TOGETHER! (Part 1)

Tittle : TOGETHER!
Author : Oh mi Ja
Genre  : Brothership, Frienship
Cast   : Jo Twins
– No Minwoo

Annyeong^^ Coba-coba bikin FF dan ini hasilnya

Bener-bener hasil pemikiran sendiri nih. Happy Reading^^

Selama 17 tahun ini, aku selalu merasakan sesuatu aneh sedang berada ditubuhku. Aku selalu merasakan sakit namun sebenarnya tubuhku baik-baik saja bahkan lebih dari kata baik

AUTHOR POV

“Kwangmin-ah, palli..Kita akan terlambat”seru minwoo menarik lengan Kwangmin.Mereka buru-buru melompat kedalam bus yang baru sampai dihalte.

Kwangmin dan Minwoo berdiri didepan kelasnya dengan kedua tangan menjewer telinga dan satu kaki terangkat.Sial, bus yang mereka naiki berjalan sangat lambat sehingga mereka kesiangan.

“Aku sangat lapar”bisik minwoo.

“Nado..”balas kwangmin. Ia menurunkan kakinya lalu duduk bersandar ditembok kelas.

“Ya!apa yang kau lakukan? Sonsengnin akan marah”

“Aku hanya duduk sebentar, kakiku pegal”

“YA!! Jo Kwangmin!”seru sonsengnim menjewer telinga kwangmin.

“Appo.. Sonsengnim appo…”

Kisah ini pun dimulai.Jo Kwangmin adalah seorang namja tampan dan terkenal disekolahnya.Ia sangat aktif dan periang sehingga ia gampang disukai. Ia juga sangat menyayangi ibunya, satu-satunya orang yang ia punya sekarang. Baginya ibunya sangat berharga.
Setiap pulang sekolah, ia selalu bekerja paruh waktu disebuah coffe shop demi menghidupi ibunya dan dirinya sendiri. Ia selalu bersemangat dan tidak pernah menyerah. Namun, siapa sangka dibalik itu ia menyimpan sebuah luka. Luka yang teramat dalam yang terjadi dimasa lalunya. Luka yang sudah ia simpan selama 3tahun. Sebuah luka, yang menyebabkan ayahnya meninggal dan membuat ibunya kini tidak bisa melihat.

“Aku akan kesana nanti bersama Jeongmin hyung”seru minwoo melambaikan tangan pada kwangmin.Mereka berpisah dipersimpangan karena kwangmin harus bekerja.

Kwangmin mengganti seragam sekolahnya dengan seragam kerja. Ia memulai rutinitasnya dengan melayani para tamu. Tangannya sudah lihai berkutat dengan mesin kopi.

Coffe shop itu selalu dipenuhi oleh mahasiswa, murid, dan juga pekerja. Kwangmin menatap mereka dibalik mesin kasirnya.Pandangannya lirih. Dalam hati, ia sangat ingin setidaknya sehari menjadi remaja pada umunya. Bermain, berkumpul bersama teman, kencan, dan melakukan apa saja. Namun, ia selalu menahan keinginanya dan menguburnya dalam-dalam. Tentu saja itu tidak mungkin, jika mempunyai waktu senggang ia selalu menggunakannya untuk tidur.

Selama 3 tahun ini, ia selalu menggunakan waktunya untuk bekerja. Senin-Jum’at, setiap pulang sekolah ia akan bekerja dicoffe shop. Sabtu dan minggu ia akan menjaga stand ddukbokkie ditaman sungai Han.

“Kwangmin-ah..”seru minwoo membuyarkan lamunan kwangmin.

“Oe? Kau..”serunya.

“2 Americano”

“Baik. Semuanya 6.000 won”

“Bisakah kau istirahat dan duduk bersama kami?”seru jeongmin, kakak minwoo.

“Andwae. Aku harus bekerja hyung”

“Kwangmin-ah, kau sudah mengerjakan Pr?”tanya minwoo.

Kwangmin menggeleng, “aku akan mengerjakannya nanti setelah selesai bekerja”

“Aku sudah tau akan begini. Sudahlah, aku akan mengerjakannya untukmu”

“Jeongmall?”

Minwoo mengangguk, “em, besok aku akan menyerahkannya padamu”

“Aaah gomawo.. Jinjja gomawo..”
**

Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, kwangmin berjalan gontai menuju rumahnya. Rasanya sangat lelah.Ia membuka pagar rumahnya, seperti biasa choco, anjing peliharannya telah menunggunya didepan pintu.

