa aku harus menyembunyikan tanda lahirku?

Lamunanku buyar saat Ilhoon menepuk sebelah pundakku. Aku mengerjap dan baru mengetahui alasannya menepuk pundakku. Untuk memberitahu bahwa dua diantara murid baru itu duduk di meja yang terletak dipojok kanan barisan paling belakang, lebih tepatnya dibelakang mejaku dan Ilhoon. Sedangkan yang dua lagi, duduk disebelah mejaku dan Ilhoon.

Oh Tuhan, kenapa aku dikepung oleh orang-orang berkepala warna-warni? Aku bahkan ingin memakan rambut ungu itu. Warnanya hampir sama seperti permen kapas.

Karena terlalu asik melamun tadi, aku jadi tidak mendengar siapa nama mereka. Yang jelas aku sangat bingung kenapa kepala sekolah membiarkan murid-murid baru mewarnai rambut mereka. Sejak aku kelas satu, peraturan mutlak di sekolah ini adalah tidak mewarnai rambut dan hanya boleh mengendarai sepeda ke sekolah. Tapi, kenapa mereka diijinkan?

Biar ku perkenalkan. Murid baru yang duduk tepat di belakangku adalah orang yang menjadi pusat perhatian banyak murid perempuan tadi. Tidak ku pungkiri, wajahnya memang tampan dan sangat imut. Dan ku pikir, si rambut ungu itu memiliki senyum yang paling baik.

Murid yang duduk disebelahnya – dibelakang Ilhoon – berambut abu-abu, seperti seorang kakek-kakek dengan wajahnya yang juga tampan. Tubuhnya lumayan tinggi setara denganku. Kulitnya gelap dan ku pikir, dia adalah yang paling hitam diantara perkumpulannya.

Sedangkan yang duduk disebelah mejaku dan Ilhoon. Salah satunya berambut hitam dan pendek, memiliki mata dan telinga yang besar, dia juga memakai kacamata yang justru terlihat seperti orang bodoh. Dia sangat tinggi dan juga..oke..tampan. Yang duduk disebelahnya, murid pendek berambut hijau. Dari raut wajahnya dia terlihat bukan orang yang ramah. Kombinasi yang sedikit lucu memang saat melihat raksasa dan kurcaci duduk di meja yang sama.

***___***

AUTHOR POV

Yonsei High School, Canteen Room.

Bel berbunyi dan kesebelas dewa langsung berhambur ke kantin bersama. Walaupun ditempatkan di kelas yang berbeda, setiap jam istirahat mereka sudah berjanji untuk berkumpul.

“Kalian merasakannya, kan?”tanya Kai setengah berbisik. Tidak mau obrolan mereka di dengar oleh murid lain karena saat ini mereka sedang menjadi pusat perhatian seluruh pasang mata.

Lay mengangguk, “aku terus merasakan tandaku bergetar”

“Ini sedikit sulit karena kita bisa merasakan kehadiran dewa Ares dalam jarak 500 meter. Dalam jangkauan sejauh itu, ada banyak murid yang tidak kita ketahui . Mencari dewa Ares bukanlah hal yang mudah”sahut Suho

“Memang sulit” Kris menambahi. “Karena kita merasakan tanda kita bergetar walaupun kita berbeda kelas. Lakukan perlahan namun tidak lambat. Cepat tapi tidak terburu-buru”

“Hey, apa kita harus mengubah warna rambut kita? Kita sangat mencolok” Tao berseru diluar topik pembicaraan sambil memegangi rambutnya yang berwarna violet.

“No!”tolak Chen mentah-mentah. “I like my colour hair so much. Don’t dare commanding me to change it! Oke?”

vous parlez trop(u talk too much), Chen” Luhan membalasnya santai sambil terus menyantap serealnya

“tenang saja. Aku sudah mengatur semuanya agar kepala sekolah memperbolehkan kita mengecat rambut dan menggunakan mobil ke sekolah”sahut Suho tersenyum yakin.

“Yaah, sangat gampang menggunakan uang di sekolah kumuh ini. Kau pasti menggunakan taktik itu, Odin”tebak Xiumin tepat

That’s rite!” Suho menjentikkan jari telunjuk dan ibu jarinya di depan wajah Xiumin. “je bent zo slim(u’re so smart)”

“Bisakah kalian berhenti berbicara dengan bahasa yang berbeda-beda? Korea, Inggris, Perancis dan Belanda. Kalian membuatku bingung”protes Chanyeol memajukan bibirnya sambil meletakkan letak kacamatanya yang melorot

“Odin, apa kau tidak memberikan kapasitas yang banyak untuk otaknya? Dia sangat bodoh. Dan sialnya, aku menjadi teman sebangkunya di kelas” Chen menggerutu membuat Chanyeol langsung melotot padanya.

