FF : The Lords of Legend (Chapter 5)

The Lords of Legend

Tittle : The Lords of Legend

Author : Oh Mi Ja

Genre : Fantasy, Action, Friendship, Comedy

Cast : All member EXO

Desclimer : Cerita ini mengandung istilah dari beberapa mitologi kuno. Cerita ini murni fiksi dan tidak pernah terjadi sebelumnya. Jika masih bingung dengan istilahnya, silakan liat teaser ^^

Seoul, South Korea, 12.00 KST

17 years later….

Seorang pria bertubuh tinggi berlutut lalu membungkukkan tubuhnya didepan sebuah gundukan tanah yang ditutupi jerami. Disampingnya, seorang wanita tua bertubuh mungil meletakkan bucket bunga di depan gundukan tanah itu.

Yeobo,  kau tau? Kini anak kita sudah berumur 17 tahun. Dia sudah dewasa dan dia menepati janjinya untuk selalu menjagaku. Dia sangat membanggakan”seru wanita itu pelan. “Yeobo, kau tidak perlu khawatir karena hidup kami sangat baik walaupun terkadang masih sering merindukanmu”

Oema, oema tidak akan menangis lagi kan?” suara laki-laki itu terdengar. Ia mengulurkan tangannya, menghusap punggung wanita yang ternyata ibunya itu lembut. “Appa tidak akan suka jika melihat oema menangis lagi”

“Oema tau”balas wanita itu cepat. “Bicaralah pada appamu. Kita harus cepat pulang karena hujan sudah mulai turun”

Dia mengangguk lalu mengembalikan pandangannya ke depan, kearah gundukan tanah yang ditutupi oleh jerami.  Ia tersenyum sesaat sebelum berkata pelan.

“Appa, aku akan terus berusaha menjadi anak appa yang paling baik. Aku akan menjaga oema. Appa tidak usah khawatir. Bukankah appa tau aku adalah seorang raksasa hebat?” pria itu tertawa kecil. “Baiklah kalau begitu kami pulang dulu. Aku janji akan sering mengunjungi appa”

***___***

SEHUN POV

“SEHUUUUN!!! KEMBALIKAN IKANKU!! UANGMU KURAAAANG!! SEHUUUUUUN!!!”

“Ahjussi, aku janji besok akan membayarnya. Oemaku sedang ingin makan ikan. Maafkan aku”

Aku terus berlari dari kejaran paman penjual ikan. Sudah sangat sering seperti ini tapi dia tidak pernah kapok sedikitpun. Aku sudah memperingatkannya untuk tidak mengejarku karena  dia sudah terlalu tua untuk itu tapi dia tidak pernah mendengarnya.

Aku memang selalu mengambil ikan seenaknya di tokonya dengan..yaah, terkadang uangku memang kurang. Tapi, beberapa hari kemudian aku akan kembali dan membayarnya. Bisa dibilang aku hanya berhutang beberapa won. Itu bukan kejahatan kan? Lagipula, aku mengambilnya untuk ibuku. Aku sangat menyayanginya sehingga akan melakukan apapun. Maksudku..dia tidak pernah mengajariku untuk berhutang dan berlaku seenaknya pada paman penjual ikan. Dia bahkan akan memarahiku jika mengetahui aku membuat ulah. Tapi, ibuku sangat menyukai ikan segar sehingga alasan itu membuatku berlaku seperti ini.

Oema, aku pulaaaaang” teriakku membuat ibuku yang sedang sibuk merangkai bunga-bunga menjadi kaget karenanya. Aku tertawa geli melihat ekspresinya yang berubah menjadi aneh. “Lihat, apa yang ku bawa” Aku mengangkat kantung plastik putih ke depan ibuku, menunjukkannya.

“Kau mengerjai paman penjual ikan lagi, hmm?”

“Tidak. Aku membelinya dengan uang hasil kerjaku”elakku berbohong. Jika aku mengatakan yang sebenarnya, ibu pasti akan memukul kepalaku dengan tangkai bunga yang dipegangnya.

“Jangan berbohong” Benar kan, ibu memukulku. “Jangan mengedutkan mata kirimu jika kau ingin berbohong”

Aku menyentuh mata kiriku. Sial. Mata kiriku memang akan selalu berkedut saat aku berbohong dan ibu akan selalu mengetahuinya.  Tidak bisa diajak kompromi sama sekali. Aku memberikan bungkusan plastik yang ku bawa pada ibuku lalu merampas tangkai-tangkai bunga mawar yang dipegangnya.

