FF EXO : AUTUMN Chapter 4

autumn

Author  :  Oh Mi Ja

Cast :  Leeteuk SJ as Park Jungsoo

Luhan EXO as Park Luhan

Kai EXO as Park Jongin

Sehun EXO as Park Sehun

Support Cast      : Kris EXO as jaksa

Suho EXO as Pastor

Taemin Shinee as Lee Taemin

JR JJ Project as Park Jin Young

Jonghyun CN Blue as Lee Jonghyun

Shindong SJ as Shin Donghee

Dongho Ukiss as Shin Dong Ho

Genre                   : Brothership, Family, Mystery, Comedy, Friendship

“Sonsengnim bilang aku sangat pintar dan juga lucu. Diantara seluruh murid, hanya aku yang bisa menjawabnya. Soalnya sangat mudah, appa. Luhan hyung pernah mengajarkannya padaku. Bukankah aku hebat?”Sehun terus saja bercerita panjang lebar, menceritakan seluruh kejadian yang terjadi di sekolahnya tadi dengan menggebu-gebu.

Seperti biasa, tuan Park hanya tersenyum dan sesekali mengangguk mendengar cerita anak bungsunya itu.

“Sehun-ah, kau sangat berisik”ketus Jongin kesal

Sehun mencibir, “aku tidak menyuruhmu untuk mendengar ceritaku, hyung”

“Tapi—“

“Sudahlah, adeul”lerai tuan Park, menghentikan pertengkaran yang hampir mulai itu. Kemudian, ia menatap dua anaknya lekat. Dalam ketediamannya, ia berusaha mengumpulkan keberanian. Menyembunyikan kenyataan dan mengarang sebuah cerita kebohongan. Jongin dan Sehun masih terlalu kecil untuk ini. Untuk mengetahui bahwa appanya telah dituduh melakukan penggelapan uang perusahaan.

“Jonginie, Sehunie..”seru tuan Park pelan.

Jongin dan Sehun sama-sama menoleh, “wae appa?”

“Emm…sepertinya appa tidak bisa tinggal bersama kalian untuk beberapa waktu”

“EHH? WAEYO??!!”Sehun dan Jongin berseru bersamaan.

“Appa harus ke luar negeri untuk mengurus beberapa pekerjaan, adeul”

“Andwaeyooo!!”protes Sehun langsung menggelengkan kepalanya. “Appa tidak boleh kemana-mana!”

“Appa, biasanya appa akan mengajak kami pergi. Kenapa kali ini appa pergi sendirian?”sahut Jongin juga mengerucutkan bibirnya seperti Sehun.

“Appa akan pergi dalam jangka waktu yang lama sehingga tidak bisa mengajak kalian. Bukankah kalian harus bersekolah?”

Sehun semakin cemberut, “shireo! Aku tidak mau pergi ke sekolah jika tidak ada appa. Aku mau ikut!”

Jongin mengangguk, “Aku juga!”

Tuan Park menghela napas panjang, “Adeul…”

“Shireo shireo shireo shireo” Sehun terus saja melakukan penolakan. Ia meninggalkan sumpitnya. Duduk bersandar dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada lalu menggelengkan kepalanya. “Shireo!”

Luhan juga menghela napas panjang. Sedikit mustahil memang bisa mendapatkan ijin dari kedua adiknya itu. Sejak dulu, jika akan mengurus pekerjaan di luar negeri, tuan Park selalu saja membawa ketiga anak mereka bersamanya. Tapi kini, kenyataannya berbeda. Nyatanya dia pergi bukan untuk urusan pekerjaan.

“Appa, aku mau ikut!”tandas Jongin keras kepala.

“Sehunie, Jonginie..”Akhirnya Luhan bersuara, mencoba membantu appanya yang terlihat sudah putus asa dengan keras kepala dua adiknya itu. “Appa harus bekerja. Sebaiknya kita menunggu appa di rumah”

“SHIREO!!”seru Jongin dan Sehun bersamaan.

“Yak! Kalian membuat appa sedih”

Sehun dan Jongin mendongak. Menatap wajah tuan Park yang menunduk dan terlihat murung. Keduanya saling pandang, menyadari bahwa mereka sudah membuat appanya bersedih.

