FF : Your Guardian

your guardian

Tittle                      : Your Guardian

Author                  : Oh mi Ja

Main Cast            : Lim Hyunshik (BtoB), Park Hyemi

Genre                   : Fantasy, Romance

HYUNSHIK POV

Aku memandangi seorang gadis yang sedang duduk termenung dibalkon kamarnya. Matanya menatap kosong kedepan. Wajah cantik yang biasanya diisi keceriaan kini hilang, sudah 2 minggu ini ia selalu diam dan tidak bersuara. Ia seperti tidak berjiwa.

Sejak kecelakaan yang menimpa kedua orang tuanya dan membuat mereka meninggal. Yeoja itu tak lagi bisa tersenyum dan melompat-lompat seperti biasanya. Ia terus mengunci dirinya dikamar. Tubuhnya juga semakin kurus dan lemah.

Angin sepoi-sepoi berhembus menyapu poni rambutnya. Memperlihatkan wajahnya yang memang sangat cantik. Apa yang harus ku lakukan? Aku ingin mengembalikan senyumannya seperti dulu.

**

Hari berikutnya, aku kembali menatap wajah yeoja itu. Saat ini ia sedang duduk diam sambil menggambar sesuatu. Namun, tetap dengan wajah tanpa ekspresi. Aku tidak peduli, dia tetap cantik.

“Hai…”sapaku ramah

Dia menoleh dan langsung terlonjak kaget saat melihat aku sudah berdiri manis disebelahnya. Aku tersenyum lebar.

“Si-siapa kau? Bagaimana kau bisa disini?”serunya langsung beranjak dari kursinya dan menjauh

“Aku Lim Hyunshik. Annyeong Hyemi-yah”

“bagaimana kau tau namaku? Ya, jangan macam-macam atau aku akan berteriak”ujarnya ketakutan. Respon yang wajar ketika seorang namja tiba-tiba muncul dikamar seorang yeoja.

“Aniyo. Aku tidak akan macam-macam padamu. Lagipula, jika kau berteriak. Pelayanmu juga tidak akan bisa melihatku”

“A-apa maksudmu?”tanyanya bingung

Aku melangkahkan kakiku mendekat dengan senyum yang mengembang diwajahku.“Aku selalu memperhatikanmu akhir-akhir ini. Aku tau kematian orang tuamu pasti membuatmu terpukul tapi kau tidak boleh terus-menerus seperti ini. Kau harus kuat”

Mata besarnya masih melebar dan memandangku, “Sebenarnya siapa kau?”

“Kau yakin ingin mengetahui siapa diriku?” Dia mengangguk pelan  “Keundae, kau tidak boleh kaget”

Aku mundur satu langkah dan menatapnya lurus. Tentu saja tetap dengan sebuah senyum yang mengembang. Aku mengeluarkan sayapku dan melebarkannya membuat mata bulat Hyemi semakin membulat heboh. Dia bahkan sampai ternganga melihatku.

“aku adalah malaikat”

“ti-tidak mungkin”serunya menggelengkan kepalanya

“Aku bertugas untuk mengembalikan senyumanmu”

**

HYEMI POV

Seminggu berlalu sejak kemunculan yang tiba-tiba malaikat itu. Dia sangat baik dan selalu berusaha mendekatiku walaupun aku terus bersikap dingin. Aku sangat terharu.Perlahan, aku mulai membuka hatiku untuk mengobrol dengannya. Tidak hanya obrolan ringan seperti biasanya.Sekarang aku mulai menceritakan semua keluh kesahku padanya. Dia seperti pengganti orang tuaku.

Aku tidak lagi duduk dibalkon kamar seperti biasanya. Hatiku tak lagi biru seperti dulu. Saat ini, aku duduk ditaman yang berada tak jauh dari rumahku sambil menatapi orang-orang yang sedang bermain sepak bola.

“Hai…”

Aku menoleh. Hyunshik sudah duduk disampingku dengan senyuman yang mengembang seperti biasanya. Entah mengapa, aku mulai menyukai senyuman itu.

Aku tersenyum tipis, “hai..”balasku

“Kau sedang apa?”

“menatap mereka”tunjukku pada orang-orang yang bermain bola

“kenapa tidak ikut bermain?

Aku menoleh padanya . Entah. Namja ini mungkin memang sedikit polos tapi pertanyaannya barusan benar-benar aneh.

