FF: The Wolf and not The Beauty (part 1)

The wolf and not the beauty

Tittle : The Wolf and not the Beauty

Author : Ohmija

Cast : EXO

Genre : Fantasy, Friendship, Comedy, Action, not yaoi!

Summary : “Tidak akan ada habisnya jika aku terus saja bersaing. Aku lelah. Aku ingin menjadi murid biasa yang tidak mempunyai musuh”

Annyeonghaseo, ini FF pertama author dengan Kai sebagai main castnya. Sebelumnya kan Sehun mulu jadi author mau buat FF KaiSoo biar ngga bosen.

Happy reading ^^

“Sial aku terlambat!”rutuk Kai meninju dinding bus yang ia tumpangi. Dengan kesabaran yang tidak bisa ditahan lagi, namja tinggi dan berkulit gelap itu berdiri, meneriaki sopir bus setengah kesal. “Ahjussi, bisakah lebih cepat lagi? Lima menit lagi bel akan berbunyi!”

“Apa kau pikir bus ini milik keluargamu, huh?”

Kai semakin menggeram kesal. Terlebih lagi, dia sangat sangat tidak menyukai jika seseorang menyinggung soal keluarganya. Ada sebuah luka dalam di balik kata itu yang akan menggetarkan hatinya setiap kali mendengarnya.

Kai menyeruak ke depan, mengeluarkan selembar uang dan beberapa recehan kemudian memberikannya pada sopir bus.

“Aku turun disini”

“Kau buta? Ini adalah jalan umum, halte bus masih ada di depan sana”:

“Kau mau aku menghancurkan pintunya?”ancam Kai pelan namun menusuk

Sopir bus menghela napas panjang, membelokkan setirnya ke kanan, mengakibatkan bus besar itu mengambil jalur sebuah mobil yang ingin lewat dan langsung mendapat protesan klakson. Dari bunyinya yang sangat nyaring dan panjang, sudah bisa dipastikan bahwa pengendaranya menekan klakson dengan kesal.

“Jangan naik busku lagi!”

Teriakan sopir bus mengiringi lompatan Kai. Bersikap seperti tidak mempunyai gendang telinga, Kai tidak memperdulikannya sama sekali. Toh, berkelahi dengan paman bus itu adalah kebiasaannya setiap pagi. Walaupun hari ini mereka bertengkar, besok pagi Kai akan tetap naik bus itu. Jika tidak diijinkan, dia akan memasang wajah sangat berdosa dan menyesal. Mengucapkan ribuan kali kalimat permintaan maaf dan tidak akan mengulanginya lagi. Bukan karena tampang lemasnya sangat meyakinkan sang sopir, tapi justru karena sopir itu muak mendengar rengekan Kai yang terdengar sama sekali tidak cocok dengan wajahnya. Emm..terkesan menjijikan.

Sekilas melihat arlojinya, Kai berlari menuju sekolahnya dari tempat pemberhentiannya tadi. Jarak yang tersisa lumayan dekat dan juga Kai dikenal sebagai pelari terbaik di tim basketnya.

Pintu gerbang otomatis hampir saja menjepit tubuh Kai saat namja itu menyelinap masuk. Ia menepuk dadanya saat sudah berada di dalam lalu berbalik dan mentertawakan gerbang yang seakan-akan  telah kalah darinya.

Mengakhiri perbuatan bodohnya, Kai berbaur dengan murid-murid yang masih  berjalan santai disekitar koridor utama. Tidak lupa ia merogoh dasinya dari dalam tas ransel dan memakainya. Yaah, dia sudah bosan mendengar ocehan guru-guru yang dianggap itu-itu saja. Bahkan dia sudah hapal diluar kepala setiap perkataan yang akan keluar dari mulut sang guru.

“A-yo, Kkamkai!” Baru saja satu langkah memasuki kelasnya, Chanyeol, teman sebangku Kai yang kebetulan saat itu berdiri didekat pintu kelas langsung menghambur kearah Kai dan merangkul pundak namja itu dengan semangat seperti biasanya. “Kau tau? Ku dengar hari ini kita akan dibebaskan dari pelajaran karena ada rapat penting menjelang olimpiade antar sekolah akhir bulan depan. Bagaimana jika kita latihan basket? “cecar Chanyeol masih megiringi Kai hingga ke tempat duduk mereka.

