FF: Relationship between Us (One Shoot)

 

hh6

Author: Chanminmaa

Title: Relationship between Us

Main Cast:  

EXO-K Chanyeol, EXO-M Luhan, Yeon Ji Hee

Genre: School-life, Romance, Hurt/Comfort

Length:  Oneshot

 

_________

Relationship. Aku tidak mengerti bagaimana bisa seluruh orang di dunia ini begitu suka menyebut kata-kata itu. Relathionship = Hubungan.. Oh ayolah, apa aku sebodoh itu untuk tidak mengetahui arti dari sebaris kalimat asing yang sanggup menyihir dua jenis manusia berbeda menjadi konyol, hanya karna sebuah ‘hubungan’ ?

Baiklah, akan kuluruskan..

Tidak ada yang konyol disini, ya, setidaknya tidak, sampai aku mencoba dan merasakannya sendiri.

Relationship = Hubungan, aku tahu itu, tentu saja sudah sejak lama aku mengetahui arti dari kalimat bodoh itu. Memangnya sejak masa apa English menjadi bahasa dunia? Bahkan bocah SD saja tahu tentang itu, bukan?

Itu hanya kalimat sederhana, aku sering melihat drama dan sudah pasti yang ku maksud adalah bagaimana dua jenis manusia berbeda itu menjalani kehidupan mereka dengan status Relationship nya.

Terlalu sederhana, namun terlalu kasat mata untuk bisa kupahami dengan mudah.

Dua orang yang terlihat bahagia, selalu bersama, seakan-akan dunia ini hanyalah milik mereka berdua. Tapi jauh dari kesan itu, yang mungkin belum pernah kau bayangkan. Sisi lain dimana semua terasa gelap, rumit dan menyakitkan.

Relationship = Manis, dramatis, dan tragis.

_______

Aku menghela nafas pelan, lagi dan entah untuk yang keberapa kalinya selama tiga jam lebih aku berada disini. Terduduk di bangku tua yang menyebalkan karna setiap kali aku menggerakkan sedikit saja tubuhku decitannya seolah mengejekku.

Menyebalkan! Aku benci menunggu, terlebih karna sekarang eyeliner ku nyaris beku karna udara diluar yang sangat dingin dan penampilanku yang nyaris berantakan.

“Bodoh. Bodoh. Bodoh. Dasar namja bodoh!” 

Percaya dengan namja itu, dan menunggu selama tiga jam lebih memangnya apalagi jika tidak disebut, bodoh? Aku tahu pasti akan selalu seperti ini, seperti minggu lalu saat ia (namja bodoh itu) justru mendadak amnesia dan melupakan kencan kami sementara aku duduk menunggunya dan terpaksa menonton film di bioskop sendirian. Aku hampir saja gila!

Tidak lebih gila dibandingkan ini, saat dengan bodohnya aku percaya dan masih saja menunggunya ditengah badai salju dengan sehelai bolero tipis yang bahkan sudah sukses membuatku terlihat semakin bodoh.

Aku menjadi sebongkah besar patung es di tengah taman sepi tak berpenghuni, padahal jam sudah menunjukkan pukul 22.12 pm. Oh tuhan, ini benar-benar gila. Terlalu gila hingga rasanya aku ingin mati, menjadi roh gentayangan  lalu membunuh namja itu!

Sudah cukup aku menunggunya, namja itu, akan kubunuh saat bertemu denganku nanti!

Beranjak, aku baru saja akan melangkahkan kakiku pergi saat siluet sosok itu dengan ajaibnya tiba-tiba sudah berdiri tepat dihadapanku, yang entah sejak kapan juga  telah merengkuhku dalam pelukannya.

“Maaf. Maaf. Maaf  karna aku membuatmu menunggu terlalu lama..”  Dia bergumam lirih, nyaris berbisik namun masih bisa kudengar dengan jelas. Sepertinya dia memang sangat menyesal, dapat kurasakan melalui dekapannya yang semakin erat membawaku terbenam jauh, seolah ingin menghangatkanku diantara kedua tangan dan mantel tebalnya.

