FF: Secret Sweet Letter

BBB

Author   : PingStoryline

Title   : Secret Sweet Letter

Cast   :

  • Xi Luhan (EXO)
  • Park Soo Ji (OC)
  • Byun Baekhyun (EXO)

Genre   : Romance, School Life

Rating   : PG-13

Length   : Oneshot

Recommended Song : Fight the Bad Feeling (T-Max) and That is Love (Donghae feat Henry SUJUm)

 

Happy Reading!

Angin musim gugur berhembus pelan di pertengahan bulan Oktober ini. Memberikan pemandangan yang khas di sudut-sudut kota Seoul. Daun-daun pepohonan tampak menguning dan perlahan berubah menjadi kecoklatan lalu berjatuhan ke tanah.

Seorang yeoja berseragam sekolah tampak duduk dengan gelisah di bawah pohon maple yang mulai kehilangan daunnya. Sesekali dia mengedarkan pandangannya ke seberang jalan dan melirik ke jam tangannya yang menunjukkan pukul empat sore.

“Dia selalu saja terlambat,” gumam yeoja itu sambil menyandarkan punggungnya di batang pohon. Tangannya bergerak membuka tas punggungnya lalu mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bersampul ungu muda dan sebuah pensil yang tingginya hanya beberapa centimeter karena sudah terlalu lama dipakai.

Musim gugur memberikan kesan kering dan coklat. Daun-daun berguguran meninggalkan dahannya, yang sejak musim semi dan panas kemarin telah mempertahankannya.

Kau adalah pohon itu dan aku adalah daunnya. Kau telah berhasil menggugurkan sesuatu dalam diriku. Meski pohon itu kehilangan daun-daunnya namun daun-daun itu tetap berguna. Dan aku ingin selalu berarti untukmu…

“Ehem..”

Tanpa yeoja itu sadari seorang namja telah berdiri di sampingnya dengan nafas yang sedikit terengah karena harus berlari dari ruang kelas sampai halaman depan sekolah itu.

“Ehem..” Namja itu berdeham lagi. Tidak ada reaksi. Dia pun mencondongkan tubuhnya, mengintip baris-baris tulisan yang tengah yeoja itu tulis dan tersenyum kecil.

“Park Soo Ji, rupanya kau benar-benar sedang serius, ne..”

Soo Ji mendongak, mendapati Luhan –nama namja itu- tengah mengintip buku rahasia miliknya.

“Yak! Apa yang sedang kau lakukan?!” ucap Soo Ji kaget, lalu buru-buru memasukkan buku itu ke dalam tasnya kembali.

“Aku ini kan sahabatmu, kenapa aku tidak pernah boleh membaca buku itu, eoh?” ujar Luhan dengan mimik muka lucu. Dia melepas tas sekolahnya dan duduk bersila di atas rumput yang menguning.

“Ini p-r-i-v-a-s-i,” sahut Soo Ji sedikit gugup. “Kenapa baru datang?”

 “Ah, mian. Kelompokku mendapat giliran paling akhir untuk presentasi,” jawab Luhan, sementara Soo Ji hanya mengangguk.

“Nah, coba lihat apa yang aku temukan lagi di kolong mejaku,” Luhan membuka resleting tasnya dan mengeluarkan empat amplop dengan warna-warna yang berbeda, merah muda, ungu, jingga, dan biru safir.

“Surat penggemar rahasia lagi?” tanya Soo Ji antusias.

“Ne, aku tidak mengerti kenapa ada orang yang mengirim surat-surat ini untukku. Seolah-seolah aku spesial di matanya. Kelihatannya aku terlalu berlebihan, tapi jika membaca kata-katanya kupikir orang itu menyukaiku,” Luhan tertawa pelan. “Padahal kan aku tidak populer juga tidak tampan,” lanjutnya rendah hati.

Soo Ji menggeleng pelan tanda tidak setuju. Namja di depannya ini adalah salah satu siswa yang banyak dikagumi di kalangan siswa khususnya hoobae-hoobae yeoja. Terang saja, karena Luhan yang notabene warga China ini memiliki prestasi yang membanggakan di mata pelajaran dan seni, juga kepribadiannya yang hangat, baik dan ramah.

“Soo Ji-ya, maukah kau membantuku mencari pengirim surat ini? Aku sangat penasaran dengannya, kata-kata yang dia tulis sangat bagus,”

“Err.. tentu saja,” Soo Ji mengangguk pelan dan tersenyum.