“Yeol benar, sebaiknya kita latihan karena audisi akan dilakukan minggu depan” dari bangku belakang, Baekhyun menyahut. Namja bermata kecil itu pindah posisi, melompat seenaknya keatas meja Kai dan Chanyeol.

“Audisi? Hey, tidak perlu memusingkan hal itu. Aku yakin seratus persen aku akan terpilih masuk ke dalam tim inti olimpiade nanti”

“Cih”cibir Baekhyun. “Sebaiknya kau melatih lemparan tiga angka-mu daripada membesarkan omong kosongmu”

“Hey! Jangan meremehkan lemparanku. Tubuhku tinggi, sudah jelas lemparanku akan tepat sasaran”protes Chanyeol tak terima sembari merampas snack yang dipegang oleh  Sungjae yang duduk disamping mejanya dan Kai. “untukku”serunya seenaknya. Sungjae hanya bisa pasrah dengan rampasan itu.

“ Apa hubungannya tubuh tinggi dengan lemparan yang bagus? Jika kau tidak berlatih, aku yakin kau tidak akan masuk ke dalam tim inti”

Chanyeol semakin kesal, “Kau bicara seperti itu seperti kau akan masuk saja. Tubuh pendekmu tidak akan terpilih, kurcaci”

“Aku rasa tidak” Kini Kai yang bicara. Ia ikut memasukkan tangan ke dalam bungkus snack yang sekarang telah menjadi milik Chanyeol. “Baekhyun memang jarang mencetak angka. Tapi, posisinya sangat penting untuk menjaga keseimbangan tim. Point Guard adalah playmaker yang mengatur irama permainan”

“Sudahlah” Dengan kasar Chanyeol menarik snacknya, menjauhkan dari jangkauan Kai. “Jika kau tidak membelaku sebaiknya tidak usah bicara”

Baekhyun terkekeh geli, “Aku harap kita bisa masuk ke dalam tim inti bersama. Kita sudah menghabiskan waktu satu tahun di tingkat satu untuk berlatih. Dan rela menjadi pemain cadangan karena belum dipercaya. Tapi, sekarang kita sudah berada di tingkat dua, kita berhak masuk ke dalam tim inti”

“Kau sangat percaya diri karena kemampuanmu sudah tidak diragukan lagi”eluh Chanyeol cemberut. Lalu, ia menoleh kearah Kai. “Dan kau? Hhh…sebagai shooting guard, kau juga tidak diragukan lagi. Kau bahkan bisa menembak dari jarak yang sangat jauh”

“Hey hey hey, kenapa kau kehilangan kepercayaan dirimu? Power forward juga posisi yang penting. Kau terpilih karena tubuhmu sangat tinggi dan kau bisa memanfaatkan bola reborn dengan baik. Yaah, walaupun kau tidak bisa menembak dari jarak jauh, tapi kau bisa menyempurnakan bola reborn dan menyetak angka. Ayolaaah, kemana perginya Chanyeol si mulut besar?”

Chanyeol mendelik, “Ku anggap itu sebagai pujian, dark Kai”ketus Chanyeol namun sembari mengembalikan snacknya ke posisi semula sehingga ia bisa makan bersama Kai.

“Kajja. Aku rasa Tao sudah menunggu sangat lama di gedung olahraga” Baekhyun melompat turun dari meja dan menggerakkan dagunya pada Kai dan Chanyeol.

“Kenapa tidak dilapangan terbuka saja? Di indoor sangat panas”seru Kai bingung.

Baekhyun tidak menggubris, berjalan di depan tanpa jawaban.

***___***

Kai menemukan jawaban atas pertanyaannya. Saat hendak menuju gedung olahraga, ketiganya melewati lapangan terbuka dan melihat ada beberapa orang anak yang sangat ia kenal sedang menguasai lapangan basket dan lapangan sepak bola.

“Jadi karena dia?”seru Kai tersenyum sinis menatap kearah lapangan.