“Apa ada yang harus diantar, oema? Aku ada latihan sepak bola sore ini, aku bisa sekalian mengantarnya”

“Kau bahkan belum makan siang, Hunnie. Gantikan oema menjaga kios, oema akan masuk dan memasak untukmu”

“Tidak perlu”balasku sambil membersihkan pot-pot keramik dengan lap basah. “Ilhoon sudah mentraktirku makan sepulang sekolah tadi. Aku sudah kenyang, oema”

“Benarkah?”

Aku mengangguk mantap, “oema istirahat saja. Tutup saja kiosnya. Sepulang latihan sepak bola nanti, aku yang akan memasak untuk oema”

“Tentu saja tidak bisa. Oema harus tetap membuka kios untuk biaya keperluan kita”

“Oema..” Aku berbalik, menatap ibuku lekat. “Aku sudah bekerja. Uangku cukup untuk membiayai hidup kita. Tenang saja”

“Justru karena kau terlalu banyak bekerja sehingga kau jadi bodoh” ibuku berseru seperti tidak mempunyai tenggorokan. “Kau bahkan berada diperingkat akhir saat ujian kenaikan kelas kemarin”

“Jangan salahkan aku, oema. Guruku yang tidak becus mengajariku”

“Sehunie”

Aku dan ibu sama-sama berbalik saat seseorang memanggil namaku. Ternyata Ilhoon, dia adalah sahabat sekaligus teman sebangkuku disekolah. Kami juga berada di klub yang sama. Di dalam tim, posisiku adalah seorang kapten sekaligus penyerang, sedangkan Ilhoon adalah seorang gelandang tengah. Sejak duduk dibangku junior, kami berdua dikenal sebagai partner terbaik.

“Ayo”ajakku mengambil tas ransel yang ku letakkan di sebelah jejeran pot keramik.

“Kau tidak mengganti baju?”

“Bajuku ada di dalam tas. Aku akan ganti di sekolah saja nanti”jawabku dengan masih memakai kemeja dan blazer sekolahku. Kemudian aku menoleh kearah ibu, “Oema, aku latihan dulu. Oema jangan terlalu lelah, oke?”

“Hati-hati dijalan, Hunnie.. Kau juga Ilhoonie”

“Baik ahjumma. Kami pergi dulu”pamit Ilhoon sambil merangkul pundakku dan menuju sekolah bersama-sama.

***___***

Sejak kecil, ibu selalu mengatakan bahwa aku adalah anugerah terindah yang diberikan oleh Tuhan. Adanya aku di dunia bukanlah hal yang mudah. Ibu dan ayah harus menunggu selama bertahun-tahun, harus mengeluarkan banyak air mata dan uang untuk berobat ke dokter yang terkenal, juga harus selalu bersabar dan berdoa pada Tuhan terlebih dulu.

Ibu juga selalu mengajarkan padaku bahwa aku harus selalu bersyukur dalam keadaan apapun, dalam situasi apapun. Saat aku berusia tiga tahun, kakek dan nenekku meninggal karena kecelakaan. Dua tahun berikutnya, nenekku – orang tua ibu – juga meninggal karena sakit. Dan kejadian paling buruk yang hampir membuat ibuku gila adalah saat ayahku meninggal lima tahun lalu karena serangan jantung. Aku dan ibuku sama-sama tidak mengetahui jika ayah mempunyai penyakit jantung sehingga saat ayah sudah tergeletak di lantai dapur, barulah kami mengetahui bahwa ayah memiliki penyakit mematikan itu.

Aku sangat ingat, sehari sebelum ayah meninggal, saat kami sedang duduk berdua di beranda belakang rumah. Ayah mengatakan padaku bahwa jika ayah tidak ada, akulah yang harus menjaga ibu. Aku akan menjadi kepala keluarga menggantikan ayah. Aku menganggap ucapan ayah waktu itu hanyalah sekedar nasihat karena aku sudah berumur dua belas tahun, waktu dimana perlahan aku akan berubah menjadi pria dewasa. Tapi ternyata, itu adalah petunjuk Tuhan yang mengisyaratkan bahwa ayahku akan pergi selamanya keesokan harinya.

Sejak saat itu, aku membiasakan diri hidup berdua dengan ibu. Terlebih lagi, ibuku juga memiliki anemia sehingga dia tidak bisa lelah sedikitpun. Karena itu, saat aku berumur 16 tahun, lebih tepatnya saat aku duduk dibangku tingkat pertama, aku memutuskan untuk bekerja dibeberapa temoat untuk membantu ekonomi keluargaku. Setiap pagi, aku akan mengantar susu dan koran, siangnya aku akan bekerja apapun – terkadang aku pergi ke pasar tradisional dan membantu mengangkat barang – . Aku tidak bisa bekerja setiap harinya karena akan berbenturan dengan jadwal latihanku, sehingga aku memilih kerja serabutan yang tetap bisa menghasilkan uang.