=====================================================================

“Soo Ji-ya, maaf telah merepotkanmu. Sebentar lagi cafe ini akan tutup, aku akan berganti pakaian,” ucap Luhan yang diiringi anggukan kepala oleh Soo Ji.

“Gwenchana,”

Namja itu mengangkat nampan berisi cangkir-cangkir kosong dan membawanya ke dapur. Sementara Soo Ji memperhatikan sekeliling ruangan bernuansa coklat muda itu, yang merupakan cafe kecil tempat Luhan bekerja sepulang sekolah. Sebagai siswa yang mendapatkan beasiswa ke Korea, Luhan harus hidup mandiri dan jauh dari keluarganya di China.

“Noona, kopi susumu sudah habis, mau tambah lagi?” Byun Baekhyun, teman Luhan yang juga bekerja di sana tampak mengelap meja di samping Soo Ji sambil memamerkan senyum khasnya.

Soo Ji menatap ke arah cangkirnya yang memang sudah kosong. “Aniyo, Baekhyun-ah. Gomawo..” tolak Soo Ji tersenyum sopan.

Satu per satu pengunjung cafe mulai berkurang seiring dengan langit yang mulai gelap. Ketika pelanggan terakhir telah meninggalkan cafe itu, Luhan memasang papan bertuliskan ‘CLOSED’ di dekat pintu kaca. Pakaian seragam kerjanya telah berganti dengan kaos putih sederhana dan celana panjang.

“Kita berdiskusi di sini saja, ya. Aku harus menjaga cafe sampai manager datang,” Luhan menarik kursi di depan Soo Ji dan duduk.

“Ne, huffp huffp,” jawab Soo Ji seraya meniup-niup cangkir kopi susunya yang beberapa menit yang lalu Luhan bawakan untuknya.

“Menurutku pengirimnya adalah satu orang karena meskipun surat ini ditulis dengan komputer tapi aku bisa mengenali gaya tulisannya. Bagaimana menurutmu?” tanya Luhan sambil mengamati belasan surat-surat di atas meja.

“Aku pikir juga begitu,” Soo Ji mengangguk dan meletakkan kembali cangkirnya. “Kau bilang menerima surat ini setiap hari, kapan surat ini ada di mejamu?”

“Setiap pagi ketika aku tiba di kelas pasti surat ini sudah ada di meja, kira-kira jam setengah tujuh,”

“Berarti pasti dia sengaja berangkat lebih pagi untuk meletakkan surat ini,” ujar Soo Ji menyimpulkan.

“Mungkin saja. Seandainya saja aku bisa berangkat lebih awal, mungkin aku bisa bertemu dengan pengirim surat ini,”

Selain bekerja part time sebagai pelayan cafe setiap pagi Luhan juga harus mengantarkan koran dan susu segar dari rumah ke rumah. Pekerjaan itu baru selesai jam enam pagi, sementara dia hanya punya waktu setengah jam untuk bersiap-siap ke sekolah.

“Bagaimana kalau aku saja? Mungkin besok aku akan berangkat lebih pagi untuk bersih-bersih ruang klub drama,” tawar Soo Ji yang langsung mendapat sambutan senyuman hangat Luhan.

“Jinjja?” Mata Luhan membulat lucu. “Aku mengandalkanmu Soo Ji-ah, semoga kau bisa bertemu dengan orangnya. Tapi jangan langsung diinterogasi, ne? Mungkin dia akan malu,”

“Ne!”

================================================================

Luhan mempercepat kayuhan sepedanya, tidak peduli dengan nafasnya yang mulai memendek karena kelelahan. Beberapa menit yang lalu Soo Ji menelponnya dan menyuruhnya untuk cepat-cepat datang ke sekolah.

Flashback..

Ddddrtt…ddrrt… Ponsel Luhan yang tergeletak di atas kasur bergetar. Luhan yang baru saja mandi dan masuk ke dalam kamarnya langsung menyambar ponsel itu begitu melihat nama Soo Ji di layar ponselnya.

“Yoboseyo, otthoke, Soo Ji-ya? Apa kau berhasil bertemu dengannya? Dia siapa? Sunbae atau hoobae atau seangkatan dengan kita? Dari kelas mana? Oh, ne. Bagaimana reaksinya?” Luhan langsung menyerocos dan memberondong Soo Ji dengan pertanyaan-pertanyaan.