Baekhyun dan Chanyeol menghentikan langkah mereka, bersama-sama berbalik dan mengikuti arah pandangan Kai. Keduanya sudah sangat tau kejadian yang akan terjadi setelah ini karena itu, tangan panjang Chanyeol langsung menyambar lengan Kai yang mulai melangkah maju.

“Kita akan mengikuti audisi, Kai. Kau lupa?”

“Jangan buat masalah lagi, setidaknya sampai olimpiade selesai” Baekhyun menambahi. Ia merangkul pundak sahabatnya itu, memaksanya untuk membiarkan kerumunan namja yang diketahui berasal dari kelas 2-C. Sebenarnya, kelas 2-C tidak bermusuhan dengan kelas 2-A, kelas Kai. Tapi, sosok namja yang berwajah imut itulah masalahnya. Seluruh murid Hongsan juga tau jika Kai dan Luhan adalah musuh bebuyutan. Keduanya selalu bersaing dalam hal apapun. Karena itu, setiap melihat Luhan, Kai akan menjadi kesal.

“Ku dengar Luhan adalah kandidat kuat untuk menempati posisi kapten sepak bola dalam tim inti”seru Chanyeol saat mereka sudah berada di lapangan basket indoor. “Aiish, kenapa Tao tidak ada?” lalu ia merutuk kesal.

“Walaupun dia menyebalkan, tapi skillnya dalam bermain bola tidak bisa diragukan lagi. Saat masih kelas satu, dia selalu mencetak angka jika mengikuti pertandingan” Baekhyun menambahi

“Kai, kau harus menjadi kapten basket tahun ini. Bahkan kalau bisa, kau harus menjadi kapten basket hingga kita lulus” Chanyeol menepuk pundak Kai sambil menatapnya dengan sorot keyakinan. Jenis tatapan yang sebenarnya membuat Kai hampir saja tertawa terbahak-bahak jika tidak sekuat tenaga menahannya. Wajah Chanyeol yang bodoh terlihat sangat lucu saat dia serius. Bahkan sebelumnya, Kai menganggap bahwa Chanyeol tidak bisa serius dalam hal apapun kecuali basket.

Kai hanya tersenyum menyeringai sekilas, menepis tangan Chanyeol dari pundaknya lalu menangkap lemparan bola dari Baekhyun. Ia melompat tinggi dan memasukkan bola ke dalam keranjang dari jarak yang lumayan jauh. Jika mereka sedang bertanding, lemparan itu akan diberi nilai 3 poin.

“Wohooo..kau memang jenius, Kai”sorak Baekhyun sambil meninju keudara

Kai menoleh kearah Chanyeol yang sedang terbengong-bengong melihat lemparannya, berganti menepuk pundak namja tinggi itu agar ia kembali pada kenyataan.

“Aku pikir aku akan berhenti bersaing dengannya”

“Ha? Kenapa?”

“Tidak akan ada habisnya jika aku terus saja bersaing. Aku lelah. Aku ingin menjadi murid biasa yang tidak mempunyai musuh” Kai berlalu melewati Chanyeol. Ia melepas blazernya dan melonggarkan dasi. “Lagipula, dia tidak termasuk ke dalam levelku. Sudah pasti aku yang akan menjadi pemenang”lanjutnya percaya diri

“Hey! Kau tidak bisa begitu” Chanyeol membuntuti Kai. “Bagaimanapun, kelas kita harus lebih unggul dari kelas mereka. Aku tidak mau mendengar ejekan mereka yang memuakkan itu. Terutama Chen, namja yang bibirnya seperti Donald bebek. Ia bahkan tidak bisa berbicara dengan nada pelan karena suaranya begitu nyaring hingga telingaku berdengung”

Kai tertawa geli, “kau menyindir dia?”tunjuk Kai pada Baekhyun yang mempunyai jenis suara yang hampir mirip dengan Chen. Sedikit cempreng.

Chanyeol buru-buru menggeleng saat ia melihat pelototan Baekhyun, “Baekhyun lebih baik”

“Sudahlah, Park Chanyeol. Aku berjanji akan selalu berusaha dalam hal apapun, terutama untuk basket. Tapi, jika nantinya aku berhasil terpilih menjadi kapten, semua itu bukan karena aku ingin bersaing, melainkan basket adalah hobby-ku”

***___***

“Minggir!”