Dia tertawa pelan, “aku hanya bercanda”serunya seakan mengerti pikiranku

“Leluconmu tidak lucu”balasku lalu kembali menatap kedepan

“Benarkah? Aaah..lagi-lagi aku gagal”

Aku mengerutkan keningku bingung, “gagal ?”

“Aku hanya berusaha membuatmu tersenyum”

Deg! Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Sebenarnya sudah berulang kali ia mengatakan hal seperti ini. Tapi kenapa hari ini kata-kata itu membuatku gugup?

Namja aneh yang baru ku kenal seminggu lalu. Tingkahnya sangat konyol dan dia sangat polos.Wajah polosnya saat menceritakan sesuatu benar-benar membuatku selalu tertawa. Bukan karena ceritanya tapi saat menceritakan sesuatu ia terlihat sangat antusias dan bersemangat. Lucu.

Tubuhnya tidak terlalu tinggi. Setiap harinya ia selalu memakai pakaian berwarna putih. Semakin membuat silau karena warna kulitnya juga sangat putih. Dan entah mengapa, hari ini aku baru menyadari jika ia sangat tampan. Senyuman lembut khas-nya selalu menghipnotisku untuk hanya menatapnya.

“apa yang kau pikirkan?”tanyanya membuyarkan lamunanku

Aku buru-buru menggeleng. Pasti saat ini wajahku sedang memerah. Bagaimana dia bisa tahu saat aku sedang memikirkannya? Bodoh. Aku benar-benar bodoh.

“aniyo”jawabku lalu membuang pandanganku kearah lain. “oe? Anak anjing.Lihat!!” aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Sepertinya berhasil, dia mengikuti arah jari telunjukku dan menatap anak anjing berbulu putih tebal itu.“kyeopta”seruku gemas.

“Sebaiknya kau jauh-jauh dengan hewan itu”ujarnya seperti tidak berpikir bahwa anak anjing itu imut

“wae?”tanyaku bingung

“kau tidak lihat bagaimana giginya? Sangat tajam.Bagaimana jika dia menggigitmu?”

“Kau..kau takut dengan anjing?”tanyaku tak percaya

“Aniyo. Aku tidak takut dengan apapun”elaknya. Namun, wajah polosnya mengatakan bahwa dia sangat membenci anjing itu. Membuatku tertawa pelan.“Ya, apa yang kau tertawakan? Aku tidak takut anak anjing!”tambahnya lagi penuh penekanan yang semakin menegaskan rasa takutnya.

Tawaku semakin keras. Wajahnya benar-benar lucu. Bagiku saat ini, wajahnya lah yang lebih lucu daripada anak anjing itu.

**

“Hai…” lagi-lagi dia sudah muncul saat aku sedang menyiram bunga ditaman mini rumahku. Aku menoleh lalu tersenyum. “sebaiknya kau tidak usah menyiram bunga itu lagi. Sepertinya dia tidak menyukaimu”

Aku mengerutkan keningku bingung. Dia tersenyum lebar lalu melebarkan sayapnya dan mulai terbang kesana-kemari. Wujudnya yang putih berpadu dengan langit biru. Dia hampir sama dengan awan yang saat ini sedang cerah. Indah.

Aku menuju sebuah bangku taman dan duduk disana. Masih dengan menatap ke arahnya.Tanpa sadar seulah senyum terlukis dibibirku.

Oema..appa..aku tidak mengetahui apa alasannya. Tapi ketika bersamanya, semangatku kembali.Sekarang aku lebih hidup. Oema..appa..apa yang terjadi denganku?

“Hyemi-yah..”panggilnya. Aku mendongakkan wajahku menatapnya. Kelopak bunga berwarna-warni berjatuhan menyentuh wajahku. Aku memejamkan mataku. Dia masih terbang diatasku sambil menaburi kelopak bunga yang entah didapatnya darimana.

Tuhan, apa aku sedang berada disurga?

“kau bahagia?”serunya yang kini tiba-tiba sudah berlutut didepanku. Aku mengangguk.

“gomawo”

“Aniyo. Aku hanya menyukai senyummu itu”

Deg! Lagi-lagi malaikat ini membuat jantungku berdetak tak karuan. Dia menatapku dan melemparkan sebuah senyum. Yah, sebuah senyum yang sangat aku sukai. Hanya sebuah senyuman, namun bisa memberikan rasa nyaman untukku.