“Appa..”Sehun mengguncang-guncang lengan appanya pelan. “Appa, mianhae”

“Appa..” Jongin juga berseru

Sehun dan Jongin kembali saling pandang dengan wajah memelas. Kemudian, helaan napas panjang Jongin terdengar berat.Ia menggigit bibir bawahnya kelu.

“Engg..Jika appa mau pergi bekerja, kami akan mengijinkannya. Tapi, appa jangan bersedih”tambah Jongin lagi sambil mengguncang lengan tuan Park.

“Appa juga harus cepat pulang”lanjut Sehun melunak.

Tuan Park mengangkat wajahnya. Lapisan bening sudah terbentuk dikedua matanya. Semakin merasa sedih dan bersalah. Dalam hati, ia terus mengucapkan syukur pada Tuhan karena sudah dikaruniai tiga orang putra yang memiliki rasa sayang begitu besar padanya.

“Appa, mianhae. Uljimaa…Aku tidak akan melarang appa lagi. Mianhae..”seru Sehun juga ikut menangis.

Jongin juga ingin menangis namun sekuat tenaga ia menahan air matanya. Ia berdiri, menghampiri appanya dan memeluknya erat. “Appa, saranghae”

Dan disusul oleh Sehun yang juga langsung menghambur kearah tuan Park. Tuan Park mendekap kedua anaknya itu erat-erat. Semakin menangis karena ia harus meninggalkan mereka dalam waktu yang lama.

Didepannya, Luhan membuang pandangan. Mencoba menyembunyikan wajahnya yang sudah basah dan secara sembunyi-sembunyi menghusap air matanya dengan lengan baju.

‘Tuhan, aku mohon. Jangan buat adik-adikku menanggung beban ini’

***___***

“Appa, akan pergi besok?”tanya Sehun menghentikan tuan Park yang sedang membacakan buku cerita untuknya. Malam itu, Luhan, Jongin dan Sehun memutuskan untuk tidur bersama tuan Park di kamarnya.

Tuan Park menutup bukunya lalu memandang anaknya itu lekat, “wae?”

“Ani. Hanya saja jika appa pergi, tidak ada lagi yang membelaku jika dijahili oleh Jongin hyung”

Tuan Park tertawa kecil, “bukankah ada Luhan hyung?”

“Keundae, biasanya aku akan mengadu pada Luhan hyung, bibi Kwon dan appa”

“Arasseo, adeul. Appa akan memperingatkan Jongin untuk tidak mengganggumu lagi”

“Yaksoo?” Sehun mengulurkan jari kelingkingnya pada tuan Park

“Yaksoo”jawab tuan Park mengaitkan jari kelingkingnya lalu mengacak rambut Sehun. Kemudian, tuan Park menoleh ke sisi kiri. “Jonginie, berjanjilah pada appa untuk menjaga adikmu”

“Aku selalu menjaganya, appa”ujar Jongin tanpa membuka matanya

“Dan jangan mengganggunya lagi”

“arasseo”

“Luhan hyung, apa yang kau lakukan disitu? Cepat kemari. Kita tidur bersama appa”

Sehun memanggil Luhan yang sedang asyik menyendiri, menatap keluar jendela bersamaan pikirannya yang juga melayang tinggi. Besok adalah waktunya dan hari ini adalah kesempatan terakhir berkumpul bersama.

“Luhan hyung..”panggil Sehun lagi. “Palli-wa.Jongin hyung bahkan sudah tertidur. Besok kita bisa kesiangan”

Luhan menoleh kemudian memaksa dirinya untuk tersenyum. “Arasseo”jawabnya pelan.

Luhan berjalan menuju ranjang, menghampiri Jongin, tuan Park dan Sehun. Namja tampan itu lalu menjatuhkan dirinya di bagian paling ujung, disebelah Jongin.

“Adeul, ayo pimpin berdoa”

“Yee appa”

Luhan menggenggam tangannya di depan dada. Memejamkan matanya dan mulai berseru pada Tuhan.

“Tuhan, terima kasih atas berkah yang kau berikan hari ini. Semoga besok, Kau memberikan kebahagiaan yang berlimpah untuk kami. Amin”

Menyelesaikan seruan tulusnya yang ditujukan untuk Sang Maha Kuasa, Luhan membuka matanya perlahan. Menatap lekat wajah-wajah kedua adiknya serta appanya.