Luhan berdiri di depan sebuah meja yang sebenarnya sudah ditempati beberapa orang murid kelas satu. Serempak, semuanya menoleh begitu mendengar suara Luhan dan detik itu juga mengosongkan meja mereka.

Luhan dan teman-temannya menggantikan mereka menempati meja itu sambil meletakkan nampan berisi makanan yang sudah mereka pesan pada bibi kantin. Perlakuan Luhan yang seenaknya pada smeua orang, bahkan pada murid kelas 3 adalah hal yang sudah sangat wajar. Dia selalu bertingkah seenaknya, mengusir orang seenaknya dan memerintah seenaknya. Namun, semua tindakan yang bisa disebut dengan penindasan itu tidak pernah ia lakukan pada murid perempuan. Alasannya bukan karena kasihan melainkan karena ia mau posisinya sebagai murid paling keren tidak bergeser. Ia tidak mau merusak citranya didepan mereka dan semakin meninggikan posisi Kai. Alasan sederhana namun terkesan sangat licik.

“Kau siap untuk audisi?”tanya Chen membuka suara

Luhan tertawa kecil, “aku bahkan sangat yakin jika aku akan terpilih” kemudian ia menoleh kearah Lay. “Lay, mau paprika? Aku tidak menyukainya”

Lay hanya mengangguk singkat lalu Luhan memindahkan paprika yang ada di piringnya ke piring Lay.

“Aku rasa aku akan mengikuti audisi sebagai kipper. Aku bosan selalu menjadi gelandang”

“Bhahahahaaa….tidak mungkin”ejek Luhan tertawa geli mendengar pernyataan Chen yang begitu meyakinkan.

Chen menaikkan sebelah alisnya, “kenapa?”

“Aku bahkan tidak yakin kau mampu menyentuh bagian atas gawang”

“Maksudmu aku pendek?!” Chen mendelik kesal

“Aku tidak mengatakannya. Kau yang berpikir seperti itu”kilah Luhan semakin memperlihatkan senyum mengejeknya

“Itu sama saja. Secara tidak langsung kau mengataiku pendek”

“Aku sudah selesai. Aku ingin ke kelas dulu”

Tiba-tiba Lay berdiri. Belum mendapat persetujuan dari teman-temannya, ia lebih dulu meninggalkan piring makanannya yang sudah kosong hanya dalam waktu sesaat dan berjalan keluar.

Luhan berdecak sambil geleng-geleng kepala, “anak itu benar-benar..sikap dinginnya tidak akan pernah bisa hilang” Ia menyenggol lengan Xiumin pelan. “Iya kan?”

“Percuma saja kau bertanya dengannya. Dia tidak berbeda dengan pangeran es itu” Chen menyahut sambil menunjuk Xiumin dengan dagunya.

“Aku juga sudah selesai. Aku akan menyusul Lay ke kelas”

Chen baru saja menyelesaikan ucapannya saat Xiumin juga berdiri. Sama seperti Lay, dia juga memiliki pribadi yang diam dan misterius. Namun, tidak separah Lay yang terus memasang tampang datar dan tidak beraksi terhadap apapun. Mungkin, dia juga tidak bisa merasakan rasa sakit dan bahagia.

“Benar kan?”

***___***

Ucapan Chanyeol benar. Sepanjang hari, tidak ada guru yang memasuki ruang kelas dan melakukan pembelajaran seperti biasanya. Murid-murid dibebaskan melakukan apapun asal tetap berada di dalam lingkungan sekolah. Dalam arti sebenarnya tidak mencoba membolos.

Setelah menyantap makan siangnya bersama Chanyeol dan Baekhyun, Kai menuju kelas 2-B seorang diri karena kedua sahabatnya memilih kembali ke gedung olahraga untuk berlatih.

Begitu masuk ke dalam kelas, Kai langsung menghambur ke meja Suho dan Tao. Melompat tiba-tiba keatas meja mereka membuat keduanya terkejut.