Aku mengulas senyum simpul, membuat sedikit pergerakan agar namja itu mau melepaskan pelukannya. Melihatnya dari jarak sedekat ini, entah kenapa amarah yang tadinya siap kuledakkan kapan saja seolah hilang, lenyap tak berbekas.

Namja ini bahkan terlihat jauh lebih berantakan dariku.

“Kau, darimana saja?” Hei, ini jelas bukan yang ingin kukatakan, maksudku  bukankah aku ingin marah padanya? Dan pertanyaan bodoh itu seolah meluncur begitu saja tanpa meminta persetujuan dariku.

“Aku sangat sibuk dengan rapat osis, aku bahkan langsung kemari dan– ”

“Kenapa kau tidak menghubungiku?! Aku sudah menunggumu selama tiga jam lebih, dan kau lebih memilih berada disana?”

Menyebalkan. Apa katanya, rapat osis? Jadi hanya untuk alasan konyol itu dia datang terlambat dan selama tiga jam lebih aku nyaris membeku karna menunggunya? Bodoh.

Aku menatapnya kesal, semakin kesal saat tanpa sengaja melihat seragam sekolah yang masih ia kenakan dibalik mantelnya.

Jadi dia benar-benar belum pulang kerumah sama sekali?!

“Maaf” Namja itu menunduk, aku tahu akan seperti ini.

Aku benci situasi saat dia meminta maaf dan dengan belas kasihan aku kembali memaafkannya.

“Jangan meminta maaf jika kau akan kembali mengulanginya lagi, Chanyeol-ah.. aku lelah denganmu.”

Park Chanyeol. Sosok namja tinggi dihadapanku ini adalah kekasihku, tak banyak yang tahu, karna dia yang notebene nya adalah namja terpopuler sekaligus ketua osis disekolahku mempunyai pekerjaan yang sangat sibuk. Sangat sibuk bahkan untuk sekedar mengobrol denganku dikoridor sekolah atau menemuiku saat makan siang dikantin. Menyebalkan, bukan?

Dia tampan, sangat tampan hingga terkadang aku merasa asing dengan status kami. Tentu saja karna selain dia tidaklah lebih pantas bersanding denganku. Dia sempurna, terlalu sempurna untuk gadis biasa sepertiku. Aku sendiri heran kenapa dia bisa memilihku diantara begitu banyak gadis di sekolah yang menyukainya, yang jauh lebih cantik dariku, yang selalu memujanya, dan rela membuatkan bekal atau memberinya setumpuk hadiah di loker.

Aku? Jelas aku bukan gadis semacam itu, jangankan membuatkan bekal untuknya, aku bahkan hampir setiap hari datang terlambat kesekolah karna bangun kesiangan. Sarapan saja tidak sempat, apalagi membuatkan bekal untuknya.

“Kau pasti lelah, pulanglah. Seharusnya kau tidak perlu datang kemari, lain kali kau hanya harus memberitahuku untuk tidak menunggu.”

Lihat, aku tidak berbohong, kan? Pada akhirnya aku akan memaafkannya, dan sederet kalimat pengertian itu seolah benar-benar membuatku terlihat sebagai kekasih yang baik.

Aku baru saja melangkahkan kakiku pergi saat lagi-lagi namja itu kembali menahanku, membuatku berbalik dan sejenak menatap satu tangannya yang melingkar sempurna dipergelangan tanganku.

“Saranghae.. Ji Hee-ah”

Masih terdiam. aku menatap tak percaya sosok yang kini justru balas menatapku lembut, membuatku tersadar dari lamunan seiring sebuah senyuman yang mulai mengembang dibibirnya.