“Adeul, jaljayo”seru tuan Park sambil menghusap rambut Luhan lembut

Luhan mengangguk beriringan dengan air matanya yang terjun bebas si pipinya. “Nado appa”

“uljima” Kali ini tuan Park berbicara dengan gerakan bibir tanpa mengeluarkan suara. Takut jika Sehun melihat wajah sedih Luhan dan appanya. Ia juga menatap Luhan lirih.  Sangat lirih hingga ia sendiri sangat ingin menangis.

“Appa, Luhan hyung, jaljayo”

Sehun menarik selimutnya hingga menutup hingga dada. Memejamkan matanya tanpa mengetahui jika Luhan dan appanya sedang menangis dalam keheningan.

***___***

Inilah saatnya. Detik-detik terakhir perpisahan itu. Detik-detik terakhir senyuman-senyuman lebar dua anak polos yang tidak mengetahui apapun. Bahkan mungkin mereka tidak menyangka sama sekali saat ini masalah besar itu sedang menimpa keluarga mereka. Akan merenggut kebahagian hari-hari mereka.

“Aku sudah selesai!!”jerit Sehun sembari menelungkupkan garpu dan sendoknya.

“Aku juga..”sahut Jongin

“Appa, mianhae. Kami tidak bisa mengantar appa ke bandara. Kami harus bersekolah”

Tuan Park tersenyum, “gwenchana, Jonginie”

“Huh, padahal kita bisa membolos satu hari untuk mengantar appa”cibir Sehun sedikit kesal

“Andwaeyo. Kalian tidak boleh membolos. Ingat, appa tidak mau nilai kalian menjadi jelek. Terus pertahankan peringkat kalian. Aracchi?”

“Arasseoyo”jawab Jongin dan Sehun serempak.

Tiba-tiba bibi Kwon menghampiri tuan Park dan anak-anaknya. Wajahnya terlihat keruh karena sudah mengetahui segalanya.

“Tuan, ada yang mencari anda”

“Nugu?”

“Tuan Kim Donghyun” Bibi Kwon menjawab dengan hati-hati. Berusaha tidak menyebut ‘tittle’ dari seseorang yang mencarinya.

Tuan Park dan Luhan sama-sama tersentak. Tidak disangka waktunya sudah berakhir.

“Nde. Algesoyo. Aku akan menemuinya”

Tuan Park mengembalikan pandangan pada ketiga anaknya. Terutama pada Luhan yang sudah pucat pasi. Tubuhnya bahkan sangat terlihat bergetar.

“Adeul, appa harus pergi sekarang”

“Baiklah. Kami juga mau pergi sekolah”

Jongin menuruni kursinya lalu membantu Sehun. Ia menggandeng tangan adiknya itu menuju depan rumah bersama dengan tuan Park dan Luhan yang mengikuti mereka dari belakang. Secara diam-diam, tuan Park menghusap punggung Luhan. Mencoba menguatkan anak sulungnya itu. Ia sangat tau, Luhan adalah orang paling terluka akibat masalah ini. Mulai sekarang, tanggung jawabnya akan semakin besar. Menutupi masalah appanya, menguatkan hatinya dan menjaga adik-adiknya.

Sampai di depan pintu, Kim Donghyun sudah terlihat berdiri manis. Ia sedikit membungkuk saat tuan Park keluar.

“Anda sudah siap tuan?”

“Appa, nuguya? Aku tidak pernah melihat ahjussi ini. Apa dia karyawan baru?”seru Sehun merasa asing dengan wajah Donghyun

Tuan Park tergugu. Tidak bisa menjawab pertanyaan Sehun yang sebenarnya adalah jenis pertanyaan yang biasa.

Menolong kebisuan tuan Park, Kim Donghyun tersenyum lalu berjongkok di depan Sehun. “Nde, anak manis. Aku adalah karyawan baru diperusahaan appamu”

“Jinjja?”

“Nde”

“Arasseo. Ahjussi harus menjaga appaku dengan baik dan jangan lupa membawanya untuk segera pulang”

Kim Donghyun mengulurkan tangannya, lalu mengacak rambut Sehun gemas. “Arasseo”

“Ahjussi, tolong paksa appaku minum obat saat siang dan malam hari. Appa harus minum vitamin dengan teratur. Jika sedang asyik bekerja, appa suka lupa waktu dan tidak minum vitamin” suara dingin Jongin terdengar seperti setengah mengancam.