“Choco-yah, kau tidak tidur?Bukankah ini sudah malam?”seru kwangmin menghusap kepala anjing goldennya itu.
“Kau menunggu hyung?”serunya lagi.

Ia memutuskan untuk duduk dianak tangga teras rumahnya lalu mengeluarkan sebuah biscuit dari dalam tasnya dan memberikannya pada choco. Choco adalah salah satu alasan kwangmin untuk tersenyum.

“Kwangmin-ah, kau sudah pulang?”seru oema kwangmin dari dalam rumah. Kwangmin buru-buru berdiri lalu menghampiri oemanya.

“Nde oema..”jawab kwangmin sambil memegang tangan oemanya

“Oema akan memasak makanan untukmu”

Kwangmin menahan lengan oemanya, “aku tidak lapar oema, sebaiknya oema istirahat. InI sudah sangat malam”

“Kau selalu seperti ini, kau tidak pernah mau jika oema memasak untukmu”

“Aniyo. Aku hanya takut oema lelah”

“Setiap harinya oema hanya bersantai dirumah, oema tidak lelah sedikitpun.Yang lelah itu pasti adalah kau”seru oema kwangmin menghusap lembut pipi anaknya itu.

Kwangmin menggeleng, “ani. Aku sama sekali tidak lelah oema”
**

Pagi-pagi sekali minwoo sudah menunggu kwangmin dihalte bus.Mereka memang selalu pergi bersama setiap harinya.Tak lama kwangmin muncul, wajahnya terlihat letih.Ia duduk disamping minwoo. Minwoo tidak bertanya apapun karena wajah letih kwangmin sudah sangat sering ia lihat.

Mereka langsung melompat masuk kedalam bus.Keduanya memilih duduk dikursi bagian belakang.Angin yang berhenbus lewat jendela membuat mata kwangmin meredup perlahan. Sesuatu dari alam lain seperti memaksanya untuk tidur. Tubuhnya sangat lelah.
Kwangmin menyenderkan kepalanya pada dinding bus.Kesempatan untuk tidur walaupun hanya sebentar.10menit kemudian, minwoo membangunkan kwangmin karena mereka hampir sampai.Kwangmin menggeliat lalu mengerjapkan matanya.

“Kajja”seru minwoo menarik lengan kwangmin.

Keduanya memasuki gerbang sekolah.Hari masih sangat pagi, sehingga sekolah mereka sedikit sepi.

“Kau kurang tidur lagi?”tanya minwoo

Kwangmin mengangguk, “kemarin coffe shop sangat ramai sehingga aku lelah”

“Berhentilah. Kau cukup bekerja disatu tempat saja”

“Andwae”balas kwangmin menatap minwoo yang sedang menatapnya dengan pandangan iba itu.Kwangmin mendesah pelan, “Kau selalu memandangku seperti itu. Didalam tubuhku tersimpan banyak tenaga jadi kau tidak perlu khawatir”

“Keundae…”

“Gwenchana.Aku sudah terbiasa seperti ini”potong kwangmin lalu merangkul pundak minwoo dan menuju kelas.

Sepanjang pelajaran, kwangmin benar-benar tidak bisa konsentrasi.Matanya sangat berat.Ia hanya menopang dagu dengan telapak tangannya lalu memandang papan tulis dengan pandangan kosong. Sesekali ia menguap karena bosan.

Namun tiba-tiba ia merasakan sesuatu aneh menjalar ditubuhnya. Perlahan naik dan mulai merasuki dadanya. Sesuatu itu seperti pisau yang akan menusuk dadanya. Semakin lama tusukan itu semakin tajam.Kwangmin mencengkram dadanya erat.