***___***

Yonsei High School, Seoul, South Korea

Aku sampai di ruang ganti klub bersama Ilhoon. Lapangan masih belum terlalu ramai, hanya ada beberapa murid yang bermain bola disana. Setelah mengganti kemeja dengan seragam kesebelasanku, juga menyimpan semua barang-barangku di dalam loker, aku dan Ilhoon berlari memasuki lapangan.

“Hey, oper bolanya padaku”seruku sambil melambaikan tangan pada pemain bernomor punggung 7. Diatas nomor punggungnya tertulis nama Yoo Young Jae. Ia menurut, mengoper bolanya padaku.  Aku sangat menyukai sepak bola. Ayah yang mengenalkanku dengan olahraga ini.

“Jaga Sehunie! Jangan biarkan dia membawa bola” aku mendengar teriakkan Jeongmin. Bukannya menyombongkan diri, tapi aku memang menjadi straiker terbaik di sekolah.

***___***

AUTHOR POV

Luxury Apartement, Beijing, China, 21.00 CST

“Jepang atau Korea?” Kai menggantung peta di tangannya dan membiarkan gulungankertas itu terjulur kebawah. “Dua tempat itu dekat dengan tempat kita sekarang”

“Bukankah harusnya ini tugasmu? Kau yang memutuskan”balas Tao santai

“Hey hey..kenapa hanya aku? Lalu apa gunanya kalian? Tujuh belas tahun ini, aku terus mengelilingi dunia seorang diri mencari dewa Ares. Sedangkan kalian hanya menetap disatu tempat walaupun sesekali pindah ke Negara lain. I’m so tired, you know?”protes Kai memutar-mutar tunjukan besi yang dipegangnya di depan Tao.

“Bagaimana menurutmu, Kai? Kita harus kemana?”tanya Suho menganggap Kai lebih mengerti dalam urusan ini. Tentu saja, dia adalah satu-satunya yang paling banyak mengunjungi Negara di dunia.

“Emm…” Kai memperhatikan peta yang terjulur disampingnya sambil mengetuk-ngetuk ujung tunjukan yang dipegangnya ke dagu. “Mungkin…”

“Kita bisa membentuk dua tim dan berpencar ke dua tempat itu. Akan mempersingkat waktu karena sudah jelas, disini kita tidak menemukannya” suara yang sebenarnya sangat lembut itu terdengar. Semuanya menoleh kearah D.O yang bersikap tidak perduli, tetap dengan mata yang fokus dengan buku bacaannya.

“D.O benar. Kita bisa membagi dua tim dan berpencar” Baekhyun mengangguk setuju

“Bukan dua tapi tiga” Kai buru-buru memotong. “Korea terbagi menjadi dua wilayah. Utara dan Selatan. Kita akan mengunjungi tiga tempat di dalam dua tempat”

“Bagaimana jika lima dari kita pergi ke Jepang, limanya lagi pergi ke Korea Utara dan Kai pergi ke Selatan”saran Xiumin

“Hey, kenapa aku hanya sendiri?”

“Karena kau yang paling cepat”

“Aku bisa membawa kalian semua bersamaku”

“Membawa banyak orang sekaligus dalam teleportasimu  akan sangat menguras tenaga. Jika dilakukan berulang-ulang, kau bisa lelah. Disini tidak ada makanan pokok kita. Sebaiknya lakukan itu sendiri karena tidak menguras tenagamu”

Lagi-lagi semua dewa tercengang dengan ucapan D.O. Entah mengapa hari ini, dewa dingin itu banyak bicara. Bahkan mengeluarkan kata-kata bijak dalam artian memperhatikan dewa lain, hal yang sebelumnya jarang bahkan tidak pernah dia lakukan. Dia cenderung tidak perduli dengan lingkungan sekitar.

“Disini tidak ada apel dari pohon kehidupan Kai. Kau harus ingat itu. Sekarang, kita hanya memakan makanan manusia” Kris ikut mengingatkan

“Ck, fiuuuh…baiklah. Aku akan pergi ke selatan besok karena malam ini, aku harus menonton pertandingan sepak bola”

“Aah, aku baru ingat. Aku juga ingin menontonnya” Luhan berdiri lalu mengikuti Kai ke ruang tengah apartement baru mereka.