“Kau!”Kai menusuk-nusuk wajah Tao dengan jari telunjuknya. “Kenapa kau tidak ada di gedung olahraga? Kami menunggumu”

“Hehehe..maaf. Aku lupa memberitahu kalian, aku harus mengerjakan tugas fisika bersama Suho”

Kai menghela napas panjang sambil meniup poninya yang menjuntai di dahi. Ia tidak kaget jika alasan Tao adalah mengerjakan tugas. Karena mayoritas kelas 2-B berisi anak-anak yang pintar dalam pelajaran walaupun ada beberapa yang menonjol dalam olahraga, namun itu sangat minim. Hanya bisa dihitung dengan jari, Tao salah satunya.

Sebenarnya Tao bukanlah murid yang masuk dalam golongan pandai. Bahkan Kai tidak yakin jika dia mampu membaca huruf-huruf hangul. Dia adalah orang China yang pindah ke Korea saat duduk di bangku sekolah menengah pertama. Terkadang, berbicara dengannya harus membutuhkan kesabaran ekstra. Ucapannya aneh, membuat lawan bicaranya bingung. Bahkan dia sangat sering tidak mengerti dengan ucapannya sendiri. Bodoh.

Tapi, sejak naik ke kelas dua dan menjadi teman sekelas Suho. Barulah dia menunjukkan perubahan yang drastis. Dia menjadi rajin dan nilai prestasinya juga meningkat. Kai sangat yakin jika alasannya berubah adalah Suho. Yaaah, murid pintar yang kelewat jenius itu selain baik hati, dia juga mampu memberikan efek positif pada orang-orang yang ada disekelilingnya. Dan yang lebih hebatnya lagi, dia adalah satu-satunya orang yang mampu mengerti ucapan Tao saat tidak ada yang mengerti dirinya. Suho tidak pandai berbahasa China, tapi dia mampu mengerti maksud Tao. Kai pikir, mereka adalah soulmate.

“Lalu kenapa kalian berdua tidak makan siang bersama kami, huh?”

“Sudah kami bilang, kami harus mengerjakan tugas fisika”jawab Suho menarik pelan buku-buku yang diduduki oleh Kai.

“Apa pelajaran lebih berharga daripada perut kalian? Kalian bisa mengerjakannya nanti”

“Waktu itu sangat berharga, Kai. Kau tidak boleh menyia-nyiakannya dengan hal-hal yang tidak berguna”

Kai menyerah.

Sulit memang berdebat dengan murid yang mempunyai IQ sangat jauh diatasnya. Mungkin, sebagian isi otak Suho adalah rumus fisika, filosofi sejarah, atau akibat pemanasan global untuk 10 tahun ke depan.

“Baiklah” Kai menghela napas panjang. “Kalian sangat tidak menyenangkan”serunya melompat dari meja Suho.

Sebelum meninggalkan kelas 2-B, ia berbalik sejenak.

“Jangan lupa audisinya minggu depan, Tao”

***___***

Hari ini adalah jackpot!

Selain dibebaskan dari pelajaran, murid-murid Hongsan juga dipulangkan lebih awal dari biasanya. Bagi sebagian murid – bahkan hampir seluruhnya – hal itu adalah hal yang menyenangkan karena mereka tidak perlu dipusingkan dengan pelajaran dari pagi hingga malam hari. Tapi, hal itu tidak dirasakan oleh Kai. Pria tinggi berkulit gelap itu sangat tidak menyukai waktu-waktunya berada di rumah. Baginya, rumah adalah tempat pemakaman yang sunyi dan tidak ada suara sama sekali.

Dia memang hanya tinggal berdua dengan seorang pelayan yang sudah ia anggap sebagai pamannya sendiri selama bertahun-tahun karena kedua orang tuanya sudah meninggal dunia. Sejak kecil, dia lah yang mengurus Kai hingga Kai dewasa.

“Jangan bersedih. Kau bisa ke rumahku jika kau bosan. Orang tuaku akan berada di Hongkong untuk waktu yang lama” Chanyeol merangkul pundak Kai yang sedang cemberut itu.