“Aaarrghhh..”jeritnya tidak bisa menahan rasa sakit yang teramat dalam. Kali ini sesuatu itu menuju jantungnya, mencabik dan merobek membuat jantungnya berhenti bekerja.
**

Langit hitam dan gelap.Cuaca sedikit mendung, angin berhembus kencang menerbangkan daun-daun kering yang terjatuh ditanah.Kwangmin berdiri disebuah jalan sepi.Ia melebarkan pandangannya kesekeliling. Tidak terlihat siapapun.Hanya jejeran bangunan tua yang terlihat tak berpenghuni.Dia juga tidak mengetahui dimana tempatnya sekarang.Keheningan mendominasi malam itu, kwangmin semakin bingung.Ia melebarkan pandangannya sekali lagi mencari jalan keluar. Nihil, tidak ditemukan apapun.
Saat ia mulai putus asa, seberkas cahaya putih muncul dari kejauhan. Semakin lama semakin dekat.Kwangmin menyipitkan matanya karena cahaya itu begitu silau.Cahaya itu meredup.Hanya cahaya bulan yang tersisa sekarang, memantulkan dua bayangan seseorang disalah satu tembok rumah.Kwangmin menatap namja yang berdiri dihadapannya.Ia tersenyum.
Kwangmin benar-benar merasa jika dirinya sedang berdiri didepan cermin.Mereka serupa namun berdiri ditempat yang berbeda.

“tolong aku”seru namja itu lirih selirih hembusan angin.

Kwangmin masih tertegun. Kesadarannya belum pulih sepenuhnya saat mendapati bahwa ada dirinya yang lain sedang berdiri dihadapannya. Perlahan, dirinya yang lain itu menghilang. Terbang bersama daun-daun yang ditiup angin.

Kwangmin mendapati dirinya diruangan serba putih saat membuka matanya.Ditatapnya minwo yang duduk disebelahnya bingung.Wajahnya terlihat sangat pucat.

“Kau sudah sadar? Ya! kau mengagetkanku. Gwenchana?”cecarnya

Kwangmin masih dalam kesadaran yang sepenuhnya belum pulih.Ia terdiam, mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi namun otaknya tidak sanggup memberitahu apapun. Yang ia ingat hanyalah rasa sakit yang ia rasakan tadi.
Kwangmin mencoba duduk, ia kembali menatap minwo dengan bingung.

“Apa yang terjadi?”

“Kau tiba-tiba pingsan dan jantungmu berhenti berdetak.Aku pikir kau mati”seru minwoo gagal mempertahankan tangisnya.
Kwangmin menyentuh dadanya perlahan, ‘jantungku berhenti berdetak?’

Ia tidak begitu kaget karena kejadian ini sangat sering terjadi. Ia selalu merasakan sakit dibagian dadanya tiba-tiba namun saat diperiksa, dokter menyatakan bahwa ia baik-baik saja. Kejadian ia pingsan tiba-tiba dan sulit bernafas juga sangat sering ia alami. Tapi, kali ini jantungnya sampai berhenti berdetak sesaat.Ia mati suri.
Kwangmin mengulurkan tangannya lalu menepuk-nepuk pundak seseorang yang sudah ia kenal sejak kecil itu.

“Nan gwenchana”
**

Kwangmin berdiri mematung didapur tempat kerjanya. Samar-samar ia mengingat kejadian yang terjadi dimimpinya. Sebuah tempat sepi, dan dirinya yang lain.

‘apa yang sedang terjadi padaku?”pikirnya

Sebuah tangan menyentuh pundak kwangmin dan membuyarkan semua lamunannya.Kwangmin tersentak lalu menoleh.

“oe? Hyung?”serunya saat melihat donghyun, pemilik caffe shop itu

“wae? gwenchana? Kau terlihat tidak sehat”

“gwenchana. Aku hanya sedikit lelah”tukasnya

“Jangan memaksakan dirimu, jika kau sakit sebaiknya kau pulang. Wajahmu benar-benar pucat”

Kwangmin menggeleng lalu tersenyum lebar, “gwenchana hyung, aku bekerja dulu. Annyeong”

Seperti biasanya, kwangmin kembali berkutat dibagian mesin kasir.Sifatnya yang bersemangat sangat mudah membuat energinya kembali full.Ia melayani para tamu dengan ramah, tak sedikit juga para noona yang datang hanya untuk melihat kwangmin. Karena itu, kwangmin menjadi pekerja yang paling disayang oleh donghyun.Karena dialah, coffe shop itu menjadi ramai.

“Kwangmin-ah..”Minwo sudah berdiri dihadapan kwangmin sembari tersenyum lebar.

“Arasseo.2 Americanno”ujar kwangmin bisa menebak pesanan minwo. Minwo mengangguk mantap.“Mana joengmin hyung? Aku tidak melihatnya”

“Dia ada janji dengan temannya”

“Lalu mengapa kau pesan 2 Americanno?”