“Apa kau bilang?!”

“Hey shut up!”seru Kris malas mendengar pertengkaran lagi. “Yang terpenting adalah tidak melakukan sesuatu yang dapat menarik perhatian siswa dan guru. Ingat skenario kita, oke?”

“Kita berasal dari Inggris dan berasal dari keluarga yang sama. Kita adalah sepupu. Benar kan?” Kai mengulangi skenario yang dibuat Kris kemarin malam.

Kris mengangguk, “yup!”

Tiba-tiba D.O berdiri dari tempat duduknya. Seperti biasa dengan tatapan matanya yang selalu dingin dan kosong. “Aku sudah selesai. Aku akan pergi ke perpustakaan dulu”ujarnya lalu meninggalkan ruang kantin.

***___***

Yonsei High School, School Yard.

 –

“Mulai hari ini, sekolah adalah tempat yang paling menyebalkan”rutuk salah seorang teman sekelas Sehun bernama Seung Ho yang ikut bergabung di pinggir lapangan bola bersama beberapa murid laki-laki lain.

Ilhoon mengangguk, “apa sekolah adalah tempat untuk memamerkan harta dan wajah? Mereka baru saja datang dan langsung menjadi pusat perhatian. Menyebalkan sekali”

“Aku rasa kepala sekolah mendapat banyak sogokan jadi membiarkan mereka berlaku seenaknya”sahut Sungjae

“Hey, tapi kenapa harus sekolah kita? Kenapa mereka tidak masuk di Seoul High School saja? Mereka lebih cocok disana, bergabung bersama idol yang juga bertebaran di sekolah itu. Kenapa harus disini? Bahkan sekolah kita hanya mempunyai tiga lapangan yang sempit” Ilhoon berpindah posisi, duduk disamping Sehun dengan bibir yang terus cemberut.

“Mungkin mereka pikir, disini tidak ada saingan” Sanghyuk menjawab rutukan Ilhoon. “Lihat saja murid-murid disini, tidak ada yang menarik sama sekali”

“Mata sipit, kau lupa? Kita punya Park Sehun. Dia tampan, tinggi, berkulit putih, juga menjabat sebagai kapten sepak bola. Dia adalah murid yang popular di sekolah ini” Ilhoon membela Sehun sambil merangkul pundaknya

“Maksudmu sebelum mereka datang, begitu?” Sanghyuk memperbaiki ucapan Ilhoon disusul dengan tawa geli yang lain.

Ilhoon melorotkan punggungnya lalu membuang napas keras, “Aiiishh..aku benar-benar membenci mereka! Terutama si rambut ungu itu”

“Kenapa? Dia juga merebut yeojachingumu seperti dia merebut yeojachingu Ravi?”

Sungjae seketika tertawa geli, “yeojachingu? Bukankah di kelasnya tidak ada perempuan sama sekali? Bagaimana dia bisa memilikinya?”ejeknya membuat Ilhoon langsung melotot galak

“Berhenti mengejekku! Aku hanya tidak suka dengannya. Dia baru satu hari berada disekolah ini dan langsung memutuskan puluhan hubungan percintaan teman-teman kita. Menyebalkan”

“Itu masih lumayan karena kau tidak mempunyai yeojachingu. Kelasku yang sangat sial” Sanghyuk yang awalnya tidak terlalu pusing dengan kedatangan kesebelas dewa mulai mengadu seperti Ilhoon. “Ada empat murid yang masuk ke kelasku. Yang satu tubuhnya sangat tinggi seperti raksasa, wajahnya dingin dan angkuh. Namanya adalah Kris Sigee..eum..Sigy..”

“Sigismund” Seung Ho memperbaiki ucapan Sanghyuk

“Nah itu dia”balasnya. “Lalu yang duduk disampingnya adalah si kerdil yang mempunyai senyuman paling mematikan kata murid-murid perempuan yang ada di kelasku. Dia selalu saja tersenyum seperti orang bodoh. Namanya Suho Sigismund. Dan yang ketiga bernama Baekhyun Sigismund, aku berani sumpah dia adalah orang yang paling menyebalkan di dunia. Dia tidak bisa diam, suaranya sangat menyakitkan telinga dan terus menebar pesona pada murid-murid perempuan. Sedangkan teman sebangkunya adalah Tao Sigismund, dia juga menyebalkan. Wajahnya sangat tidak bersahabat sama sekali seperti Kris. Tubuhnya sangat kekar dan dia menyeramkan. Aku yakin tahun ini kelasku akan menjadi kelas paling buruk”

“Tidak hanya kelasmu, dikelasku juga terdapat orang-orang Sigismund itu”cela Ilhoon

“Kelasku juga kebagian tiga dari mereka. D.O Sigismund, Lay Sigismund dan Xiumin Sigismuns”sahut Sungjae

“Akh, apa orang-orang yang bermarga Sigismund itu menyebalkan?”

