FF: She (1/3)

she

Tittle : She (part 1 –and their love story begins)

Author : Cicil

Cast : Jessica and Luhan

Genre : romance, sad(maybe), family(maybe), angst(maybe)

Rating : semua umur

Length : Threeshoot

Disclaimer : semua cast milik Tuhan dan diri masing masing, cerita ini miliku dan Tuhan.

Author note : Jessica disini aku tulis Sica

 

Happy Reading^^

And their love story begins

 

 

April 18, 2012 – Sica’s apartment

“SAENGIL CHUKKA HAMNIDA. SAENGIL CHUKKA HAMNIDA… SARANGHANEUN JUNG SOOYEON… SAENGIL CHUKKA HAMNIDA… WOOOOOO!!!!” Sica selesai menyanyikan lagu ulang tahun untuknya sendiri, berteriak seru kemudian bertepuk tangan ricuh seorang diri. Kakinya terduduk silang diatas karpet lantai.

Didepan Sica sudah ada meja berkuran kecil dengan kaki pendek juga kue ulang tahun berbalut lapisan coklat. Tertancap lilin berangka 18 sesuai umurnya yang baru.

Apartment kecil itu berhiaskan balon warna-warni, tadi siang Sica mengerjakan semua persiapan ini sendiri. Mulai dari membeli kue ulang tahun miliknya, meniup balon, sampai mengatur tatanan rambutnya.

“satu dua tiga fyuuuuh” api kecil yang menyala-nyala dililin merah ‘18’ barusan sekejap hilang menjadi asap abu-abu. Diambilnya pisau lalu memotong first cakenya “kue pertama untuk Sica” ujarnya kemudian menyuap pelan sesendok.

Semuanya sendiri, kemana orang tuanya? Jawabannya pergi bekerja di San FranciscoCaliforniaUnited States tempat kelahirannya. Sedari kecil dia dititipkan di Korea, tepatnya yah apartemen ini.

Dulu ada seorang bibi yang mengurusnya tapi semenjak dua tahun lalu dia ingin tinggal sendiri, yang artinya bibi itu sudah angkat kaki dari apartemen kecil Sica.

Mungkin sang orang tua tak berniat memilikinya hanya sekedar untuk mengelus surai lembut sang buah hati. Setiap minggunya gadis malang ini dikirimi uang dalam jumblah besar. Tentu saja untuk menghidupi dirinya selama di Korea.

Hari ini special baginya, Sica punya banyak teman. Bahkan handphonenya sampai error karena menerima terlalu banyak pesan ucapan selamat ulang tahun. Tapi ini kebiasaannya, menyenyikan lagu sendiri, bertepuk tangan sendiri.

Ada rasa kesal bercampur putus asa dalam hatinya. Kesepian tentu saja dia alami, tapi yang membuatnya putus asa adalah rasa bosan menghantui itu terus menempel.

Krriinggg kringgg

deru ponselnya berbunyi disebelah kue itu. Dengan sigap Sica mengangkat telpon masuknya. “Yeoboseyo” seanggun-anggunnya suara itu dia keluarkan

“Sica-ssi cepat datang kesini, aku melihat Kris” mendengar nama namjachinggunya, Sica langsung terkesiap beranjak dari posisi sebelumnya. “mwo? Lalu kenapa aku harus datang? “

“bukan itu, masalahnya aku melihat Kris bersama gadis lain” matanya membulat lebar, tertohok kaget mendengar penjelasan tersebut. “ber-bersama gadis lain?” tanyanya memastikan

“jangan banyak tanya, cepat kemari”

“oh ne Yoona-ssi, dimana kamu sekarang?” diraihnya pulpen juga memo kecil yang terpajang di meja berlajarnya.

 

^^^^^_____^^^^^

 

Dalam sepuluh menit gadis berparas cantik itu sudah menginjakan kakinya didepan café yang disebutkan sahabatnya tadi. Kepalanya terperangah sedikit, bermaksud menilik sebagian tempat ini. Kaki jenjangnya mulai mengambil langkah ragu.

Pasalnya ini bukan café biasa, tempat berbau alcohol campuran makanan berat dilarang untuk anak dibawah umur, menurut Sica tepatnya.

Masuk perlahan mencari sahabatnya dan Kris. Tepat saat matanya menoleh ke sisi kiri, Kris ada disana dengan keadaan yang persis seperti yang disebutkan Yoona. Hatinya yang semula mulus mengeluarkan darah luka dalam. Sangat sakit, lebih dari sekedar merayakan ulang tahun sendirian.