“Darimana kau mendapatkan kelopak bunga ini?”tanyaku menutupi rasa gugup

Dia tersenyum penuh arti lalu menunjuk ke arah belakangku. Aku menoleh, seketika mataku membulat lebar. Bunga-bunga yang tadi ku siram tiba-tiba menghilang. Hanya tersisa daun dan batangnya.Tidak ada lagi warna-warni bunga ditamanku.

“Ya, kau merusak tamanku!”rutukku sebal, “kau tau bagaimana susahnya menanam bunga? Aku harus menunggu lama agar bisa melihat bunganya bermekaran. Sekarang, kau dengan mudah merusaknya. Kau ben….”

Ucapanku terpotong saat ia tiba-tiba meletakkan jari telunjuknya dibibirku. Aku membeku. Nafasku seakan tertahan. Jantungku tidak bisa bekerja dengan baik. Dia tersenyum seperti tanpa dosa.

“Bukankah sudah ku bilang? Bunga-bunga itu tidak menyukaimu”serunya lembut

“apa maksudmu?”

“Kau akan mengetahuinya nanti”

**

Hari ini adalah hari ke-30 aku bersamanya. Waktu berjalan sangat cepat. Saat ini hari-hariku tidak pernah tak terisi dengan tawa. Aku selalu bahagia. Walaupun terkadang aku kesal dengan tingkahnya yang seenaknya. Namun, senyum dan wajah tanpa dosanya itu membuatku tidak akan bisa marah lebih lama.

Malam ini, aku berdiri dibalkon kamar sambil menatap pemandangan kota. Lampu-lampu terjejer berkilauan. Sangat indah. Seperti bintang di langit. Aku menutup mataku, menghirup udara dalam-dalam. Rasanya sudah lama aku tidak merasakan seperti ini.

“Hai…” aku hapal benar suara ini. Aku berbalik dan mendapati sosok namja yang selalu mengisi hariku berdiri dibelakangku. Namun, ia terlihat tidak seperti biasa. Wajah cerianya kini menjadi sendu.

“Wae?”tanyaku penuh selidik

Dia tersenyum tipis, “ada yang ingin ku tanyakan padamu”

“apa?”aku menatapnya semakin bingung

“bukankah kau tau bahwa tugasku adalah mengembalikan kebahagianmu?” Aku mengangguk “apa aku sudah berhasil?”tanyanya lagi

Aku tersenyum lebar lalu mengangguk mantap, “kau melakukannya dengan sangat baik”. Memang dia melakukannya dengan sangat baik. Jika aku seorang guru, aku pasti akan memberikan nilai A+ untuknya.

“benarkah? Tapi, aku berharap kau mengatakan sebaliknya”

“apa maksudmu?”tanyaku heran saat melihat wajahnya yang semakin sendu. Bukankah seharusnya dia bahagia karena aku bilang dia sudah berhasil? , “Sebenarnya apa yang terjadi?”tanyaku lagi sangat penasaran.

“Karena kau bilang aku sudah berhasil, itu artinya tugasku sudah selesai”

Aku masih memandangnya tidak mengerti, dia menatapku lekat. Sebuah tatapan yang meneduhkan hati. Dia mengulurkan tangannya dan meletakkan telapak tangannya dikedua pipiku.

“aku harus pergi”lirihnya.

Aku tersentak. Suaranya sangat lembut bahkan hampir sama dengan lirihan angin namun sangat terdengar jelas ditelingaku.

“pergi?”aku mengulang ucapannya

Dia mengangguk lemah, “aku harus menjalankan tugas lain”

Aku terpaku. Bagaimana bisa rasa sakit kehilangan itu kembali ku rasakan? Hatiku benar-benar sakit sampai rasanya susah untuk bernapas. Apa yang terjadi padaku? Aku hanya tidak ingin dia pergi.

“hyemi-yah, bagaimanapun penderitaanmu. Kau harus tetap berjalan. Sesakit apapun kesedihanmu, kau harus tetap tersenyum”

Dia mulai berjalan mundur sambil tetap menatapku dengan senyuman. Aku merasakan wajahku mulai panas, airmataku mulai menggenang dipelupuk mata. Tanpa sadar tanganku terulur dan menarik lengannya.