“kenapa mereka semua bermarga Sigismund?” Akhirnya, Sehun membuka suara setelah hanya menjadi pendengar rutukan teman-temannya.

“Bodoh. Kau tidak tau?”

Sehun menggeleng.

“Bisakah kau tidak tidur saat jam pelajaran, Park Sehun?”

“Hey, aku tidak tidur. Aku hanya tidak fokus dengan mereka tadi”

Ilhoon menghela napas panjang lalu geleng-geleng kepala, “yang berambut ungu, yang duduk dibelakangmu dan yang paling menyebalkan bernama Luhan Sigismund, disampingnya yang berkulit hitam seperti orang negro, Kai Sigismund. Yang paling tinggi, yang duduk disebelah kita adalah Chanyeol Sigismund, disebelahnya si rambut hijau itu adalah Chen Sigismund. Mereka bersebelas berasal dari Inggris dan termasuk putra-putra keluarga Sigismund”

“Jadi maksudmu mereka adalah keluarga?”

“Yah, ku dengar mereka adalah sepupu”

“Jadi ada sebelas orang-orang Sigismund di sekolah kita?”

“Orang-orang menyebalkan lebih tepatnya”

Sehun tertawa kecil, menepuk pundak Ilhoon lalu berdiri. “Sudahlah. Masih ada sepuluh menit sebelum bel berbunyi. Aku akan kembali ke kelas”

***___***

Sehun berjalan dengan langkah-langkah cepat menuju kelasnya, sangat ingin cepat sampai dan menggunakan waktu yang tersisa untuk sekedar menutup matanya karena sepulang sekolah nanti, dia harus bekerja menjadi penyebar brosur di taman kota.

Langkahnya yang sangat cepat bahkan seperti orang berlari, membuat Sehun tidak bisa menghentikannya saat melihat ada orang yang muncul dari belokan. Mereka bertabrakan tanpa sengaja. Jenis tabrakan yang tidak terlalu keras sebenarnya namun mampu membuat tubuh Sehun terpental ke belakang.

Sehun meringis kesakitan sambil memegangi bahunya yang terasa sangat sakit, juga bokongnya yang berhasil bertabrakan dengan lantai.

Kemudian ia mendongak, menatap seseorang yang berdiri di depannya dengan mata terbelalak lebar. Seseorang yang ternyata bertubuh jauh lebih kecil darinya.

‘D.O…’ Sehun membaca nametag yang tertera di blazer orang yang ternyata D.O itu dalam hati. Kemudian, menatapnya yang kini juga sedang balas menatapnya dingin.

D.O tidak bergerak sedikitpun. Bahkan tanda-tanda untuk mengulurkan tanganpun tidak ada. Namja berambut merah wine itu hanya menatap Sehun dengan tatapannya yang selalu tajam lalu berlalu pergi meninggalkannya.

Ditempatnya, Sehun mengikuti langkah-langkah D.O hingga dia menghilang di ujung koridor. Bukan kekesalan yang dirasakannya tapi sebuah tanda tanya besar kenapa bahunya terasa sangat sakit dan bahkan tubuhnya sampai terjatuh ke belakang saat bertabrakan dengannya. Tabrakan itu tidak keras. Jika ada yang jatuh, harusnya itu D.O karena sudah bisa ditebak kekuatan Sehun jauh lebih besar darinya. Tapi, kenapa justru sebaliknya?

“Hai, kau tidak apa-apa?”

Sebuah tangan terulur disamping Sehun, membuatnya langsung tersadar dan mendongak. Dia sudah bisa mengetahui jika seseorang yang memiliki lesung pipi itu adalah salah satu dari keluarga Sigismund karena rambutnya berwarna kuning – Sehun menganggap keluarga Sigismund dapat dibedakan dari warna rambutnya –

Sedikit ragu, Sehun membalas uluran tangan itu dan tanpa sengaja membaca nametag-nya. Ternyata Lay.

“Terima kasih”balas Sehun kikuk

“No problem. What’s your name?”