Wajahnya memanas, dan iris coklat hazel itu tak cukup kuat untuk membangun benteng air mata. Wajahnya basah. Tergesa-gesa berjalan kearah Kris. Tidak sabar untuk menamparnya, sampai dan

Plaakk

Si namja tampan mengusap pipinya sakit “waeyo?” tanyanya santai, segaris kekuathiran pun tidak terpahat di wajahnya. Sica mengalihkan pandangan amarahnya dari Kris, mencari tau siapa yeoja genit yang merebut kekasihnya.

“Sooyoung?”

“ne, aku sooyoung dan sekarang aku yeojachingunya” mata gadis berkaki panjang itu menunjuk kearah Kris. Sica ikut menaikan irisnya. Raut dingin dan muka datar tak lepas dari namja tampan itu. Seperti sudah menjadi ciri khasnya untuk selalu bersikap acuh.

“kita sudahi saja Sica toh kamu juga telah mengetahui hal ini”

“mwo? Apa aku sebegitu murahnya? Sampai-sampai kau mempermainkan aku? Jangan-jangan kau juga memanfaatkan kekayaanku kan?” diborong sejumblah pertanyaan Kris kewalahan. Tubuhnya bergerak resah, semuanya memang benar kalau namja berambut hitam tersebut hanya memanfaatkan Sica.

“benarkan?” Kris masih belum menemukan jawaban yang tepat

Suara Sica memarau, terisak akan sakit mendalam di hati bersihnya. Sudah cukup sekarang, badannya berbalik lalu berlari cepat keluar café. Tempat sialan itu yang menyebabkannya berpisah dengan Kris yah tempat itu memuakan baginya.

Berlari kencang bagai kuda yang dipacu penuh emosi, tenagannya tak habis-habis sedari tadi. “aaarrrggghhh!!!!!” orang-orang disekitar langsung menoleh menjadikan gadis beriris coklat hazel pusat perhatian.

Kendati yang diperhatikan tak sama sekali tersinggung, merasa lelah. Si gadis mengerem larinya, kemudian jatuh berlutut. Kakinya seakan kehilangan tulang kering. Isakan pilu berhasil menyentuh telinga orang-orang. Tapi mereka tak bergeming sama sekali dari pijakan masing-masing bahkan untuk menolong gadis tersebut.

Tanpa aba-aba iris coklat hazel itu meredup kemudian tertutup, pingsan ditengah jalanan malam. cukup tragis mungkin. Pandangannya tertutup kelopak mata, dan kesadarannya diambil alih dunia alam.

 

^^^^^_____^^^^^

 

“ugghh” Sica mengeliat malas saat sinar mencolok berhasil mengganggu tidurnya, lengan kanannya tergerak menutupi sepasang mata. “Jessica” seseorang memanggil namanya lengkap. Rasa penasaran menutupi kesempatan tidurnya.

Dicarinya sumber suara tersebut, dan dapat. Pandangannya jatuh pada seorang gadis cantik berambut coklat mengkilat  hampir mirip seperti surainya juga. “Nugu?” sapa Sica pada gadis itu yang kelihatannya sedang sibuk berkutat bersama papan berjalan jenis kayu.

“annyeong! Sudah bangun? Apa masih pusing?” Sica menautkan alisnya ‘tentu saja aku sudah bangun kalau tidak bagaimana aku bisa bertanya padamu’ pikirnya kekanak-kanakan.

“ani, sudah lebih baik dari kemarin” kini sekejap tersirat ingatan malam tadi, mendadak hatinya kembali sesak. Yah, masih ada rasa tak rela kekasihnya direbut orang secara kurang ajaran.

Kepalan tangan kirinya semakin kuat, sampai ia bisa merasakan, sesuatu menempel dan cukup menusuk disana. Selang bening kecil menghubungkan botol infus dengan tangannya.

“ini rumah sakit’ tebaknya tepat sasaran. Semalam ada yang membawanya kerumah sakit tapi siapa orang itu? Sica tidak peduli.

“Nugu?” tanyanya sekali lagi

“ah aku suster Tiffany”

Acara saling mengenal lebih dalam selesai sepuluh menit kemudian, Sica memperdalam biografi Tiffany begitu pula sebaliknya. Yang gadis beriris coklat hazel itu dapatkan adalah Tiffany sudah lama bekerja disini, tentang keluarga yang meninggalkannya sama seperti Sica yang orang tuanya menetap di luar negeri. Seorang diri, ialah status mereka berdua untuk saat ini.

Sica beranjak dari kasurnya, melepas jarum runcing itu penuh paksaan. Tubuhnya tergerak cepat untuk keluar dari ruang inap bertuliskan nama ‘Jessica Jung’ di depannya.