Minwo tersenyum lebar, “tentu saja untukmu”

“Ya!andwae, aku harus bekerja”

“Kwangmin-ah, pergilah istirahat” tiba-tiba Donghyun sudah berdiri dibelakang kwangmin.Ia mengambil alih pekerjaan kwangmin dan mendorong tubuhnya pelan. “Palli.Pergilah istirahat”suruh donghyun pada kwangmin yang masih bingung.

“Gomawo hyung”

Kwangmin dan minwoo duduk disalah satu meja sambil menikmati Americanno mereka.Seperti biasa, tempat ini selalu ramai pengunjung. Sebagian pengunjung ini tak lain adalah fans kwangmin. Mereka semakin senang saat kwangmin duduk dengan sahabatnya yang tidak kalah tampan.

“Gwenchana?”tanya minwo.

Kwangmin mengangguk tanpa menoleh.Ia tetap focus pada minumannya.

“Minggu ini akan ada pertandingan sepak bola antar sekolah, kau tidak ingin ikut menonton?”

“Tentu saja tidak. Aku harus bekerja”

Minwo geleng-geleng kepala lalu berdecak pelan, dipikiran sahabatnya ini hanyalah bekerja.

“Minwo-yah, gomawo. Kau selalu mentraktirku makan, gajian nanti aku akan mentraktirmu”

“Tidak perlu. Setiap hari kau mati-matian mengumpulkan uang, gunakanlah untuk keperluanmu dan ibumu”

“Keundae..”ujar kwangmin merasa tidak enak

“Gwenchana. Jika kau sukses nanti, aku akan menagih janjimu mentraktirku”

“Gomawo”
**

Kwangmin membuka pintu rumahnya setelah menghusap kepala choco.Ia harus segera masuk karena rintik hujan sudah mulai membasahi bumi.

“Oema, aku pulang”serunya menghampiri oemanya

“Adeul, kau sudah pulang?Kau lelah?”balas oema kwangmin menghusap lembut pipi anaknya

“Tentu saja tidak.Oema belum tidur?”

“Bagaimana oema bisa tidur jika kau belum pulang?”

Kwangmin tersenyum kecil, “oema…”

“Yee?”

“Apa sewaktu kecil aku mempunyai penyakit?”

“Kenapa bertanya seperti itu?Kau sakit?”

“Aniyo. Aku hanya bertanya”

“Jeongmall?”

“Yee oema. Baiklah, aku akan kekamarku. Oema juga harus tidur”

Kwangmin mendorong pelan tubuh oemanya untuk tidur lalu menutupi tubuh oemanya dengan selimut.Sebelum pergi, kwangmin mencium kening oemanya terlebih dahulu.

Kwangmin berbaring ditempat tidurnya dengan kedua lengan terlipat dan menjadi sanggahan kepalanya.Ia menatap langit-langit. Pikirannya masih tertuju pada kejadian aneh saat dia mati suri.Dua bayangan yang serupa.Mereka berdiri berhadapan namun tetap merentangkan jarak yang sangat jauh.
Kwangmin menghembuskan nafas panjang.Ia menarik selimutnya lalu mencoba tidur. Memikirkan hal itu hanyalah membuang waktu istirahatnya dengan percuma.

**
Sabtu dan minggu adalah hari yang paling menyenangkan untuk kwangmin. Selain karena sekolahnya libur, tempat kerjanya juga tidak mewajibkan ia untuk bangun pagi. Ia akan mulai bekerja pada sore hari hingga malam harinya.

Sinar matahari masuk kedalam kamar kwangmin melalui celah-celah jendelanya.Menyinari wajah tampan kwangmin dan menimbulkan rasa silau. Kwangmin berbalik kearah lain, membelakangi sinar matahari yang mengganggu tidurnya. Namun, ia mengurungkan niatnya untuk tidur lebih lama lagi. Sudah lama sekali ia tidak bermain dengan choco.

Ia beranjak dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi. Setelah membersihkan dirinya dan berpakaian rapi.Ia keluar dari kamarnya, terlihat oemanya sedang berkutat didapur untuk memasak. Kwangmin buru-buru menghampiri oemanya lalu merampas halus pisau yang dipegang oemanya itu.

“Oema, bukankah sudah aku bilang jangan memasak?”ujar kwangmin meraih pundak oemanya dan memaksanya untuk duduk dikursi makan.