“Ha?”  Sehun sebenarnya mengetahui pertanyan simple bahasa Inggris itu. Namun, ia gugup.

“Aah..maaf. Maksudku, siapa namamu? Aku Lay”

“Park Sehun”

“Park Sehun? Hai, aku adalah…”

“Aku tau. Kau adalah murid baru”potong Sehun cepat. “Tapi, maaf. Aku rasa aku tidak bisa mengobrol denganmu. Aku harus kembali ke kelas”

Itu bukanlah sikap sombong yang seharusnya tidak ia tunjukan pada murid baru. Rasa kantuknya lah yang memaksanya untuk bersikap seperti itu. Tersisa dua menit dan dia tau itu bukanlah waktu yang cukup untuk tidur.

***___***

Sangji Ritzvil Caelum Apartemen, Gangnam-gu, Seoul, 18.00 KST

“Bagaimana hari pertama kalian? Menyenangkan?”tanya Suho sambil meletakkan beberapa kotak ice cream yang dibelinya sepulang sekolah tadi bersama Kris. Di musim panas seperti ini, ice cream adalah pilihan yang terbaik.

“Biasa saja”jawab Xiumin seakan tidak tertarik sama sekali

“Apa dewa Ares benar-benar bersekolah di tempat itu? Kalian yakin?”tanya Chanyeol ragu

“Jika tidak, tanda kita tidak akan terus bergetar, Loki”balas Suho

“Tapi, kenapa dia memilih sekolah yang begitu buruk? Bahkan lapangannya sangat kecil”

Suho baru menyadari jika pernyataan Chanyeol itu benar, ia mengangguk. “Benar juga. Apa mungkin dewa Ares hidup susah sekarang?”

“Atau mungkin dia bodoh”sahut Luhan seperti tidak punya tenggorokan

“Tanda kita bergetar di tempat itu. Tidak salah lagi. Dewa Ares pasti bersekolah disana”seru Kris sambil menyantap tropical ice cream-nya dan sesekali mengganti channel televise. “Kita harus mencarinya”

“ Aku tau. Tapi, aku benar-benar tidak tahan dengan keadaan sekolahnya. Di ruang kelasnya pun hanya ada dua kipas angin, bukan AC”eluh Baekhyun

“Berkorbanlah sedikit. Ini untuk negeri langit. Lagipula, kau adalah dewa Ra, dewa yang mengendalikan matahari. Kau bisa menurunkan suhunya sedikit jika kau mulai kepanasan. Tapi, seperti kata Zeus, jangan lakukan apapun yang mencolok”

“Whooa, Loki. Apa benar itu kau? Darimana kau dapatkan kata-kata itu?”desak Chen kagum sambil menepuk-nepuk pipi Chanyeol. Mungkin, ia pikir Chanyeol sedang mabuk.

“Lepaskan aku..” Chanyeol mendorong tubuh Chen kesal agar ia menjauh darinya. “Aku tau mungkin aku sering membuat kesalahan. Tapi, aku juga memikirkan negeri langit. Walaupun negeri itu bukan negeriku karena aku adalah keturunan Jotun, tapi aku sangat suka tinggal disana dan menjadi dewa seperti kalian”

Menatap wajah Chanyeol yang mulai tertunduk, Baekhyun tersenyum haru. Mungkin, dia adalah orang yang paling sering direpotkan dengan segala sifat merusak Chanyeol. Namun, ia juga tau bahwa raksasa itu mempunyai hati yang tulus.

“Kau mau ice cream strawberry-ku, Yeol?”

***___***

Sehun’s house, Gangnam-gu, Seoul, 23.00 KST

Oema, aku akan menutup kios bunganya”

Sehun berteriak dari depan pintu utama sambil meletakkan tas ranselnya. Hari sudah beranjak malam dan dia baru saja pulang dari pekerjaannya. Sehun melangkah menuju kios bunga ibunya yang terletak disamping rumahnya. Mulai memasukkan bunga-bunga yang terpajang dibagian luar ke dalam. Merapikan beberapa pot keramik juga membersihkan lantai yang dikotori dengan kelopak-kelopak bunga yang terjatuh ataupun daun-daun.

Saat menyapu bagian belakang kios bunga ibunya, tanpa sengaja handband yang dipakai Sehun tersangkut ujung sapu dan saat itu juga Sehun teringat dengan kejadian disekolahnya tadi. Ada keinginan untuk bertanya pada ibunya namun ia urungkan niatnya itu karena ia tau bahwa ibunya sedang sibuk.