Dia berjalan sedikit terpincang-pincang , kemungkinan  paling masuk akal menurut Sica adalah kaki kirinya keram. Menuju tempat administrasi yang ada di sebrang langkahnya. Tentu saja gadis mungil itu harus menyebrang.

Buukkk

“awww!!” teriakan gadis yang baru saja jatuh menghantam lantai dingin berkramik putih milik rumah sakit situ. Seseorang menabraknya tak sengaja, sialnya mereka tidak sama-sama menyentuh si batu tipis berpoles. Hanya Sica yang mendapatkan memar dilututnya

Samar-samar ketika kejadian barusan terjadi Sica bisa mendengar seseorang itu meminta maaf padanya. Well, setidaknya orang itu menyadari kesalahannya dan mau mengakui. Tapi dia terus lari bukannya membantu si gadis beriris coklat hazel ini.

Gadis berambut blonde kecoklatan masih meringis sakit, parahnya dua orang suster melewatinya tanpa menengok dirinya sedikitpun.

 “ya! Luhan awas kau jangan kabur! Dokter park sudah menunggumu! Ya!” ucap kedua yeoja berpakaian serba putih kecuali rambut mereka yang hitam. Iris coklat hazelnya masih bisa menangkap gambar dengan jelas, salah satu suster itu adalah tiffany.

Kesimpulan terakhir ialah para suster tak peka sekelilingnya itu berlari-lari mengejar seseorang yang menabraknya tadi. ‘Oooo mungkin namanya Luhan’ batinnya pelan disela-sela erangan perih.

 

^^^^^_____^^^^^

 

“terima kasih noona, kami akan selalu memberikan yang terbaik untuk anda” kata pegawai gedung berputih ini sesopan-sopannya. “ne, aku tau” setelah itu jalannya mulai terseok-seok lagi.

Sica sungguh putus asa sekarang. Jalan hidup terasa buntu. Ada retina matanya yang mungkin rusak sampai memilih alur hidup yang salah. pelupuk mata itu mulai berair siap mengirimkan pipi mulus sang gadis dengan air bening bertetes-tetes.

Orang tua yang bercerai, lalu meninggalkannya seorang diri di Negara ini. Tumbuh tanpa kasih sayang benar-benar sulit. Saat dia menemukan orang  yang menjadi cinta pertamanya justru Kris menghianatinya, lebih kasarnya lagi mencampakan.

Tidak ada teman yang tulus, mau bergaul dengannya. Hanya kekayaan yang mereka inginkan dari Sica bukan sosok Sica yang sebenarnya. Hidupnya kosong, kecuali ruang hampa nan sunyi mengisi hatinya yang sudah tertoreh luka bernanah.

Putus asa memang kata paling tepat untuknya.

Lalu bunuh diri, adalah dua kata tujuannya.

Disana didepannya ada sebuah tangga keatas, yang setaunya menuju lantai paling atas gedung berbau obat ini. Sampai diatas Sica membuka pintu penghubung lantai bawah dengan atap tersebut.

Krieett

iris coklat hazel menangkap sesosok laki-laki.

Manusia selain dirinya di sini itu sedang duduk diujung gedung ini, pikir si gadis melayang membayangkan kalau saja dia sekejam yang biasa ada di film-film, tangannya pasti terulur mendorong lelaki itu, menyaksikan seseorang jatuh dari lantai atap. Uuh mengerikan.

Tapi dia juga punya hati nurani, yang tadi itu hanya bayangan lewat semata.

 

 “hai” sapanya baik-baik lalu duduk disebelah si laki-laki. Yang disapa terlonjak kaget, tak merasa pernah mendengar derap kaki seseorang sejak dia disini. “oh hai” balasnya kikuk sambil melambaikan tangan kanan.

Sunyi tanpa suara yang menjadi suasana, laki-laki disebelahnya ini pasti sibuk dengan pikirannya sendiri. Atau Sica yang tak tau harus bicara apa. Kaki mulusnya yang tak begitu jenjang dimainkan, menerawang ke langit putih kebiru-biruan. Membuat iris coklat hazel itu berkilat akan cahaya.

Niatnya untuk mengakhiri hidup masih tetap ada, tersimpan jelas-jelas dalam lemari otaknya. Namun sedikit hambatan memberhentikannya di tengah jalannya rencana. Laki-laki itu menghalangi niatnya. Gadis manapun juga tidak mau bunuh diri kalau disampingnya ada seorang pemuda bertampang polos.

“untuk apa kesini?” nada rendah keluar dari bibir lelaki itu. “apa aku tidak boleh kesini? Hanya ingin lihat-lihat pemandangan” dia berbohong.