“Keundae, oema ingin memasak sesuatu untukmu”

“Andwae. Semua yang ada didapur sangat berbahaya untuk oema”

“Keundae, adeul…”

“Sudahlah, aku yang akan memasak untuk oema. Oema duduklah didini”

Kwangmin berkutat didapur dengan semua bahan dan alat-alatnya.Dia sangat pintar memasak.Akhirnya, beberapa makanan tersedia dimeja makan.Baunya benar-benar menggoda siapapun yang menciumnya.
Kwangmin juga menyiapkan mangkuk nasi dan gelas. Setelahnya, ia meraih sebuah kursi lalu mendekatkannya pada oemanya. Ia menatap oemanya sembari tersenyum.

“Oema, ayo makan”ujar kwangmin sambil menyendokkan makanan kemulut oemanya.Kening kwangmin menjadi berkerut saat oemanya mulai mengeluarkan airmata.

“Oema, waeyo?”tanya kwangmin heran.

“Adeul, mianhae.Selama ini oema selalu merepotkanmu.Kau selalu merawat oema padahal seharusnya oemalah yang merawatmu.Oema tidak pernah memasak dan mengantarmu kesekolah. Mianhae”tangisnya

Kwangmin meletakkan mangkuk nasinya lalu menghusap lembut buih airmata dipipi oemanya.
“Dengan oema menungguku setiap harinya, itu sudah membuatku senang”
**

Kwangmin berjalan bersisian dengan choco ditaman Sungai Han. Tentu saja, ia dan anjingnya itu kontan menjadi pusat perhatian siapapun yang lewat. Kwangmin tetap acuh, ia duduk disalah satu bangku kayu yang menghadap ke taman air mancur.

“Choco-yah, kau senang?Mianhae, karena baru sekarang hyung bisa mengajakmu jalan-jalan”ujar kwangmin menghusap lembut kepala anjingnya.

“Choco-yah, kau tau? Aku sangat takut..”seru kwangmin lirih “Aku merasa ada makhluk aneh didalam tubuhku. Aku merasa jantungku juga dimiliki oleh orang lain. Aku merasa aku memiliki bayangan namun aku tidak bisa meraihnya, rentang jarak yang tercipta diantara kami sangatlah jauh. Aku merasa ada diriku yang lain dan dia sangat lemah”

Kwangmin menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan, kembali tangannya terulur untuk menghusap kepala anjing coklatnya itu.“Choco-yah, ottokhe?Apa aku sudah gila?”

Seperti mengerti, choco menjilati tangan kwangmin dan menggonggong kearahnya.Kwangmin tersenyum.
“Gomawo.Karena kau selalu mendengarkan semua keluh kesahku. Kajja, kita harus pulang”
**

Pemandangan langit biru dan awan putih berpadu menjadi sesuatu yang sangat indah dilangit. Ciptaan Sang Kuasa benar-benar indah. Ia menggambarkan dengan sempurna setiap detil yang ada dilangit. Hamparan langit indah itu seakan mengerti suasana hati, langit memberikan ketenangan dan mencoba menghibur seseorang. Tuhan memang baik, Ia memerintahkan langit untuk meluruskan jalan dan tidak menjadi penghambat.

Kwangmin sedang berkutat pada ddukbokkie dan para pelanggan yang mengantri untuk membeli jajanan lezat itu.Ia tidak memperdulikan keringat yang mulai membasahi kemejanya. Ini semua ia lakukan demi seseorang, seseorang yang sangat berharga. Seseorang yang selalu menunggunya pulang setiap malamnya.
**

Seorang namja bertubuh tinggi dan seekor anjing besarnya kembali menjadi pusat perhatian diTaman sungai Han.Namun, kali ini ada seseorang yang menemaninya. Seorang sahabat sejati yang ia kenal saat ia masuk taman kanak-kanak dulu. Seseorang selain Ibu dan choco yang mengerti benar segala kesulitannya.

“Bukankah kau mau menonton pertandingan sepak bola sekolah kita?”tanya kwangmin sembari memberi makan choco.