“Kenapa aku mempunyai tanda ini? Tandanya sangat abstrak dan tidak berbentuk”gumam Sehun pada dirinya sendiri.

“Sehunie, apa yang kau lakukan? Cepat masuk, oema sudah menyiapkan makanan untukmu”suara teriakan Taeyeon membuyarkan lamunan Sehun

Sehun buru-buru menyelesaikan pekerjaan terakhirnya, menutup kios lalu berlari masuk ke dalam rumah.

***___***

Yonsei High School, Jongno-gu, Seoul.

Masih ada waktu sebelum akhirnya bel berbunyi mengakhiri jam istirahat murid-murid. Luhan tidak ikut bergabung bersama dewa lain di kantin, justru berjalan-jalan untuk melihat daerah sekitar sekolah yang walaupun tidak menarik sama sekali.

Diiringi tatapan kagum gadis-gadis yang dilakukan secara terang-terangan, Luhan berusaha tidak memperdulikannya. Dia sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini sejak di negeri langit, ratusan tahun lalu.

Struktur wajahnya yang memang sempurna bersamaan dengan senyumannya yang mematikan, mampu membuat Luhan langsung menjadi murid paling popular di hari pertamanya kemarin. Dia dianggap sebagai pangeran rumah kaca yang harus dilindungi agar tidak terluka sedikitpun. Hanya bisa dipandang namun tidak bisa disentuh. Seperti ada pembatas transparan yang terbentang antara orang-orang Sigismund dengan siswa lain. Mereka berbeda. Istimewa.

“Hai…” Akhirnya Luhan memutuskan untuk menyapa salah satu murid perempuan yang kebetulan sedang lewat di koridor kelas. Dia tersentak.

“Oe? Y-ya?”

“Kau tau dimana ruangan klub sepak bola?”

Murid perempuan itu masih tergagap, “K-kenapa?”

“Tidak. Aku hanya ingin mengikutinya. Kau tau?”

“Kau yakin? Apa kau tidak takut wajahmu rusak?”

Luhan seketika tertawa mendengar pertanyaan polos itu, “tentu saja tidak. Atau kau tau siapa ketua klub-nya?”

“Ketua klub sekaligus kapten sepak bola di sekolah ini adalah Park Sehun. Dia murid kelas 2-B”

“2-B?”

Dia mengangguk.

“Ternyata sekelas denganku. Terima kasih”

Luhan memutar balik langkahnya menuju kelasnya sendiri. Mencari-cari sosok bernama Park Sehun. Saat sampai dikelas, ternyata hanya tertinggal beberapa murid yang hanya menentap disana sambil menyalin catatan. Luhan menghampiri salah satunya.

“Kau lihat Park Sehun?”

Lagi-lagi seseorang yang ditanya oleh Luhan tersentak kaget, “ya?”

“Kau lihat Park Sehun?”

“Park Sehun? Biasanya dia ada di lapangan sepak bola bersama Ilhoon dan timnya”

“Thanks”

Luhan kembali berlari keluar, menuruni anak-anak tangga dan keluar dari koridor kelas. Tiba-tiba ia kembali merasakan tanda yang ada dipergelangan tangannya bergetar, mengisyaratkan bahwa dewa Ares ada di dalam jangkauan 500 meter. Ia berhenti sejenak, memandang berkeliling namun keadaan sekitarnya sangat ramai. Susah untuk menemukan sosok dewa Ares diantara puluhan murid-murid yang saling berbaur. Akhirnya, ia kembali melanjutkan langkahnya menuju lapangan sepak bola.

Setelah sampai, dugaan awalnya yang menyatakan bahwa lapangan itu sangat ramai ternyata salah. Hanya ada satu orang disana. Seorang murid laki-laki bertubuh tinggi yang sedang menggiring bola sepak di kakinya. Dia hanya memakai kemeja seragamnya tanpa memakai blazer.

“Kau Park Sehun?”

Murid itu berhenti setelah mendengar seseorang memanggil namanya. Ia berbalik dan mengerutkan keningnya bingung.

“Kenapa?”

“Aah..ternyata benar. Kau adalah Park Sehun”seru Luhan tersenyum lega. “Aku Luhan. Aku ingin masuk ke dalam tim-mu”

TBC

Iklan

55 thoughts on “FF : The Lords of Legend (Chapter 6)

  1. Oh Yuugi berkata:

    Kyaa!! HunHa moment akhirnya…kkkk apa Sehun bakalan segera ketahauan? Aahh jadi penasaran n makin greget aja nih ceritanya..love love sama ff ini…kkk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s