Kim Donghyun kembali tersenyum, “Arasseo, tuan muda”

Dan saat perpisahan itu tiba. Tuan Park berjongkok di depan Sehun pertama kali. Memuaskan dirinya untuk menatap wajah anak yang paling ia sayangi itu. Wajah imutnya, ekspresinya saat sedang marah dan semua tentangnya. Tidak akan bisa dihapus dan sudah terekam mati diotaknya. Dia pasti akan sangat merindukan cerocosan dan seluruh aduannya tentang Jongin.

“Appa, saranghae”

Sehun langsung mendekap tubuh appanya erat-erat. Tangisnya pecah. Ia menumpahkan air matanya di pundak tuan Park.

“Appa harus cepat pulang. Kalau tidak, aku akan menyusul appa dan memaksa appa untuk pulang”isak Sehun

“Appa sangat menyayangimu, Sehunie. Kau adalah anak kesayangan appa. Teruslah belajar dan menjadi anak yang hebat”

Tuan Park melonggarkan pelukannya lalu mengusap air matanya yang juga sudah tumpah. Tangannya terulur, menghusap air mata milik Sehun dan tersenyum lembut.

“Bolehkah appa menciummu?”

Sehun mengangguk dan akhirnya ciuman penuh kasing sayang itu mendarat di keningnya. Setelah kembali menatap anak bungsunya beberapa saat, tuan Park beralih pada Jongin. Seorang anak yang memiliki kepribadian ganda di matanya. Yah, dia akan bersikap dingin dengan siapapun yang tidak dikenalnya. Seolah-olah sudah menjadi namja dewasa padahal kenyataannya dia masih berada di bangku kelas 3 SMP. Berbeda jika berada di rumah, sebenarnya dia adalah tipe anak yang ceria, suka menjahili Sehun dan tidak bisa diam. Dibalik sikap dinginnya itu sesungguhnya ada sifat perhatian dan melindungi keluarganya.

Sama seperti saat ini, anak berkulit paling gelap di keluarga Park itu tengah membuang muka.Menyembunyikan wajahnya tanpa berani menatap appanya. Ia sedang menyembunyikan sebuah tangis. Tangis tertahan yang sebenarnya tidak ingin ia tunjukkan.

“Kau menangis?”

“Aniyo”jawab Jongin nyaris bergetar

Tuan Park menggenggam tangan Jongin, “kau menangis”

Jongin benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Ia memeluk appanya bersamaan tangisnya yang juga terdengar.

“Appa, aku sangat menyayangi appa. Aku mohon appa cepat kembali”

Tuan Park melonggarkan pelukannya, juga menghusap air mata Jongin yang sudah membasahi pipinya.

“Berkali-kali kau mengharumkan nama sekolah dan membuat appa sangat bangga padamu. Bisakah kau berjanji pada appa untuk menjadi kakak yang baik dan anak yang baik?”

Jongin mengangguk.

“Appa sangat menyayangimu, Jongin-ah. Sangat sangat menyayangimu”

Dan yang terakhir. Kepada satu-satunya orang yang mengetahui segalanya. Seseorang yang sekuat tenaga menutupi seluruh kesedihannya dan bersikap bahagia. Tanpa mengucapkan sebuah kata, kedua tangan itu mendekap tubuhnya yang bergetar. Memberikan pundak untuk kepalanya. Tangisnya pecah. Sangat pilu terdengar dan sesenggukan. Membuat Jongin dan Sehun sedikit bingung karena kakak sulungnya itu bukanlah tipe orang yang gampang menangis. Sama seperti tuan Park, ia hanya pernah menangis hingga sesenggukan saat kematian ibu mereka. Namun, kali ini tangisan itu terdengar lagi.

“Adeul, mianhae. Jeongmall mianhae”

Tenggorokannya cekat. Tidak mampu mengeluarkan sebuah suara lagi. Ia hanya menjawab dengan anggukan dan pelukannya yang semakin mengencang.