“Jangan pergi…”aku mengatakan itu tanpa sadar. Mulutku seakan bekerja semaunya dan tidak mendengarkan perintah otakku. “bisakah kau tetap bersamaku? Jangan tinggalkan aku. Aku tidak mau kehilangan seseorang lagi”

Dia tersenyum tipis ,“kau tau? Kau membuatku melanggar takdir”serunya terdengar putus asa, “aku..aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali melihatmu..”

Tuhan, bisakah aku terus bersamanya? Hatiku mengatakan bahwa aku juga merasakan hal yang sama. Sekarang aku sadar, mengapa saat bersamanya waktu akan berjalan sangat cepat. Hatiku merasa nyaman dan aku bahagia.

Aku jatuh cinta…

“kau adalah orang pertama yang bisa membuatku merasakan bahagia saat bersamamu dan rasa sakit karena tidak bisa memilikimu”

Dia tersenyum lalu menarik lenganku halus dan menjatuhkan tubuhku dalam sebuah dekapan. Dekapan yang hangat. Aku baru mengetahui bahwa dadanya sangat lebar. Sangat nyaman.Aku semakin menumpahkan airmataku.

“kajima…jebaaal..kajimaa”isakku tertahan

Dia menghusap rambutku lembut dan membisikkan sesuatu ditelingaku. Sesuatu sederhana yang membuatku selalu ingin mendengarnya berulang kali.

“saranghae…”

Aku semakin mengeratkan pelukanku. Bisakah waktu berhenti sejenak? Aku ingin terus begini.

“hyemi-yah…” dia melonggarkan pelukannya dan menatapku lembut. Diusapnya butiran air mata yang membasahi pipiku dengan tangannya.

“berjanjilah padaku kau akan terus hidup bahagia”

Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat, “tidak tanpamu..”tandasku

“jika kau hidup menderita setelah aku pergi. Aku akan dihukum oleh Tuhan karena telah membuatmu semakin sedih. Jebaaaal…”mohonnya

“Bagaimana aku bisa bahagia jika kau tidak ada disisiku? Kau lah yang membuatku selalu tersenyum, kau juga yang menyembuhkan rasa sakit karena kecelakaan orang tuaku. Jika kau tidak ada, aku tidak bisa bahagia…”

“kita akan bertemu kembali nantinya. Saat kita berada didunia yang sama”

Mataku melebar, “apa dengan aku mati, aku bisa bersamamu? Kalau begitu, aku akan mati sekarang”. Aku tidak tau apa yang ku katakan tadi? Mungkin aku sudah gila karena mau mati demi malaikat ini?. Aku tidak peduli, jadi gila juga tidak buruk asal aku bisa bersamanya.

“Jika kau melakukannya demi aku. Aku akan dimusnahkan. Kita tidak akan bisa bertemu lagi”jelasnya, “Aku berjanji akan menunggumu disana nantinya, bersabarlah. Kau hanya perlu menjalani harimu dengan bahagia sampai waktu tiba dan mempertemukan kita”tambahnya lagi. Wajahnya juga mulai memerah. Sepertinya dia sedang menahan tangis.

“Maukah kau berjanji padaku?”tanyanya lagi

Aku mengangguk pelan walaupun sangat terpaksa.Tangisku semakin pecah.30 hari itu adalah sebuah waktu yang singkat namun paling berarti seumur hidupku.

“sudah waktunya. Aku harus pergi..”

“berjanjilah kau akan menungguku”ujarku memintanya untuk membuatku tenang

Dia mengangguk mantap , “tentu”jawabnya tegas, “kau tau mengapa bunga-bunga tidak menyukaimu?” Aku menggeleng, “karena mereka iri bahwa kau jauh lebih indah dari mereka…”

Tiba-tiba sebuah cahaya putih muncul dan menghilangkan tubuhnya sedikit demi sedikit sampai akhirnya menjadi asap. Kakiku tak lagi mampu menahan tubuhku. Aku meluruh disana semakin larut dalam kesedihan dan tangis.

aku berjanji akan hidup dengan baik agar Tuhan tidak menghukummu..

kau adalah orang pertama yang membuatku merasakan cinta..

Aku akan datang suatu hari nanti, bersamamu dan bersama orang tuaku..

Hyunshik-ah, nado saranghae…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s