FF EXO : AUTUMN Chapter 7

autumn

Author  :  Oh Mi Ja

Cast :  Leeteuk SJ as Park Jungsoo

Luhan EXO as Park Luhan

Kai EXO as Park Jongin

Sehun EXO as Park Sehun

Support Cast      : Kris EXO as jaksa

Suho EXO as Pastor

Taemin Shinee as Lee Taemin

JR JJ Project as Park Jin Young

Jonghyun CN Blue as Lee Jonghyun

Shindong SJ as Shin Donghee

Dongho Ukiss as Shin Dong Ho

Genre                   : Brothership, Family,  Friendship, little sad

Hanya sebuah kertas dan mampu melumpuhkan seluruh syaraf tubuh Luhan. Luhan terduduk dengan kedua matanya yang tidak pernah lepas dari surat itu. Terus terfokus, menatapi setiap kata-kata yang tertera disana. Waktunya hanya dua minggu dan setelah itu dia harus pergi meninggalkan rumah yang sudah ditinggalinya sejak ia kecil.

“Luhanie..”seru Jonghyun terus menghusap pundak Luhan. Lagi-lagi, ia memutuskan membolos untuk menemani sahabatnya .

“Tuan muda, ahjumma tau ini sangat berat untukmu. Bersabarlah”ujar bibi Kwon sambil memeluk tubuh Luhan dari samping.

Luhan masih terpaku. Masih belum kembali pada kenyataan. Ia lelah menangis. Ia lelah berteriak. Kini, yang ada dipikirannya hanya bagaimana caranya ia menjelaskan pada kedua adiknya tentang masalah ini. Terlebih lagi pada Sehun yang masih sangat kecil dan sangat dekat dengan Leeteuk.

“Luhanie, rumah ini akan dikembalikan saat kau sudah berhasil melunasi semua hutang ayahmu. Dan selama ayahmu masih koma, dia akan tetap dirawat di rumah sakit namun tetap dengan penjagaan yang ketat. Kau bisa mengunjunginya kapanpun, dan jangan khawatir, pemerintah akan menanggung biaya rumah sakit ayahmu selama satu tahun”jelas Donghyun juga menghusap pundak Luhan

Luhan mengangguk pelan, “arasseo”

“Sebaiknya, kau mulai berbicara dengan kedua adikmu. Karena setelah dua minggu, polisi akan memberikan larangan pembatas di depan rumah ini”

Lagi-lagi Luhan mengangguk, “arasseo”

“Luhanie, kau bi—“

“Jonghyun-ah”potong Luhan cepat. “Aku akan naik ke kamarku. Aku ingin sendiri”

“Tapi—“

“Nan gwenchana. Terima kasih karena kau selalu menemaniku”

Luhan tidak bicara lagi. Ia berdiri, meninggalkan orang-orang yang sedang menatapnya lirih. Tapi, mungkin namja itu perlu waktu untuk menenangkan dirinya. Untuk berpikir bagaimana kelanjutan hidupnya bersama dua orang adiknya yang masih sangat kecil.

Luhan tidak menuju kamarnya, melainkan masuk ke dalam kamar Leeteuk. Ia berdiam diri disana. Memandang sekeliling tanpa mengeluarkan suara. Hingga akhirnya, pandangannya terhenti pada sebuah foto keluarga yang tergantung di salah satu dinding. Foto mereka bertiga bersama Leeteuk dan disamping foto itu terdapat sebuah foto lain. Itu foto ibunya.

“Oema, oema selalu mengatakan bahwa aku adalah anak yang kuat. Aku tidak pernah menangis saat aku masih kecil. Tapi, sekarang aku justru menjadi anak cengeng yang gampang menangis. Aku selalu menangis akhir-akhir ini karena semua hal. Aku seperti tidak lagi mempunyai kekuatan untuk menahan rasa sakit itu. Oema, apa aku adalah seorang kakak yang payah? Aku harus bagaimana agar aku bisa menyembunyikan semua ini dari Sehun dan Jongin? Aku tidak akan siap jika melihat mereka bersedih. Aku tidak akan siap jika melihat mereka akan hidup susah. Aku harus bagaimana?”

Luhan terdiam sejenak. Kemudian menoleh kearah foto lain, yaitu foto dirinya bersama ayah dan kedua adiknya.

“Appa..appa pasti akan bangun, kan? Appa pasti akan menepati janji appa untuk berkumpul bersama kami, kan?”seru Luhan nyaris bergetar.