“Hyung, kenapa Luhan hyung terisak seperti itu?”bisik Sehun

Jongin menggeleng, “molla Sehunie”

“Aku akan membantu appa untuk membuktikan bahwa appa tidak bersalah. Aku berjanji”

***___***

“Luhanie, kau membuatku sangat cemas. Aku mohon makanlah walaupun sedikit”seru Jonghyun sangat khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.

“Persidangan akan dilaksanakan tiga hari lagi, Jonghyun-ah”balas Luhan pelan. “Appaku tidak bersalah sama sekali”

“Arra. Tapi aku mohon jangan menyiksa dirimu seperti ini. Tidak hanya aku, Donghae sonsengnim juga sangat mengkhawatirkanmu”

“Jonghyun-ah, ottokhe?Apa yang harus ku jelaskan pada kedua adikku? Bahkan bertemu dengan mereka saja, aku benar-benar tidak sanggup.Bagaimana jika mereka mengetahui bahwa aku sedang berbohong?”

“Luhanie…”

***___***

Kecemasan yang dirasakan oleh Jonghyun akhirnya membuatnya memutuskan untuk menginap di rumah Luhan. Walaupun tidak bisa menenangkan, setidaknya ia bisa memantau emosi sahabatnya itu. Seperti saat ini, Luhan lagi-lagi duduk menyendiri di balkon teras belakang rumahnya. Menatap langit dengan pandangan kosong tanpa ingin di ganggu siapapun.

“Jonghyun hyung, apa tim sepak bola kalian kalah?”tanya Sehun membuyarkan lamunan Jonghyun

Jonghyun menggeleng, “aniyo. Wae?”

“Kenapa Luhan hyung bersedih? Biasanya alasannya bersedih adalah kekalahan tim sepak bola kalian”

“Mungkin Luhan hyung sedih karena appa pergi”sahut Jongin sambil memberikan susu hangat pada Sehun.

“Ehh? Mana mungkin.Luhan hyung bukan tipe namja yang cengeng. Mana mungkin dia menangis karena itu”

“Benar juga”

Sehun meletakkan gelas susunya diatas meja lalu melanjutkan kata-katanya kembali, “tapi, jika memang benar Luhan hyung bersedih karena ditinggal oleh appa artinya aku bukanlah anak appa yang paling cengeng hihihihi”

“Pabo. Kau adalah anak yang cengeng”

“Aniyo. Lihat saja, aku tidak menangis saat ini. Sedangkan Luhan hyung menangis tadi pagi hingga terisak dan saat ini dia juga bersedih. Artinya aku yang lebih kuat”protes Sehun habis-habisan

“Sudah..sudah..Sehunie, cepat habiskan susumu dan pergilah tidur”

“Keundae, susu ini masih panas hyung”

“Ah! Aku lupa memberikan air dingin. Mianhae..biar aku tiupi untukmu”

Jonghyun tersenyum menatap dua anak terkecil keluarga Park itu. Mereka terlihat bahagia. Sedangkan seseorang yang sedang menyendiri itu sedang menikmati kesedihannya seorang diri. Tidak mau berbagi. Jonghyun menatap punggung itu lirih.

‘Kau benar, Sehunie. Kau lebih kuat darinya’

***___***

Keesokan harinya setelah pulang sekolah, Luhan mendatangi kantor polisi tempat tuan Park di tahan dengan ditemani oleh Jonghyun. Yah, Jonghyun bersikeras untuk ikut hingga membuat Luhan kesal dan akhirnya membiarkan sahabatnya itu.

“Appa, sudah makan?”tanya Luhan saat ia bertemu dengan tuan Park di ruang besuk tahanan.

Tuan Park mengangguk, “appa makan sangat banyak hari ini. Kau?”

“aku juga sudah”

“Gojitmal”

“Jinjja”

“Kau tidak bisa membohongi appa, Luhanie. Bahkan pipimu terlihat sangat tirus”

Luhan tersenyum, “gwenchana appa”

Tuan Park menggenggam tangan Luhan dan menatap anak sulungnya itu lekat.

“Kau sudah berjanji untuk menjaga Sehun dan Jongin. Apa kau menepati janjimu?”

Luhan tersentak mendengar pertanyaan appanya. Ia sedikit menunduk kemudian menggeleng.