“pffffffft.. apa aku harus menonton sendiri?” minwoo berdecak

“Jangan mengikutiku.Kau berbeda denganku. Harusnya kau memakai masa mudamu dengan bersenang-senang”

Minwo tertawa kecil, “ini juga termasuk kegembiraan..”Ia menoleh kwangmin sejenak “Kegembiraan karena banyak yeoja cantik yang lewat disini”

“keke~ tentu saja. Lumayan menyegarkan mata”

Minggu itu, taman Sungai Han dipadati oleh orang-orang yang sedang berjalan kaki, bersepeda dan lain-lain. Anak kecil, remaja, dan orang tua berbaur membentuk kepadatan disana.Saat kwangmin dan minwo masih asik dalam obrolan panjang mereka, sisi kanan mereka membentuk sebuah gerombol. Bukan keramaian seperti biasa namun membentuk sebuah lingkaran dan mengunci target ditengahnya.

Tiba-tiba choco berlari menjauh, menghampiri gerombolan yang membentuk lingkaran itu.Kwangmin dan minwo tersentak, karena ini pertama kalinya choco tiba-tiba pergi.

“Choco-yah, oedika?”seru kwangmin setengah berlari mengikuti arah perginya choco. “Choco-yah..”seru kwangmin lagi setelah berhasil meraih tali pengikat choco. Choco tidak tenang seperti biasanya, ia menggonggong seperti ingin menunjukkan sesuatu. Kwangmin sedikit bingung dan mengikuti arah yang dimaksud choco.

Kwangmin menyerahkan tali pengikat choco pada minwo lalu berjalan pelan menghampiri gerombolan itu.Ia menyelinap pelan diantara orang-orang yang sepertinya panik. Saat sudah sampai dibarisan depan, jantung kwangmin tiba-tiba berdetak cepat. Matanya melebar, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.Ia tercengang, sangat tercengang.
Bayangan yang selama ini ia lihat dimimpinya, kini tergeletak tak berdaya didepan matanya. Kwangmin benar-benar terpaku.Sekumpulan orang-orang yang membentuk lingkaran tadi juga tidak kalah terkejut melihat dua orang serupa.

“Ya!cepat bantu saudaramu! Dia tiba-tiba pingsan” seseorang menepuk pundak kwangmin dan menyadarkannya dari rasa terpaku.Tanpa kesadaran yang belum sepenuhnya kembali, kwangmin meraih lengannya lalu menggendong tubuhnya menuju rumah sakit.
**

Kwangmin berdiri mematung didepan ruang ICU. Kali ini tubuhnya juga sangat lemah, ia masih dalam diam dan segala keterpakuannya dengan kenyataan yang tiba-tiba datang dan menghantam dadanya keras. Minwo menemani disampingnya dengan mengikuti alur kwangmin.Ia tidak bertanya apapun, ia hanya diam. Setidaknya untuk berjaga-jaga jika sesuatu akan terjadi. Ia sangat tahu betul, dibalik sifatnya yang bersemangat sahabatnya itu menyimpan banyak rasa sakit. Ia sebenarnya rapuh.

Tak lama dokter keluar, satu-satunya hal yang bisa membuat kwangmin bereaksi.Kwangmin segera berdiri.
“Dia mempunyai masalah dengan jantungnya”

“Mwo ?Bagaimana keadaannya sekarang dok?”

“Dia baik-baik saja sekarang.Keadaannya mulai stabil.Sebaiknya kau jaga baik-baik saudaramu.Jangan membuat dia lelah”seru dokter menepuk salah satu pundak kwangmin lalu pergi.

Kwangmin berdiri mematung, ‘saudara?’. Kwangmin duduk manis disamping namja yang tergeletak lemah sambil memandangi wajahnya. Mereka benar-benar mirip, seperti pinang dibelah dua. Sangat setia, minwo memberikan segelas teh hangat untuk kwangmin.Kwangmin menoleh lalu menerimanya.

“Gomawo”

Kembali keheninganlah yang mendominasi ruangan itu. Hanya suara jarum jam yang memecah keheningan. Tak lama, jari-jarinya bergerak.Ia mengerjapkan matanya perlahan. Ia menatap sekeliling ruangan itu, sampai akhirnya menatap namja yang duduk disebelahnya. Matanya membulat lebar, tenggorokannya terasa cekat.Ia juga tercengang.

“Kau…” hanya kata itu yang sanggup ia ucapkan.
**

Gimana selanjutnya? Tunggu Part selanjautnya yaa^^

2 thoughts on “TOGETHER! (Part 1)

  1. Ddangkoplak berkata:

    Ehehe.. Mian baru nemu ni FF… Waaa ternyata ada juga ya FF boyfriend… Aku suka.. Aku sukaaa… ^^
    Lanjut baca part 2nya deh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s