Aku hanya balas mengangguk, tersenyum dan beranjak pulang,  meninggalkannya yang masih berdiri disana. Memang selalu seperti itu.

Ini bukan pertama kalinya dia mengucapkan kalimat sakral itu, ya, bagiku itu adalah sebuah kalimat sakral yang tidak bisa diucapkan untuk sembarang orang. Dan aku belum pernah mengucapkannya, untuk siapapun.

….

Tiada hari tanpa kata ‘menyebalkan’. Menyebalkan karna hari ini aku datang terlambat, lagi. Dan itu artinya tak ada jam untuk istirahat melainkan kembali bergelut dengan aroma busuk yang menguar setiap kali aku membersihkan toilet-toilet kotor itu.

Menyebalkan karna aku sangat lapar dan tak bisa pergi kekantin untuk sarapan sekaligus makan siang diwaktu yang sama.

Menyebalkan karna aku harus kehilangan selera makanku yang besar saat indera penciumanku yang selalu bermasalah dan malah menyimpan aroma busuk ini dalam-dalam.

Menyebalkan. Menyebalkan. Meyebalkaaaannn!!!

Ini semua sangat menyebalkan. Tapi tidak lebih menyebalkan daripada namja itu, Park Chanyeol si ketua osis yang memarahiku didepan semua orang yang ada gerbang sekolah dan menjatuhkan hukuman yang sama setiap harinya. Hei! Aku ini kekasihnya, kan??

Sangat sangat menyebalkan dan aku membencinya!

Aku melangkahkan kakiku malas, tak bertenaga karna aku memang belum makan apapun sejak pagi. Aku lapar, dan bau ini seakan menempel erat di seluruh tubuhku, tak mau hilang untuk sekedar membiarkan ku makan barang sejenak. Aku tak berselera.

“Terimakasih, tapi aku bisa memakannya sendiri.”

Tanpa sadar aku menghentikan langkahku saat segerombolan gadis yang entah sedang apa tiba-tiba saja menarik minatku. Bukan karna mereka lebih cantik dariku atau apa, tapi sosok namja yang berada tepat ditengah kerumunan itu benar-benar semakin memperburuk suasana hatiku hari ini.

“Bodoh.” Desisku pelan, kembali berjalan menuju kelas, dan melewatinya begitu saja.

Aku memang tidak pernah membuatkan bekal untuknya, jauh berbeda ketimbang gadis-gadis itu.

Kau yang kekasihnya Yeon Ji Hee, bukan mereka.

Benar. Tapi, apa itu tadi? Tsk, aku bahkan belum sarapan dan gadis-gadis genit itu mencekokinya dengan bekal yang mereka bawa. Jelas aku punya alasan untuk marah, bukan? Menurutku, setidaknya mereka harus memberiku sekotak bekal, jika tidak Chanyeol akan membuangnya ketempat sampah karna terlalu kenyang. Tidakkah itu sia-sia?

Oh, aku benar-benar sangat lapar.

…..

Hari sudah semakin sore saat bel pelajaran terakhir menutup kegiatan belajar mengajar hari ini, dan sama sekali tidak ada alasan untukku berlama-lama tinggal  ditempat ini, selain pulang. Toh, aku bukan gadis seperti mereka yang perlu menunggu namjachingu nya untuk bisa pulang bersama.

Dia orang yang sibuk, aku sudah  mengatakannya dari awal. Dan sepertinya aku pun mulai lelah dengan semua ini, jika kau berada di situasi seperti ini, mungkin kau akan mengerti.

Mengingat satu fakta lain bahwa sejak dulu, aku dan Chanyeol adalah teman semasa kecil. Kami berteman dan bersekolah disekolah yang sama, sejak masa kanak-kanak hingga kami tumbuh dewasa, tentu aku adalah satu-satunya orang, selain orang tuanya yang juga sangat mengenal keseluruhan dari namja itu.