“Baiklah teman-teman, persiapkan diri kalian. Karena besok pagi, kita akan melakukan perjalanan”seru Suho yang membuat dewa lain – kecuali D.O –  seketika melebarkan mata mereka.

“APAA?!!”

Odin! Kita bahkan baru beberapa bulan menempati tempat ini. Aku belum sempat mengunjungi tembok China. Kata Lay, tempatnya sangat bagus. Ada tembok yang menjulur panjang dan—“

Loki”potong Suho cepat. “Kita bukan sedang ber-traveling. Kita sedang mencari dewa Ares, kau lupa?”

“Suho, ini sudah tahun ke-17, artinya dewa Ares sudah duduk dibangku sekolah tingkat dua. Bagaimana jika kita mencarinya diseluruh sekolah? Akan memakan banyak waktu jika kita mencarinya disetiap rumah..”

“Dan juga melelahkan..”Tao menambahi ucapan Chen. “Ada ratusan bahkan ribuan rumah dan kita harus mencarinya satu persatu”

Kris tertawa kecil melihat ekspresi Tao yang menghembuskan napas panjang, “terkadang kau pintar juga untuk mencetuskan sebuah ide yang hebat”

Tao mencibir, “apa maksudmu? Tentu saja aku pintar. Apa kau pikir selama tujuh belas tahun ini, aku hanya menghabiskan waktu yang sia-sia, huh?”protesnya tidak terima. Sebenarnya, dia dan Chanyeol mempunyai persamaan. Sama-sama menjadi yang terbelakang dalam hal menyerap pelajaran. Mereka sedikit lamban.

“Sudahlah. Hentikan pertengkaran kalian dan mulai bersiap-siap untuk besok”

***___***

Yonsei High School, Seoul, South Korea

“Hey, buka matamu. Sebentar lagi sonsengnim akan masuk kelas” Ilhoon menyenggol tubuh Sehun membuat pria yang sedang menenggelamkan kepalanya dalam dua lipatan tangannya itu bergerak.

Tubuhnya menegak, sambil menghusap-husap matanya dengan tangan. Rambutnya terlihat acak dan matanya memerah.

“Kau tidak tidur tadi malam?”

Sehun menggeleng, “aku bekerja menjadi pelayan di klub”

“Klub?” Ilhoon terkejut

“Yaah. Upahnya lumayan jadi aku menerimanya. Aku baru pulang pagi tadi dan hanya sempat tidur selama dua jam sebelum oema membangunkanku”

“Tapi, bukankah anak dibawah umur tidak boleh masuk ke dalam klub? Dan bukankah ahjumma tidak mengijinkanmu bekerja saat malam hari?”

“Aku pergi saat oema sudah tidur dan kembali saat oema belum bangun”

Ilhoon berdecak lalu geleng-geleng kepala melihat tingkah laku teman sebangkunya itu, “kau keras kepala sekali. Walau bagaimanapun, kau adalah seorang pelajar. Tugas utamamu adalah bersekolah bukan mencari uang” ia mengomeli Sehun

“Hey, aku bukan anak orang kaya sepertimu. Appaku sudah meninggal dan fisik oemaku sangat lemah. Aku yang harus menggantikan tugas appa”

“Sudah ku bilang, kau bisa bekerja di restoran appaku”

“Tidak” Sehun menggeleng. “Kau pasti akan memudahakn pekerjaanku dan memberikanku upah yang besar” Sehun menebak tepat

“Karena kau sahabatku”

“Sudahlah”putus Sehun akhirnya berdiri. Ia melewati celah dibelakang kursi Ilhoon karena tempat duduknya berada dipojok dinding. “Aku akan ke ruang kesehatan dan tidur disana. Jika sonsengnim mencariku, bilang saja aku sedang diare. Oke?”

“Anak itu benar-benar…”

***___***

Shibuya, Tokyo, Jepang, 10.00 JST

Tok tok tok

Chanyeol terus saja mengetuk-ngetuk sebuah patung anjing besar yang ada disampingnya seperti orang aneh, membuat Baekhyun harus terus menarik tangannya dan menyuruhnya untuk bersikap biasa. Yaah, walaupun setelahnya Chanyeol akan mengulangi perbuatannya lagi.

“Baekhyun, patung ini besar sekali. Mirip seperti anjing” Chanyeol berseru kagum

“Itu memang anjing, bodoh”

“Ehh? Benarkah? Jadi ini benar-benar patung anjing? Pantas saja aku merasa mereka mirip”

“Patung itu bernama Hachiko, Yeol”

“Hachiko?” Chanyeol mengulang ucapan Baekhyun. Baekhyun mengangguk.