Seperti kehilangan kekuatan atas seluruh kesedihannya, Luhan terduduk diranjang tidur yang kini kosong. Punggungnya membungkuk. Kedua lengannya, ia letakkan diatas dua lututnya sebagai penyanggah tubuhnya.

Tangisnya tertahan. Justru menyesakkan seluruh isi hatinya. Bahkan hingga susah bernapas. Ia adalah anak tertua. Seseorang yang akan menggantikan tugas ayahnya jika ia tidak ada. Namun, semua ini terasa sangat tiba-tiba. Ia hanya seorang murid kelas 2 SMU biasa yang masih ingin bermain. Masih ingin menggapai cita-cita dan menjalankan hobinya. Hanya itu.

***___***

“Huh, panas sekali”rutuk Sehun membuang tubuhnya keatas sofa sambil menghusap keringat didahinya.

“Sehun-ah, cepat ganti bajumu lalu kita makan siang”seru Jongin

Sehun mengangguk. Dengan malas bangkit dan menyeret langkahnya menuju kamarnya yang terletak dilantai dua. Keningnya seketika berkerut saat melihat Luhan kebetulan keluar dari kamar Leeteuk.

“Hyung”seru Sehun membuat Luhan tersentak

“Sehunie”

“Bukankah seharusnya hyung berada di sekolah?”

Luhan seperti maling yang tertangkap basah oleh polisi. Ia salah tingkah karena dia bukanlah tipe orang yang pintar berbohong tanpa persiapan. Terlebih lagi didepan adiknya.

“a-aniyo. Aku pulang lebih awal”elak Luhan menggaruk tengkuknya

“oe? Luhan hyung? Kenapa kau ada disini?” Jongin juga tak kalah kaget melihat Luhan sedang berdiri didepan kamar Leeteuk.

“Aku pulang lebih awal Jonginie”ulang Luhan menghindari kontak mata dengan Jongin karena dia adalah orang yang sangat mudah menemukan kebohongan Luhan.

“Jinjjayo?”

Luhan mengangguk pelan, “hanya latihan sepak bola untuk pertandingan dua minggu lagi. Kalian sudah makan? Aku akan membantu Kwon ahjumma menyiapkan makan siang”

Secepat mungkin Luhan segera menuju lantai satu sebelum ia berbohong lebih banyak lagi. Sebisa mungkin bersikap seperti biasanya walaupun kepalanya terasa ingin pecah memikirkan jalan keluarnya.

“Tuan muda, gwenchana?” bibi Kwon meletakkan piring yang dipegangnya lalu memeriksa kening Luhan karena wajahnya terlihat sangat pucat.

Luhan tersenyum tipis, “gwenchana ahjumma”

“Kau demam? Tubuhmu hangat”

“Aniyo ahjumma”

“Duduklah. Ahjumma akan membuatkan sup gingseng untukmu”

“Ahjumma, aku sangat lapaaar”seru Sehun setengah berteriak dan langsung melompat naik ke kursi makannya.  “Aku mau makan..aku mau makan”serunya lagi kini mengetuk-ngetuk garpu dan sendok yang dipegangnya ke piring.

“Nde, tuan muda. Ahjumma akan menyiapkannya”balas bibi Kwon lembut

Bibi Kwon meletakkan beberapa piring yang berisi makanan keatas meja dibantu oleh Jongin yang memang selalu turun tangan jika menyangkut adik bungsunya itu.

“Sehunie, kau harus belajar mengambil nasimu sendiri” Jongin meletakkan mangkuk nasi milik Sehun lalu mengambil piring, sendok dan garpunya. Juga memberikan sumpit pada Sehun.

“Shireo. Bukankah ada Kwon ahjumma dan Jongin hyung yang akan mengambilkannya?”

“Ya! Kau tidak akan menjadi anak kecil selamanya. Kau akan tumbuh dewasa dan kau harus melakukan semuanya sendiri”

“Jika menjadi dewasa aku akan kesepian, aku mau menjadi anak kecil saja”kilah Sehun membuat Jongin hanya bisa menarik napas panjang.