Dia baik. Dia sempurna. Tapi hal yang jauh lebih penting dari itu semua adalah, bahwa hingga saat ini dia masih belum bisa membuatku mencintainya. Sama seperti dua tahun yang lalu, saat liburan musim panas, dia yang tiba-tiba mengajakku pergi kepantai lalu menyatakan perasaannya, serta aku yang menerimanya dan kami sepakat memulai hubungan dengan status berbeda.

Kurasa selama bertahun-tahun menjadi temannya, dan sejak dua tahun terakhir saat status kami menjadi berbeda tidaklah cukup untuk bisa membuat perasaan itu bersemi. Cinta, adalah dasar dari segalanya.

Tak ada yang istimewa bahkan untuk satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun atau sepuluh tahun kedepan. Tetap berpura-pura dan terus menahan rasa tidak nyaman setiap kali dia memperlakukanku selayaknya seorang kekasih.

…..

“Kenapa?”

Terdiam. Aku menatap kosong namja dihadapanku yang kini tengah berlutut, mengenggam kedua tanganku seolah perkataanku barusan sama sekali tak bisa ia cerna dengan baik.

“Chanyeol-ah, kumohon mengertilah..”

Dia menggeleng kuat, dapat kurasakan sorot matanya yang menghujamku dengan ketulusan, membuatku merasa bersalah. Tapi sekali lagi, tak ada pilihan lain untukku melakukan ini.

“Kau tampan, kau sangat baik, kau sempurna Chanyeol-ah. Jadi, bagunlah dan jangan bersikap bodoh seperti ini. Kau bisa mendapatkan gadis yang jauh lebih baik dariku. Arasseo?”

Alasan konyol. Kembali membual, sangat jelas terlihat jika saja namja ini mau melihatnya dengan jeli. Tapi, disini, sedari tadi Chanyeol masih bersikeras, kembali menggeleng dan sepertinya enggan beranjak untuk menghentikan semua ini. Percakapan panjang yang dramatis tanpa keputusan.

Oh, ayolah~ Berapa lama lagi ini akan berakhir?

“Benarkah, kau berpikir seperti itu tentangku? Jika iya, lalu kenapa kau memutuskan hubungan kita? Ji Hee-ah jelaskan padaku.”

Ini memalukan. Aku sangat malu sampai-sampai tak bisa memikirkan kalimat balasan yang hendak kuucapkan untuknya. Kau tahu, disini, kerumunan besar orang sedang melihat sebuah adegan dari drama menjijikkan antara aku dan Chanyeol. Tepat ditengah, jalanan Myeongdeong, tempat seharusnya orang berlalu-lalang.

Aku sangat malu dan hampir saja gila saat tatapan sinis dan lontaran-lontaran sepihak itu menghujam dan menusuk indera pendengaranku, perkataan menyakitkan dari orang-orang yang sepertinya tak sabar melihat gadis pembual sepertiku berlama-lama menyiksa namja berhati malaikat seperti Chanyeol.

Sekarang, apa yang harus kulakukan?

Aku menelan ludah gugupku, semakin gugup karna otakku benar-benar buntu untuk mencari jawaban yang tepat.

“Maaf. Tapi sejauh ini, aku tidak juga bisa merasakannya. Perasaan yang seharusnya ada diantara hubungan kita.”

Terkesan terlambat mengingat hubungan kami yang sudah berjalan tiga tahun, dan aku baru mengatakannya sekarang? Masa bodoh karna tidak ada jawaban yang lebih baik yang terlintas saat ini.

“Tapi, bukankah kita sudah melewatinya selama ini? Jadi–”

“Mianhae..kurasa, lebih baik kita berteman saja, seperti dulu Chanyeol-ah.“ Aku menarik paksa kedua tanganku yang berada dalam genggamannya, berniat pergi dan meninggalkan Chanyeol yang masih tampak syok disana.