“mianhae appa”

“Appa tau kau pasti sangat sedih. Tapi, appa mohon jangan tunjukkan itu didepan kedua adikmu. Mungkin ini terdengar egois tapi Sehun dan Jongin masih terlalu kecil untuk mengetahui masalah ini. Kau adalah anak sulung appa, appa sangat berharap padamu, Luhanie”

***___***

Jonghyun langsung mengambur kearah Luhan saat melihat namja itu keluar dari ruang besuk. “ottokhe? Kau sudah bertemu Leeteuk ahjussi?”

Luhan mengangguk, “apa kau melihat Kim Donghyun ahjussi? Aku ingin bertemu dengannya”

“Tadi dia ke ruangan di ujung sana.Aku rasa dia menghampiri seorang polisi. Molla”

“Luhan-sshi…”

Tiba-tiba suara seseorang terdengar. Luhan dan Jonghyun sama-sama menoleh.  Ternyata Kim Donghyun. Pengacara itu menghampiri Luhan dengan muka masam. Ada raut bersalah disana. Ia menepuk salah satu pundak Luhan.

“mianhae..”

“ehh?”

“Polisi sudah menemukan bukti dan appa-mu sudah di tetapkan sebagai tersangka”

“MWO?!!”

TBC

Iklan

28 thoughts on “FF EXO : AUTUMN Chapter 4

  1. nina berkata:

    eon sedih eon T.T
    kasihan sehun kkamjong luhan sm tuan park
    luhan yg ditinggal dgn beban yg berat
    ikutan nangis pas perpisahan tuan park sm sehun kkamjong
    yaahhhh kok beneran bersalah sih
    aaaaa itu bohong!!!!!
    manipulasi data, trs nyalahin tuan park
    aaaa kasihan mereka semua 😥

  2. amel berkata:

    kasihan luhan menanggunya sendiri :”( kai sma sehun gak tau apa-apa jdi fine2 aja :’)
    gak mungkinn tu data2 bukti pasti boongan semua, masa appanya luhan, kai, sehun, seorang koruptor ANDWEE :”

    makin penasaran thor 😀 phublisnya jgn lama2 ya thor 😉
    baru kali saya benar2 terganggu dengan yg namanya TBC -_-

  3. Tiikaa berkata:

    Kyaaaa,,, eonie 😦
    Chapter ini sedih bnget…
    Apalagi wktu sehun , jongin , luhan nganter tuan park.. Huhu

    Disini bebannya luhan berat banget eon..
    Kasian luhannya..
    Trus eon,, tuan park bneran jdi tersangka??

    Trus bukti apa yg ditemukan itu..??

  4. Nabila berkata:

    Luhan kayaknya di nistain banget sama author disini, masih sakit hati dengan KaiLu thor? ._.

    Ah kerennn…
    Thor itu,
    “Normal
    0

    false
    false
    false

    EN-US
    X-NONE
    X-NONE”
    Apaan sih._. kok ikut nyempil._.

    Benerkan, TBC di fanfict author tuh bener-bener ga banget -_-

  5. choi hye mi berkata:

    “MWO?!!”
    TBC
    ckck.. Apa”an itu -,-
    hbis mwo tba” tbc –”
    tpi thi thehun thok ga cengeng XD
    Normal
    0
    false
    false
    false
    EN-US
    X-NONE
    X-NONE
    Tpi itu apaan deh yg diatas? Awal.a aku kira lirik lagu XD

  6. ... berkata:

    Annyeong aku reader baru 🙂
    dan baru komen di chapter ini aja, hihihi.. 😀

    kyyaaaaaaaa thoorrr ini sedih banget, aku sampai nagis bacanya u,u
    kasian Luhan, kasian kai, kasian sehun, kasian juga semuanyaaa…… dan kasian juga aku karna nggak bisa ketemu kai *ngawur*
    Lanjuutt ke chapter selanjutnya~~>

  7. klymgirl berkata:

    Aaaaa sedih banget ini apalagi pas pada pisah pagi” itu 😦
    Ihhh itu pasti ada yang jebak tuan park supaya dia dipenjara deh
    Kasian sehun, luhan sama jongin nyaa

  8. Lee anhee berkata:

    Sedih bnget thor sampai sampai kamarku banjir air mata Kasihan sama Sehun, kai, terutama Luhan dan Leeteuk oppa..

    Semangat untuk melanjutkan ffnya thor.. Neomu neomu Daebak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s