Namun, ucapan yang keluar dari mulut anak laki-laki polos itu berhasil membekukan tubuh Luhan. Seperti ada sesuatu yang lagi-lagi menyesakkan dadanya. Sehun benar. Menjadi dewasa akan membuat kau menyadari betapa kesepiannya dirimu. Kau harus melakukan semuanya sendiri, menyelesaikan masalah dan mengurus apapun seorang diri. Hanya seorang diri. Walaupun ada teman-teman dan keluarga yang akan membantumu, tapi setelah dewasa, kau adalah orang yang paling bertanggung jawab atas dirimu sendiri juga orang-orang yang kau sayang. Terlebih lagi, karena dia adalah seorang laki-laki, anak tertua, seorang kakak, dan kapten sepak bola. Banyak hal yang harus ia urus karena kini dia adalah pemimpin.

“Mwo? Kimchi lagi? Ahjumma, aku tidak menyukai sayuraaan!!”

Suara rutukan Sehun membuyarkan lamunan Luhan. Ia mengerjap beberapa kali, kembali dari keheningannya.

“Makan sayur yang banyak agar tubuhmu cepat tinggi. Kau tau?”omel Jongin mencubit gemas pipi chubby adiknya. Kesabarannya sangat terbatas untuk menghadapi sifat Sehun yang masih kekanak-kanakan.

Sehun menepis tangan Jongin lalu menggerutu kesal, “apa Taemin hyung yang mengajarimu untuk mencubit pipiku, huh?”

“Ya! Panggil aku hyung! Jangan pernah berbicara formal padaku!”

“Sehunie,kau tidak boleh bicara formal pada hyungmu, itu tidak sopan” Luhan menambahi

“Arasseo. Mianhae..”

“Sekarang habiskan makanan kalian. Jangan bertengkar lagi”

***___***

Satu minggu berlalu…

PRIIIIIIIIIIT

Suara peluit menghentikan permainan di lapangan. Donghae, guru olahraga sekaligus wali kelas Luhan setengah berlari ke tengah lapangan.

“Keluar”serunya menarik lengan Luhan kasar

“Oe? Sonsengnim? Waeyo?”tanya Luhan bingung

“Apa aku perlu menjelaskannya padamu?”

“Sonsengnim, tapi—“

“Aku bilang keluar!”bentak Donghae membuat Luhan hanya bisa pasrah dan meninggalkan lapangan dengan setengah kesal. Ia tidak mengerti, dia adalah murid kesayangan Donghae namun dia justru menjadi murid pertama yang dibentak oleh guru olahraga itu ditengah lapangan. Di depan teman-temannya.

Tidak bisa berbuat apapun, Jonghyun hanya menatap punggung Luhan yang perlahan menjauh lalu menatap Donghae dengan pandangan bingung.

“Sudahlah Jonghyun-ah, aku ingin pulang” Luhan menepis tangan Jonghyun yang ada dibahunya lalu mengambil tas olahraga dari dalam loker. Mengganti sepatunya dan juga mengganti kaus sepak bolanya dengan kaus putih polos yang kemudian ia rangkap dengan blazer sekolanya.

“Luhanie, kau tidak bisa meninggalkan tim seperti ini. Pertandingan akan berlangsung minggu depan dan itu adalah pertandingan penting”

“Meninggalkan katamu?! Kau tidak lihat aku diusir?!” suara Luhan meninggi nyaris seperti membentak Jonghyun. Wajahnya merah padam karena kesal.

“Tapi, aku adalah kapten kami. Kami tidak mungkin melakukan latihan tanpamu”

Luhan membuang napas keras. Menyambar tas olahraganya yang tergeletak dilantai dengan kesal.

“Aku tidak perduli”

“Kau bahkan mau melarikan diri”

Langkah Luhan terhenti begitu Donghae muncul di ambang pintu ruang ganti klub sepak bola. Luhan semakin kesal. Tidak ingin nantinya dia akan emosi sehingga ia lebih memilih untuk melewati Donghae.

“Kau adalah kapten tim sepak bola. Kau dipilih oleh seluruh murid. Kau dipercaya teman-temanmu. Tapi, kau justru meninggalkan mereka. Bukankah itu sikap seorang pengecut?”

Lagi-lagi langkah Luhan terhenti. Ia berbalik dan kini berdiri menghadap wali kelasnya itu, menentang sepasang mata lembut yang ia tau tidak akan pernah bisa mengeluarkan amarah. Tapi kali ini berbeda.

“Aku bukan pengecut dan aku tidak meninggalkan timku. Kau yang mengusirku!”

“Harusnya kau menggunakan waktu yang aku berikan untukmu untuk berpikir. Bukan mengendapkan amarah dan keegoisanmu”balas Donghae tetap dengan nada tenang. Tidak seperti tadi yang membentak Luhan.