“Tidak bisakah kau memberiku satu kesempatan lagi? Berikan aku kesempatan untuk bisa membuatmu mencintaiku Ji Hee-ah..”

Samar-samar kudengar perkataan itu keluar bersama isakan kecil tertahan dari Chanyeol yang berada beberapa langkah dari tempatku berdiri.

Suara riuh yang semakin membuatku bersalah karna telah membuat seorang namja sebaik Chanyeol menangis. Tuhan, apa aku benar-benar buruk sekarang?

Aku berbalik, dan menemukan namja itu masih setia menungguku disana, menatapku penuh harap seolah ini semua memang tidak bisa berakhir begitu saja.

Lidahku kelu, rasanya seperti terjebak dalam sangkar besi yang membuatku tak bisa keluar. Mungkin memang seharusnya seperti ini, bersama dengan namja itu bukanlah hal yang buruk yang bisa ku hindari, bahkan jika itu adalah takdir yang harus kujalani selamanya.

Chanyeol mendekat, dan satu tarikan kuat dari namja itu hingga membuatku jatuh kedalam pelukannya.

“Berikan aku satu kesempatan lagi, aku berjanji akan memperlakukanmu lebih baik lagi Ji Hee-ah.. berusaha keras untuk membuatmu mencintaiku.”

Mungkin. Mungkin. Dan mungkin.

Mungkin hubungan ini tidak akan pernah bisa kuputuskan begitu saja dengan mudah, semudah saat aku menerima pernyataan cintanya tiga tahun yang lalu.

Mungkin suatu hari nanti Chanyeol bisa membuatku memiliki perasaan yang sama sepertinya.

Dan mungkin aku harus kembali menjalani semua ini, takdir yang tidak akan pernah membuatku lepas dari namja bernama Park Chanyeol.

Aku mengangguk pelan, sedetik berikutnya jelas kurasakan namja itu mempererat pelukannya, dia terlalu bahagia, hingga rasanya tubuhku melayang karna Chanyeol yang mengangkatku bersamaan dengan riuh tepuk tangan dan sorakan yang bersahutan di sekitar kami.

Perlahan, kedua sudut bibirku mulai terangkat. Tersenyum miris dengan keputusanku sendiri yang lebih memilih untuk memberinya kesempatan kedua. Entah ini salah atau tidak.

Sungguh tak kusangka semua akan menjadi serumit ini, melihatnya tersakiti karena aku adalah sebuah kesalahan besar, tapi membiarkan diriku terjebak oleh sebuah kebohongan karena berpura-pura mencintainya adalah sebuah kesalahan yang sanggup merenggut kebahagiaanku seluruhnya.

Terlihat sederhana, awalnya. Tapi, jauh dari itu semua adalah bahwa begitu banyak kenyataan dari sisi lain, dimana semua terasa gelap, rumit dan menyakitkan.

Relationship = Manis, dramatis, dan tragis.

***

Aku mengulas senyum simpul, mendapati namja itu berada disana sejauh aku memandang,  seolah mampu memberi efek nyata bagi detak jantungku, seakan benda kecil itu bisa meledak kapan saja bersama debaran-debaran yang semakin kencang seiring langkah kaki yang  membawa ragaku lebih dekat pada sosoknya.

Namja yang juga tengah menungguku, tersenyum dan terlihat semakin rupawan dengan tuxedo hitamnya yang tampak serasi dengan wedding dress putih yang membalut tubuh mungilku.

Namja dimana aku akan menghabiskan seluruh sisa hidupku, membagi separuh jiwaku, dan memberikan seluruh cintaku hanya padanya seorang.

Namja yang kini telah mengambil alih tanganku dari Appa, dan akan segera mengikrarkan janji suci kami disini, di depan pendeta dan seluruh undangan sebagai saksi, serta Tuhan yang turut serta mengizinkan, bahwa abadi, selamanya kami akan saling mencintai.