“Patung ini dikenal sebagai symbol kesetiaan anjing terhadap majikannya”

“Apa ini kisah nyata?”tanya Chanyeol mulai tertarik

“Ya. Ini kisah nyata. Aku pernah membacanya disalah satu buku”

“Bisakah kau menceritakannya padaku, Baekhyun?”

“Tidak”balas Baekhyun cepat. “Kita harus mencari dewa Ares”

Chanyeol buru-buru menahan lengan Baekhyun saat dia hendak pergi dan menariknya kembali ke belakang. Baekhyun menoleh kesal, namun Chanyeol justru memperlihatkan ekspresi memohon – yang menurut Baekhyun itu sangat menjijikan  dan justru terkesan bodoh-

“Aku mohoon”

Baekhyun menarik napas panjang, “Suho sedang mencari dewa Ares di Osaka, sedangkan Tao dan Chen mencari di pulau Hokkaido. Mereka sedang bekerja keras. Jadi, sebaiknya kita juga bergerak daripada terus disini untuk menceritakan kisah bodoh itu, oke?”

Chanyeol tidak menyerah. Ia sudah terlanjur tertarik pada cerita yang menggantung itu. Ia menarik-narik ujung baju Baekhyun sambil merengek seperti anak kecil padanya.

“Baekhyun, aku mohoon”rengeknya. “Baekhyun..Baekhyun..Baekhyun..”

“Lepaskan!” Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol keras lalu memincingkan mata padanya. “Kau mau aku membakarmu dengan sinar matahari, huh?”

“Aku hanya memintamu untuk menceritakan kisah itu. Hanya lima menit. Setelah selesai, aku janji tidak akan bertanya apapun lagi”

“Akh!” Baekhyun menghembuskan napas keras frustasi. Sedikit menyesali keputusan Suho yang menyuruhnya berada di tim yang sama dengan Chanyeol. Dia sangat menyebalkan. “Baiklah. Dengarkan baik-baik..”

Chanyeol mengangguk-angguk sambil memperbaiki posisi duduknya seperti anak playgroup yang diperintah oleh guru.

“Dulu, ada seekor anjing bernama Hachi. Setiap pagi dia selalu mengantar majikannya pergi bekerja sampai di stasiun ini dan menjemputnya di sore hari di tempat ini juga. SUatu hari seusai mngikuti rapat, tiba-tiba majikannya meninggal dunia, Hachi tidak mengetahuinya jadi dia selalu menunggu majikannya. Dia sempat tidak mau makan selama tiga hari karena majikannya tidak juga pulang. Sampai akhirnya dia juga mati”jelas Baekhyun mempersingkat ceritanya

“Whooa, jadi Hachi terus menunggu majikannya sampai dia mati?”

“Kurang lebih seperti itu. Nanti, aku akan memberikan bukunya padamu agar kau bisa membaca kisah lengkapnya”

***___***

Seoul, South Korea, 14.00 KST

Kai berjalan disekitar lingkungan perumahan yang ia sendiri tidak mengenalnya dengan baik. Sambil sesekali menendang batu-batu kerikil yang ditemuinya, juga sambil menunggu tanda yang ada dibalik pergelangan tangannya mengeluarkan cahaya.

“Huh, panas sekali” Kai menghusap keringatnya dengan lengan baju. Terus mengikuti langkah kakinya hingga tanpa sadar dia sampai di depan sebuah sekolah. Bukan termasuk sekolah yang bagus, hanya sekolah sederhana yang bahkan sudah terlihat cukup tua.

Tiba-tiba Kai merasakan ada sesuatu yang neh di tubuhnya. Tubuhnya bergetar hebat. Ia mengangkat tangannya perlahan dan langsung terperangah saat melihat tanda yang ada di bawah pergelanagn tangannya bercahaya.

“D-dewa Ares..” serunya tercekat. “…dia ada disini….”

TBC

Iklan

55 thoughts on “FF : The Lords of Legend (Chapter 5)

  1. Oh Yuugi berkata:

    Ternyata Sehunnie anak yg berbakti..huhuu
    Sedih n terharu juga baca perjuangan hidup Sehun demi eommanya.. Ayo Kai, cepetan temuin Sehunnya..kkkk

  2. Jung Han Ni berkata:

    ya ampun aku sampe nangis pas tau leeteuk ternyata udah meninggal 😥
    akhirnya keberadaan sehun sudah terdeteksi kai heheh
    keep writing n hwaiting eon!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s