“oh aku pikir kau ingin jatuh dari sini” iris hitam mengkilatnya terpaku pada jalanan bawah sana dengan mobil yang melaju berkecepatan tinggi. Mata coklat Sica dituntun untuk melihat kesana pula. Mendadak ketegangan terjadi.

Pergumulan hatinya yang bergejolak “kalau seseorang jatuh dari sini….  Ehmmm pasti tubuhnya hancur berantakan. Dengan kepala putus atau usus keluar mungkin. Tapi yang menyenangkan itu kau tidak perlu menghubungi ambulan” kalimat-kalimat barusan menjadikannya bergidik ngeri.

Ia tidak mau mati terlalu tragis juga, setidaknya mati cantik lebih baik dari pada usus yang keluar berantakan. “tentu saja aku tidak mau mati seperti itu” Sica jujur tak, bohong kalau dia mau mengahbiskan napas berharganya melalui cara mengerikan barusan.

“ketakutan sekali kau” cibirnya meledek Sica “ani, hanya jijik saja. Ehmm nuguya? Jessica imnida” alih-alih pembicaraan gadis cantik itu memilih pertanyaan tepat. “aku Luhan” lalu berjabat tangan sembentar.

Rasanya pernah mendengar nama itu, Sica mencoba berputar otak sebentar. “Luhan? kau yang tadi lari dikejar-kejar suster Tiffany?”

“kau tau darimana?”

“seseorang yang kau buat jatuh tadi itu aku”

“mianhe” Luhan menundukan kepalanya, beracting bak seseorang yang merasa bersalah amat sangat.

“aku maafkan” nada dingin menyeluruhi ucapan Sica. “kau sakit apa?” tanya Luhan lagi “kemarin aku pingsan jadi dibawa kesini”

“yang aku tanya bukan kejadian kemarin tapi kau sakit apa?”

“aku tidak tau lagipula hari ini aku akan kembali ke apartemen” ketusnya kesal akibat pertanyaan laki-laki biasa disebelahnya ini. “kau sendiri sakit apa?” tanyanya balik. “flu atau demam mungkin”

 

^^^^^_____^^^^^

 

April 20, 2012 – Asan Medical Center

“SAENGIL CHUKKA HAMNIDA. SAENGIL CHUKKA HAMNIDA… SARANGHANEUN XI LUHAN… SAENGIL CHUKKA HAMNIDA…” Sica baru kali ini melakukannya sendirian. Menyanyikan lagu untuk seseorang sendirian. “cepat tiup lilinnya, aku ingin makan kue coklatmu”

Satu dua tiga fyuuhhh….

“Woooooooo” riuh keduanya di ruang inap Luhan

Sejak kemarin mereka tiba-tiba jadi dekat, sikap Luhan yang easy-going membuat Sica nyaman berada disampingnya. Obrolan tak berujung yang menarik, berbagai macam cara dibuat Luhan supaya mereka tidak bosan.

Gadis cantik itu yakin Luhan tidak seperti yang lainnya sebab dia belum memberitau sama sekali tentang ekonomi hidupnya yang diatas rata-rata. Kendati Luhan juga tak menanyakan apapun.

Kenyataannya dia sudah pulang dari rumah sakit tapi Luhan tak sama dengannya. Namja bersurai keemasan tersebut harus tinggal karena alasan tertentu.

“Sica-ah, aku ingin kau jadi pacarku hari ini untuk selamanya”

Uhuk… apa maksudnya barusan? Pacar? Selamanya? Tentu terlalu serius.

“mwo?”

“ne, apa Jessica Jung bersedia menerima Xi Luhan?” nada bak pendeta gereja yang sedang mengikat sebuah hubungan cinta.

Iris coklat hazel itu membesar sedikit, mulutnya terbuka tapi sunyi yang menyelimuti.

“sudah terima saja, sekarang sampai aku mati kau akan jadi miliku”

Kuda yang ada dijantung Sica berpacu lebih cepat, hingga ia takut kalau-kalau suaranya terdengar sampai keluar. cinta itu datang mulai detik ini. Dia hanya bisa diam, yang berarti mengiyakan permintaan tersebut. Tak ada alasan untuk menolak juga menerima.

Karena cinta itu tulus muncul dari lubuk hatinya yang sudah tergores luka. Bagai obat penyembuh dari rasa sakit hatinya.

 

And their love story begins

 

^^^^^_____^^^^^

 

July 20, 2012 – Daeyoung High School

Sica’s pov

Huh menyebalkan, hari ini bagai hari paling buruk selama aku hidup. Laki-laki biasa yang sekarang menjadi kekasihku itu pindah sekolah. Dan dia akan belajar disini sampai dia lulus.