“Kenapa mereka disana?”tanya Tao sambil memakan snack yang dipegangnya

“Ayahku ditugaskan disana jadi ibu juga ikut”

“Aku rasa juga begitu. Aku akan pulang ke rumahmu saja”ucap Kai menyetujui

“Hey, kau tidak bisa terus-terusan meninggalkan rumahmu. Bagaimana jika rumahmu akan ditempati oleh hantu?”

“Ck, Suho..kau terlalu berlebihan. Rumahku akan baik-baik saja dan tidak akan ada hantu. Oke?”

BRAAAKKK

Tiba-tiba suara bantingan terdengar begitu mereka melewati pinggir lapangan sekolah. Semuanya saling pandang bingung.

BRAAAKKK

“Kita harus kesana!”

Kai berlari kearah sumber suara diikuti yang lain. Mereka menuju bagian belakang gedung dan langsung terperangah begitu melihat Luhan dan teman-temannya sedang menindas seorang murid.

“Ada apa ini?”seru Kai menghentikan perbuatan Luhan. Dia dan teman-temannya menoleh.

“Jangan ikut campur urusanku”tandas Luhan menatap Kai tajam

Kai tidak memperdulikan ancaman Luhan, justru maju dua langkah sambil mencari-cari wajah murid itu.

“Hey, berdirilah. Jangan duduk diatas tanah itu. Bajumu bisa kotor”

“Sudah ku bilang jangan ikut campur masalahku!” Luhan mendorong pundak Kai kasar, membuat Tao langsung maju, bermaksud ingin membantu Kai. Namun, langkahnya terhenti saat Lay juga tidak tinggal diam dan menghadang langkahnya. Lay berdiri berhadapan dengan Tao, memberikan peringatan dari mata tajamnya.

Kai menatap pundaknya yang di dorong, sambil tersenyum menyeringai lalu menatap Luhan.

“Aku tidak suka seseorang mendorong pundakku”serunya santai. “Sebaiknya kau bersikap baik karena jika tidak, namamu akan dicoret dari kandidat tim inti. Dan mungkin, kau tidak akan bisa mengalahkanku”

Luhan mendesis geram. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dari belakang, Xiumin berjalan maju, menahan pundak Luhan.

“Tidak ada keributan”serunya memperingatkan sahabatnya itu lalu menariknya ke belakang.

Dan disaat itu juga, sebuah celah terbuka lebar. Wajah seseorang terlihat dari balik tubuh Luhan. Ia sedang merIngkuk, bersandar pada pagar kawat yang sudah berkarat dengan ekspresi ketakutan. Bersamaan itu juga, Kai merasakan ada sebuah pukulan telak yang menghantam dadanya. Matanya melebar.

Wajah itu..wajah yang dikenalnya namun tidak dikenalnya. Dia merasa tidak asing namun tidak yakin dengan hatinya.

Dan..semua masalah itu bermula hari ini….

TBC

77 thoughts on “FF: The Wolf and not The Beauty (part 1)

  1. anita lifna berkata:

    annyeong thor ! Q new readers…keren thor ! Sorry baru baca ni FF aq rada kudet hehe…Btw bikin penasaran…oya thor semangat !!

  2. Nunu^^ @Nurul_Hunie berkata:

    Wuaahhh keren keren…!!!
    Tadinya aku mau baca ff ini klo udah sampe part 15 tapi sayang rasa penasaran aku ga bsa di tahan lagii dan ternyata bener ini kerenn…!!!

    Aku Next ya…!!!

  3. nayoung berkata:

    aannyeong. aku new reader disini. bangapta.
    part 1 aja udh seru gini. hmm karakter luhan disini keren jg. seru.

  4. naynamika berkata:

    anyeong
    woaaah , keren , keren , baru baca judulnya saja sudah menerik untuk di baca ,, keren , penasaran , dan ehm aku pengunjung baru , salam kenal ,, hehe

    @_@+ fighting

  5. Ind4ryn berkata:

    Bosen gak ada kerjaan…pgen baca FF.. alhasil searching FF Exo eechh nemu The Wolf and Not The Beauty.. Kyanya udah ng’read ampe part … tp lupa –__– .. hahaa *curhat*apaancoba ..
    FF nya keren min ..hwaiting!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s