“Apa kau tidak sadar bagaimana permainanmu saat di lapangan? Kau adalah pemain terbaik sekolah tapi tadi aku melihatmu sebagai pemain yang paling buruk. Kau bahkan tidak bisa membaca arah gerak lawan, tidak bisa menangkap isyarat dari teman-temanmu, kau selalu bekerja sendirian dan berusaha menyetak gol yang sama sekali tidak pernah menembus gawang”jelas Donghae. “Kemana perginya kerja sama tim yang selalu kau tunjukkan di lapangan? Kemampuanmu menggiring bola dan mempercayakannya pada teman-temanmu dan kemana kemampuanmu untuk mengambil keputusan tak terduga yang selalu akan membauhkan hasil yang baik? Kemana mereka? Kemana rasa fokusmu?”

Luhan tertegun seketika. Baru menyadari bahwa tadi dia memang tidak mencetak satu gol pu. Bahkan timnya kebobolan dua gol yang dicetak dengan mudah oleh tim lawan. Tenggorokan Luhan terasa cekat. Ingin mengeluarkan ucapan maaf tapi semuanya tertahan di pangkal tenggorokannya. Pita suaranya tidak berfungsi dengan baik.

Donghae mengulurkan tangannya, menepuk salah satu pundak Luhan sambil menatapnya tersenyum. Jenis senyum yang selalu bisa menenangkan Luhan saat ia mempunyai masalah dan sekarang, ia bisa melihat senyum itu lagi.

“Aku tau kau mempunyai banyak masalah. Aku mengerti jika fokusmu terbagi. Tapi, yang ku tau kau adalah anak yang kuat dan berani. Kau harus menghadapi masalahmu karena lari bukanlah jalan yang terbaik. Masalahmu tidak akan selesai dengan kau melarikan diri”jelas Donghae lembut. “Saat kau lelah, percayakan masalah itu pada kami. Kami akan membantumu menyelesaikannya. Kau lupa? Kita adalam tim”

“sonsengnim…” hanya itu yang mampu diucapkan Luhan. Ia menatap Donghae haru. Lagi-lagi guru olahraga itu mengajarkan sesuatu yang penting untuknya. Kerja sama tim, kepercayaan juga keberanian menghadapi masalah.

Luhan merasa bodoh. Sejak kelas satu dia adalah kapten sepak bola yang dipercaya oleh teman-temannya. Timnya tidak pernah kalah sekalipun dan dikenal sebagai tim yang kuat karena kerja sama yang baik. Tapi, kenapa sekarang ia justru melupakan hal itu? Bodoh.

“Kau tidak sendirian, Xiao Lu” Jonghyun menyebut nickname Luhan yang berarti ‘Rusa kecil’. Nickname itu diberikan karena arti nama Luhan sendiri adalah rusa dalam bahasa China dan juga kelincahannya saat dilapangan seperti seekor rusa. Karena itu semua teman-teman Luhan memanggilnya dengan sebutan ‘Xiao Lu’

***___***

Keesokan harinya, Luhan berangkat ke sekolah dengan perasaan sedikit nyaman. Lebih tenang dan ringan. Rasanya sangat bahagia saat mengetahui akan ada banyak orang yang berpihak padanya.

“Kau sudah sadar, kapten?” Salah satu teman sekelas Luhan yang juga merupakan anggota klub sepak bola meneriaki Luhan saat melihat namja berwajah imut itu datang.

Luhan tertawa kecil, “apa kau pikir aku mabuk?”

“Kau seperti  kerasukan makhluk gaib kemarin. Kami tidak mengenalmu”balas temannya yang ternyata bernama Lee Minhyuk disusul dengan tawa geli dari teman-teman sekelasnya.

“Mwo? Ya!” Luhan merutuk namun tetap tersenyum. Ia melemparkan tas ranselnya keatas meja disebelah Jonghyun yang menjadi teman sebangkunya.

“Luhanie, kalian akan menang kan minggu depan? Jika tidak, klub pemandu sorak tidak akan mau menyemangati kalian lagi” seorang yeoja yang duduk paling depan ikut berkoar.

“Ya! Kalian harus tetap menyemanagati kami walaupun kami kalah”balas Jaejin

“Shireo! Kami tidak mau menyemangati klub payah. Jadi kalian harus menang, arasseo?”