Awalnya sekolah kami berbeda, entah angin apa yang memberikan ide gila padanya. Jujur dia termasuk laki-laki tampan dalam standarku. Tapi sifatnya itu menyebalkan walaupun easy-going. Intinya moodku turun karena dia hari ini dan mungkin untuk seterusnya.

Aku melipat kedua tangan didada, duduk anggun dimeja kayu sekolah kelasku. Barisan paling kiri urutan kedua dari terakhir. Jendelanya besar seperti di film-film dan kebanyakan novel. Pandangan lapangan basket bergabung sepak bola terlalu jelas menyambut retina mataku.

“kenalkan aku Xi Luhan berasal dari China. Harap bisa berteman dengan baik” suaranya masuk menelusuri pendengaranku. Aku mengalihkan pandangan ke papan tulis depan. Luhan membungkuk sedikit bersama guru Lee disebelahnya.

“kamu bisa duduk disitu” tunjuknya kearahku, sontak aku menegapkan punggung kemudian menoleh kebelakang. Sial lagi tempat duduknya kosong. Berarti aku duduk didepannya.

 

^^^^^_____^^^^^

 

July 21, 2012 – Daeyoung High School

Luhan, lelaki surai keemasan selalu saja dapat berteman dengan baik, fangirlnya mencapai puluhan disini. Api cemburu embakar wajah juga hatiku ketika dia menerima surat dan pernyataan cinta.

Temannya banyak, siapa tak kenal Luhan? satu sekolah tau wajahnya. Dia tidak memakai mobil sport, tidak mentraktir siapapun, tapi kenapa dia bisa seterkenal itu? Jawabannya tanyakan sendiri pada yang mengatur takdir.

Aku lelah mencari kepuasan akan pertanyaan ‘kenapa dia bisa terkenal?’

Keluarganya, saudaranya tidak ada satupun yang dikorea. Semua ada diasal masing-masing, misalnya China juga Jepang. Itu yang dia ceritakan padaku. Aku belum pernah kerumahnya sekalipun, berbanding terbalik karena hampir tiap hari dia menginjak kaki di apartemenku.

Dia namja biasa yang ceria juga berkecukupan, itu kesimpulanku.

Ah ya aku menajamkan mataku kewajahnya. Disini ruangan bersuhu dingin, kemudian tanda tangan diakhir kalimat kembali muncul dalam otaku. Dia sedang berbincang dengan teman selelakinya dua bangku didepanku.

Kendati ada keringat juga raut aneh menghiasi wahanya. Aku bingung sekaligus pusing. Luhan, kamu terlalu misterius untuk kutelusuri.

 

^^^^^_____^^^^^^

 

September  15, 2012 – Asan Medical Center

Luhan’s pov

“sudah kuperingatkan, kau tidak perlu sekolah” ceramahannya seperti pendeta kotbah sungguh. Serasa berjam-jam aku menumpu dagu lewat tangan kanan yang tertumpu pula dipegangan kursi.

Didepanku seseorang berjas putis paras tua wajah keriput. Duduk dibangkunya dengan tangan terlipat didada serta raut marah. Dia sudah tua tapi terus-menerus marah padaku, pasti semakin tua.

“Luhan, kau hanya perlu beristirahat”

“tidak mau dikemo, tidak ingin pengobatan, benci suntikan. Lalu apa yang kau mau?”

“aku bilang aku tidak suka kalau dikemo, nanti rambutku rontok, jadi jelek kan?” belaku lagi. Dokter tua bermarga park ini benar-benar cerewet. Ak ingin mati dengan tampan masa tidak boleh? Kalau seorang xi luhan tertidur selamanya dalam peti mati tanpa rambut kan pasti jelek.

“kanker itu naik ke stadium tiga. Bagaimana aku tidak kawathir?”

 

TBC

 

Annyeong! Setelah ff keep me safe yang gak banyak minat alias komennya. Aku mencoba buat ff threeshoot, mau liat respon para readers dulu di part satu ini. Maaf kalo typo, kalo feelnya gak dapet. Makasi juga buat Priskila yang udah bikini posternya itu keren

Tapi aku gak maksa, yang udah mau baca gomawo^^

 


 

 

 

 

 

 

 

 

4 thoughts on “FF: She (1/3)

  1. rani berkata:

    hehehehe nunggu samapi komplit baru baca
    kebiasaan buruk #lupakansajaitu
    ceritanya bagus tapi aku punya firasat gak enak hehehehe
    pasti nnti akan trjadi hal yg gak enak ttng luhan
    ahhhh baca aja lanjutkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s