“Yak! Luhan-ah, bisakah diam sebentar?!” sentak Soo Ji dengan nada tinggi, membuat Luhan terkekeh.

“Mian, aku benar-benar penasaran,”

“Ne, Luhan-ah. Mianhae, aku tidak bertemu dengan pengirim surat itu, namun ada sesuatu yang penting yang aku temukan. Bisakah kau datang ke sekolah sekarang?”

“Ne! Aku akan segera berangkat!”

Flashback end

Luhan memperlambat laju sepedanya begitu sampai di area parkir sekolah yang disediakan khusus untuk sepeda.

“Luhan!” Soo Ji melambai ke arahnya.

“Ada apa?”

“Masih ada waktu setengah jam lagi sebelum bel masuk, kajja, duduk di sana,” ujar Soo Ji sambil menunjuk bangku panjang dekat ruang kelas.

“Jadi apa yang kau temukan, Soo Ji-ya?” tanya Luhan lalu duduk di samping Soo Ji yang membuka tasnya.

“Sepertinya dia tahu kalau kau penasaran. Mian, tadi aku membaca suratmu,” Soo Ji menyodorkan amplop warna hijau muda ke Luhan.

Luhan-ssi, ini adalah surat kedelapan belas yang aku berikan untukmu..

Sepertinya kau mulai penasaran dan ingin tahu siapa aku. Mianhae, tapi aku tidak bisa berterus terang padamu dan menunjukkan identitasku. Bisakah aku menyukaimu dengan cara seperti ini? Karena aku merasa kau terlalu baik, dibandingkan aku yang hanya seorang yeoja biasa. Mungkin jika kau tahu siapa aku, kau tidak akan menyukaiku juga. Jadi itu pasti akan membuatku terluka.

Mian, jika aku telah mengganggumu, aku tidak akan menulis surat lagi untukmu. Mungkin ini akan menjadi suratku yang terakhir..

Maaf telah banyak merepotkanmu, Luhan-ssi. Jeongmal ghamshahamnida. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik bagimu^^

“Ini berarti aku tidak akan tahu siapa pengirim surat-surat itu, Soo Ji-ya,” ujar Luhan lesu.

“Ne,” 

“Kau tahu? Padahal sepertinya aku menyukai yeoja ini, Soo Ji-ya. Meskipun aku tidak tahu siapa dia, tapi dari surat-surat yang dia tulis aku tahu kalau dia adalah yeoja yang baik hati dan pengertian,” kata Luhan seraya memandang langit dan tersenyum.

“Jinjjayo?” tanya Soo Ji tak percaya.

“Ne, kenapa dia tidak mau bertemu denganku ya? Dia malu kenapa?”

“Mungkin dia merasa kau terlalu sempurna untuknya dan itu yang membuatnya menjadi merasa tidak pantas untukmu, Luhan-ah,”

“Apa maksudmu?”

“Luhan-ah, tidakkah kau mengerti? Mungkin saja yeoja ini minder dengan semua penggemar-penggemarmu yang lain, yang lebih cantik darinya, lebih kaya, bahkan lebih populer dan…”

“Mwoya? Soo Ji-ya, aku tidak pernah merasa kalau aku istimewa. Dan menurutku yang terpenting bukanlah kesempurnaan luar seseorang, aku tidak membutuhkannya. Aku hanya membutuhkan kepedulian yang tulus. “

Soo Ji terdiam dan menunduk, menatap kedua sepatunya yang mengayun-ayun gelisah. “Aku harus pergi, Luhan-ah. Pekerjaanku belum selesai, anyyeong!” tukas Soo Ji dengan cepat sambil menyambar tasnya dan melangkah dengan tergesa-gesa, meninggalkan Luhan yang kebingungan.

=============================================================

“Noona, tidakkah kau lihat? Akhir-akhir ini Luhan hyung menjadi sedikit murung,” ujar Baekhyun sambil mengedikkan sebelah matanya ke arah Luhan yang sedang terdiam di depan meja kasir.

Soo Ji yang sedang menulis di buku rahasianya mengangguk dan menghela nafas pelan. “Ne, semenjak yeoja itu tidak mengirim surat untuknya lagi,”

Baekhyun melipat kedua tangannya di atas meja dan sedikit berbisik, “Noona, tahukah. Luhan hyung menyukai yeoja itu. Setiap cafe sedang sepi dia selalu membaca ulang surat-surat itu sambil tersenyum sendiri. Dan… dia juga bilang padaku kalau dia menyukai yeoja itu, bahkan ingin sekali bertemu dengannya..” 