Luhan tersenyum lebar menanggapi kegaduhan kelasnya yang selalu tercipta di detik-detik sebelum bel berbunyi. Ia lalu berdiri dari duduknya, ikut meramaikan suasana.

“Jika klub kita menang, Hyemi akan mentraktir kita ramen”celetuk Luhan membuat yeoja yang duduk paling depan lagi seketika menoleh dengan mata terbelalak.

“Whooo, kita akan ditraktir Hyemi. Kita pasti menang”sorak Minhyuk memanasi

“Ya ya ya!”protes Hyemi namun suaranya tidak terdengar sama sekali. “Ya! Kau rusa sialan!”

***___***

Guru meninggalkan kelas Sehun sepuluh menit sebelum pelajaran berakhir, membuat anak-anak seketika bersorak dan langsung menghambur ke kantin sebelum tempat itu dipadati oleh murid-murid lain.

Berbeda dengan murid lain, Sehun tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya.  Justru meletakkan kepalanya diatas meja sambil meniup-niup poninya yang menjuntai di dahi.

“Sehunie, wae?”tanya Jinyoung bingung melihat tingkah laku teman sebangkunya yang tidak bersemangat sama sekali.

“Aniyo”jawab Sehun pelan masih tetap meletakkan kepalanya diatas meja. Pipinya yang menempel dipermukaan meja membuat wajahnya semakin terlihat lucu dengan bibir mungilnya yang tertekuk saat ia bicara.

“Kajja. Kita ke kantin”

“Aku tidak lapar. Kau saja”

“Baiklah. Aku akan membelikanmu roti nanti. Otthe?”

Sehun mengibaskan tangannya, “tidak perlu. Aku tidak lapar”

“Jika kau tidak makan, Jongin hyung akan datang kesini dan menyeretmu”

Seketika Sehun menarik kepalanya dan cemberut, “kalau begitu jangan sampai dia tau”

“Tidak mungkin. Dia pasti mencarimu jika tidak melihatmu di kantin”

“Huh, kenapa aku punya kakak menyeramkan seperti dia?”cibir Sehun kesal

“Sehunie, kenapa kau terlihat sangat lesu hari ini? Apa kau sedang bertengkar dengan Luhan hyung?”

Sehun mendesah panjang lalu menggeleng pelan, “aniyo. Hanya saja aku tidak mengerti dengan sikap Dongho yang sangat membenciku. Padahal aku tidak pernah berbuat jahat padanya”

“Jadi kau memikirkan itu?”

Sehun mengangguk-angguk.

“Untuk apa kau pikirkan? Biarkan saja dia. Dia adalah anak nakal. Lihat saja tidak ada yang mau berteman dengannya karena dia sangat sombong. Bukan hanya kau tapi dia membenci semua orang” Jinyoung mencoba menghibur Sehun. Yaah, walaupun itu tidak sepenuhnya sebuah hiburan. Nyatanya dia juga kesal dengan Dongho yang sangat sombong dan iri dengan murid lain.

“Sudahlah. Ayo kita ke kantin. Jika kau tidak makan, kau tidak akan bisa tinggi”

Sehun menggerutu namun tetap mengikuti langkah Jinyoung meninggalkan kelas, “aku memang tidak ingin dewasa”

***___***

“Ahjussi, stop disini”ujar Jongin membuat sopir keluarga Park menepikan mobil. “Sehunie, kau pulang duluan. Aku harus membeli sesuatu terlebih dulu di toko itu. Luhan hyung dan Jonghyun hyung juga akan pulang sebentar lagi”

“Arasseo”

“Jangan makan tanpa aku, oke?”

Jongin menutup pintu mobil setelah melihat anggukan Sehun. Tidak perlu diingatkan, karena Sehun tidak akan bisa makan seorang diri tanpa ada yang menemani dan mengambilkannya makanan. Namja berkulit gelap itu melangkah menuju sebuah toko untuk membeli perlengkapan alat tulisnya. Seperti isi pensil mekanik dan beberapa buku.

Ia menelusuri rak-rak panjang yang terjejer. Memasukkan beberapa barang yang diambilnya dalam sebuah keranjang supermarket yang diambilnya tadi. Tidak lupa, ia membeli sebuah buku cerita untuk Sehun.