“Apakah kau, Yeon Ji Hee, menerima Xi Luhan sebagai suamimu yang sah? Apakah kau berjanji untuk mencintai dan mendukungnya pada saat senang dan susah? Pada saat sakit dan sehat selama kalian berdua terus hidup? ”

“Saya bersedia.”

Sebuah ikrar suci, sebuah status hubungan tanpa batas waktu dengan cinta sebagai pengikatnya. Abadi, sampai hari dimana kedua mataku akan terpejam untuk selamanya.

Perlahan, aku menutup kedua mataku saat deru nafas kami kembali bertemu, menjatuhkan material terlembut didunia dengan hisapan manis yang memabukkan. Sebuah pagutan dari dua insan yang saling mencintai sebagai penutup untuk janji yang telah terucap.

Chanyeol-ah, bagaimana kabarmu? Apa kau juga telah menemukan takdirmu? Disini, aku telah menemukan milikku…

__

Karna takdir telah berkata lain, sejauh apapun kita telah mencobanya. Kau dan aku, tidak akan pernah bersatu… Park Chanyeol.

**FIN**

32 thoughts on “FF: Relationship between Us (One Shoot)

  1. nina berkata:

    ow ternyata ini semacam flashback iah eon??
    tp kaga dijelasin kah kemana chanyeol dan kok akhir na bisa putus? trs bisa sm luhan juga??
    bagus eon🙂

    • chanminmaa berkata:

      Makasih udah mau baca dan komen ^^
      Maaf kalo kurang jelas buat kepergiannya Chanyeollie (?), takutnya ntar ini ff gaje bikinan author jadi longshot yang membosankan soalnya-_-

    • chanminmaaa berkata:

      Terimakasih sudah mau baca dan komen ^^
      Iyaa, maaf kalo ada yang kurang jelas sama kepergian Chanyeollie(?)
      author takut aja ntar ini ff jadi semakin gaje dan membosankan~ saya usahain buat bikin sekuel, jangan lupa baca🙂

  2. Zein berkata:

    sad ending 4 chanyeol
    “oppa kau tdk perlu mnbuat’a mencintaimu krn ada orang yg dgn sukarela memberikan hati’a untuk mu yaitu aku” #d timpuk sendal sma exotic

    thor maaf agak ngaur tapi crita’a daebak thor !@

  3. rani berkata:

    wah gak nyangka bgt ceritanya bakal kaya gini
    dari td aku mennggu sosok luhan
    dia datang terakhir dan memebuat perubahan besar
    keren bgt nieh ff daebak buat authornya

  4. dedekejju berkata:

    Keren. .. huah daebak kata-katanya bagus. .. biasa nulis ya unn?

    Bikin sequel chanyeolnya dong un… penasaran gimana mereka bisa putus dan akhirnya ketemu sama luhan. ..

  5. Sherly Ardhianto berkata:

    huhuhuhu T.T
    nyesek rasanya t.t

    tapi setelah baca ni FF aku jadi punya suatu pemikiran “mungkin pacarku yang sekarang bukan jodohku”🙂

    FFnya bagus :)) 4 jempol deh kkkkkkk~~~~~

  6. mega yuli berkata:

    thor kerennn cerita nya, tapi kemana chanyeol, apa dia ceritanya meninggal ?
    ada sekuel nya lagi dong thor , sambungan POV chanyeol
    keep writing ya thorrr
    apalagi buat chanyeol my Bias

  7. EXOka berkata:

    Yak! Mana Chanyeol Oppa?? -_-
    sempet kaget sih, kenapa tiba” Chanyeol Oppa ngilang (?) & Ji Hee Eonni jadi nikah sama Luhan Oppa.-.

    Daebak, thor! n_n

  8. Miyu berkata:

    Chanyeolnya kamana ieu? Putus atau meninggal eon? Huawaa bener banget tuh manis iya, tapi endingnya selalu mendramatisir keadaan dan berakhir tragis waaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s