“Jinnja? Dia bilang padamu begitu?”

“Ne,” Baekhyun mengangguk.

Ddddrt…ddrrt… ponsel Soo Ji bergetar pelan.

“Yoboseyo? Ne, appa aku akan segera kesana,” ujar Soo Ji pada orang yang ada di seberang telepon.

“Waeyo, noona?”

“Baekhyun-ah, appaku tiba di bandara Incheon dan aku harus menjemputnya sekarang. Aku pamit, ne!” Soo Ji dengan tergesa menyambar tasnya dan setengah berlari meninggalkan cafe.

“Ne, hati-hati di jalan!” ucap Baekhyun seraya melambai pada yeoja itu. “Eh..” dahinya mengernyit tatkala melihat buku ungu Soo Ji tertinggal di atas meja.

Buku itu masih terbuka dan menampilkan halaman yang berisi barisan kalimat, mengundang rasa ingin tahu Baekhyun untuk membacanya. Baekhyun pun membuka halaman demi halaman buku itu dan kemudian menyadari sesuatu.

“Luhan hyung!”

================================================================

Suasana musim gugur masih mendominasi dengan warna jingga, merah, dan coklatnya. Hawa dingin mulai bertiup karena musim dingin yang akan segera datang. Soo Ji merapatkan coat biru langitnya, mencoba mengusir hawa dingin. Sesaat kemudian dia tersenyum melihat Luhan yang telah berjarak beberapa meter darinya.

“Aigo, Soo Ji-ya, lihat rambutmu dipenuhi dengan daun kering,” ujar Luhan sambil menarik beberapa daun dari rambut hitam Soo Ji.

“Ah, jinjja?” 

Luhan duduk di sebelah Soo Ji sambil terus menerus tersenyum.

“Luhan-ah, waeyo? Kelihatannya kau sudah ceria kembali, ne?”

“Ne, ada sesuatu yang membuatku gembira,” sahut Luhan sambil menoleh ke arah Soo Ji dan kembali tersenyum.

“Ige mwoya? Apa telepon dari eommamu?”

“Aniyo,” Luhan menggeleng pelan dan tersenyum lagi, membuat Soo Ji mengernyit bingung.

Soo Ji mengangguk pelan dan menundukkan kepalanya. Ada sesuatu yang mengganjal pikiran Soo Ji dan sangat membuatnya cemas.

“Sekarang justru kau yang murung, waeyo Soo Ji-ya?” 

“Aku kehilangan barang, Luhan-ah. Padahal barang itu cukup penting, bisa gawat jika barang itu ditemukan orang lain,”

“Ah..” Luhan memekik pelan dan membuka tasnya. Lalu mengeluarkan buku ungu milik Soo Ji. “Ini kan?” ujarnya seraya menyodorkan buku itu ke Soo Ji.

“Mwo? Ne..! Ba..bagaimana..” Soo Ji menarik buku itu dengan cepat. Dia merasakan aliran darahnya berdesir cepat dan jantungnya seperti mau melompat keluar.

“Soo Ji-ya, sepertinya aku menemukan pengirim surat-surat itu,” tukas Luhan sebelum Soo Ji melanjutkan kata-katanya. Soo Ji menundukkan kepalanya dan meremas jari-jarinya dengan gelisah. “Kumohon jawab pertanyaanku, Soo Ji-ya,” lanjut Luhan dengan lembut. Dia bangkit dari duduknya dan berlutut di depan Soo Ji.

“Kau adalah pengirim surat itu kan?” tanya Luhan tenang.

“Aniyo!” Soo Ji menggeleng kuat-kuat.

“Lalu kenapa puisi-puisi di bukumu sama dengan di surat itu?”

“Itu…itu karena aku menyalinnya kembali di bukuku,” sahut Soo Ji, menghindari tatapan mata Luhan.

Luhan menggeleng pelan. “Ani, tanggalnya lebih dulu di bukumu Soo Ji-ya. Dan ini… mian, aku telah lancang membacanya,” Luhan membuka halaman buku itu dan menunjukkannya ke Soo Ji. Sementara Soo Ji membuang muka.

“Sekarang jawab ini, Soo Ji-ya, apakah kau menyukaiku?”

Tubuh Soo Ji menegang, matanya mulai berkaca-kaca. “Mian, Luhan-ah. Aku tahu ini salah. Mian!” Soo Ji bangkit dari duduknya dan bersiap pergi. Luhan langsung menahan tangan yeoja itu.