Setelah semuanya lengkap, barulah dia membayar biayanya. Beruntung jarak rumahnya dan toko alat tulis tidak begitu jauh sehingga ia bisa berjalan kaki. Ini adalah pertama kalinya Jongin memperhatikan lingkungan sekitar menuju rumahnya. Ternyata sangat asri, di perumahan yang memang termasuk dalam golongan ‘mewah’, banyak pohon yang tumbuh disepanjang jalan. Juga ketiadaan sampah yang merusak pemandangan.

Dalam hati, Jongin sangat menyesal karena selalu menghabiskan waktu berada dalam mobil. Harusnya sesekali ia bersepeda bersama Sehun. Disalah satu sisi, terdapat sebuah taman yang sangat indah, tak kalah dengan taman-taman kota atau bahkan taman sungai Han. Jongin merencanakan akan mengajak Luhan, Sehun, Jonghyun, Taemin dan Jinyoung untuk bersepeda pada akhir pekan.

“Kau sudah menemukan rumah sewa yang murah?”

Jongin menghentikan langkahnya, memandang Jonghyun dan Luhan yang sedang berdiri didepan pagar rumahnya dengan kening berkerut.

“Belum. Aku masih mempunyai sedikit uang yang tidak termasuk kedalam daftar sitaan. Aku pikir aku akan menyewa sebuah rumah sewa yang sedikit bagus terlebih dahulu. Aku khawatir Jongin dan Sehun tidak bisa menyesuaikan diri jika berada di rumah yang kecil”

“Tapi, kau harus mengirit, Luhan. Waktu kalian hanya tersisa seminggu dan setelah itu kalian harus pindah”

Mata Jongin seketika melebar. Ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres dari obrolan Luhan dan Jonghyun. Pindah rumah? Kenapa mereka harus pindah? Jongin menyembunyikan tubuhnya disisi tembok yang membentuk sudut. Kembali mendengarkan kelanjutan obrolan aneh itu.

“Lalu? Kau sudah coba bicara pada Jongin dan Sehun?”

Luhan mendesah panjang kemudian menggeleng, “aku rasa aku akan membohongi mereka lagi. Aku tidak tega memberitahu mereka hal yang sebenarnya”

“Luhanie, kau tidak bisa seperti itu. Biar bagaimanapun Jongin dan Sehun harus tau. Kau tidak bisa menanggungnya sendiri dan menciptakan kebohongan-kebohongan yang lain”

“Aku tidak mungkin tega, Jonghyun-ah. Apa kau pikir aku bisa mengatakan bahwa appa kami sekarang telah menjadi tersangka korupsi perusahaan dan kini sedang tergeletak di rumah sakit akibat usahanya melarikan diri? Aku tidak mungkin bisa menjelaskan yang sebenarnya. Tentang appa yang sebenarnya tidak pergi bekerja namun ditahan di penjara”

Jongin terperangah hebat. Tubuhnya membeku. Matanya melebar tak percaya. Tanpa sadar tangannya menutup mulutnya yang ternganga. Ada sebuah pukulan besar yang terasa memukul dadanya kuat.

“Ini sudah keputusanku. Aku akan menyewa sebuah rumah yang lumayan megah  dan mencari alasan lain untuk pindah”

“Luhanie, tapi kau harus mengirit”

“Aku akan bekerja!”balas Luhan cepat. “Aku akan bekerja paruh waktu untuk menghidupi adik-adikku. Aku akan melakukan apapun”

“Jadi…kau berbohong hyung?”

Rasa terkejut Luhan dan Jonghyun menyusul sebuah suara yang terdengar. Keduanya sangat hapal dengan suara itu hingga sangat takut untuk berbalik menoleh. Sebelum akhirnya memutar lehernya untuk memastikan siapa yang bersuara, dalam hati Luhan berkali-kali berdoa, berharap dugaannya salah. Berharap bukan orang itu yang berdiri disana.

Ribuan tusukan tajam seperti menghujani dada Luhan sesak saat melihat dia berdiri disana dengan kedua matanya yang berkabung. Seseorang yang tidak diharapkannya kini menatapnya dengan tatapan sedih. Dia terlihat sedang berusaha kuat untuk menahan tangisnya.

“Kau berbohong hyung?”ulangnya lagi. Kini suaranya terdengar serak

“Jongin-ah, aku bisa jelaskan padamu. Sebenarnya—“

“Appa adalah tersangka korupsi? Appa tidak bekerja?”

“Tidak Jongin. Appa sedang bekerja sekarang”kilah Luhan menghampiri Jongin.

Jongin mundur satu langkah. Sambil tetap menatap sepasang mata lembut Luhan.

“Jangan berbohong lagi….”

TBC

Iklan

35 thoughts on “FF EXO : AUTUMN Chapter 7

  1. amel berkata:

    huaaaaa :””(
    nyesek banget bacanya 😦
    itu donghae baik banget ya :’) pengertian plus bijak banget :’)

    jadi jongin udah tau appanya korrupsi? trus udah tau kalau appanya koma? ahh pasti nyesek banget jadi jongin :'((
    sekarang cuma tinggal sehun yg belum tau ya? kebohongan apalagi yg bakal dibuat luhan sama jongin tuh??

    penasaran thor xD ditunggu next chap x3

  2. nina berkata:

    aaaaa eonnie aku baca bener2 deh
    kasihan luhan yg msh SMA udh kena banyak musibah 😦
    aaaaa kkamjong skrg udah tau
    ottokkae???
    aaaaa kasihan eon 😥

  3. Tiikaa berkata:

    Huaaaaa…
    Eonnn 😦

    Kasian luhannya eon,,
    Nyesek banget baca bagian awal dan akhirnya,,, luhan harus berusaha kuat dan tegar di dpan orng2 dan hrus rela masa2 remaja nya terbuang dngan adanya msalah ini….

    Aduh,, itu gmna ya hubngan jongin sma luhan?? Apa jongin akan marah sma lulu , krna luhan udh bohong sma dia….

    Penasaaraaaannnn ><

  4. SummerSehun berkata:

    aaaaaaaaaaaahhhh my Jongin hueeee sabar ya. Luhan bohong demi kamu juga :””””””””

    Sehun kl kamu gak mau dewasa, bagaimana kita bisa menikah nanti? HAHAHAHA 😄

    aku udah sedia tissue nih pas baca ff ini. hikseuu :””””

  5. @baltacheakiriwe berkata:

    Kenapa? Kenapa? Kenapa? KENAPAAAA… ToT *ngeraung-raung ga jelas

    Kalo Sehun tau gimana? Kalo temen-temennya Sehun tau gimana? Kalo Dongho ngebully sehun gimana? Kalo– *ditimbuk sendal

    Next eonn ‘O’)/

  6. Zein berkata:

    kyaaaa kasian luhan
    bolehkah aq brgabung menyemangatimu ge ??#d timpuk sandal sama sehun

    jongin udh tau skrg giliran sehun …
    siapkan mental mu nak !! #nepuk pundak thehun

    thoor keep writing n fighting

  7. ... berkata:

    Woooaaaahhhhh Jongin sudah tau, harusnya tadi aku tutupin aja mata sama telinganya *ngaco*
    aduuuhhhh gimana niihhh…. Gimana nasibnya luhan jongin, dan sehun ?? Terus apa nanti sehun juga bakalan tau???
    Pasti nanti dia bakalan terpukul banget kalo udah tau. Tiga bersaudara yang malang 😥
    aduuhh gimana nanti nasib mereka bertiga??? Hyaaaaaaa… Aku nggak tega bacanya/? *hebohsendiri* -___-
    Luhan yang sabar yah.. Aku selalu ada untukmu *ngaco lagi kan*

    di tunggu next chapter thooorr….

  8. EXOka berkata:

    Mian, thor. Baru comment + baca._.

    Huaaaaa!! Aku terhura (?) pas baca yg bagian Donghae nyemangatin Luhan Oppa :’)
    Tapi pas baca bagian bawah, nyesek aku! TAT
    Jongin Oppa ?? Jangan marah sama Luhan Oppa ya ? Kan dia bohong karna gamau bikin Sehun Oppa & Jongin Oppa sedih . . T.T

  9. klymgirl berkata:

    Huaaa sedih banget sumpah pen nangis bacanyaa :”(
    Donghae sama jonghyun pengertian banget sama luhan, kaget tadi donghae begitu tapi ternyata dia perhatian banget sama luhaan
    Kyyaa jongin udah tau masalahnya, entar gimana sama si sehun yaa ??
    Author lanjutan nya ditunggu yaa
    Jangan lama” next part nyaa

  10. BabyHun berkata:

    ya ampunnnn… eonni tga!!!!!!!….
    q gk bisa bayangin luhan yg kek begitu.. lulu ku kan imuttttt…
    ya ampun donghae… diriku tk pernah bisa lepas dari pesonamu.. #keliyengan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s