“Aniyo, kumohon jangan pergi,” lirih Luhan.

Soo Ji melepas pegangan tangannya dengan pelan, tapi Luhan justru semakin mengeratkan pegangannya.

“Luhan-ah, aku hanya tidak ingin merusak persahabatan kita. Aku tahu kau tidak menyukaiku, jadi lebih baik jika aku memendam perasaanku dan..”

Luhan tersenyum canggung tapi tak memudarkan ketulusannya kemudian menarik tangan kanan Soo Ji dan membuat mereka saling berhadapan. Luhan menghela nafasnya sejenak kemudian menatap Soo Ji tepat di manik matanya. “Kau tahu? Hatiku, pikiranku, semuanya telah kau ambil alih tanpa sisa. Aku tidak bisa bila tanpamu Soo Ji-ya. Tanpamu, aku hidup tanpa hatiku. Aku menyukaimu Soo Ji-ya, ah tidak, lebih tepatnya aku mencintaimu,” ujar  Luhan mantap tanpa keraguan.

Soo Ji menutup mulutnya dengan tangan kirinya yang bebas, tidak menyangka bahwa namja di hadapannya akan menyatakan perasaannya. Ia tidak menyangka bahwa perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Dirasakannya kedua pipinya yang memanas dan detak jantungnya yang meloncat-loncat.

“Soo Ji-ya, err, apakah kau mempunyai perasaan yang sama denganku?” 

Soo Ji tersenyum samar. Perlahan dia mengangguk. “Ne, Luhan-ah aku eum.. juga mencintaimu,”

Sontak air muka Luhan berubah cerah. Kedua matanya berbinar dan ada kehangatan di senyumnya. “Gomawo, Soo Ji-ya. Gomawo telah peduli denganku selama ini,” Luhan memeluk Soo Ji dengan erat.

“Ne,” Soo Ji tersenyum dan melingkarkan tangannya ke pinggang Luhan yang berdiri di depannya.

THE END

Prolog….:

“Luhan hyung! Lihat apa yang aku temukan! Kau tidak akan mempercayainya! Palli kesini!” teriak Bekhyun heboh sambil terus membuka-buka halaman buku milik Soo Ji. Membuat beberapa pengunjung cafe menatap Baekhyun.

“Ada apa?” tanya Luhan murung.

“Ige, kau harus membacanya!” sahut Baekhyun, membiarkan buku itu berpindah dari tangannya.

Mata Luhan membulat tatkala membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di buku itu. “Mwo, jadi..”

“Ne! Soo Ji noona adalah penulis surat itu, dan yang terpenting dia juga menyukaimu!” Baekhyun melonjak senang.

Luhan tertegun, matanya kembali menelisik halaman yang tengah dia buka. Sejenak kemudian dia tersenyum.

“Luhan, ah. Semenjak kau tidak mendapat surat itu lagi aku sering melihatmu melamun dan jarang tersenyum. Mianhae, aku telah membuatmu sedih. Seharusnya sejak awal aku tidak mengirimimu dengan surat-surat itu jika pada akhirnya aku tidak berani mengatakan perasaanku.

Aku tidak bermaksud membuatmu kebingungan, hanya saja aku tidak mungkin berterus terang. Aku tidak ingin kejadian ini merusak persahabatan kita. Tidak apa-apa kan jika aku mencintaimu dengan cara seperti ini? Tidak masalah jika selamanya aku hanya menjadi sahabatmu asalkan aku bisa terus melihatmu dan berada di dekatmu.

Setiap kali ada yeoja-yeoja di sekolah yang mendekatimu, aku jadi merasa tidak pantas untukmu Luhan-ah. Kau ini begitu istimewa. Jika dibandingkan mereka aku tidak memiliki sesuatu yang lebih. Mungkin ini adalah jalan paling baik untuk kita masing-masing, tapi aku tidak akan pernah berhenti untuk menyukaimu. Jeongmal saranghaeyo, semoga kau selalu bahagia Lu-Lu Deer^^”

13 thoughts on “FF: Secret Sweet Letter

  1. Kkamjin berkata:

    So sweet nya,aku cengar-cengir gaje liat ini ff bagussssss thorrr simple but good suka ff nya ga sengaja cari ff luhan di google eh,ketemu ff ini #lucky🙂 keep writing thorr🙂😉😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s